Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Cinta dan Takdir Tuhan.

Monday, August 1, 2016

Saklek, mutlak.

Kalau A maka pasti B. Kalau B maka pasti C. Rasanya aku sudah terlalu lama menggunakan cara ini dalam mendidik logikaku. Semenjak aku meyakini, cara bisa diatur sedemikian rupa agar hasilnya pasti, ocehan-ocehan dalam pikiranku tidak mau berhenti. Nalarku yang telah matang tidak mau menerimanya. Sebab aku dulu sudah paham bahwa segala hal tidak bisa kita pastikan kejadiannya.

Semisal kita mau bunuh orang nih (kejam amat, tapi biarlah), sudah kita siapkan segala macam amunisi terbaik. Mulai dari racun sianida sampai senjata pembunuh paling mutakhir. Kita masukkan racun dalam makanannya, lalu kita tembak dia dari dekat. Apakah dia pasti mati jika kita mencobakan semua itu kepadanya? Pasti? Oh ya? Kata siapa?

Rasanya ada yang terlupa saat kita merasa sudah memiliki cara terbaik, takdir Tuhan.

Sejarah mengatakan Presiden Soekarno mati bukan dibunuh oleh musuh, tetapi penyakit. Atau dalam versi lain dibunuh seseorang yang menginginkan jabatan presiden. Beberapa kali beliau ditangkap dan diasingkan tetapi tidak dibunuh, atau mungkin gagal dibunuh. Terlalu aneh bila orang sedahsyat itu musuhnya tidak ada di mana-mana. Itu kalau kita bicara pemimpin yang setiap hari bisa saja ada orang yang menargetnya sebagai sasaran tembak.

Temanku, seorang tentara pun membuktikan A tidak selalu B.

Jika kita mendengar seseorang terkena ledakan bom, dalam pikiran kita langsung terbersit, dia mati. Temanku tidak, bekas luka bakar terlukis jelas di bagian sekitar perut dan dada. Dia masih hidup dan bernapas hingga sekarang. Bisa merokok dan minum kopi hitam bersama, menceritakan kisah hidup kami dari pagi hingga malam.

Keajaiban?

Ekspektasi kita tidak selalu mendapatkan pemuasan. Segala hal bisa berubah drastis seperti halnya arah mata angin. Satu kejadian mampu membuat keadaan berubah tanpa kita pernah menyangkanya. Memukul jatuh seseorang hingga titik nol atau melambungkannya hingga merasa berada di kahyangan. Segala hal bisa terjadi dalam hidup ini.

Satu detik saja, hal-hal yang mungkin terjadi di dunia ini sudah tidak terhitung.

Kalian tahu, aku menangis tatkala menyadari bahwa Tuhan begitu baik. Cahaya itu sampai kepadaku dalam perjalanan pulang melewati sebuah jalan gelap. Saat aku mulai frustrasi dengan apa yang ada di hadapanku. Mengapa semua seperti sama saja dan tidak mampu diubah. Dalam lelah itu aku menyadari satu hal. Satu hal yang membuatku berpikir untuk terus mencoba.

Adalah cinta itu dibangun.

Loh, apa hubungan cinta dengan takdir Tuhan? Kawan, dalam hidup ini kita tidak lain berhadapan dengan manusia. Bekerja, mengurus anak, bersahabat, berumahtangga, semua tidak lepas dari berinteraksi dengan manusia. Manusia yang memiliki kemungkinan tidak terbatas berbuat sesuatu kepada kita. Baik atau buruk, menyenangkan pun menyedihkan.

Tidak hanya datang dari lingkungan berkarya, tantangan itu juga bisa datang dari keluarga.
Membangun cinta adalah tugas kita sebagai sesama manusia. Entah bagaimana, kita hidup ini selalu berkembang dan berubah. Saat ini kita mungkin merasa hidup ini setel, suatu saat kita akan merasakan hidup benar-benar kacau. Satu saat kembali tertata lalu kacau dan tertata, begitu terus. 

Pralaya dan pranata bersilih.

Saat bertengkar, bahkan bertarung dengan teman, kita tidak punya pilihan selain berdamai pada akhirnya. Tidak mungkin kita bersitegang terus dan menganggap satu perkara jadi alasan untuk melupakan setiap kebaikan teman itu kepada kita. Kebaikan itu tetaplah jadi catatan baik di mata Tuhan, jika memang penilaian-Nya demikian. Satu perkara buruk tidak menjadikan seseorang lantas jadi orang jahat. Begitu pula satu kebaikan tidak lantas membuat seseorang menjadi orang baik.

Sebab kita manusia memiliki dua sisi, baik dan buruk.

Sudah lama aku tidak berkonflik dengan seseorang. Rindu juga masa-masa bisa bebas berekspresi dan melepaskan emosi. Lalu setelah itu berjabat tangan dan bisa lebih erat saat hubungan kami pulih kembali. Bukan terus menahan dan pada saat yang tidak pernah tepat, meledak tanpa kendali. Sulit juga beradaptasi dengan keinginan sosial yang harapan mendasarnya adalah kerukunan.

Selalu ingin melestarikan bumi dengan perdamaian.

Pada kenyataannya perang apa pun tidak bisa kita lepaskan dari diri kita. Mau seberapa jauh kita lari pada saatnya berhadapan dengan perbedaan, perang itu selalu terjadi. Perang dalam diri, perang antar saudara, perang antar teman, bahkan perang antar pasangan. Semua itu tidak bisa kita lepaskan dari hidup, karena kita di dunia yang semua serba fana.

Momen sekali terjadi sedetik kemudian langsung hilang.

Buat para penangkap gambar pasti tahu apa maksudku. Saat memotret dengan natural, ekspresi-ekspresi dan peristiwa yang terjadi. Saat kita tersenyum di antara semua tangis yang kita alami setiap hari, saat kita menangis setelah bertahun-tahun menahan. Melepaskan senyum setelah bertahun-tahun hati kita terluka. Momen itu mungkin hanya bisa kita rasakan dalam beberapa menit, mungkin detik atau milidetik.

Cinta tidak dicapai dan diwujudkan, melainkan dibangun.

Mau seberapa keras kita memberi, cinta itu tetap bukan sesuatu yang mampu kita miliki. Bohong besar kalau kita berpikir cinta dalam hati itu milik kita. Membangun cinta sambil meyakini takdir Tuhan. Cinta di antara manusia bukan menjadi dasar sebuah hubungan. Tidak harus ada cinta dulu baru terjadi hubungan.

Yang ada kita memulai untuk mencintai dengan memberi.

Lalu cinta juga dibangun dengan memberi. Jika kita mulai berhenti memberi, saat itulah cinta menjauh. Ada kalanya cinta itu kembali mendekat, namun bila tidak dirawat ya cinta itu lama-lama akan hilang. Kita harus mampu merawat cinta kita sendiri. Itu adalah bekal merawat cinta orang lain pula. Entah itu pasangan, orang tua, anak, teman dan siapa saja yang berarti dalam hidup kita.

Sebab apa yang akan kita tuai itu bukan untuk kita sendiri. Membangun cinta antar pasangan, membuahkan anak yang berkembang dengan baik. Membangun cinta antar teman membuat kemanfaatan bersama dan saling membantu. Membangun cinta dengan orang tua, membuahkan ketenangan dalam keluarga.

Semua ‘dampak’ dari cinta itu tidak akan pernah kita rasakan sendiri.
Semoga saja kita bisa merasakan membangun cinta itu. Bukan merusak bangunan cinta dengan keegoisan dan kesenangan sesaat. Satu perkara tidak menjadikan hidup kita akan berlangsung terus seperti itu. Perubahan itu pasti di dunia fana ini. Jika kita mau membuka mata, banyak hal yang sebenarnya kita tidak sadari.


Membuka mata hati.