Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Hati yang telah bersih

Tuesday, June 21, 2016
Hati yang telah bersih

Di mata teman-teman kuliah, Sholikin dikenal sosok yang alim. Pendiam. Tidak pernah neko-neko. Mungkin pemalu. Sholikin tidak pernah emosian. Tidak memiliki rasa dendam. Tidak pernah berpikir dahulu, jika ada yang merasa butuh pertolongan, langsung memberikan pertolongan. Mungkin karena hatinya yang telah bersih.

Siapa sangka jika Sholikin pernah pacaran. Pantasnya, seorang Sholikin nongkrongnya di teras Masjid. Duduk bersila dikelilingi anak-anak. Memakai baju koko dan kopyah sedang mengajari anak-anak mengaji. Aneh rasanya, misal, coba bayangkan saja, Sholikin sedang menggandeng cewek di mall?

Mungkin ‘potongan’ Sholikin yang sekarang ada hubungannya dengan masa lalu. Dia berubah untuk melepaskan apa yang pernah dipegang erat-erat. Dan jika benar seperti itu, maka dia telah berhasil.

Atau pembawaannya memang seperti itu. Makanya dia diputus tanpa tahu alasan yang jelas.

Mana yang benar, Sholikin dan apa yang ada dalam hatinya saja yang tahu.

***

Ada kemungkinan-kemungkinan untuk menarik kesimpulan. Kemungkinan bahwa yang terjadi adalah ujian, hukuman, atau justru anugerah yang harus disyukuri. Kesadaran untuk khusnudzon bukan suudzon.

Sangat mungkin itu anugerah. Karena bisa jadi yang menyakitkan itu justru yang baik. Sebaliknya yang sepertinya membahagiakan justru itu buruk. Adalah tetap mawas diri dan peka atas kemungkinan-kemungkinan itu. Kembali lagi agar khusnudzon bukan suudzon.

Toh persimpangan jalan sudah dilewati. Jalan baru sedang dilewati. Maka jalan tempat kaki melangkah hari ini adalah hasil dari keputusan demi keputusan atas setiap pilihan hidup yang dihadapi di masa lalu.

Setiap dihadapkan pada sebuah pilihan. Harus ada pilihan yang tidak diambil, ditinggalkan. Ada pilihan yang harus diambil, dijalani.

Pilihan yang ditinggalkan tidak boleh di-ngen-ngen lagi. Tidak boleh dilirik-lirik lagi. Tidak boleh menoleh ke belakang lagi. Harus ikhlas melepaskan. Betapapun yang harus dikorbankan.

Hidup adalah sekarang atas pilihan yang diambil. Menjalani dengan konsekuensi dan segala resikonya. Entah harus lebih dulu tertatih-tatih. Merangkak-rangkak. Atau tersayat-sayat hatinya.

Konsep seperti ini coba dipegang betul oleh Sholikin. Belajar hanya ada ‘iya’ dan ‘tidak’. ‘semuanya’ atau ‘tidak sama sekali’. Padahal aslinya Sholikin adalah seorang yang peragu. Berlama-lama berpikir untuk membuat sebuah keputusan.

Untuk itu, jalan yang sekarang dipilih Sholikin berbeda. Berbeda dari semua jalan yang pernah dia lalui dan pikirkan. Sholikin seakan mengasingkan diri untuk tidak ngekos bareng-bareng dengan teman-teman yang lain. Sampai teman-temannya tidak sampai akal dengan pilihan kosannya.

Kosan yang tidak mainstream umumnya mahasiswa jaman sekarang. Sholikin belajar di mana pun ada-nya. Jika dibandingkan, bisa jadi selama ini, malah dia lebih banyak belajar di ruang sunyi kamar kosanya daripada di meja kuliah.

Suatu waktu seorang teman seangkatan kuliahnya ingin agar bisa kos di tempatnya yang kebetulan sedang ada kamar yang kosong. Sebelum akhirnya mau membantu untuk memohonkan ijin kepada pemilik kos, sudah diwanti-wanti terlebih dahulu temannya itu. Jika temannya tidak akan betah tinggal di kosannya. Tidak akan mampu bertahan lama di kosannya.

Seperti Nabi Khidir as yang memperingatkan Nabi Musa as sebelum menerimanya sebagai murid.

Mungkin Sholikin sudah paham, jika temannya itu diam-diam ingin mencuri belajar dari kehidupan sunyinya.

Belajar hidup seperti ahlus shuffah. Orang-orang yang berpakaian lusuh, kusut, berdebu dan disepelekan, yang tinggal di shuffah masjid Nabawi saat Rasulullah tinggal Madinah. Orang-orang yang oleh Rasulullah diberi perhatian lebih engan banyak memberi sedekah. Orang-orang yang sehari-harinya hanya belajar, beribadah, dan ikut berperang. Orang-orang miskin yang tidak meminta-minta seperti yang disebut dalam surah al Baqarah ayat 273 itu.

Dan terbukti benar perkataan Sholikin. Tidak sampai hitungan bulan, temannya itu sudah pindah kosan. Membawa lari sebuah kalimat yang kini mulai sering terdengar. Kutipan yang sering Sholikin tuliskan di dinding-dinding dunia mayanya:

“Tak pernah mengutuk keramaian, hanya butuh ruang untuk menikmati kesunyian”