Ads Top

Cinta Kasih Tak Memilih



Cinta Kasih Tak Memilih

Cinta yang tlah hilang
Seharusnya tak mengapa
Karena kasih kan menjaga
Hati yang  bersih

Hati yang telah murni
Takkan tersakiti
Sebelum terlambat
Coba tuk mengingat
Seperti kertas yang putih
Cinta kasih tak memilih
Cinta kasih
Cinta kasih
Tak akan memilih

Pagi itu, Sholikin pulang ke Sukoharjo. Tempat Neneknya tinggal.

Sepulang dari kos temannya dia langsung berangkat. Seperti biasa, headset di telinga sudah terpasang dengan baik. Teman setia perjalanannya selama ini.

Mendengarkan lagu Kasih Tak Memilih. Lagu yang memiliki kedalaman makna. Lagu baru Letto. Band asal Jogja yang kini mengambil jalur indie.

Dari sekian playlist yang dia punya, dia me-repeat hanya lagu itu saja. Diulang-ulang, sepanjang perjalanan.

Perjalanan pulang kali ini berbeda, tidak sekedar untuk mengunjungi Neneknya di Sukoharjo. Tapi untuk memenuhi undangan. Undangan pernikahan dari yang dia 'pilih' akui sebagai sahabat. Carla, sahabatnya dari SMP dulu, teman satu kelas, seorang gadis yang duduk tepat di belakang kursinya.

Lirik-lirik lagu yang terdengar membawa Sholikin larut dalam lamunan. Lamunan tentang kenangan saat dia masih berseragam putih-biru.

Masa di mana dia mulai berkenalan dengan yang namanya cinta. Cinta pertamanya. Cinta monyet menurut orang dewasa yang melihatnya.

Jatuh cinta adalah wajar terjadi pada anak-anak yang mulai menginjak usia remaja. Usia antara anak-anak dan dewasa. Usia yang penuh dengan gejolak dan warna-warni yang sangat berkesan.

***

Awal cerita, Sholikin dan Carla karena tempat duduk yang berdekatan. Sering mengobrol. Bercanda. Kedekatan yang membuat orang-orang menilai bahwa antara Sholikin dan Carla ada 'apa-apa'.

Penilaian itu justru menyadarkan Sholikin jika memang ada perasaan berbeda yang tumbuh dari dalam dadanya. Perasaan aneh yang baru pertama kali dia rasakan. Perasaan yang sangat menyenangkan. Yang membuat candu.

Rasa itu semakin hari semakin menguat. Pikiran tidak bisa tidak untuk tidak memikirkan.

Sebentar-sebentar ingin melihatnya. Sesering mungkin. Curi-curi pandang. Muncul kekawatiran yang sangat ketika agak lama tidak dijangkauan pandanganya.

Perasaan itu ia pendam. Tidak ada pernyataan cinta. Tidak ada ‘penembakan’ untuk mengikat hubungan.

Ragu jika perasaan itu hanya dia saja yang merasakan. Ragu apabila hanya perasaan Ge-er saja. Takut dengan nilai-nilai sekolahnya. Takut karena dia merasa masih kecil. Takut karena diam-diam ada kakak kelas yang juga menyukai sahabatnya itu.

Seiring dengan pergantian tahun ajar, perasaan itu mulai tersisihkan oleh kesibukan masing-masing. Ditambah karena ada program pengelompokan kelas berdasarkan rangking nilai rapot. Yang membuat kelas keduanya menjadi terpisah.

Sholikin masuk ke kelas unggulan. Sedang Carla di kelas yang berbeda.

Sholikin mulai dekat dengan teman-teman barunya. Terlebih, adanya siswa pindahan yang sering menanyakan perihal pelajaran kepadanya. Membuat Sholikin menjadi lebih dekat dengan siswa baru itu. Pertemuan dengan Carla semakin jarang. Semakin renggang.

Sampai akhirnya mereka lulus SMP. Bukan lagi dipisahkan oleh tembok antar kelas. Kini antar sekolah bahkan antar kota.

Carla masuk SMA Sukoharjo. Sholikin SMA di Klaten.

Uniknya, justru ketika SMA itulah mereka dipertemukan kembali dalam sebuah hubungan yang lebih dalam. Mereka pacaran!

***

Ceritanya ABG sekali. Sebuah jembatan menjadi saksi bisunya. Jembatan dekat rumah Carla. Jembatan di perbatasan Sukoharjo dan Klaten.

Di jembatan itulah Sholikin kembali melihat Carla untuk pertama kali setelah mereka SMA. Dadanya seakan diketuk kembali. Rasa yang dulu sempat terpendam kembali merekah.

Diam-diam Sholikin sengaja melewati jembatan itu di jam-jam Carla berangkat sekolah. Setiap pagi. Tidak lain agar bisa berpapasan dengan Carla. Sholikin hafal benar jam berapa itu: setengah 7 tepat.

Saking hafalnya, apabila suatu hari Sholikin tidak melihat Carla di jembatan itu. Langsung kacau pikirannya. Penuh perasaan was-was hatinya. Menjadi kekhawatiran yang berlebihan.

“Jangan-jangan Carla sakit. Atau pindah sekolah. Jangan-jangan, dan banyak jangan-jangan” begitu isi pikirannya.

Padahal Sholikin tidak begitu yakin. Apakah setiap dia melihat Carla di jembatan itu. Carla juga melihat dirinya. Meskipun Sholikin selalu membunyikan klaksonnya.

***

Suatu malam ada ramai-ramai di daerah Carla. Suatu kesempatan langka yang mampir dalam hidup Sholikin. Sholikin tidak menyia-nyiakannya. Bersama teman-teman kampungnya dia pergi. Berharap sangat di sana bisa melihat Carla.

Tapi apa daya seseorang yang dia harap-harapkan tidak terlihat. Pikirannya tidak fokus dengan teman-temannya, tapi sibuk mencari-cari sosok Carla. Dari ujung ke ujung pandangannya menyusuri. Nihil yang dicarinya.

Mood-nya turun. Mulai frustasi karena tidak ketemu juga. Lalu dengan alibi sudah merasa bosan dia mengajak teman-temannya untuk pulang saja. Dan untuk mengobati kekecewaannya dia mengajak teman-temannya mampir ke warung mie ayam.

Tak dinyana, di warung mie ayam itulah Sholikin bertemu dengan bunga hatinya. Tapi di hadapannya langsung malah membuat dirinya kaku. Beku. Dalam dirinya gemetaran. Deg-degan yang amat sangat.

Begitu lama diam saja. Ragu untuk memulai duluan. Masing-masing sibuk dengan rombongannya. Hanya senyuman khasnya yang menyapa. Malu-malu.

Dalam batin Sholikin berharap akan bisa berlama-lama berada dalam satu atap warung mie ayam yang sama. Entah kapan kesempatan yang paling pas untuk mulai menyapanya dengan lantang. Layaknya teman bertemu teman ‘biasa’.

Detik demi detik berganti. Waktu menunjukkan semakin larut. Gelagat Carla dan teman-temannya seperti akan segera meninggalkan warung itu.

Mereka berdiri. Membayar dan mulai berjalan.

“Hati-hati!” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya saat Carla berjalan melewatinya.

“Iya” diiringi senyuman khas yang menusuk lubuk hatinya.


Beberapa detik kemudian.

“Tunggu…! Ada yang lupa. Bolehkah aku meminta nomor hapemu?”

Hanya anggukan pelan yang menjadi jawabannya.

“Pinjam hapemu!”

Carla menuliskan nomor hapenya di hape Sholikin.

***

Sejak pertemuan itu. Sholikin dan Carla semakin dekat. Setiap malam dihabiskan untuk bersms-an ria. Sesekali menelpon. Ada saja yang menjadi bahan perbincangan.

Lupa waktu lupa belajar. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Carla. Carla dan Carla.

Sampai apa yang kita tunggu-tunggu tiba. Akhirnya mereka jadian.

***

Sholikin tersadar dari lamunannya. Perjalanan dia hentikan sejenak. Di atas jembatan yang penuh kenangan masa-masa SMA-nya.

Dia menutup matanya sebentar dan menghela nafas yang cukup panjang. Lalu melihat ke arah sebuah rumah. Rumah sahabatnya. Sahabat yang mengundangnya hari ini. Carla.

Rumah Carla terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda seperti ada hajatan.

“Mungkin acaranya di gedung” pikir Sholikin.

Lalu Sholikin melanjutkan perjalanan. Sampai di rumah dia menghampiri undangan yang yang tergeletak di atas meja yang biasa untuk menaruh helm. Dipegangnya undangan itu. dibuka pelan-pelan. Sebentar diam. Sholikiin seperti berdiskusi dengan dirinya sendiri.

Diraba dadanya. Tidak terasa apa-apa. Tidak sesak. Tidak sakit. Tidak ada kekecewaan yang lama pernah dia pendam. Sakit hati karena tidak menemukan jawaban atas putusnya hubungan mereka.

“Aman!” senyum sumringah tampak dari wajahnya.

Sholikin sudah mampu melepaskan. Mengosongkan isi hatinya dari masa lalu.

Di resepsian Sholikin duduk di bagian belakang. Bertemu dengan teman-teman lamanya saat SMP. Beberapa kali Sholikin digoda oleh teman-temannya.

“Jano cocoke sing dadi mempelai lanange kowe og bro”


Sambil bercanda, hanya pisuhan yang dapat Sholikin katakan untuk membalas teman-temannya.

Sholikin dan teman-temanya mengikuti resepsi sampai selesai. Tapi diakhir acara. Biasanya salaman, mengucapkan selamat dan berfoto dengan pengantin, mereka malah langsung pergi.

Dari pintu keluar, Sholikin diam-diam melihat untuk yang terakhir sahabatnya. Ada sedikit kekecewaan karena dia dan teman-temannya malah buru-buru pulang. Tidak menghampiri langsung, memberikan ucapan, menyalami dan memberikan foto kenangan kepada mantan kekasihnya.

Keluar memasuki pintu hidup baru masing-masing.

Sebelum terlambat
Coba tuk mengingat
Seperti kertas yang putih
Cinta kasih tak memilih
Cinta kasih
Cinta kasih
Tak akan memilih

(diinspirasi dari kumpulan cerpen dan puisi ‘Ketika Jemariku Menyatakan Cinta)
Powered by Blogger.