Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Arya, Villa, dan Kahfi, Sebuah Harmoni Keluarga Kecil.

Thursday, July 14, 2016

Takut pada apa yang akan terjadi, baik atau buruk.

Ketakutan dalam diriku ini begitu besar seperti lautan. Luas, dalam, dan berombak. Kadang tinggi ombaknya, di satu waktu memelan. Seperti saat menuliskan catatan ini, kilasan ketakutan meracuni keyakinan hatiku. Menulis itu butuh keyakinan, bukan hanya sekadar merangkai kata. Kalau sekadar merangkai kata, bahkan anak SD pun mungkin enggan membaca.

Seperti saat menyulam, menjahit, melukis, menyanyi, semua membutuhkan harmoni –dan Harmoni adalah lagunya Padi. Selama ini aku selalu mencari harmoniku sendiri. Bagaimana hidupku bisa berirama seiring alam, mengalir tanpa paksaan. Bagaimana aku bisa hidup berdetak dengan gerakku sendiri. Semua atas keinginan dan kemantapanku, bukan terpaksa karena keadaan.

Dan kemarin aku temukan harmoni dalam sebuah keluarga kecil.

Tidak kusangka aku yang biasanya ndableg dan ngeyel saat diberi nasihat, kemarin ‘batu’ itu luruh. Saat awal pertemuan masih biasa-biasa saja, namun setelah tiba di kediaman mereka ada yang berbeda. Sambutan yang hangat dan terbuka merangkulku, yang saat itu juga sedang ketakutan. Ketakutan karena terbayang-bayang gambar sepasang orang tua dari gadis yang kucinta.

Benarlah keputusanku menemui mereka siang itu, meskipun sebelumnya sempat ragu.

Kakakku, sebut saja Villa sekitar jam 10 menelpon via WA. Saat itu aku baru mau mandi. Dikira dia aku baru bangun tidur. Tega benar dah. Aku merasa  jadi the real pengangguran. Kuambil air mandi secepat mungkin dan kugeber motor Xeon (pinjaman) ke kantor Indosat. Mereka ingin mengganti kartu SIM-nya yang lama dan beralih ke 4G.

Gembira sekali aku waktu Arya, suami Villa menyambut di lobi luar.

Sudah lama aku tidak bertemu beliau. Seorang kakak dari hasil pertemanan dan perkumpulan yang pernah kami buat. Semacam para trainer atau motivator yang bersatu untuk membuat lembaga training dan outbond. Villa juga ikut di dalam rintisan itu. Waktu itu aku masih semester 4 dan Villa semester 6. Arya adalah salah satu pendiri lembaga training kecil itu, yang sampai sekarang masih hangat ingatannya dalam hatiku.

Arya dan Villa dipertemukan di dalamnya.

Dulu saat mereka menikah, aku menerima undangan dengan gembira sekaligus kesal. Pasalnya aku tidak tahu kalau mereka ternyata punya hubungan khusus. Rasanya seperti seorang adik yang tidak terima kakak-kakaknya mau bahagia tapi ndak dikasih tahu. Sepertinya Villa membaca rasa kesalku itu waktu datang ke ngunduh mantu mereka beberapa tahun silam. Dia langsung sms minta maaf tepat setelah aku pergi dari acara itu.

Villa adalah kakak perempuan yang jadi dekat karena kepanitiaan acara HIMAPSI.

Dia dulu selalu memberiku ‘jitakan’ baik secara maknawi mau pun harfiah. Aku merasa memiliki seorang saudari kandung yang mengerti tanpa harus kujelaskan diriku. Dan Villa ini benar-benar ngemong sama aku. Sampai sekarang aku masih merasa memiliki ikatan adik-kakak itu. Persaudaraan yang dilandasi rasa tulus membantu satu sama lain.

Kemarin ‘jitakan’ Villa juga muncul dan membuatku terdiam beberapa kali. Saat sampai di rumah, Kahfi (nama sebenarnya) putra mereka masih belum mau main sendiri. Dia gelendotan sampai klesotan meminta Arya dan Villa menggendongnya. Aku ingin membantu tapi Kahfi masih malu-malu sama aku. Saat tahu aku coba ‘merayu’ Kahfi tapi ragu, Villa nyeplos.

“Wil, kamu itu lho, ayo tunjukkan sisi kebapakanmu.”

Sial, batinku dalam hati. Kata-kata Villa langsung tepat menancap menusuk kesombongan egoku. Sebab kalimat itu selalu aku sugestikan saat merayu anak kecil. Kok bisa-bisanya muncul dari bibir orang lain. Rasa gemas pun muncul dan aku banyak melamun setelah itu. Arya dan Villa pun sibuk bergantian mengajak Kahfi bermain sembari menyiapkan makan siang.

Dan aku hanya bisa melihat.

Berperang dalam diriku ego dengan suara hatiku. Mereka keluarga yang selama ini aku idam-idamkan. Penuh kasih sayang, terbuka dengan diriku apa aku adanya, sambutan yang tidak dibuat-buat. Tapi ada sisi ekspektasi dalam pikiranku yang tidak terima. Keluarga ideal itu bukan seperti mereka, kata egoku. Namun hatiku memahami mereka sungguh berbeda.

Aku benar-benar tersentuh dengan kebersamaan sederhana Arya, Villa dan Kahfi. Ditambah keluarga kecil di rumah mungil itu. Seorang kakek, paman, dan seorang perempuan, mungkin adik Arya. Mereka tidak jaim dan los aja melihatku datang. Suasana keluarga yang sangat... sangat aku impikan dalam seluruh hidupku.

Arya juga mendengarkan dengan saksama cerita-cerita dariku.

Meski pun sudah tahu ada apa dengan diriku, masih saja bertanya apa saja kegiatanku. Aku ceritakan mulai dari depresiku selama dua tahun ini, kegagalan mendapatkan pasangan, hingga keluarga. Villa, sembari menyuapi Kahfi ikut nimbrung dan nyeplos-nyeplos kepadaku pula. Dalam hati aku ingin lari saat itu juga. Meluapkan kegemasanku karena berkali-kali ‘dihajar’ oleh kalimat-kalimat singkat.

“Kenapa sih kok kos segala. Rumah juga dekat. Ngabis-ngabisin duit!”

Sial... sial. Aku rasanya ingin memukul Villa saja saat itu. Tapi aku merasa bahagia lho. Beberapa kalimat itu biasanya dikatakan orang lain dan aku langsung marah, tapi kalau sama mereka tidak. Aku sudah merasa nyaman saat Arya dan Villa mengajakku ngobrol. Rasanya aku ingin menumpahkan segala kegelisahanku kepada mereka. Ketakutanku yang saat itu hingga sekarang masih menghantuiku.

Keluarga kecil itu telah memberiku makna di siang yang hangat. Kesinambungan sebuah ikatan dan komitmen. Ya, komitmen. Itu yang kutulis kemarin di posting terakhir blog catatanwildanmuhammad. Entah mengapa aku jadi merasa ‘bisa membuat sebuah ikatan’ dengan seseorang lagi. Melihat mereka, sebuah keluarga kecil yang dihiasi rangkaian senyuman.

Belum pernah aku menemukan keluarga semacam itu sejak setahun lalu.

Keluarga yang memiliki kemistri= kemesraan suami istri. Kemistri yang sederhana namun mengena. Ah itu yang kucari selama ini. Ternyata sahabat-sahabatku benar-benar luar biasa. Menyaksikan Arya dan Villa mengurus Kahfi yang lagi rewel waktu itu. Mereka tidak mengabaikanku bahkan ketika anaknya sedang butuh perhatian.

Aku merasa memiliki keluarga.

Selain itu keduanya juga kompak mendengarkan ocehanku. Yang mungkin tidak masanya lagi aku mengeluhkannya. Tentang gelora hidup yang masih saja aku anggap berat. Hatiku belum memahami benar bahwa hidup adalah tentang menjalani, bukan menghakimi. Salah benar baik buruk, semua itu bagian daripada hidup.

Saat Villa bertanya, “Wil siapa cewek yang lagi kamu taksir?”.

Terdiam dan hanya bisa ketawa, aku. “Sini kasih fotonya ke aku, tak liat gimana orangnya,” tambah Villa. Langsunglah aku teriak jangan. Dia bilang biar bisa mendoakan dan memberi nasihat. Bahkan Villa juga berkata akan membantu kalau dia kenal. Rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Bahkan Ibuku saja tidak pernah bilang begitu kepadaku.

What a wonderful family.

Dan aku tutup tulisan ini dengan jitakan Villa waktu menawariku mampir ke rumah. Waktu itu aku ditanya mau ke mana. Kujawab melu (bahasa Jawa= ikut, red) dengan mereka saja. Villa langsung nyeletuk tanpa dosa. Celetukan yang sungguh mengena karena sejak beberapa hari lalu muncul dalam bisikan hatiku.


“Kamu itu Wil, harusnya kamu itu diikuti, bukan ikut.”