Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Manusia Yang Hidup Di Menara

Monday, September 12, 2016
 (Sumber gambar: wikipedia)

Aku selalu penasaran akan dunia, dunia apa yang sedang ku tinggali ini? Apakah dunia ini penuh dengan keajaiban seperti dongeng sebelum tidur yang selalu dibacakan ibuku? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu muncul dalam pikiranku. Bahkan di usia yang hampir menginjak 25 tahun ini, aku pun masih senang bermimpi dan berkhayal tentang hal-hal hebat yang mungkin dapat aku lakukan di dunia luar sana. Terkadang, di usiaku ini banyak orang-orang di dekatku berkata bahwa aku belum dewasa, “sepertinya ada yang salah denganmu”, kata-kata itu kerap kali aku dengar jika ada teman yang kuajak bercerita tentang hal-hal hebat yang ingin aku lakukan. Tapi aku tak pernah mau ambil pusing akan kata-kata seperti itu, karena memang yang paling kejam dari manusia adalah “mulut”.

Ada hal yang sangat kuimpikan di dunia ini, yaitu aku sangat ingin tinggal di sebuah menara yang menjulang tinggi ke langit. Alasannya, entahlah. Aku hanya berpikir bahwa akan sangat menyenangkan bisa melihat wajah kota dari atas menara. Namun, sayangnya menara-menara itu tidaklah untuk semua orang. Dahulu, ibuku pernah sesekali menceritakan bahwa menara-menara itu hanya ada di kota-kota besar,  bukan sembarang orang yang bisa tinggal dan hidup di dalamnya. Aku dengar, sebagai imbalan karena dapat melihat wajah kota yang beraneka rupa, bayaran yang harus diberikan oleh si manusia untuk hidup di menara adalah “hatinya”. Aku sampai saat ini belum tahu, kepada siapakah manusia itu harus menyerahkan hatinya agar ia dapat hidup di menara. Ibuku belum pernah menyelesaikan kisahnya karena dia berkata bahwa hatinya telah hilang, dan ibuku tak sanggup lagi menceritakan kisah mengerikan itu padaku. Saking penasarannya dengan kisah itu, terkadang fantasi gila menghapiriku, aku membayangkan bahwa ada makhluk mistis yang menjaga menara dan ia hanya mengizinkan ada manusia yang tinggal di menaranya dengan bayaran berupa hati si manusia. Mungkinkah makhluk mistis itu sangat senang memakan hati manusia? Lalu mengapa ia harus repot-repot membangun dan menjaga sebuah menara hanya untuk makan hati? Bukankah lebih baik bila makhluk mistis itu datang langsung ke permukiman manusia dan memangsa mereka satu per satu? Ketika itu, yang bisa kulakukan hanya mengabaikan fantasi-fantasi gilaku tentang makhluk mistis penjaga menara. Toh, juga aku bukan orang yang penakut, bagiku yang pantas ditakuti hanyalah Tuhan. Makhluk lain tak akan mampu menakutiku. Tapi mungkin itu berbeda dengan ibuku yang hatinya sudah hilang.

Tak lama kemudian ketika aku mulai kuliah di luar kota, ketertarikanku tentang kisah-kisah fantasi, dunia yang penuh misteri dan keajaiban, semuanya sejenak kulupakan,  berganti menjadi teori-teori tentang psikologi dan filsafat yang cukup membuatku pusing dan merasa tak normal ketika semester pertama kuliah. Namun jika sekarang aku pikir-pikir kembali, orang-orang yang aku temui di awal kuliah merupakan wujud misteri dari dunia dongeng yang sejenak aku tinggalkan itu. Sisi lain dari dunia, begitulah aku menyebutnya. Aku baru menyadarinya ketika sudah hampir 3 tahun lamanya semenjak aku menjalani keseharian bersama orang-orang baru di masa kuliahku. Aku sadar mereka yang kutemui di awal semuanya menampilkan perhiasan terbaik yang mereka miliki dari batinnya dan sekarang semuanya telah tersimpan rapat dalam peti dimana kuncinya dilembar jauh-jauh ke jurang tak berujung. Aku berani bertaruh yang mereka simpan rapat-rapat sekarang itu adalah hati yang mereka miliki. Ya, perhiasan batin terindah manusia adalah hati yang pengasih dan pemaaf. Tapi hanya dipakai sesekali ketika bertemu orang baru, jika sudah dirasa lelah menunjukkan perhiasannya, manusia akan menyimpannya karena takut hal itu akan dicuri. Atau lebih buruk lagi, perhiasaan itu disimpan karena memang sudah kotor dan tidak ada yang mampu membersihkannya. Aku rasa jika memang sudah kotor, mungkin mereka juga tidak bisa tinggal di menara, mana mungkin makhluk mistis mau memakan makanan yang kotor dari manusia macam itu.

Dulu, ibuku juga pernah bercerita bahwa hati manusia paling bisa dikotori oleh tiga iblis. Iblis yang pertama bernama “Envy”, iblis yang kedua bernama “Hate”, iblis yang ketiga bernama “Wrath”. Ketiga iblis tersebut tercipta dari ketidakmampuan si manusia sendiri untuk menerima takdirnya. Cerita yang penuh pandangan kolot orang-orang jaman dulu memang. Tapi, aku tidak mungkin menyalahkan cerita ibuku, karena ia adalah orang yang hidup jaman dulu. Mungkin kisah itulah yang juga diceritakan nenek padanya. Hal yang justru bodoh adalah jika aku masih percaya pada takdir, percaya bahwa manusia memang telah memiliki jalannya masing-masing sedari ia lahir. Jika memang begitu sebaiknya aku segera mengemasi barang-barangku, membakar buku-buku kuliah yang ternyata “omong kosong”, dan bergegas kembali pulang lalu mengemis kepada orangtua dan berkata bahwa, “sepertinya takdirku lupa ditulis oleh malaikat ketika ia melemparku ke dunia, jadi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang”.

Bagiku, takdir hanyalah sebatas di mana aku lahir, siapa orangtuaku, dan kapan aku mati. Selebihnya akulah yang menentukan akan jadi seperti apa hidupku. Tidak ada yang mampu mengarahkan hidupku selain aku. Akulah yang menulis kisahku sendiri. Baik aku menulisnya dengan tinta hitam pekat sambil mengambil alur berkelok-kelok lalu masuk ke jurang, ataupun aku menulisnya dengan tinta merah jambu sambil mengambil alur berliku-liku yang mulus dan lancar hingga akhirnya hidup bahagia selamanya seperti dalam dongeng. Semua terserah padaku. Juga hanya aku yang merencanakan dan menjalani semua bagian dalam hidupku, mengapa juga harus ada orang yang mencampurinya dengan tulisan “takdir”.

Kembali lagi ke masa-masa kuliahku, aku mulai memiliki begitu banyak mimpi hingga terkadang aku sampai lupa keinginannku untuk tinggal di menara. Sebagai seorang anak yang dulunya sering berfantasi dan berkhayal tentang dunia dalam dongeng, ketika bertemu hal baru di bangku kuliah aku menjadi mudah tertarik dan munculah impian yang beraneka rupa hingga aku tak sanggup untuk menentukan apa yang harus aku kejar seumur hidupku. Meski aku tipe pemimpi, tapi otakku masih cukup logis untuk mengatakan, “mana mungkin dengan umur yang singkat sebagai manusia aku bisa mengejar semua hal yang kuimpikan”. Bukankah semangat, baru bisa dirasakan jika ada impian besar yang bisa aku pandang dan kejar sepanjang hidup. Setidaknya impian seperti itu tidak akan memberi lubang di hatiku. Namun ketika aku tak mampu memutuskan, hal yang kulakukan adalah menceritakan apa yang kumau pada orang-orang di sekitarku dan jawaban mereka sekali lagi adalah “sepertinya ada yang salah denganmu”, atau bahkan “apa kau sudah tidak waras?” untuk jawaban semacam itu biasanya aku punya jawaban sendiri seperti “justru karena ada yang salah pada diriku dan aku merasa tidak waras makanya kuliah di psikologi. Aku ingin sembuh setelah lulus”, kataku dengan dibarengi sejumput senyuman. Ya, aku tahu humorku memang hambar dan garing, tapi apa orang-orang itu bisa merasakannya? Mereka bahkan telah menyimpan hatinya rapat-rapat, jadi untuk apa aku peduli dengan komentar mereka, toh juga manusia memang sangat menyakitkan jika sudah mengarah ke “mulut”.

Seandaikan jika manusia tidak punya mulut, mungkin tidak ada manusia yang sampai sakit hati dan mereka dapat saling menunjukkan hatinya secara terbuka. Mungkin dengan demikian manusia akhirnya bisa hidup dalam damai. Tapi, benarkah kedamaian itu yang dinginkan semua orang? Bagiku setelah melewati berbagai pengalaman pahit di awal masa dewasa, aku mulai mengarah pada suatu kesimpulan ekstrem bahwa hanya sebagian kecil manusia di dunia yang ingin hidup damai, sisanya ingin merusak, menjarah, membakar kehidupan manusia lainnya bagai Sang Penguasa Neraka. Lucu menurutku, kebanyakan manusia berusaha menggantikan peran dari iblis di neraka sana dan berlomba-lomba menjadi Sang Penguasa Neraka berikutnya. Dunia macam apa kah yang sedang kutinggali ini? Kini salah satu doa yang rutin kupanjatkan dalam terang kudus adalah, “Tuhan, basuhlah neraka lumpur ini dengan kemurnian-Mu.”

Mungkin semua cerita dan ucapanku, bahkan doaku terdengar ngawur, namun itulah hal yang sekarang ditunjukkan dunia kepadaku. Mungkin satu-satunya  cara agar aku bisa selamat dari kegilaan ini adalah dengan tinggal di menara, tempat dimana aku dapat melihat rupa-rupa dunia. Mungkin di menara yang tinggi itu aku bisa melihat wajah bahagia dari dunia. Aku rasa aku tak keberatan memberikan hatiku kepada makhluk mistis penjaga menara agar bisa tinggal di sana, karena bila aku lebih lama di sini pun hatiku akan menjadi kotor dan membusuk. Daripada harus hidup dengan sesuatu yang busuk dalam diriku, lebih baik selagi hal itu belum busuk, aku menggunakannya untuk pertukaran yang menurutku layak.

Setahun setelah aku membuat keputusan untuk tinggal di menara, ibuku pergi menyusul ayah di alam lain yang aku pun tak mengerti itu dimana? Bagiku, tubuhnya yang renta itu hanya dimasukkan ke dalam sebuah lubang di muka bumi, ditutup, lalu dilupakan. Ketika hari penguburan itu banyak kerabat jauh datang yang aku pun tak kenal siapa sebenarnya mereka. Ironisnya, kakek yang wajahnya samar dalam ingatanku datang ke acara pemakaman itu. Aku pikir kakek belumlah setua itu, ya mungkin karena terakhir kali aku melihatnya adalah ketika ia memaki dan mengusir ibuku di hari kelahiran cucu baru yang menjadi kesayangannya dari rahim tanteku. Ketika itu umurku baru delapan tahun dan aku sudah melihat bagaimana sebuah jalinan darah dengan sangat gampang diputuskan oleh beberapa lembar rupiah yang diungkit-ungkit oleh ibuku. Semenjak itu ibu melarangku untuk bertemu dengan kakek, bahkan di hari pemakaman ayah ketika aku berumur tiga belas tahun, kakek juga tidak datang. Entah apa yang membawanya datang di hari pemakaman ibu. Saat itu aku hanya terdiam dan mengalihkan pandangan dari sosok pria tua itu dan dia pun juga sama, kami seperti berpura-pura tak mengenal satu sama lain hingga pemakaman itu berakhir. Ya seperti inilah akhir sebuah keluarga. Tragis, kata itu mungkin tidak tepat, menurutku lucu adalah ungkapan kata yang paling tepat. Manusia memang begitu dan dunia merupakan tempat yang harus dibuat busuk dengan kebencian, kepura-puraan, amarah dan ketika manusia mati, semua kebusukkannya seakan-akan dilupakan oleh orang lain dan semua hadir berbondong-bondong membacakan doa agar orang yang mati itu diterima di sisi Tuhan. Begitulah manusia, aku tak bisa menyalahkan mereka, karena memang seperti itu mereka diciptakan.

Menjelang akhir kisahku, sekarang usiaku sudah 28 tahun dan aku telah cukup melihat berbagai macam rupa kota diatas menara tempatku berlindung dari kebusukkan dunia. Namun, dua tahun yang kuhabiskan di menara ini membuatku sadar bahwa wajah dan rupa kota sebenarnya hanya ada satu, yaitu wajah kehampaan. Kehaampaan kota yang menjebak manusia untuk terus membusukkan dunia. Manusia yang busuk di dunia yang busuk semua akibat wajah kehampaan yang menghipnotis manusia untuk berlomba-lomba mencari ketegangan, berbuat hal-hal yang diperlukan untuk mengisi jarak antara kelahiran dan kematian yang kita sebut sebagai rentang hidup dan membusuk dalam pangkuan bumi ketika manusia akhirnya mati. Tapi di menara ini, aku merasa aman dari kehampaan, karena semua yang ada dalam pikiranku senantiasa menemaniku. Tinggal di menara ini telah menjawab rasa penasaranku, tentang kepada siapa aku harus memberikan hatiku. Ya, memang ada monster di menara ini dan aku telah menyerahkan hatiku untuk tinggal di menara ini. Monster penghuni menara ini ternyata ada dua, mereka bernama “Alienation” dan “Insanity”. Hatiku telah dimangsa oleh kedua makhluk itu dan aku sudah terbebas dari wajah kehampaan dan kebusukan dunia ini. Aku merasa tercerahkan bahkan ketika aku berdiri di puncak menara, aku sudah bisa berdialog dengan Tuhan. Petunjuk yang dibisikkan Tuhan kepadaku agar bisa bahagia adalah dengan melepaskan semua hal yang kumiliki. Jadi, aku berdiri di tepian puncak menara, memejamkan mata, dan mulai menghitung...satu...dua...tiga...dan seterusnya hingga deru angin membasuh tubuhku dan gravitasi menariknya mendekati wajah bumi...