Latest

Powered by Blogger.

Lantas Patas?

Friday, August 19, 2016
Photo by @adytia_nugraha

Hujan mengguyur kota dari semalam, meski hanya rintik merata. Pagi ini kabut agak turun, pohon dan atap masih basah sisa-sisa air hujan. Meski cuaca sangat mendukung untuk tetap bertahan di rumah, aku bersiap ke kantor seperti biasa. Bangun dari tempat tidur. Mandi. Sarapan. Memanasi motor. Dan berangkat tepat pukul 06.30. Pagi ini, Senin pertama bulan April. Tidak ada yang istimewa. Selain kabar hujan akan tetap menjadi sahabat di jalan selama bulan ini. 

Tempat kerjaku yang berada di kota tetangga membuatku harus menumpang bus patas setelah berkendara sepeda motor. Biasanya motor aku titipkan di terminal dan menunggu bus di sana. Begitu setiap hari. Pukul 06.40 bus langgananku datang. Selama 2 tahun bekerja. Sudah kira-kira 412 kali aku menumpang bus ini dari terminal menuju kantor dan arah sebaliknya. Masih dengan warna bus yang sama. Sopir yang sama. Kernet yang sama. Penumpang yang beberapa juga masih sama. 

Setelah menaiki bus, aku melihat sudah ada yang menempati tempat duduk favoritku. Bangku kanan, nomor tiga dari depan, dekat jendela. Seorang wanita. Cantik. Aku melanjutkan langkah menuju bangku belakang yang masih kosong. Tanpa kuasa menahan untuk tidak melirik ke arahnya. “Cantik.” bisikku sekali lagi dalam hati. 

Dia mengenakan jilbab cream polos dengan aksen bros silver di dada kiri dan blus warna senada. Kulit wajahnya putih dengan riasan sekedarnya. Pandangannya tertuju keluar jendela. Manis. Gambaran yang cukup lengkap dari lirikan 3-4 detik. Sialnya langkahku terhenti karena tersandung barang yang ada di lorong bus. “Aduh!” perpaduan rem bus membuatku agak terjungkal. “Ngisin-ngisini tenan.” batinku. Setelah bangkit, aku sedikit melirik ke arah gadis itu. Dia masih dalam posisi yang sama. “Semoga dia tidak melihatku jatuh.” pintaku dalam hati. Aku akhirnya duduk dua bangku di belakangnya.

Tubuhku yang tinggi membuatku cukup mudah melihat penumpang di depanku. Selama 40 menit perjalanan, selalu aku perhatikan kalau-kalau ada bangku kosong di dekat gadis itu. Namun tak kunjung ada yang beranjak. Sepertinya semua penumpang luar kota. Sejak tadi pun gadis itu selalu memandang keluar jendela. Tak bergeming. 

Lima menit lagi aku harus turun. Pemberhentian selanjutnya. Tepat di depan kantorku. Bagaimana ini? Aku belum tahu siapa dia. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika dia tak naik bus ini lagi? Otakku berpikir keras. Baiklah. Aku berdiri. Bersiap turun. Melangkah maju mendekati tempat duduknya. Dia masih saja diam, menatap jendela. Sepertinya dia belum mau turun. Sebenarnya bagiku (dengan tampang yang lumayan) tidaklah sulit berkenalan dengan seorang gadis bahkan meminta nomor handphone-nya. 

“Ayo, dekati dia. Sedikit senyum sapa dan mengajak berkenalan. Mudah, bukan?” pinta satu sisi hatiku. Namun sayangnya, sisi yang lain tak punya keberanian untuk itu. Gadis ini berbeda. Keberanian yang aku kumpulkan 40 menit di belakangnya tidak cukup mampu untukku membuka mulut. 

Aku melewati bangkunya begitu saja. “Ah, bodoh.” umpatku dalam hati. Sudahlah. Jika ada jalannya pasti aku akan bertemu dengannya (lagi). 

***

Matahari masih menyembunyikan sinarnya sejak pagi. Aku sudah bersiap untuk sesuatu yang baru hari ini. Meski dengan sedikit perasaan aneh yang mengganjal. Aku tidak menyangka perkataan bulek dulu sungguh-sungguh. 

“Kamu kalau sudah lulus kuliah, masuk ya di tempat bulek.” katanya sambil lalu. Aku pun menganggapnya sambil lalu. Ternyata benar. Beberapa hari setelah lulus, bulek “melamar”ku bekerja di perusahaan itu. Aku bingung. Meng-iyakan atau menolaknya. Saran ibuku agar aku menerimanya. “Sekarang susah loh ndok cari kerja. Ndak enak juga menolak bulekmu.” tambah ibu.

Aku sebenarnya punya keinginan sendiri mengenai tempat kerja. Apalagi perusahaan itu berada di kota tetangga. Kota itu. Kota yang sejak awal aku hindari untuk datangi. Apalagi bekerja dan tinggal di sana. Memang tak ada alasan kuat untukku menolak permintaan bulek. Bahkan alasan keinginan kerja di tempat lain pun bukan alasan yang patut. Karena perusahaan itu sudah cukup besar bagiku jika ingin coba-coba mencari pengalaman. 

Ditemani gemuruh hujan, semalaman aku memikirkan besok pagi. Ya, akhirnya aku memutuskan berangkat. Memenuhi permintaan bulek. Hari ini, Senin pagi, Senin pertama di bulan April. 

Aku naik bus patas menuju kota itu. Tidak terlalu jauh. Hanya 48 km, 56 menit perjalanan dari rumahku. Pukul 06.30 aku sudah duduk di halte terdekat dari rumah, menanti bus patas yang lewat. 

Tak lama satu bus muncul. Aku naik dari pintu depan. Meski hari Senin, penumpang bus tidak terlalu padat. Masih ada beberapa bangku kosong. Aku duduk di bangku nomor tiga, mencari tempat duduk dekat jendela. Dengan hati yang masih gusar, duduk dekat jendela mungkin ide yang bagus, pikirku.

Aku masih ingat betul terakhir kali naik bus ini. Beberapa tahun yang lalu. Bersamanya. Menuju kota itu. Ya, di sana dia tinggal. “Aduh. Sekarang bukan waktunya mengingat masa lalu.” keluhku dalam hati. Cepat-cepat aku usir rekaman itu dari pikiran. 

Bus melaju dengan sangat cepat di jalanan yang padat. Sopir yang terlihat sudah berpengalaman, duduk santai di balik kemudi. Tanpa terlihat berempati dengan rasa kagetnya para pengendara motor yang diterjang suara keras klaksonnya. Bus beberapa kali berhenti menaikkan penumpang. Sekarang bus berhenti di terminal, cukup banyak penumpang yang naik. 

Setelah seluruh penumpang naik, terasa pedal gas diinjak keras-keras oleh sopir. Namun sayangnya, entah karena ada motor menyalip tiba-tiba atau sekedar kucing lewat, sekarang ganti pedal rem diinjak penuh penekanan. Beberapa penumpang yang masih berdiri agak kewalahan mencari pegangan, bahkan ada satu orang hingga terjungkal. Seorang pemuda. Aku melihatnya sekilas. Selain karena rem dadakan, pemuda itu jatuh karena tersandung barang penumpang lain. 

Belum bangkit dari jatuhnya aku buru-buru mengalihkan pandangan. Takut dia tahu aku mengawasinya. Sepertinya dia agak kesakitan. Berkali-kali mengusap lengannya, dengan ekspresi nggak karuan. Lucu. Mungkin keberuntungannya tidak terlalu bagus hari ini. “Semoga harimu tidak terlalu buruk hari ini, mas. Begitu juga denganku.” ucapku dalam hati (padanya). 

***

Pagi ini masih sama seperti pagi kemarin. Mendung. Aku bersiap ke kantor seperti biasa. Bangun dari tempat tidur. Mandi. Sarapan. Memanasi motor. Dan berangkat tepat pukul 06.30. Tapi ada yang istimewa hari ini. Ada harapan yang menggantung dalam hati. Berharap bertemu lagi dengannya. 

Seharian kemarin aku hanya memikirkan apakah besok gadis itu naik bus yang sama denganku lagi atau tidak. Aku mencari-cari cara jika saja bertemu lagi dengannya, bagaimana aku bisa berkenalan dengannya. Namun sesekali aku terheran apa yang sedang aku alami. Otakku hanya dipenuhi wajah gadis itu. Kadang senyum-senyum sendiri. Kadang garuk-garuk kepala membayangkan rencana-rencana bodohku. 

Setelah memarkirkan motor di terminal. Aku menengok kembali penampilanku. Masih rapi. Aku mengenakan kemeja lengan panjang warna favoritku, merah hati dengan celana bahan warna hitam dan sepatu kulit warna hitam. Banyak orang bilang, apapun yang kita pakai asalkan kita nyaman dan percaya diri maka akan lebih terlihat menarik di mata orang lain. Let’s we see. What happen then. 

Busku sudah terlihat dari kejauhan. Jantungku berdebar-debar. Kucoba beberapa kali menarik nafas panjang. Duh, sia-sia. Sekarang kakiku yang mulai agak bergetar. Bus merapat anggun. Saat pintu terbuka, aku naik dengan perasaan harap-harap cemas. 

Bingo!” dia ada di sana. Menatap jendela. “Yes!” sorakku dalam hati, bangku di sampingnya pun kosong. Sebuah kesempatan. Aku mendekat mantap. Saat bangku sudah ada satu langkah di depanku ada perasaan aneh yang mendorongku untuk melewatinya. Sseeet! “Astagaaaaaa. Untuk duduk di sampingnya pun aku tak mampu.” keluhku. Seperti hari lalu akhirnya aku menyerah pada diriku dan duduk dua bangku di belakangnya. 

***

Hari ini pagi kedua perjalananku, dengan mendung yang sama. Aku menuju halte terdekat dari rumah. Banyak yang sudah menunggu. Tak lama, bus (yang sepertinya aku tumpangi kemarin) berhenti untuk menaikkan penumpang, termasuk aku. 

Tempatku duduk masih sama dengan hari sebelumnya. Bangku nomor tiga dekat jendela. Karena letaknya berada di deretan paling depan, bangku ini mempunyai jendela lebih besar dari bangku yang lain. Tanpa ada sekat, tanpa ada penutup seperti gorden. Sehingga aku bisa melihat keluar lebih leluasa. 

Hari lalu tidak terlalu buruk. Kantor yang nyaman, teman yang banyak dan pekerjaan yang sepertinya akan cukup menyibukkan. Hari pertama bekerja tidak banyak yang aku lakukan. Hanya diajak berkeliling ke sudut-sudut ruangan dan saling berkenalan. Nantinya aku akan bekerja di salah satu divisi bersama tiga orang lainnya. Di hari pertama, aku hanya mampu mengingat nama tiga orang rekanku dan kepala divisi kami. Tidak terlalu buruk, bukan? 

Aku berusaha mulai menikmati perjalanan yang akan aku tempuh setiap hari. Berangkat di jam yang sama setiap hari. Menumpang bus yang sama, sopir yang sama, dengan penumpang yang hampir sama. Dan mungkin bertemu dengan pemuda yang sama kemarin. 

Belum selesai aku menyelesaikan kalimat di pikiranku, aku tersadar bus telah mendarat di terminal. Sekilas aku melihat pemuda itu diantara kerumunan calon penumpang. Haish, kenapa pemuda itu tiba-tiba muncul di pikiran. Selain memang aku sudah pernah melihatnya kemarin, kemeja warna maroon yang dia kenakan membuatku agak membelalakkan mata. Rasanya agak geli di otak. 


Sejauh ini tak ada yang terjadi. Aku (pura-pura) masih diam di balik jendela. Pemuda itu naik dan duduk di bangku belakang. Tanpa ada gerakan yang berarti dan tak berusaha duduk di bangku kosong sampingku. 

***

Pagi ini masih sama seperti pagi lima bulan lebih satu pekan lalu, mendung. Aku bersiap ke kantor seperti biasa. Bangun dari tempat tidur. Mandi. Sarapan. Memanasi motor. Dan berangkat tepat pukul 06.30. Dengan perasaan aneh dan pertanyaan yang berulang kali muncul namun tak tahu jawabannya. 

Bagaimana bisa aku begitu bodohnya selama ini? Tidak pernah satu hari pun terlewatkan berangkat kerja bersamanya (kecuali hari Sabtu dan Minggu), namun untuk menegurnya saja tidak aku lakukan hingga saat ini. Aku merasa sangat dekat dengannya meski tak pernah sekalipun berbicara. Walau hanya puas dengan kemajuan yang bisa dibilang, yah, begitu payah. 

Tepat dua puluh delapan kali berangkat bersamanya, berakhir duduk dua bangku dari belakangnya, sesekali memandanginya yang tak lepas dari jendela. Hari itu aku sengaja tidak turun dari bus. Menunggu di mana dia akan turun. Bus sudah melintas di depan kantorku 3 menit lalu. Berjarak kurang lebih 5 blok, dia turun di depan kantor penerbitan. Kurasa dia bekerja di sana. Tidak terlalu jauh dari kantorku.

“Lalu apa setelah tahu tempat kerjanya?” tanyaku pada diriku sendiri. Apakah aku akan menghampirinya di waktu istirahat dan mengajaknya makan siang bersama? Duh, jangan harap. Aku tidak punya keberanian itu. Hatiku sudah menciut memikirkannya saja. 

Hari ini, Senin pertama minggu kedua bulan September, aku kalah (lagi) oleh diriku. 

***

This night is flawless, don’t you let it go
I’m wonderstruck, dancing around all alone
I’ll spend forever wondering if you knew
I was enchanted to meet you

Aku tetap membiarkan playlist berjalan, meski headset masih melekat di telinga entah lagu apa saja yang sudah terputar. Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa lima bulan lebih satu pekan aku mulai terbiasa dengan rutinitas ini. Berangkat pukul 06.30 tepat. Menumpang bus yang sama. Sopir bus yang sama. Kondektur yang sama, penumpang yang hampir sama. Dan pemuda yang sama. Iya, dia. Entah apa yang membuatnya selalu ada di benak. Tanpa saling kenal bahkan sekali pun kami tak pernah bersitatap. 

Aku menunggu di halte lebih lama dari sebelumnya. Hari ini, hari Senin minggu kedua bulan September. Masih dengan hujan yang terkadang tiba-tiba turun. Pagi ini mendung menyelimuti langit sejak fajar. Sepertinya penumpang agak padat. Setelah libur agak panjang, hari Senin pasti menjadi hari sibuk. 

Busku datang. Merapat rapi di pelataran halte. Benar saja. Penumpangnya penuh. Banyak yang berdiri. Aku agak lari mengejar pintu bus yang terbuka. Satu per satu tangga bus aku naiki. Belum sampai di atas, busku tancap gas. Membuatku hampir terjengkang. Aku berusaha meraih-meraih sesuatu di depanku. Sseeet! Sesuatu (atau mungkin seseorang) aku pegang. Beberapa saat aku diam menanti bus berjalan stabil. Sepertinya aku berpegangan pada lengan seseorang. Karena terlalu eratnya hingga aku merasakan otot lengannya yang berusaha menahanku agar tidak terjatuh. Hingga bus sudah berjalan, aku belum berani melihat siapa pemilik lengan itu. Aku masih menunduk.

Aku hanya melihat kakinya. Sepatu kets warna abu-abu, ukuran laki-laki. Buru-buru aku melepaskan genggamanku. Perlahan aku mengangkat kepalaku menelusuri sosok di depanku. Dia mengenakan celana bahan warna abu-abu, kemeja warna maroon. Hingga titik ini jantungku berdegub tak karuan. Jangan-jangan? 

***

“Duh, maaaaak!” sorakku dalam hati. Dia berada di hadapanku. Memegang lenganku. Gadis itu. Dia sedekat ini denganku. Seketika irama jantungku tak terkendali. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Saking tak bisa berpikir aku hanya diam. Berusaha menutupi ketidakkaruan hatiku. 

Memang aku naik bus bukan dari tempat biasa. Karena mengantar seorang kerabat aku akhirnya menitipkan motor di pemberhentian sebelumnya. Tidak menyangka akan berhadapan dengannya dengan cara seperti ini. Jika ini film, adegan ini mungkin akan bertahan beberapa menit diiringi dengan soundtrack utama. Beberapa saat berlalu, setelah bis melaju tenang cepat-cepat dia melepaskan lenganku. Perlahan dia mengangkat kepalanya hingga mata kita bertemu. 

Maaf.” ucapnya. 

Iya.” balasku datar.

Dia melewatiku mencari tempat berdiri yang nyaman. Sudah begitu saja? Jawaban iya dengan nada datar? Aduh, bodohnya. 

Kurangnya kegilaan saat jatuh cinta membuatku terjebak dalam kebodohanku sendiri.