Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Membuka Hati Perjalanan Adaptasi.

Friday, July 1, 2016


Rasanya aku sulit untuk mengeluh. Dalam hal ini, tentang apa yang tidak kudapatkan. Melihat orang sekitarku saat berburu takjil tadi, menyadarkanku bahwa kita semua memiliki anugerah masing-masing. Dua hari ini aku berbuka di masjid depan (mantan) kampus dan kurasakan hawa sahaja luar biasa. Semua orang dari segala umur dan segala kalangan memakan makanan yang sama. Minum minuman yang sama.

Tiba-tiba saja aku merasa ‘hei buka matamu’.

Satu perintah halus dari dalam memanduku. Kulihat beberapa bapak parkir duduk di lantai emper luar masjid, anak-anak berkumpul di anak tangga sambil bercanda, beberapa wanita duduk rapi di bagian shaf wanita. Ada juga yang duduk di luar masjid, tepat di tempat motor biasa parkir, aku dan beberapa orang laki-laki.

Saat azan kumandang semua orang menyruput gelas dan membuka bungkusan coklat. Menu hari ini nasi bandeng dengan sambal –aku tidak yakin itu benar-benar sambal karena tidak ada pedasnya segigit pun. Kulahap hidangan itu setelah berdoa agar hatiku dibuka oleh Allah. Ya, itu doaku setiap hari di setiap selesai melakukan ibadah apa pun.

Hatiku saat ini tertutup kabut kecewa yang masih melayang-layang cemaskan masa lalu.

Akibatnya masa depan kulihat bukan lagi peluang, tapi kegagalan. Pikiranku tidak melihat yang indah-indah di masa depan, yang ada hanya kematian. Sampai-sampai membuatku berpikir mengakhiri waktuku di dunia ini. Rasanya tidak ada harapan. Ya itu setahun lalu sebelum cerita baruku dimulai. Ibarat sekarang kabut yang menutup, dulu mungkin tembok setebal gunung.

Membuka hati ternyata begitu sulit.

Dan aku baru sadar juga ternyata sudah menutup hatiku untuk banyak kebaikan. Peluang-peluang melakukan sesuatu untuk orang lain kusingkirkan jauh-jauh. Berharap dapat menyembuhkan diriku sendiri dan setelah itu dapat menyembuhkan orang lain. Namun bukannya sembuh, malah ingin diri ini terbunuh. Dan aku bingung dengan diriku sendiri.

Ngomong-ngomong aku butuh mencari pertolongan kepada beberapa orang dulu, sebelum sekarang mampu berpikir lebih jernih. Waktu pertama membuka diri kepada seseorang rasanya begitu berat. Apa yang kukatakan tidak seperti yang aku rasakan. Ingin cepat saja hatiku terbuka, jatuhnya memaksa. Seseorang akhirnya jadi korban diriku yang sulit mengendalikan diri.

Rasanya diriku ini begitu salah karena memberi beban ini kepadanya.

Namun di antara semua temanku, hanya dia yang sanggup. Dia seseorang yang mampu merasakan perasaan orang lain, bahkan tanpa ia sadari. Saat aku melepaskan kendali diriku, egoku benar-benar meledak. Rasanya seperti membebaskan monster dalam diriku. Namun karena belum pernah menghadapi teman dengan tekanan jiwa setinggi itu, bisa jadi dia syok.

Membuka hati sebenarnya tentang mampu kembali merasakan sekitar.

Mampu peka terhadap perasaan orang lain. Mudah menyatu dengan keadaan dan tidak banyak terlalu memikirkan diri sendiri. Dulu aku merasa bisa melakukan hingga tahap itu. Tidak tahu sih benar atau tidak tapi memang aku memiliki ego sangat tinggi. Sampai-sampai seorang dosen bilang kalau aku sombong. Ya itu benar.

Melihat orang-orang di sekitarku tadi aku jadi teringat tentang beradaptasi.

Saat kecewa mendatangi, hidupku seolah tidak berarti. Kurasa hanya aku saja yang memiliki penderitan. Orang lain entah bagaimana hidupnya, bahagia menyertai mereka. Sedangkan aku? Bahagia seperti sudah mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Putus asa, tidak mau bersahabat dengan hidup.

Tidak mau beradaptasi dengan keadaan.

Mengapa aku jadi seperti ini kurasa tidak penting lagi kuceritakan. Tadi sewaktu mengambil takjil aku sadar benar diriku ini tidak lebih dari sekadar debu. Tidaklah aku punya kuasa mengubah takdir, tidaklah aku punya kekuatan mengatur jalannya keadaan. Angin bertiup, daun bergesekan, suara napas orang-orang, hujan yang turun tiba-tiba, burung terbang bersama kawanannya. Dan aku tidak mampu menghentikan detak jantungku sendiri.

Pada akhirnya proses beradaptasi pun bukan tentang mengubah diri.

Adaptasi adalah tentang membuka hati menerima keadaan saat ini. Mampu merasakan sekitar dan tidak memikirkan diri sendiri. Memanglah aku belum menemukan ‘penghibur’ untuk mengusir rasa kecewaku. Kehilangan itu masih begitu membekas dalam diriku. Membuatku terdesak hingga tidak mampu lagi menilai mana benar mana salah, mana baik mana buruk.

Membuka hati adalah cara mengembalikan akal sehatku lagi.

Depresi karena semua kejadian dalam hidup membuatku sadar hidup ini begitu berarti. Jika tidak berarti untuk apa aku memikirkan masa gagal dan jatuh hingga seperti ini. Pada akhirnya aku tetaplah membutuhkan. Meskipun aku sulit sekali untuk meminta tolong dan lebih sulit lagi percaya kepada orang lain. Membuka diri dengan teman malah membuatku kehilangan teman.

Namun tidak ada cara lain.

Cepat atau lambat semua tekanan yang kutahan ini akan meledak juga. Entah dalam wujud apa. Aku beruntung masih memiliki beberapa teman yang tidak meninggalkanku. Meski pun aku tidak merasa sepenuhnya bisa memercayai mereka tapi tidak ada yang lain. Aku harus coba melihat apa yang ada bukannya meminta yang tidak ada.

Ternyata memang jalan setelah itu terbuka.

Baru kuniatkan saja doaku sudah beberapa kali dikabulkan. Rasanya mendapat kejutan dari Tuhan, meskipun itu hanya pertemuan kilat atau mendapat sambutan hangat. Itulah tentang adaptasi yang di dalamnya mengandung rasa bersyukur kepada diri, menjinakkan kesombongan hati, dan terus mencoba perbaiki diri.


Membuka hati demi datangnya damai dalam diri.