Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Menjiwai Tuhan 3 : Mati Selagi Hidup

Tuesday, September 20, 2016

Sumber gambar

Pernahkah kita berterimakasih kepada orang lain, namun di hati ada yang mengganjal? Bibir bilang begitu namun dalam hati masih ada yang belum selesai. Ucapan itu hanya kebiasaan umum bukan karena hati kita benar-benar bilang begitu. Sebenarnya ini tidak hanya tentang terima kasih namun juga ungkapan lain seperti maaf, meminta tolong, menjelaskan sesuatu, apa saja. Apa yang kita katakan menunjukkan kematangan akal kita.

Bibir bisa berkata sebaliknya namun intonasi, sorot mata, bahasa tubuh akan mengikuti bagaimana hati bicara. Di mana kita tidak mampu mengontrol tindakan dan gerakan itu. Sayangnya itu kadang tidak kita gubris. Menggunakan bahasa umum saja lebih aman dan nyaman daripada melibatkan hati. Jadinya, secara halus maksud kita tidak tersampaikan. Komunikasi pun akhirnya tidak berjalan baik. Menyisakan ganjalan dari kita mau pun dia.

Dalam berkomunikasi kita mengenal dua unsur: media dan muatan. Dua hal ini adalah saling bergantung. Bila kita membuat koneksi, berinteraksi, muatannya jelas namun medianya salah, bisa jadi ada salah paham. Pun sebaliknya, bila medianya benar tapi muatannya ada yang tidak kita pahami akhirnya ada kerancuan. Bibir dan hati tidak sejalan, begitu pula tindakan. Ini banyak terjadi terutama pada orang yang lemah mengatur emosi.

Saat bicara hanya menggunakan logika dan perasaan bukan hati.

Sementara setiap orang menghindari hati di era modern ini. Mencari-cari pengalihan dari perasaannya sendiri, mencari alasan dan pembenaran dari rasa takut, alih-alih menghadapinya. Tidak aneh karena setiap orang mendamba hidup enak. Merasa susah sedikit langsung mencari pengalihan. Mendamba kenyamanan, jauh dari kesusahan dan dimudahkan segala urusan.

Standar hidup masyarakat sekarang adalah metropolis. Semua orang menujukan diri pada hidup dengan segala fasilitas. Makan enak tercukupi, baju-baju modis, dan lalu memiliki keluarga harmonis dan bahagia. Semua itu impian setiap manusia tidak terkecuali aku. Namun, beberapa waktu ini aku sadar itu semua hanya angan-angan kosong . Tidak, tidak. Aku tidak pesimis. Aku hanya merasa itu tidak ada manfaatnya sama sekali, kecuali kita tetap mempertahankan hal-hal penting.

Sebab rasa nyaman dan susah hanya akibat dari satu kondisi.

Kondisi sedang lapang kita merasa nyaman. Di saat sempit kita merasa susah. Kita tidak mungkin terhindar dari dua hal itu. Rasa nyaman berbanding lurus dengan rasa sakit. Semakin banyak kita mengalami kesempitan sebanyak itulah kita akan dilapangkan. Sebanyak kita dilapangkan sesempit itulah kita akan ditempatkan. Sebab keduanya adalah realitas yang tidak mungkin dipisahkan. Salah satu harus menunjang yang lain.

Alam ini menganut hukum dualitas bukan tunggalitas.

Sistem alam mengajarkan kita bahwa selalu ada baik dan buruk, ada bayangan dan cahaya, ada laki-laki ada perempuan, ada kenyang ada lapar, ada bodoh ada pintar, ada lebih ada kurang dan sebagainya. Realitas yang penuh fluktuasi dengan kemungkinan sangat kecil yang kita miliki untuk membuat jalan sendiri di antara keduanya. Kita terlibat namun kekuasaan kita sangat sedikit untuk memanipulasi alam.

Namun seiring makin banyak ilmu yang kita pelajari, semakin banyak kita mampu memanipulasi.

Seperti kegiatan pengolahan minyak, pengolahan getah karet, pengolahan tembakau, pembuatan besi dan baja. Semua itu adalah kegiatan manipulasi yang mampu dilakukan manusia. Semakin tahu rahasia alam makin banyak yang bisa kita manfaatkan. Termasuk, memahami diri kita sendiri. Semakin banyak ilmu tentang manusia akan memudahkan kita memahami diri sendiri. Bagaimana alam batin dan jasmani berkoneksi. Bagaimana kejadian pergerakan dalam tubuh kita dan sebagainya.

Salah satunya membaca gerak gerik hati.

Perasaan nyaman dan susah keduanya tidak mungkin dipisahkan dalam hidup. Merasa susah selamanya adalah akibat dari keinginan kita untuk senang selamanya. Bila diruntut lagi ini adalah pola yang terjadi karena saat kecil kita tidak diajari dengan benar bagaimana menghadapi masa sulit. Rasa susah dan senang, bagaimana menghadapinya. Bukan hanya memperbanyak rasa senang untuk menutupi rasa susah.

Seperti yang kukatakan tadi, alam ini menganut hukum dualitas. Menentang salah satu hanya akan membuat salah yang lain menyeruak. Menentang kesenangan pada akhirnya merasa banyak kesusahan menimpa lantaran diri juga butuh disenangkan. Pun menentang kesusahan pada akhirnya susah sedikit sudah merasa sangat berat. Menentang salah satu hanya akan membuat kita sengsara.

Jadi bagaimana sikap yang benar? Sikap yang tidak menjurus terlalu banyak kepada salah satu dualitas itu. Jangan berlebihan menyengsarakan diri mau pun memanjakan diri. Menyengsarakan diri seperti merajuk berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Atau terus menyenangkan diri sendiri dengan apa yang dimiliki, bila tidak mampu ya minta sama orang lain. Sama saja, keduanya akan berujung pada rasa sengsara, kecuali bila kita mengatur diri kita dengan benar.

Kita harus mau belajar sedikit demi sedikit mengenai diri kita.

Siapa kita, mengapa kita lahir, bagaimana sejarah kita sebelum ini, bagaimana kesudahan manusia sebelum-sebelum kita, apa yang kita butuhkan, apa kelemahan dan kekuatan kita. Semua itu perlu kita pelajari bila ingin mendapatkan kedamaian diri. Mengetahui bagaimana kita seharusnya lewat ilmu, bukan hanya meniru. Menyikapi sesuatu berdasarkan pertimbangan akal, bukan keinginan atau penghindaran sesaat saja.

Sebab pelan-pelan kita akan mengalami kematian.

Tidak ada yang layak diusahakan melainkan usaha itu sendiri. Hidup ini medan perjuangan bukan taman kenikmatan. Apa nikmatnya bila kesenangan kita alami terus menerus? Kita akan merasa bosan. Ibaratnya kita setiap hari makan ayam, makan daging, dan yang enak-enak. Lama-lama saat sudah terbiasa rasa senangnya akan hilang. Begitu pun kesusahan, jika kita menikmatinya lama-lama akan terbiasa.

Hal yang membuat sulit adalah kesusahan itu selalu bertentangan dengan nafsu manusia.

Orang bersifat surgawi tidak nafsusentris dan cenderung optimis. Bukan optimis karena yakin akan masuk surga, itu sombong namanya. Optimis karena dalam hatinya sadar di dunia ini hanya itu-itu saja. Dikejar mati-matian juga buat apa, dihindari mati-matian juga tidak ada gunanya. Mengalir saja seperti air mengalun layaknya angin. Namun tegas seperti api dan tegar bagaikan tanah. Akalnya matang oleh ilmu dan kebijaksanaan bukan hanya pengalaman berdasarkan ingatan. Apalagi pengalaman orang lain.

Apa yang bertahan dari diri kita, yang mampu kita wariskan dan tidak habis, itu ilmu.

Harta akan habis, apa yang kita pelihara seperti anak, binatang ternak, tetumbuhan juga akan mati. Kita tidak bisa mewariskan waktu karena kita sendiri diperbudak oleh waktu. Dia selalu mencambuk setiap detik agar kita berusaha dan berusaha. Berjuang dan berjuang. Jika jatuh bangkit, bila melambung jangan terlena. Sebab semua hanya sementara dan dunia hanya itu-itu saja. Tidak ada tempat yang berubah hanya kita mungkin belum mengunjunginya.

Kita harus memahami bahwa usaha kita itu hanyalah kendaraan. Kendaraan yang berjalan dalam jalur alam di mana tujuan kita adalah ujungnya. Bukan sebuah ‘persembahan’ atau pengorbanan yang mampu memastikan hasil jadinya seperti apa. Bila memang kita sesuai jalur maka takkan ada hal yang terasa sulit. Halangan selalu ada namun dapat kita nikmati. Taraf kematangan akal manusia seperti ini yang mampu membawa ketentraman di bumi ini.

Bagaimana kita mendidik akal agar bisa menerapkan nilai dengan benar. Memahami esensi dan substansi bukan hanya dengan buta mengikut instruksi. Berdoa agar mendapatkan keinginan lebih pentingkah daripada merasakan kedamaian dalam diri? Keinginan itu bersifat sementara meski pun kita berusaha membangun semuanya. Sebanyak yang kita miliki, sebanyak itu pula kita akan kehilangan.

Rencana hanya bagian dari kendaraan kita. Apabila sudah berbeda jalur ya mau tidak mau harus ganti kendaraan. Memaksakan satu rencana hanya akan membuat kita tersiksa. Sebab batin itu tidak bisa dipaksakan melakukan sesuatu yang sudah tidak masanya lagi. Seperti saat kita menikah, keinginan untuk bebas sudah tidak berlaku sepenuhnya. Ada anak dan pasangan yang harus kita dampingi.

Jadi ini adalah perjuangan kita melawan egosentrisme dalam diri kita. Paham yang mengira diri sendiri paling benar dan harus dinyamankan, itulah egosentrisme. Paham yang membuat kita jadi orang keras kepala dan sulit menerima keadaan. Ingin mengatur semuanya daripada memahami kenyataan. Bila mampu memenangkannya, berarti kita siap mendapatkan apa saja dan siap kehilangan apa saja. Siap menjemput kematian dan kehilangan semuanya.


Itulah mati sajroning urip, mati selagi hidup.