Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Drama dalam Konser Sheila On 7

Saturday, June 4, 2016
Sumber Gambar

Sore itu, ada pekerjaan yang harus segera saya selesaikan. Sebenarnya itu bukan pekerjaan saya, namun naluri sebagai asisten pribadi seorang PNS masih saja timbul ketika bulek saya kesulitan membuat laporan pertanggung jawaban, atau sering disingkat LPJ. Pekerjaan yang awalnya saya kira akan menghabiskan waktu berjam-jam, ternyata hanya sekitar satu jam lebih sedikit, LPJ itu selesai dan tinggal di edit lagi jika masih ada perubahan.

Sebagai imbalan, sore itu saya dibelikan gado-gado serta cemilan, dan biar nggak seret, ditambah dengan es teh manis tentunya. Saya lantas berpamitan, karena sore itu saya ada agenda ke Solo.

Beberapa hari yang lalu, kawan saya yang kini sedang mempersiapkan diri sebagai Bapak, memberi kabar melalui pesan Wasap, bahwa Sheila on 7 bakal menggelar konser di Solo. Pikir saya saat itu, “Saya mungkin butuh sesuatu yang baru, tidak ada salahnya kalau saya jingkrak-jingkrak di lapangan sambil ikut grememeng seolah menjadi backing vocal-nya Mas Duta”

Dan disaat yang bersamaan saya baru menyadari, bahwa di kampus Mesen pada hari yang sama, juga ada pertunjukan teater oleh dedek-dedek Mahasiswa psikologi UNS. Kemudian saya pun juga sedikit serakah ingin menikmati semua pagelaran di Solo pada hari itu.

Saya menghubungi kawan saya yang sekali lagi, sedang mempersiapkan diri menjadi seorang bapak, untuk menanyakan pukul berapa lebih tepatnya, Sheila on 7 naik panggung. Menurut informasi kawan saya, kemungkinan besar Sheila on 7 bakal naik panggung malam, sehabis isya. Dan ketika saya bertanya mengenai kepastian waktunya jam berapa, kawan saya belum bisa memberikan jawaban. “Saya tidak tahu pastinya, tapi biasanya sehabis sholat isya, nanti saya coba tanya ke anak-anak Sheila Gank Pandawa Lima Solo (sebutan bagi penggemas Sheila on 7)” begitu kira-kira jawaban Wasap darinya.

***
Sehabis sholat magrib saya menggeber motor matic saya untuk pergi ke Solo. Saya mampir sebentar ke SPBU untuk mengisi bahan bakar, serta mengambil sejumlah uang di ATM yang letaknya masih di area SPBU.

Kemudian saya memacu motor matic saya dengan kecepatan yang sedang-sedang saja. Dan terus menyelinap di antara mobil-mobil yang penuh sesak ketika menunggu lampu traffic lamp berubah menjadi hijau. Perjalanan yang menurut saya adalah perjalanan yang biasa saja. Tak ada hal-hal menarik yang saya dapatkan. Lebih tepatnya, tidak ada lamunan-lamunan yang menginspirasi untuk kemudian di ekseskusi di atas keyboard dan menjadi sebuah tulisan. Iya, saya mempunyai kebiasan melamun ketika sedang mengendarai motor. Dan banyak postingan saya adalah produk dari lamunan saya ketika mengendarai motor.

Sekitar perjalanan 30 menit-an saya sudah sampai di depan Bank Indonesia, dan saya melihat orang-orang penuh sesak sudah mengantri di depan pintu Benteng Vastenburg. Saya tiba-tiba malas untuk menonton konser Sheila on 7. Kemudian saya menuju ke kampus mesen. Di sana, saya bertemu dengan adik-adik tingkat, mereka masih sama seperti yang dulu, masih sibuk dengan game. Entah, bagaimana nasib skripsinya, saya tidak berani untuk menyinggung hal itu. Karena bisa jadi saya tidak bisa pulang dengan selamat ketika menanyakan skripsi pada mereka.

Selang beberapa saat, datanglah dua sejoli yang sudah beberapa kali saya singgung dalam tulisan saya. Iya, bos kedai roti bakar lambemoo dan gebetannya Diandra. Nampaknya mereka berdua ingin menonton pertunjukan teater.

Awalnya saya ragu ingin menonton pertunjukan teater. Jujur, saya takut gagal paham. Konon, butuh pemahan yang mendalam untuk melihat lebih jauh tentang apa yang hendak di sampaikan dalam setiap adegan sebuah drama atau pertunjukan teater. Maklum lah, di rumah saya sudah di “cekoki” dengan drama-drama yang tak bermutu, seperti si Boy dan sinetron India, macam Utaran yang membuat para ibu-ibu lupa bikin makan malam buat keluarganya.

Saya membulatkan tekad untuk menontonnya, karena sekali lagi, “Saya sedang butuh sesuatu yang baru” batinku kala memutuskan untuk membeli tiket pertunjukan teater. Meski sedikit sebal, mengingat acara molor sekitar satu jam, karena dalam sebuah pamflet seharunya dimulai pukul 19:00 namun entah mengapa pertunjukan baru dimulai pukul 20:00. Setidaknya ini adalah penegasan bahwa budaya ontime masih dalam tahap wacana. Asal kalian tahu saja, telat satu menit saja, karyawan saya bakal dapat jatah “sarapan” dari saya.

Menikmati pertunjukan teater untuk pertama kalinya
saya memasuki gedung serba guna mesen, bersama Bos “Lambemoo dan gebetannya Diandra. Ruangan yang gelap dan nampak penonton sudah duduk rapi lesehan di tempat yang sudah di sediakan oleh pihak penyelanggara.

Melihat dekorasi panggung yang sederhana, namun tetap berusaha menghadirkan set tata panggung seolah dalam sebuah warung pecel. Iya, pertunjukan dengan judul “Di Sebuah Jalan Kecil” adalah pertunjukan teater dengan alur sebuah percakapan dalam sebuah warung pecel.

Saya masih terus berusaha menyimak, tentu hal ini saya lakukan agar saya bisa menangkap pesan yang coba di sampaikan sutradara melalui pertunjukan teater. Namun, lagi-lagi saya gagal paham dengan pertunjukan teater malam itu.

Pertunjukan teater malam itu diawali dengan obrolan di sebuah warung pecel, antara karyawan, tante-tante genit, orang yang sudah lanjut usia. Obrolan yang berusaha mengomentari, atau lebih tepatnya mengkritisi tentang keadaan sosial saat ini.

Dan konflik dalam pertunjukan malam itu adalah ketika seorang pemuda yang tidak membayar pecel yang sudah ia makan. Kemudian terjadi percekcokan diantara mereka. Jujur saya terus berusaha membaca alur cerita dalam drama malam itu. Dan saya salah. Tebakan saya bahwa pemuda itu jujur adalah salah besar. Karena, pemuda yang tidak membayar pecel yang ia makan adalah seorang penipu. Iya, penipu yang memanfaatkan rasa kasihan dari orang lain.

Mungkin hal itu yang akan disampaikan dalam pertunjukan malam itu. Bahwa sulit mencari orang yang jujur di zaman sekarang ini. Karena masih ada orang yang justru menipu orang yang telah mempercayainya, atau dengan kata lain berkhianat. Mungkin lho!
***
Ketika pertunjukan telah usai saya segera bergegas, menuju panggung pertunjukan selanjutnya, yaitu menonton Sheila on 7

Menonton Sheila,
Selesai duduk manis, menikmati sebuah drama pertunjukan teater dari dedek-dedek mahasiswa psikologi UNS, saya segera menuju ke benteng vastenburg Solo, untuk melihat konser gratisan Sheila on 7.

Saya baru mendapat kabar dari kawan saya, bahwa masih ada waktu dan kemungkinan penggawa Sheila on 7 belum naik ke panggung saat pertunjukan teater selesai. Dan benar! Ketika saya menuju lokasi tempat Sheila on 7 manggung, penonton nampak sudah mulai memudar, terlihat lebih longgar daripada sore hari ketika saya melintasi jalanan depan Bank Indonesia.

Saya langsung memarkirkan sepeda motor, kemudian mulai antri masuk ke lokasi. Hanya bermodalkan SIM saya langsung dipersilakan masuk. Konser malam itu gratis tiket masuk. Maklum, konser malam itu di sponsori oleh produsen rokok. Jadi ya, yang masuk harus diatas 18 tahun.

Malam itu adalah kali kedua saya menonton konser Sheila on 7, pertama kali saya menonton konser adalah ketika masih berstatus menjadi mahasiswa. Saya masih ingat kala itu saya nimbrung bersama kawan saya yang merupakan anggotan Sheila Gank Pandawa Lima, Solo. Saya turut menunggu di depan hotel dimana para personel Sheila on 7 transit, dan setelah menunggu lama kami pun sempat bersalaman dan berfoto bersama dengan Eros dan Brian, gitaris dan drummer Sheila on 7.

Malam itu saya benar-benar kehilangan keutamaan dalam menonton sebuah konser musik. Karena saya berada di barisan belakang. Di depan sudah penuh sesak oleh “jamaah” yang mengejar keutamaan dalam menonton sebuah konser musik. Tentu keutamaan yang saya maksud di sini adalah sensasi bisa berada di dekat sang Idola.

Munculnya sang voalis, yaitu Duta Sheila on 7 diiringi dengan teriakan histeris dari para penggemar. Lagu mars sheila gank dilantunkan dalam lagu pembuka malam itu. Saya masih berada di belakang dan menikmati setiap lantunan lagu dari Sheila on 7. Merasakan hentakan drum dengan sound system yang menggelegar hingga seakan bersautan dengan detak jantung. Bisa dibilang sound malam itu, mantab.

Sambil terus grememeng menirukan lagu-lagu yang dilantunkan Duta Sheila on7, saya sesekali melihat sekeliling. Sebuah pemandangan yang menurut saya adalah pemandangan yang cambur baur. Bukan hanya sepasang muda-mudi yang nampak mesra saling bergandengan, tapi juga segerombolan ukhti-ukhti yang nampak tidak risi melintas di sekelling laki-laki yang sibuk menonton, sambil tetap memainkan puntung rokok di jarinya, serta menghembuskan asap rokok.

Hingga tibalah klimaks dari performance Sheila on 7 malam itu, ketika mereka membawakan lagu “Melompat Lebih Tinggi” lagu yang membuat saya turut jingkrak-jingkrak dan senyum bahagia, layaknya segerombolan anak pemburu telolet yang mendapatkan rekaman bus yang membunyikan klakson telolet. Dan penampilan eros saat mengiringi lagu itu membuat semua orang bertepuk tangan. Ncen bener kata SGPL, “Ora Eros Ora Joss”

Sponsor utama malam itu adalah produsen rokok, jadi bertambah tidak khsusuk lah saya menonton konser malam itu. Karena, bukan hanya posisi saya yang berada di barisan paling belakang. Melainkan, mba-mba SPG rokok yang sering berseliweran di depan mata saya, membuat konsentrasi saya sedikit buyar. Beruntung tak ada satu pun SPG yang meawari saya rokok malam itu. Mungkin mereka tahu, bahwa saya tidak ada potongan seorang perokok. Lha wong cuma ditawari djarum black oleh kawan saya ketika makan malam bersama panitia acara turnamen futsal di tempat kerja saya saja, saya langsung mengguk, batuk hingga dada terasa sesak hingga satu minggu. Mau sok-sok an jadi perokok.

Hanya sekitar satu jam lebih sedikit, Sheila on 7 menghibur warga Solo, saya pun juga langsung kabur ketika Sheila on 7 sudah menyanyikan lagu penutup. Sebelum pulang, perut yang hanya terisi gado-gado sore hari tadi pun juga menuntut hak untuk diberi asupan. Saat perjalanan pulang saya mampir dulu di sebuah warung nasi liwet.

Sambil menikmati nasi liwet, saya sempat mengirim pesan kepada Mba Admin, kemungkinan keesokan harinya, saya akan datang terlambat, karena paginya saya masih berjibaku dengan pekerjaan kantor.


Namun keesokan harinya saya tidak jadi terlambat. Naluri seorang buruh membuat saya tetap bisa bangun pagi dan bekerja seperti biasa. Meski malam harinya saya kurang tidur.