Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Sang Pelamun

Sunday, September 11, 2016
Ilustrasi

Ibu saya sangat membenci perjalanan. Baru mengagendakan perjalanan pulang ke Jambi saja, sudah langsung adem panas, kemudian minta dikerokin Ibunya (yaitu nenek saya) sehari sebelum berangkat. Ibu saya mabuk darat dan laut. Tidak tahu juga jika perjalanan melalui udara, namun saya kira hasilnya juga tidak jauh berbeda. Dan saya kira solusi satu-satunya adalah pintu kemana saja milik doraemon. Andai saja itu nyata, betapa bahagianya Ibu saya.

Berbeda dengan Ibu saya, sebagai anak kandungnya saya justru sangat menikmati setiap perjalanan. Bahkan saya jauh lebih menikmati perjalanan daripada tempat yang menjadi tujuan dari setiap perjalanan yang saya lakukan.

Meski demikian, sebagai seorang ibu dan anak, tentu kami juga memiliki kemiripan. Kemiripan kami adalah, kami selalu bingung mau ngapain ketika berada di rumah. Ibu saya terbiasa hidup di Jambi, jadi bingung mau ngapain, karena di rumah ia tidak memiliki kesibukan. Jadi, pernah suatu ketika, yaitu ketika saya sedang libur, kemudian pulang ke rumah malam harinya, dan keesok harinya kami hanya ngobrol seharian dari bangun tidur hingga saya pamit ke Boyolali lagi.

Kembali lagi mengapa saya lebih menikmati setiap perjalanan yang saya lakukan. Bagi saya, setiap perjalanan mampu membuat saya menemukan banyak hal yang tak terduga. Bahkan, ada sesuatu yang sebelumnya tak pernah saya pikirkan, namun justru terpikirkan ketika saya sedang asyik mengendarai sepeda motor di jalan raya.

Mungkin kebiasaan melamun ketika berkendara itulah yang menyebabkan beberapa kali saya mengalami kecelakaan tunggal. Seperti saat masih kuliah, kala itu saya akan mengikuti turnamen futsal di UII. Seminggu sebelum turnamen digelar, saya justru mengalami kecelakaan tunggal. Kecelakaan itu terjadi karena saya terkaget ketika tahu tepat di depan saya ada jalan yang berlubang. Kemudian saya terjungkal dari motor dan kaki kiri saya tertimpa motor. Namun demikian, saya masih tetap bisa mengikuti turnamen, mengingat turnamen diundur beberapa hari karena ada suatu hal. Artinya, saya masih memiliki waktu istirahat yang lebih lama lagi sambil menunggu luka lecet-lecet di kaki saya benar-benar kering.

Di jalanan, saya seperti melakukan sebuah perenungan. Saya seperti sedang berkomunikasi dengan diri saya sendiri. Tak heran jika saya sering mendapat inspirasi menulis setelah melakukan perjalanan. Dan yang membuat saya sedikit jengkel, ketika sampai di tempat tujuan, saya sering lupa hal-hal yang sudah saya renungkan di jalan, hingga urung saya saya tumpahkan dalam bentuk tulisan. Dan itulah mengapa saya tidak bisa menikmati tempat tujuan, karena saya justru sibuk memikirkan apa yang sedang saya renungkan selama perjalanan. Dan di saat seperti itulah saya merasa diri saya aneh, bahkan sangat aneh.

Saya kira kebiasaan saya bukan lah kebiasaan buruk. Namun, di saat saya menyadari kebiasaan itulah, saya akan mendadak menjadi manusia yang ragu dan terlalu was-was ketika memboncengkan teman saya, baik itu teman laki-laki maupun teman perempuan. Saya seperti dituntut untuk fokus berkendara, karena sekali saya lengah dan malah melamun, ada dua orang yang akan mengalami celaka sekaligus jika sesuatu terjadi pada perjalanan kami. Mungkin saya bisa memaafkan diri saya sendiri  ketika musibah hanya menimpa diri saya. Namun sulit bagi saya untuk memaafkan diri saya ketika ada orang lain yang turut celaka karena kelalaian saya.

Bagi saya melamun itu adalah aktifitas yang produktif. Karena, di satu sisi saya berkendara agar sampai ketempat tujuan, di sisi lain saya juga merenungkan sesuatu. Apa nggak multy tasking itu namanya? Seperti perjalanan saya ketika dari rumah simbah saya di Sukoharjo menuju Boyolali. Ketika itu saya melalui jalan Jogja-Solo, saya sempat dikagetkan oleh klakson sebuah bus yang mencoba menyalip dari jalur kiri. Sontak saya yang kala itu sudah merasa sudah di pinggir aspal paling kiri, terkaget. Kala itu saya sedang dalam kecepatan yang lumayan kencang. Dan saya merasa dipaksa harus keluar dari jalur, karena bus memaksa menyalip dari kiri dengan kecepatan yang sedikit kencang. Dan ketika bus mulai menyalip dari kiri sebuah mobil, dan saat itu posisi saya pas di kiri mobil itu. Jadilah saya langsung menurunkan laju motor, kemudian berusaha menstabilkan motor saya yang mulai goyah karena efek dari hembusan angin dari kecepatan bus yang menyalip diantara saya dan mobil yang sedang malaju di jalur kanan.

Saya langsung menarik nafas ketika Bus sudah berhasil menyalip melalui sela-sela antara motor saya dan sebuah mobil yang sedang melaju di jalur kanan. Seketika itu saya langsung mengeluarkan segala umpatan, seperti “Bajingan”.

Saya segera tersadar, logika segera mengambil alih setelah sekian detik diambil kendali oleh emosi, “Ngopo aku misuh-misuh, sopire paling yo ora krungu” kemudian saya istighfar untuk menenangkan diri saya sambil tetap berjalan dengan kecepatan sedang. Dan saya bersyukur juga, karena masih diberi keselamatan. Mungkin saya sedang diingatkan agar selalu berhati-hati ketika sedang berkendara di jalan raya.

Setelah kejadian itulah saya merenung, atau lebih tepatnya melamun. Dan dalam perenungan itulah, ketika saya sudah sampai di Kos saya yang berada di Kartasura. Saya langsung mengeluarkan laptop dalam tas saya, kemudian menghidupkannya serta menuliskan tentang yang saya alami itu, sebelum semuanya memuai dan hilang dari pikiran.

Mungkin ada yang masih ingat ketika tulisan saya tentang sebuah bus fenomenal sumber kencono. Untuk pertama kalinya tulisan saya di muat di media se-cetarrr mojok dot co. Tulisan itu terinspirasi dari perjalanan saya ketika di salip dan dipaksa keluar dari jalur ketika ada bus dengan gaya mengemudi layaknya Rio Haryanto yang kini sudah melepas status dari pembalap utama menjadi pembalap cadangan ketika tidak mampu melunasi “mahar” yang diminta dari team manor racing.

Kalau boleh jujur, bus yang menyalip saya bukanlah bus sumber kencono yang kini sudah berganti nama menjadi sumber selamat dan sugeng rahayu itu. Bus yang menyalip dan memaksa saya keluar dari jalur itu adalah bus eka. Lantas kenapa saya memilih sumber kencono? Alasannya tidak lain karena aksi-aksi fenomenal dari driver bus sumber kencono dan segala pemberitaannya. Maka saya mengeksekusinya menjadi tulisan yang sengaja saya buat untuk sekedar menghibur.

Tulisan saya itu akhirnya mampu lolos dari team redaksi. Perasaan bahagia dan haru menyelimuti saya ketika pagi-pagi ada sebuah artikel yang di-endorse langsung oleh penulis favorit saya, karena beliau pemilik situsweb yang mempublikasikan tulisan saya itu.

Untuk pertama kalinya juga, tulisan saya dibaca dan dibagikan banyak orang. Tentu kritikan pedas pun sempat saya baca di kolom komentar. Meski awalnya merasa jengkel juga, untung ada kawan saya yang mendukung saya agar tetap menulis, dan sedikit menghiraukan kritikan yang terlalu serius itu. Tulisan bertujuan untuk menghibur namun ditanggapi secara serius itu adalah sebuah lelucon yang tidak lucu lagi garing.

Saya jadi teringat dengan nasehat kawan saya itu, “menulis itu ibarat orang yang sedang melakukan hubungan intim, jadi tidak mungkin kamu bisa memuaskan semua orang, cukup kamu dan istri kamu saja yang puas” cukup lama saya memahami maksud dari kawan saya itu. Namun, saya menjadi paham ketika ia mulai menjelaskan dengan detail, tentang makna istri yang dia maksud. Istri itu dipilih karena rasa cinta dan memiliki tujuan yang sama, sehingga satu sama lain saling memahami tujuan dari rumah tangga itu sendiri. Jadi “istri” yang dimaksud dalam nasehat kawan saya tersebut adalah pembaca yang mampu memahami apa yang hendak disampaikan oleh penulis.

“Jadi jelas bukan “istri” kamu, ketika ada orang yang menanggapi tulisan yang bersifat guyonan dengan berkomentar serius, itu istri orang, ojo digagas, Kik”  celetuk kawan saya dalam sebuah obrolan kala itu.
***
Ada banyak keunikan dalam setiap kehidupan seseorang. Ada yang menikmati hidupnya dengan menenggelam diri ke dalam kesenangan dunia, karena baginya hidup hanya sekali. Ada yang menarik diri dari kehidupan duniawi dengan fokus memperbaiki diri karena mereka menyakini bahwa kehidupan yang sesungguhkan adalah kehidupan setelah mati. Ada yang lebih senang hidup dalam keramaian, karena sunyi adalah musuh besar dalam hidupnya. Ada yang menarik dari keramaian karena hidup baginya adalah sebuah perenungan di ruang-ruang sunyi. Dan melamun mungkin sudah menjadi keunikan saya, apalagi dilakukan ketika berkendara di jalan raya.

Ini bukan tentang siapa yang paling benar atau siapa yang paling bisa menikmati hidup, karena bagi saya kehidupan adalah apa yang mampu membuat mereka merasa tenang, dan bahagia dengan apa yang mereka lakukan. Masalah benar dan salah, kita kembalikan kepada diri mereka sendiri. Pada dasarnya setiap manusia memiliki hati, dan ingatkah kalian dengan fatwa hati? Iya, kebaikan adalah apa yang membuat hati kita tenang dan tentram, dan keburukan adalah apa yang membuat hati kita risau. Kira-kira itulah yang coba pahami dalam hadist Nabi, untuk lebih jelasnya silakan tanyakan kepada yang lebih tahu, karena saya bukan ustad, hehehe

Mungkin akan ada orang yang menganggap diri saya aneh, karena memiliki kebiasaan yang menurut saya memang aneh juga. “Kebiasaan kok melamun dalam perjalanan, Kik”. Namun begitulah saya, terkadang saya melakukan perjalanan karena tidak tahu mau ngapain. Melakukan perjalanan tanpa tujuan, kemudian setelah malam sudah mulai larut, mampir di “majelis” wedangan untuk sekedar memesan teh panas dengan segala obrolannya.


Sang pelamun, mungkin itulah sebutan yang tepat bagi saya. Melamun, apalagi di perjalanan itu menyenangkan, meski hal itu juga penuh risiko. Jangankan melamun,  tidur aja juga punya resiko terjungkal dari tempat tidur, selain itu juga terkadang mengalami ketindihan yang membuat kita seperti antara sadar dan tidak sadar.