Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Filter

Sunday, September 11, 2016
Ilustrasi
Pagi itu saya memiliki agenda ke Solo baru. Kami janjian sekitar pukul 10.00 pagi. Saya berangkat dari rumah Boyolali sekitar pukul 08.00, karena saya sedang ingin sarapan di luar. Anggap saja, menu sarapan pagi kala itu tidak membuat saya selera makan.

Pagi itu saya memang sedikit tidak enak badan, jadi memang selera makan saya sedikit berkurang. Namun, ketika dalam perjalanan ke Solo baru, saya melewati jalur alternative ke arah Solo, yaitu lewat Baki. Di pinggir jalan itu saya melihat banyak angkringan yang sudah mulai buka dan cukup ramai pengunjung untuk sekedar wedangan, atau sarapan di sana.

Saya mampir di sebuah angkringan yang terletak di dekat Wisanka, sebuah perusahaan furniture dengan kualitas eskpor, dimana saya sudah beberapa kali apply di jobstreet namun tak kunjung ada panggilan seleksi di sana.

Saya segera memarkirkan motor, kemudian menuju di salah satu tempat duduk yang kosong. Saya duduk tepat di depan dekat dengan bara api yang berasal dari arang tempat untuk memasak air dengan ceret yang berjumlah 3, sebagai ciri khas dari angkringan. Nampak dua bapak – ibu yang sedang khusyuk menikmati nasi kucing dengan beberapa gorengan serta teh panas. Mereka sepertinya baru saja dari pasar dan mampir di angkringan untuk sarapan. Di samping saya tepat, nampak seorang pemuda yang ketika saya lihat sepintas sepertinya seorang mahasiswa yang hendak kuliah, hanya memesan kopi sambil rokok-an.

Saya memesan teh-panas-kampul dengan gula batu, atau teh panas gula batu dengan tambahan irisan jeruk. Sekali lagi, kala itu saya sedikit tidak enak badan, jadi saya butuh sesuatu yang membuat badan saya sedikit segar. Kemudian mengambil pisang goreng sebagai teman untuk menikmati teh-panas-kampul pesanan saya.

Tak lama kemudian, datang seorang dengan membawa motor dengan membawa tas jinjing kecil. Nampak usia bapak itu seusia dengan Om saya, kira-kira sekitar 45 tahunan. “Podo biasane, Mas” sepertinya bapak itu sudah menjadi langganan di angkringan itu.

Bapak itu orang yang supel, terlihat dari cara atau gaya berbicaranya yang ceplas-ceplos seakan menunjukan bahwa dirinya kaya akan pengalaman. Baru duduk saja, nampak ia sudah mampu mengambil alih pembicaraan. Saya berusaha untuk terlibat dalam obrolannya, karena saya berusaha untuk menempatkan diri, meski kami tidak saling kenal.

Bapak itu kemudian menceritakan tentang pergaulannya di masa muda, “Kalo saya, semua orang itu tak kumpulin, meski sik tak konco kui yo bajingan trus mendeman barang”
“Pernah koncoku malah njaluk duit rep nggo tuku ciu, malah tak ujo sisan, kowe njaluk pirang botol tak tukoke, saiki tak tukoke sak krat, tapi nek ora entek kowe tak kepruk nggo botol-botol kui”
“Wong model ngunu kuwi, emang kudu dingonok ke”
Itu hanya cuplikan dari sekian banyak yang ia coba ceritakan. Bisa dibilang bapak itu adalah tipe orang yang “sugih omong”, alias nggedebus. Banyak hal yang siapa pun yang mendengarnya pasti tidak akan mempercayainya, seperti ia menantang berdebat kiai yang cukup terkenal di Solo, kemudian ketika bercerita menolak tawaran kerja dengan gaji hampir 6 kali lipat UMK Solo. Bagi saya, semua itu adalah bumbu dalam setiap obrolannya, apalagi ini di angkringan.

Namun, ada beberapa nasehatnyanya yang ternyata masuk akal juga. Ini berkaitan dengan siklus kehidupan karir seseorang. Dia lebih tua dari saya adalah sebuah kebenaran, tentang hidup pastilah bapak itu jauh lebih pengalaman dari saya. Berikut saya tulisakan cuplikan obrolan kami.
“Dalam kehidupan, khususnya karir seseorang, ada yang namanya usia penentuan, anggap saja usia 25an, baru lulus kuliah kemudian mulai bekerja, istilahnya ini masih masa-masa penyesuain diri dengan kehidupan di dunia kerja serta mulai membangun rumah tangga. lha selama 5 tahun ini adalah tahun pembangunan pondasi”
“Kemudian usia 30 – 40 tahun adalah masa emas, atau masa-masa penentuan. Ketika di usia 40 tahun an segala kehidupan pun tercapai. Ya itu adalah kehidupan kamu. Kamu kaya, semua kebutuhan kamu tercukupi dan lain sebagainya, atau puncak karirmu terjadi di masa-masa ini”
“Namun, jika di masa 30 - 40 th ini, uripmu mung ngono wae, masih sama dari kehidupan yang sebelumnya, berarti kehidupanmu mentok di situ”
“Kenapa saya bilang begitu? Satu, faktor usia, di atas usia 40an sudah kesulitan untuk membangun karir lagi, perusahaan mana yang mau memperkerjakan padahal yang lebih muda saja banyak, kemudian usia diatas 40an tahun sudah dianggap tidak produktif, soale kalah mbi sing iseh enom”
“Mau usaha? Bank mana yang mau mengucurkan dana untuk modal karena dilihat dari segi usia sudah tidak produkstif lagi, sik rep nyicil piye? Saiki pihak bank opo yo ora mikir”
“Mumpung sampeyan iseh enom mulai saiki, bangun pondasi, ojo kosek-kosek. Elingo, wektu iku ora iso diulang” Bapak itu mulai menasehati kami yang masih muda ini.

Obrolan dengan Bapak itu membuat saya lupa waktu, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 09.35, saya memiliki janji ke Solo baru jam 10.00. Jadi saya memutuskan untuk pamit dan segera ke Solo baru. 
***
Obrolan di angkringan dan bertemu dengan seorang bapak yang “nggedebus” membuat saya harus menggunakan semacam filter untuk menyaring informasi dari bapak tersebut. Dan dengan menggunakan filter itulah saya dapat memetik mana yang menurut saya benar, serta baik bagi saya. Karena jika hanya menelan mentah-mentah setiap omongan yang keluar dari mulutnya sebagai sebuah kebenaran, apa gunanya Tuhan menganugerahi manusia dengan akal.

Filter harus digunakan ketika kita berhadapan dengan orang-orang yang nggedebus. Karena tidak semua omongannya adalah sebuah kebenaran. Terlalu banyak “bumbu” dalam omongannya agar terasa gurih.

Hal itulah yang coba saya lakukan ketika berselancar di media sosial. Media sosial seperti halnya seorang manusia yang “sugih omong” atau nggedebus. Tidak semua informasi yang ada di media sosial adalah sebuah kebenaran, meski di-like jutaan orang, serta dibagikan oleh ribuan orang. Karena bisa jadi, orang-orang itu adalah orang yang hanya mendengarkan saja tanpa menggunakan filter yang ia punya. Filter yang saya maksud adalah akal dan hati nuraninya.

Sering saya menemukan seseorang membagikan artikel disertai dengan komentar nyinyir-nya padahal ia tidak membaca artikelnya dan hanya membaca judulnya saja. Seperti isu kenaikan rokok beberapa hari yang lalu, dimana hasil riset yang digiring seolah menjadi sebuah wacana, padahal pemerintah belum mengeluarkan pernyataan resmi apapun. Kemudian ditambahin micin biar gurih, publik figure yang menjadi seorang anggota dewan dimintai komentar soal (isu) kenaikan rokok, yang menjadikannya seolah-olah ucapannya mewakili pemerintah. Tidak heran, jika tidak sedikit pula yang menyakini bahwa rokok benar-benar akan naik menjadi 50rb perbungkus di awal September lalu. Kemudian apa yang pernah mereka yakini dulu benar-benar terbukti?
Ternyata itu hanya hoax sodara-sodara.

Ketika membaca sebuah artikel sesekali coba meluangkan waktu untuk membaca kolom komentar. Dan sebelum membaca komentar pastikan anda sudah menyetel tingkat kesabaran anda pada level tertinggi, agar anda tidak ikut emosi membacanya. Karena, Anda akan menemui banyak orang yang seperti sedang memproklamirkan kebodohannya sendiri, dengan berkomentar jauh dari topik artikel tersebut. Lha wong dalam sebuah postingan produk online shop, sudah dijelaskan produknya dengan detail termasuk harganya, masih aja yang nekat bertanya “Harganya berapa, gan?”
Ngunu kui kowe yo iseh iso sabar?

Kebiasaan broadcast misalnya. Jujur saya sering terganggu dengan adanya broadcast yang kebanyakan adalah berita-berita yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Seperti tempo hari, saat angkatan udara menggelar latihan dan terdengar suara gemuruh di langit. Selang beberapa ada broadcast, kemudian ada yang pasang DP BBM dengan menyebutkan ada pesawat jatuh di Karangpandan Karanganyar. Semua seakan menyakini menjadi sebuah kebenaran tanpa perlu mengklarifikasinya terlebih dahulu. Tidak menggunakan “filter” terlebih dahulu, dan hanya menelan mentah-mentah semua informasi seolah menjadi sebuah kebenaran. Di saat yang bersamaan, saya mencoba mencari informasi di google, saya tidak menemukan artike mengenai pesawat yang terjatuh di Karangpandan. Emang ada pesawat jatuh, tapi itu pesawat latih dan itu tidak terjadi di Karangpandan, namun  di Cirebon.

Di era informasi seperti saat ini, arus informasi bisa mengalir dengan derasnya, dan dengan cepat menjadi viral. Entah itu informasi yang belum dikonfirmasi kebenarannya (hoax), atau benar-benar sebuah berita tentang sebuah fakta, keduanya sama-sama cepatnya menyebar.

Seperti menjadi sebuah kodrat, bahwa berita buruk akan mudah menyebar daripada berita baik. Maka Tuhan menganugerahkan kita akal dan hati nurani sebagai filter sebelum menerima setiap informasi. Tidak semua informasi di media sosial itu benar. Konfirmasi terlebih dahulu sebelum menyakininya, atau ber-tabayun dulu lah.

Jadi anda tidak boleh langsung mempercayai setiap informasi yang berasal dari media sosial yang semakin “nggedebus” ini, termasuk dengan tulisan saya ini, Anda wajib tidak mempercayainya.