Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Yang Sedikit Itu Layak Kita Jaga.

Sunday, July 10, 2016

Akhirnya, kemarin aku tidak jadi ikut trah keluarga besar di Kota Gudeg itu.

Sedikit cerita yang kuungkapkan di postingan lalu, ya aku dalam kondisi menimang apakah akan berangkat atau tetap di Solo. Singkat cerita aku sabtu pagi memutuskan tidak ikut. Terang, seperti dugaan Budhe yang akhir-akhir ini mendampingiku, bertanya perihal itu. Ku jawab keputusan itu kuambil selepas shalat tahajud malam sabtu itu.

Barangkali dari pembaca merasa gemas mengapa aku memutuskan tinggal. Anggap saja aku susah move on, seperti yang biasa kudengar dari orang-orang tentangku. Buatku ini lebih dari itu. Ajang silaturahmi bertemu tiga bulan sekali itu tidak efektif dan cenderung semata-mata ‘menggugurkan kewajiban’. Sebagai keluarga yang normal bertemu anggota keluarganya yang lain.

Di lain pihak antara keluarga satu dengan yang lain tidak pernah memiliki ikatan kepentingan.

So, setelah acara syawalan atau arisan itu bubar ya bubar dalam arti sesungguhnya. Satu sama lain tidak menyapa dalam tiga bulan. Paling satu dua yang masih saling berhubungan. Pun itu juga antar mereka saja dan keluarga lain ditutup akses dari kepentingan itu. Ya pola serupa ternyata ku temukan di keluarga teman pula.

Tidak semuanya sih, hanya teman yang memang memiliki ‘rasa kesepian’ sama denganku.

Ku pikir setiap keluarga memiliki pola masing-masing. Satu yang berat ketika keluarga malah seperti orang lain dan teman malah seperti keluarga. Saat kita membutuhkan apa-apa yang pertama kali dihubungi pastilah keluarga, karena mereka yang memiliki peluang menolong paling besar. Satu orang tahu bisa jadi seluruh keluarga tahu.

Sepantasnya begitu, namun yang bila yang terjadi sebaliknya?

Satu teman hanya akan memberitahu teman yang lain, yang belum tentu bisa membantu. Jaringan bantuan terputus di satu teman itu saja. Jika keluarga mereka akan mengusahakan bantu, meski pun itu hanya apa. Setiap kita tentu memiliki skema ‘keluarga yang utama’ dalam pikiran kita. Jika pengertian keluarga diperluas barang tentu itu mencakup keluarga besar.

Ini hanya opiniku saja, dalam kenyataannya pertolongan bisa datang dari siapa pun kok.

Mendamaikan diriku dengan keadaan dunia adalah tugasku saat ini. Berusaha melihat dunia apa adanya bukan dunia yang seharusnya. Lantaran aku bukan Tuhan yang bisa melihat dunia secara keseluruhan dan holistik, hingga tingkat seluler. Bahkan lebih kecil lagi dari itu. Mengetahui apa yang ada di pikiran pembaca saja aku tidak sanggup.

Ini tentang ego, sekali lagi.

Keinginan untuk ini untuk itu. Ideal, sistematis, logis, dan tentunya egois. Agar dunia menuruti apa keinginanku. Setiap orang harus jadi apa yang pas dengan kotak keinginanku. Bila di luar dari itu maka orang itu salah. Di luar itu akan terjadi keburukan dan kekacauan. Sementara yang kacau sebenarnya diriku sendiri.

Ada satu kalimat: jika kamu marah terhadap nasihat yang diberikan kepadamu, berarti kamu memiliki masalah dengan ego. Lagi-lagi ego, perasaan menjadi seperti Tuhan. Merasa mampu melakukan ini itu, memiliki hak menuntut orang lain, menyalahkan mereka atas kekacauan dalam diriku sendiri. Merasa memiliki legalitas untuk mengatur dunia.

Namun akhirnya aku tidak berangkat juga ke trah setahun sekali itu.

Bukan karena egois tapi aku merasa lebih penting silaturahmi yang benar-benar silaturahmi. Bukan sekadar ketemu sesekali waktu lalu makan bersama. Bukan hanya bercanda dan tertawa, tapi juga menangis bersama. Satu susah yang lain ikut susah. Bukan sok-sokan bilang kalimat-kalimat penenang atau penyemangat padahal dalam hati tidak peduli.

Peduli itu membutuhkan keberanian, seperti halnya menyatakan perasaan.

Menyatakan perasaan yang tentu tidak hanya berupa perkataan. Tindakan lah yang lebih penting. Dan tindakan itu tidak harus dengan memberikan sesuatu berupa benda. Bahkan hanya bertanya ‘perasaanmu gimana’ saja itu sudah sangat membuat seseorang merasa memiliki teman. Sebab, ada yang menghargai apa yang ia rasakan.

Silaturahmi berupa kelanggengan untuk saling tolong menolong.

Jika hanya dalam bentuk pertemuan, silaturahmi itu pasti akan kering. Kebosanan melanda dan hubungan itu tidak lagi memiliki nyawa. Lebih penting adalah perhatian yang dilakukan terus menerus. Ya kita tidak bisa memberi perhatian kepada semua orang ‘kan. Pada akhirnya hanya sebagian orang saja yang mendapatkan perhatian kita.

Yang sedikit itulah yang layak kita jaga.

Jangan sampai yang sedikit itu pun berjarak. Jarak secara fisik memanglah sangat terasa keberartiannya. Namun dalam kenyataannya, kita tidak bisa terus mempertahankan kedekatan fisik itu. Ada kala kita harus berpisah sementara demi sesuatu yang lebih bermakna. Ada masa kita harus memberi longgar karena tidak mungkin kita memiliki manusia.

Bahkan setelah kita menikah dengannya.

Kita pun dia, bukan Tuhan yang memberi keluasan ruang dan waktu untuk selalu terhubung. Tuhan tidak terbatas ‘ego’-Nya dan kekuasaan-Nya mampu mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mutlak. Kita manusia ini hanya bisa berusaha. Hasilnya itu terserah Tuhan, dan tidak ada hasil yang lebih buruk sebenarnya. Lantaran setiap usaha kita pasti membuat perbedaan.

Kita belajar dari kesalahan.

Bila sudah berpikir sampai tahap itu, baik buruk bukan lagi utama. Perbaikan itulah. Kesalahan bukan hal buruk, kata salah seorang psikolog di kampusku. Kadang dari kesalahan itu kita menemukan ‘mutiara’ yang menunjukkan cahaya diluar bayangan kita. Banyak hal diluar ‘kotak ego’ kita yang akan tersingkap setelah kita mengambil pelajaran.

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan suatu negeri-negeri secara zalim sedang penduduknya orang-orang yang membuat perbaikan.”