Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Budaya Malu Yang Semakin Luntur

Monday, June 13, 2016
Budaya Malu Yang Semakin Luntur


Mengenai kejadian satpol PP yang merazia warung makan yang buka di siang hari di bulan ramadhan di Banten kemarin itu. Saya kok malu ya. Sepertinya hari ini budaya malu itu semakin luntur.

Malu sekali jika saatnya nanti ketemu Baginda Rasulullah. Mengaku jadi umatnya kok ngisin-ngisini. Kok nggak percaya diri. Kok nggak benar-benar percaya kalau kita hebat. Kok nggak benar-benar serius meneladaninya.

Dahulu saat masih kecil, saat saya masih tinggal di Bantul, Jogja, tidak ada warung makan yang buka siang hari sepanjang ramadhan. Tapi nggak tahu ding, karena mungkin wilayah teritorial saya hanya sebatas kidul kali opak, lor lapangan mBlali.

Dari mbah-mbah, bapak-bapak, ibu-ibu, janda, perjaka, remaja, jomblowan, jomblowati dan adik-adik yang belum baligh, tanpa ada perda larangan pun sudah malu sendiri kalau menunjukkan dirinya tidak puasa.

Adik-adik yang baru belajar puasa, puasa bedug, makan pun di dalam rumah. Mbah saya, yang nggak puasa, sampai kalau makan harus ndelik ke kamar dulu. Jangan sampai tetangga ada yang tahu.

Jadi di jalan-jalan (kampung) tidak terlihat orang yang menggembol makanan di tangannya. Apalagi sampai ketahuan di mulutnya sedang mengunyah makanan.

M-A-L-U

Iya, malu. Orang masih punya malu. Tahu waktu dan tempat. Di mana harus dan kapan boleh.

Bukankah malu adalah sebagian dari iman?

Dari kejadian ini, itulah poin besar yang saya baca. Semakin orang-orang tidak mampu mengidentifikasikan batas-batas. Lebih tepat mungkin, menghiraukan batas-batas.

Padahal batas itu penting. Asal tidak kebanyakan batasan. Pagar itu melindungi agar yang di luar pagar tidak asal bisa masuk halaman rumah kita.

Agar ayam tetangga tidak berkeliaran di halaman rumah kita. Apalagi masuk rumah, nutuli makanan di rumah kita, lalu keluar dengan meninggalkan telek.

Yang populer sekarang adalah pagar miring. Padahal yang sungguh-sungguhterjadi adalah kita tidak lagi pagaran. Siapa saja bisa melihat ke dalam rumah kita.

Ada tamu datang. Kita sambut dengan ramah. Kita jamu sebaik-baiknya dengan apa yang kita punya. Parahnya tamu itu tidak berperilaku layaknya tamu. Minta ini itu kita berikan. Tidak sadar semua telah kita berikan. Tidak sadar bahwa mereka sebenarnya maling.

***

Di foodcourt-foodcourt mall orang tidak malu-malu menyantap makanan siang hari bolong. Yah, mungkin mereka bukan orang islam, atau yang terlihat berjilbab itu sedang berhalangan. Tapi seperti cerita di kampung saya waktu kecil di atas. Apa baik roleplay seperti ini bagi anak-anak yang sedang tumbuh menuju kedewasaan?

Atau biarkan saja. Biar seperti itu terlihat biasa aja ke depan.

Ini bukan tentang menyuruh untuk ‘hormatilah orang yang berpuasa’. Mbok ya sungkan itu muncul dari dalam diri kita sendiri. Isin. Malu.

Foodcourt penuh dengan orang-orang yang sedang makan. Di bawah terik sinar matahari di bawah tenda angkringan, orang-orang dengan santainya menggigit gorengan dan menyeruput es teh.

Apa tidak akan menguatkan pribadi-pribadi yang individualis nantinya? Bagiku yang penting aku berpuasa, bagi yang lain terserah saja? (inipun hanya berlaku bagi yang mengaku imannya kuat)

Kita pelaku jaman ini. Kita yang akan menjawab tantangan jaman di depan mata. Masak iya, di masa kita, jaman ini akan ….

Tidak mau kan, mewarisi generasi berikutnya dengan warisan kegagalan?

Jadi mengenai satpol PP dan razia warung makan tadi. Saya tidak setuju dengan apa yang dilakukan pol PP merazia warung makan. Malu sendiri melihatnya. Dan seperti itu bukan solusi.

Juga dengan penggalangan dana untuk ibu pemilik warung yang dirazia itu juga berlebihan. Yang butuh dibantu banyak. Bukan ibu itu saja. Ya, tetep harus dibantu lho sekadarnya saja.

Pemerintah juga harus berbenah. Dibayar untuk mengurus rakyat. Solusi yang dicari. Kesejahteraan yang harus tercipta. Kan ya tahu kenapa ibu itu tetap berjualan?

Masih mending, Ibu itu bekerja. Masih banyak di jalanan orang yang meminta-minta. Menggelandang. Bapak-bapak. Ibu-ibu. Amanahmu lho. Kewajibanmu.

Pada akhirnya, lagi-lagi kita terlambat sadar siapa yang menjadi korban sesungguhnya. (*)