Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Diskusi dan Berbagi Pengalaman

Saturday, September 24, 2016
Edwards S K, Kalis, Zen RS dan Shirajudin Hasby. 

Ketika salah satu kawan saya memberikan informasi, bahwa akan ada acara obrolan buku simulakra sepakbola karya Zen RS, di salah satu grup wasap yang saya ikuti. Saya langsung mengambil sikap, bahwa saya harus meluangkan waktu untuk bisa hadir di rumah blogger Indonesia (RBI), tempat di mana acara obrolan itu dilaksanakan.

Saya merasa beruntung memiliki jam kerja yang “tidak biasa” dimiliki oleh seorang staff HRD di sebuah perusahaan. Meski sebagai staff HRD, saya juga bekerja secara shift. Dan lebih beruntung lagi karena saya masuk shift pagi, jadi saya bisa mengikuti obrolan buku yang digelar di RBI, yang berolakasi di laweyan Solo.

Sepulang kerja, saya tidak berlama-lama untuk nongkrong bersama rekan kerja lainnya. Untuk sekedar ngopi atau makan mie ayam di sebuah warung yang berada tak jauh dari tempat kerja saya. Saya langsung mengirim pesan di grup BBM, bahwa saya langsung pamit pulang, dengan alasan, nanti sore saya ada acara di Solo. Dan kebetulan rekan-rekan kerja saya yang lain juga sedang ada meeting koordinasi dengan atasannya, sehingga jam pulang mereka sedikit molor.

Sesampai di rumah, saya langsung mengambil wudhu dan sholat ashar. Dan baru setelah sholat ashar, masih dalam keadaan memakai sarung, saya menyalakan kipas angin kemudian tepar di atas kasur untuk mengistirahatkan badan ini. Saya seperti sedang mempersiapkan amunisi untuk begadang di RBI malam harinya. Karena bisa dibayangkan betapa saya “menyiksa” tubuh ini jika saya tidak tidur siang terlebih dahulu. Padahal, bisa jadi saya akan pulang agak malam, kemudian paginya saya harus bangun setengah lima, kemudian mandi, dan segera bergegas pergi ke kantor karena saya masuk shift pagi.

Hanya bermodal GPS dan bertanya dengan salah satu kawan, saya pergi ke Solo tepat sehabis sholat magrib. Mampir terlebih dahulu di sebuah warung angkringan, untuk membeli esteh dan beberapa gorengan sebagai amunisi agar saya tidak kliyengan karena kelaparan.

Tentu saya berangkat ke sana seorang diri. Maklum, jok belakang motor saya masih kosong dan masih berharap ada seseorang yang bisa saya gonjengkan sekaligus menami saya dalam setiap perjalanan dengan motor matic hasil keringat ketek saya sendiri ini.

Tidak begitu sulit untuk menemukan RBI, tanpa bertanya saya bisa langsung menemukannya. Yaitu dengan mengurangi laju kendaraan motor, sambil celingak-celinguk untuk mencari keberadaan RBI. Saya sampai di sana, sekitar jam tujuh kurang. Hampir bersamaan dengan saya, sudah ada rombongan yang baru datang dengan membawa sebuah mobil. Ternyata yang baru datang itu adalah tokoh-tokoh utama dalam obrolan buku malam itu. Dan saya malam itu, menjadi figuran pun tidak, karena saya seperti sedang melihat orang-orang sedang shooting sebuah film.

Di sana sudah ada Kalis, yang tulisan-tulisannya sudah mudah kita temui di mojok, serta beberapa media online lainya. Kemudian nampak tuan rumah, yaitu blontankpoer sedang asyik mengobrol dengan Zen RS penulis Simulakra Sepakbola, serta pendiri dan chief editor panditfootbaal, Edward S K yang merupakan chief editor di mojok, Shirajudin Hasby yang juga dari chief editor di fandom. Ada juga dari pekerja literasi dari indiebook corner, tampak Irwan Bajang dan Ahmad Khadafi juga berada di RBI malam itu.

Saya bisa dibilang datang agak awal, beruntung di RBI juga ada angkringan, jadi saya bisa mencairkan sedikit kecanggungan saya dengan menyruput esteh sambil bermain handphone. Bisa dibilang, malam itu saya seperti menjadi orang yang sangat asing di sana, mengingat malam itu adalah kali pertama saya mengunjungi RBI. 

Saya berusaha untuk menjadi bagian dari mereka, dengan mengajak salah satu dari mereka mengobrol meski hanya sekedar basa-basi untuk mencairkan suasana.

Sambil menikmati esteh dan beberapa sundukan, nampak dari orang-orang RBI sedang mempersiapkan tempat untuk acara obrolan buku malam itu. Satu persatu nampak orang-orang yang ingin menjadi bagian dari peserta obrolan malam itu, berdatangan. Saya kemudian duduk di kursi yang telah disediakan oleh panitia.

Sambil menunggu acara dimulai, saya menyadari bahwa saya termasuk orang yang nekat malam itu. Saya menjadi salah satu orang yang tidak membawa buku simulakra yang sedang di bahas malam itu. Dan sudah dipastikan juga, bahwa saya belum membaca buku itu. Bisa dibilang saya seperti menghadiri sebuah resepsi pernikahan namun saya tidak tahu siapa yang jadi pengantinnya. Kemudian saya nekat masuk untuk mencuri makanan yang disediakan oleh orang yang sedang punya gawe tersebut. Karena saya datang ke acara obrolan malam itu untuk mencuri ilmu, dan saya bisa belajar dari orang-orang yang mengabdikan dirinya sebagai pekerja literasi.

Sirajudin Hasby, yang merupakan chief editor dari fandom mengambil mic dan segera membuka acara obrolan malam itu. Yang didaulat sebagai pembicara malam itu adalah, Zen RS, Edward S K dan Kalis.

Acara obrolan buku pun diawali dengan sebuah prolog dari Zen RS mengenai perkembangan literasi sepakbola, serta pentingnya literasi sepakbola dalam perkembangan sepakbola di Indonesia. Kemudiaan Edward S K yang juga merupakan penulis buku Sepakbola Seribu Tafsir juga memberikan semacam prolog untuk mengawali sesi obrolan malam itu. Tidak lupa, kalis juga diberi kesempatan untuk berbicara mengenai sepakbola, sebagai perwakilan dari kaum feminis yang awam dengan sepakbola kecuali kegantengan pemain-pemain sepakbola. Iya, seperti salah satu teman wanita saya, ia mulai menyukai, bahkan hingga mencintai sepakbola setelah melihat paras rupawan para pemain spanyol ketika piala dunia di Jerman.

Obrolan malam itu bukan hanya membahas tentang apa yang melatarbelakangi penerbitan buku simulakra sepakbola. Namun juga membahas tentang sepakbola itu sendiri. Serta melihat sepakbola dengan kaca mata yang berbeda. Bukan hanya sekedar olahraga berebut bola kemudian bagaimana mencetak goal. Namun, juga nilai-nilai yang terkandung dalam sepakbola. Serta mencoba melihat sepakbola dari kacamata yang berbeda, karena sepakbola tidak hanya bisa dilihat dari kacamata olahraga.

Saya pun hanya diam, serta dengan khusyuk menyimak setiap penjelasan dari ketiga pembicara malam itu. Dan semakin menarik ketika pembahasan mulai sedikit melebar, karena bukan hanya sepakbola yang dibahas malam itu. Tetapi, tentang bagaimana menulis esai yang baik, terutama menulis tentang sepakbola yang dikaitkan dengan fenomena-fenomena lain.

Sebagai orang yang masih belajar, tentu banyak ilmu yang saya dapatkan malam itu. Terlebih, tentang apa yang harus dilakukan untuk belajar menulis. Saya kira semua sepakat, bahwa penulis itu berawal dari seorang pembaca. Dan menurut Zen RS, jika ingin menjadi menulis selalu disarankan untuk menulis resensi sebuah buku. Karena sebelum menulis resensi sudah dipastikan ia sudah membaca buku itu terlebih dahulu. Dari kecil pun, kita pertama kali diajarkan bagaimana membaca terlebih dahulu sebelum belajar menulis. Yaitu, membaca atau mengeja huruf, kemudian baru belajar membaca, “Ini budi” atau “Ini ibu Budi” dan lain sebagainya.

Hal lain yang harus dilakukan ketika belajar menulis. Masih menurut apa yang disampaikan oleh Zen RS, bahwa seseorang yang baru belajar menulis, harus mampu membedakan antara aktifitas menulis dan mengedit. Karena kedua hal tersebut adalah dua aktifitas yang berbeda. Dan hal itulah yang sering saya lakukan setiap kali menulis. Saya akan menulis tentang apa yang ada di dalam kepala saya, dan sedikit menghiraukan tentang apapun yang saya tulis. Hal itu saya lakukan agar tulisan saya bisa tetap mengalir. Dan saya tidak peduli banyaknya dosa-dosa typo dalam tulisan saya, kemudian paragraf yang loncat-loncat, serta “dosa-dosa” lainnya. Karena selalu mengoreksi tulisan hanya akan membuat pikiran menjadi buntu, dan menyebabkan tulisan tersebut bisa dipastikan tidak akan selesai.

Setelah tulisan itu selesai, saya segera mematikan laptop, kemudian tidur atau pergi main ke tempat wedangan. Kemudian sebelum saya posting di blog, baru saya akan melakukan aktifitas mengedit. Dan pada waktu aktifitas mengedit itulah saya akan menyadari setiap kesalahan dalam tulisan saya tersebut. Kemudian mengeditnya agar nampak rapi, terhindar dari dosa-dosa typo, serta kesalahan lainnya, seperti tidak ada kesesuaian antara paragraf yang satu dengan yang lain, atau dengan kata lain, paragraf yang loncat-loncat.

***
Semakin malam, obrolan menjadi semakin seru, dan semakin bertambah seru ketika diantara kami diberi kesempatan untuk bertanya kepada masing-masing narasumber malam itu. Dan tentu jangan berharap saya akan menceritakan dari A – Z obrolan pada malam itu. Karena saya yakin, ketika saya menceritakan semua, pasti kalian akan merasa menjadi “golongan orang yang merugi” karena melewatkan acara yang begitu kece itu

Sambil tetap menyimak setiap pembicaraan dalam obrolan malam itu, grup wasap lobimesen pun juga mulai ramai. Kebetulan dari teman-teman kontributor lobimesen, hanya saya saja yang bisa hadir. Dan saya mengirim sebuah foto agar mereka semua merasa menjadi golongan-golongan yang merugi ketika melewatkan obrolan yang diadakan di RBI malam itu.

Mba Kiki yang telah menyelesaikan thesisnya dan sebentar lagi akan menjadi Ibu dosen pun langsung memberi masukan agar kami juga mengadakan acara serupa. “Mbok kalian ngadain gituan” begitu kira-kira pesan dari Mba kiki yang dikirim ke grup wasap lobimesen. Gayung pun bersambut, semua seakan menyetujui urun rembug dari Mba kiki.

Menurut saya, tidak ada salahnya juga jika dari teman-teman lobimesen ini mengadakan acara lesehan atau gimana gitu, dengan menggelar tikar, cemilan seadanya, kemudian saling berbagi satu sama lain.

Lagian, ada beberapa teman-teman dari lobimesen yang sudah kita anggap kompeten untuk dijadikan sebagai pembicara atau narasumber. Bahkan saya baru sadar, meski belum pernah menulis sekalipun di lobimesen ini. Namun ia adalah editor di salah satu penerbit, kemudian juga sudah menerbitkan buku tentang permainan tradisional. Bukan begitu, Mba diah?

Masih kurang? Yang baru menyelesaikan sebuah buku yang mengantarnya menjadi satu-satunya kontributor di lobimesen yang baru saja lulus S2 dan sebentar lagi menjadi dosen, masak tidak mau juga untuk berbagi sedikit ilmu serta pengalamannya. Ya, setidaknya Mba kiki bisa lah bagi-bagi tips bagaimana menulis ilmiah yang baik.

Mas Wildan, yang merupakan penulis lobimesen yang paling produktif juga pasti siap. Dan saya pun akan dengan senang hati bersorak dari pinggir dan berteriak lala yeyeye. . . . lalala. .  yeyeye, sambil kucek-kucek jemur-jemur.

Masih kurang? Masih ada Mas Burhan yang merupakan aktifis sosial yang sedang menempuh studi S2, yang juga merupakan Bapak dari Komunitas Anak Bawang dan Rumah Juara. Dan masih banyak juga dari kita yang bisa diajak untuk sekedar ngobrol-ngobrol sambil sharing pengalaman. Saya kira, Johan, Deddy, Sandy, Diah Maya, dan kontributor baru kita, yaitu Widya Gunawan, siap untuk meramaikan.


Tunggu apalagi? Mari kita agendakan.