Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Buka Bersama “Hip Hop”

Thursday, July 7, 2016
Kawan-Kawan yang tergabung dalam sindikat Hip Hop 09

Pagi itu, bisa dibilang saya bangun kesiangan. Sudah beberapa hari saya kesulitan untuk tidur. Mata saya terus melek hingga sahur dan baru bisa tertidur pulas sehabis sholat shubuh.

Saya terbangun dan melihat ke arah jam. Sudah sekitar jam 10-an. Saya kemudian teringat, bahwa saya ada janji untuk bertemu dengan kawan-kawan kuliah yang kini sudah terpisah jarak karena mulai berpencar dalam mengejar dunia cita-cita.

Menjelang libur lebaran, kawan-kawan kuliah yang terjaring dalam sebuah sindikat bernama “Hip Hop 09”. Hip Hop 09 adalah begundal-begundal psikologi UNS 2009. Di grup wasap, kami sedang mangagendakan sebuah pertemuan. Dan atas beberapa pertimbangan salah satu kawan kami, yaitu Ditya, menyarankan agar pertemuan kali ini diagendakan sebelum lebaran. Berbeda dengan acara tahun lalu, dimana kami semua meluangkan waktu di lebaran ketiga untuk berkumpul bersama dan berdarma wisata serta menikmati kemacetan di Pantai klayar, Pacitan. Namun, tahun ini acaranya adalah buka bersama, kemudian dilanjutkan dengan kongkow-kongkow hingga larut malam.

Sebelum saya segera menggeber kendaraan saya, saya terus memantau kondisi grup wasap sambil memastikan bahwa segala urusan saya sudah selesai. Kami semua sepakat untuk berkumpul dulu di kos-an Sandy dan Python. Sehabis sholat dhuhur saya menuju Solo dengan motor matic saya. Ketika sampai di sana, sudah ada Ditya yang sedang klekaran di atas kasur, Audit yang mblosor di lantai nampak sedang memanfaatkan waktu untuk istirahat, Johan, yang beberapa bulan lagi, Inshaallah akan menjadi papa muda nampak sedang otak-atik handphone-nya. Inug yang nampak lelah karena perjalanan 40 jam dari Jakarta dan sempat terjebak macet di Brebes, juga nampak berbeda dan jauh lebah cerah auranya karena sudah ada cincin yang melingkar di jari manisnya. Dan Damas yang nampak sibuk dengan handphone selfie-nya. Sedangkan saya? saya sibuk melihat aktifitas mereka. Yang terakhir ini nampak kurang kerjaan banget, ya?

Ketika saya datang, saya tidak melihat Nanda dan Python. Kabarnya Python masih istiqomah dalam beribadah, yaitu tetap bekerja meski yang lain sudah libur menjelang lebaran. Dan Nanda masih di kos-annya dan sebentar lagi akan menyusul kami ke kos-an Sandy.

Awalnya kami akan buka bersama di warung Bu Bibit, selain harga yang masih sangat terjangkau, saya juga suka dengan bebek goreng dan nasi uduknya. Iya, nasi uduk, yang menurut saya tidak ada bedanya dengan sego gurih. Namun, menurut informan kami, yaitu Ditya yang kebetulan rumahnya dekat dengan warung Bu Bibit, di sana selalu penuh sesak oleh orang-orang yang akan buka bersama. Dan atas saran dari Ditya juga, buka bersama kami alihkan ke Solo baru, yaitu di “Bebek dan Ayam goreng Mas Faiz”

Sambil menunggu Python yang sedang mencari “sebongkah berlian” ternyata Ismoyo juga ingin ikut bergabung. Jadi bisa dipastikan bahwa yang bisa buka bersama sore itu, Saya, Johan, Ditya, Inug, Python, Sandy, Audit, Damas, Nanda, Ismoyo. Hampir lengkap hanya minus, Bang Punto dan Bona, mungkin tahun depan bisa lengkap.

Kami berangkat dari kos-an Sandy sekitar jam 16.30. Maklum kami belum booking tempat, takutnya kamu tidak kebagian tempat untuk buka bersama. Sesampai di sana, kami langsung memesan bebek goreng, nasi, lalapan, gorengan serta es teh dan es jeruk sebagai minumannya. Ohiya, khusus untuk Python kami pesankan special. Teh panas.

Sambil menunggu berbuka, kami saling mengobrol dan bersunda gurau, karena Al Ustad Damas, enggan untuk memberikan tausiah agar kami semua dapat kembali ke jalan yang benar, mengingat kami semua sadar bahwa terkadang jalan kami agak sedikit melenceng, hehehe J

Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari yang seriyus, sampai yang nggak penting. Membicarakan hal-hal atau kekonyolan yang pernah kami lakukan semasa kuliah. Atau pengalaman-pengalaman pahit kami yang kami kemas dalam guyonan. Dan saya menjadi semakin percaya, bahwa tak selamanya pengalaman pahit itu akan terus terasa pahit, karena bisa menjadi sebuah lelucon.

Kumpul-kumpul akan terasa hambar jika tanpa berfoto-foto. Sebagai manusia yang kekinian, kami juga melakukan wefie dan agar lebih afdol tentu dengan meng-upload-nya ke media sosial. Apalagi didukung dengan hanphone baru Damas, yaitu zenfone selfie yang dibeli dari gaji ke 13 dan 14-nya.

Sambil menunggu adzan magrib kami juga menentukan agenda setelah buka bersama. Setelah sholat magrib, kami berencana untuk menyewa room karaoke. Dan tentu itu adalah momen bagi saya untuk menyanyikan lagu favorite saya. Apalagi kalau bukan song of the year “suket teki” ciptanya Didi Kempot yang sudah di-koplo-kan.

***
Selesai Sholat magrib, kami kemudian kembali lagi ke kos Sandy, sepertinya Inug mengalami gangguan masalah perut. Damas dan Ismoyo juga ingin pamit karena sepertinya ia tidak akan melewatkan sholat teraweh terakhir ramadhan tahun ini. Bisa jadi Damas dan Ismoyo tidak sepakat dengan agenda karaoke kami, jadi mereka berdua berpamitan dan tentu mereka lebih memilih ikut sholat teraweh berjamaah. Teraweh jelas hukumnya, nek karaoke? Hukumnya baru bisa menjadi wajib jika dalam kondisi stress berat. Ngaku ra?

Kami menghargai setiap keputusan teman kami. Dalam hal ini kami justru malah sangat berterima kasih karena bagaimana pun juga mereka sudah menyempatkan waktu untuk berkumpul dan buka bersama.

Kemudian kami menuju tempat karaoke. Untuk masalah tempat karaoke, kami serahkan kepada yang lebih berpengalaman. Dalam hal ini adalah Python. Dalam dunia per-karaoke-an Python kami anggap memiliki referensi yang jauh lebih banyak daripada diantara kami semua. Dan apa yang terjadi? Dari semua referensi Python, semuanya tutup. Tuhan benar-benar tidak mengabulkan keinginan kami, karena kami malah karaoke daripada sholat teraweh, mengingat malam itu adalah sholat teraweh yang terakhir ramadhan tahun ini.

Kami yang kala itu memakai mobil milik Audit, setelah berkeliling lelah mencari tempat karaoke. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat isya terlebih dahulu di sebuah mushola yang terletak di The Park. Bagaimana pun juga, sebandit-banditnya kami yang bolos sholat teraweh, kami tidak melupakan ibadah sholat wajib. Imam sholat kali ini adalah kawan kami yang sudah kami anggap dewasa daam berpikir, karena sekarang maqomnya jauh lebih tinggi daripada kami semua. Wes dadi imam keluarga oq len, piye to.

Keanehan pun terjadi. Entah karena imam sholat yang tidak menyakinkan karena berkaos dengan celana jeans, atau bacaan ayat-ayat kawan kami yang tak semerdu imam Masjid Salman ITB, sehingga ada orang yang memutuskan untuk mendirikan sholat berjamaah sendiri di dekat kami. Jadilah dalam satu mushola ada dua kelompok yang mengadakan sholat isya berjamaah. Dalam mobil saya berpikir keras kenapa hal itu bisa terjadi.

Karena kebanyakan tempat karaoke tutup, mungkin dari pihak pengelola karaoke memberikan kesempatan kepada “karyawan karaoke” untuk mudik dan bisa berlebaran bersama kelaurganya. Kami mutung dan memutuskan untuk nongkrong di angkringan dekat Bank Indonesia. Ohiya, ini rekomendasi dari Python juga. Kami hanya duduk ngopi sambil menikmati jajanan di angkringan.

Ngobrol ngalur-ngidul, membuat saya lupa, bahwa diantara kami ada yang sudah tak lagi bujang. Johan kemudian berpamit duluan dengan alasan sudah di tunggu Istrinya. Mungkin juga dia sudah di BBM/wasap “Mulih, po ra? *emot yang sulit dideskripsikan*”

Kami nongkrong di angkringan hingga larut malam. Kemudian ada Ricky adik ingkat kami yang sebelumnya iktikaf di kampus Mesen, juga menyusul kami. Selang beberapa saat, sesepuh kami, Mas Ael juga menyusul, diikuti dengan Anjar. Karena harus menghadiri majelis wedangan di tempat lain, Mas Ael pamit duluan. Dan karena Audit harus segera pulang ke Magelang. Sedangkan Inug, Sandy dan Nanda juga nebeng sampai Magelang. Kami semua saling berpamitan dan mengucapkan salam perpisahan.

Ini adalah bagian dari cara kami untuk menjaga tali silaturahmi. Sekarang kita semua memang saling berpisah jauh, tapi kita semua pernah bersama. Semoga acara seperti ini bisa tetap diagendakan.

Dan dalam kesempatan kali ini, kami segenap keluarga besar “Hip Hop 09” mengucapkan “Taqoballahu Minna Wa Minkum, Selamat Hari Raya dan Makan-makan”