Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Cahaya untuk Senja

Wednesday, October 5, 2016
Sumber: Google
“Dunia yang begitu indah,” gumam Senja di dalam hati. Angin yang menerpa wajah dan membelai rambut, embun pagi yang menyejukan udara, serta kicauan burung yang bersarang di pohon cemara. Bukankah dunia ini penuh dengan warna-warni kehidupan? Tapi sayang, semua warna dan keindahan ini, kini hanya menjadi sebuah dongeng yang kerap didengar Senja. Bagi gadis belia ini semua keindahan itu hanya menambah luka di hatinya. Setiap kali sahabat-sahabatnya bercerita tentang keseharian mereka saat bersekolah hati Senja selalu merasa miris, tak jarang pula Senja hampir meneteskan air mata saat mendengar cerita para sahabatnya tentang dunia luar. Itu karena dunia yang ia kenal hanyalah dunia yang terlupa, dimana orang tua yang kejam menelantarkan anaknya di panti asuhan ketika masih bayi, dunia yang membelenggu jiwanya dengan rantai kebencian, serta dunia hitam yang selalu hadirkan kegelapan di kedua matanya. Senja selalu ingin tahu seperti apa wajah seorang ibu muda yang tega meninggalkan putrinya yang masih bayi di panti asuhan 18 tahun yang lalu. Namun apa daya, jangankan melihat wajah ibu muda itu, wajahnya sendiri pun ia sudah lupa.

“Tak ada apapun yang tampak dalam kegelapan ini, tak ada warna lain selain hitam, tak ada cahaya sedikitpun di duniaku,” kata-kata yang selalu terniang di benaknya itu tak pernah ia ucapkan di depan sahabat-sahabatnya. Bahkan semua masalah dan perasaan yang mengganggunya tak seorang sahabat pun yang tahu. Senja memang sulit membuka diri kepada orang lain, termasuk pada sahabat-sahabatnya di Panti Asuhan Kasih Bunda. Senja hanya mau bercerita tentang beberapa hal yang selalu mengganggu benaknya kepada Bu Risma, beliau merupakan ibu pengurus panti asuhan. Bu Risma merupakan orang yang sangat baik dimata Senja, setidaknya Bu Risma tidak seperti ibunya yang selalu ia caci-maki di dalam hati. Saking akrabnya dengan Bu Risma, Senja tak ragu bila menanyakan tentang penampilannya kepada Bu Risma seperti, bagaimana wajahnya, penampilan, dan postur tubuhnya. Dan Bu Risma pun selalu berkata, “Senja, kamu itu cantik”. Senja selalu bisa tersenyum ketika dipuji oleh Bu Risma. Meskipun terkadang Senja merasa ragu dengan jawaban Bu Risma tentang penampilannya, yang bisa ia lakukan hanya membalasnya dengan senyum. Tetapi, di balik senyum riangnya selalu tersimpan harapan untuk mampu melihat bagaimana rupa wajahnya suatu saat nanti.

Di malam yang sunyi, tepat diakhir bulan Oktober entah mengapa dada Senja terasa sesak dan ia mendapat berbagai firasat buruk setelah Bu Risma tidak kunjung pulang dari pasar sejak sore harinya. Hingga keesokan paginya semua anak-anak panti merasa khawatir, karena Bu Risma yang tak pulang-pulang. Sementara Senja merasakan kekhawatirannya telah mencapai puncak. Dalam kegelapan yang menyelimutinya, Senja hanya membayangkan sosok Bu Risma yang sedang mengalami musibah. Saking khawatirnya, Senja meminta sahabatnya di panti untuk memeriksa ke pasar tempat biasa Bu Risma berbelanja kebutuhan  pokok.

Betapa terkejutnya Senja saat sahabatnya itu kembali ke panti dengan membawa berita duka. Ternyata Bu Risma ditabrak oleh mobil saat perjalanan pulang ke panti kemarin sore. “Kata pedagang di pasar yang melihat kejadian itu sih, luka yang diderita Bu Risma cukup parah. Lalu, Bu Risma dibawa ke Rumah Sakit Kenanga oleh Si Penabrak,” kata salah seorang anak panti kepada Senja. Seketika itu juga Senja minta diantar menuju rumah sakit tersebut. Setibanya di sana, Senja bertemu dengan orang yang ingin sekali ia tampar yaitu Si Penabrak. Dengan meraba-raba dinding rumah sakit, Senja mendekati sumber suara yang menunjukkan bahwa orang itu adalah Si Penabrak.

“Plakkk.....” Sebuah tamparan keras dari tangan mungil Senja berhasil mendarat di pipi kiri Nathan, seorang lelaki muda dengan postur tubuh agak tinggi, rambut gondrong, serta wajah yang boleh dibilang lumayan tampan bagi orang seusianya. Nathan begitu terkejut saat ditampar oleh seorang gadis berambut ikal, kulit kuning langsah, dan wajah yang lumayan manis. Nathan hanya diam seribu bahasa, seakan dirubah menjadi patung oleh tamparan yang mendarat di pipi kirinya itu. “Maaf, karena perbuatanku ibumu harus terbaring di tempat ini,” ucap Nathan sambil memegang pipinya yang sakit, sesaat setelah bibirnya mampu berkata-kata lagi. “Jika terjadi sesuatu kepada Bu Risma aku tidak akan memaafkanmu! Aku akan melaporkanmu pada polisi,” balas Senja dengan nada menggertak. “Aku tidak bermaksud melakukan hal itu. Kejadiannya terjadi begitu saja, begitu cepat! Ini hanyalah sebuah kecelakaan,” tambah Nathan sambil terus mencari-cari alasan. “Setiap penjahat lalu lintas yang telah menghilangkan nyawa orang juga berkata begitu. Tapi, orang yang berbuat salah sepertimu harus mendapat hukuman atas perbutannya. Kau tidak akan bisa lolos dariku,” kata Senja sambil terus mendesak.

“Siapa yang bertanggung jawab atas pasien?” kata seorang dokter yang keluar dari ruangan tempat Bu Ratna dirawat. “Saya!” keduanya menjawab bersamaan. “Aku tak peduli lagi kau akan melaporkanku. Setidaknya biarkan aku untuk mengurus pengobatan ibumu, kurasa hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengurangi rasa bersalahku,” kata Nathan dengan nada yang meyakinkan sambil memegang kedua bahu Senja. Senja hanya terdiam. Meskipun ia tidak melihat ekspresi wajah Nathan, tapi ia bisa merasakan kesungguhan pria itu dari getaran kedua tangan yang memegang bahunya dan Senja tahu kalau mereka sedang berhadapan. Senja mengangguk tanda setuju, sepertinya suatu perasaan aneh saat mengetahui kesungguhan Nathan telah membungkam bibirnya.

“Kalau begitu sebaiknya kalian berdua ikut saya ke dalam,” kata dokter kepada keduanya. “Ibu ini telah melewati masa kritisnya. Kini kita hanya bisa menunggu hingga dia sadarkan diri,” perkataan dokter itu sedikit melegakan hati keduanya. “Sudah malam, sebaiknya kamu aku antar pulang. Ibumu biar aku saja yang menjaganya disini,” kata Nathan. “Beliau bukan ibuku. Beliau adalah ibu pengurus panti tempat aku dan sahabat-sahabatku tinggal. Aku ingin menemani Bu Risma disini. Jika mau mengantar pulang, lebih baik kamu antar sahabatku yang menunggu di luar. Aku masih ingin disini,” kata Senja menanggapi. “Baiklah, aku akan antar mereka ke panti,” Nathan pergi ke luar dan memanggil sahabat-sahabat Senja untuk diantarkan pulang.

Selang beberapa lama, Nathan kembali ke rumah sakit. “Kamu masih belum tidur?” tanya Nathan setibanya di ruang perawatan. “Aku nggak bisa tidur kalau Bu Risma masih belum sadar,” jawab Senja. “Tidak baik terlalu memaksakan diri seperti itu. O...ya, kita belum sempat berkenalan tadi. Namaku Nathan, kamu?” tanya Nathan lagi. “Aku Senja,” jawab Senja dengan pelan. “Ini, makanlah. Aku juga sudah membelikan makanan untuk anak-anak di panti,” Nathan menyodorkan sebungkus nasi kotak kepada Senja. “Terima kasih. Maaf jika aku sudah menamparmu tadi siang,” kata Senja dengan nada bersalah. “Tidak perlu minta maaf. Lagi pula ini semua salahku yang telah menabrak ibu pantimu,” tambah Nathan dengan nada yang sama bersalahnya. Malam itu, Nathan dan Senja terlibat obrolan yang panjang tentang diri mereka masing-masing.

Dari obrolan itu, Senja semakin sadar kalau dia telah salah menilai Nathan. Baru tadi siang dia mengira kalau Nathan itu merupakan orang yang suka sembarangan dan ugal-ugalan. Namun, ternyata Nathan memang merupakan orang yang bertanggung jawab dan  sosok yang teramat kesepian. Kedua orang tua Nathan telah meninggal sejak ia kecil karena kecelakaan lalu lintas. Sejak saat itu Nathan hanya diurus oleh neneknya. Sampai pada seminggu yang lalu, nenek Nathan telah menghembuskan nafas terakhirnya akibat serangan jantung. Kini Nathan hanya hidup sebatang kara.

“Aku turut berduka cita atas kepergian nenekmu,” kata Senja kepada Nathan. “Terima kasih. Padahal aku telah berbuat salah kepadamu dan juga ibu pantimu, tapi mengapa kamu begitu baik padaku?” pertanyaan Nathan tersebut cukup membuat Senja hanya diam terpaku beberapa saat. “Mungkin karena aku juga ikut merasakan kesedihanmu itu. Aku yang dulu ditinggalkan di panti asuhan sejak masih bayi dan selalu hidup dalam gelap, mungkin bisa dikatakan senasib denganmu,” jawab Senja dengan suara tersenda-senda. “Maaf, bila perkataanku membuatmu sedih lagi, aku tak bermaksud...” Senja hanya diam mendengar perkataan Nathan itu. Seakan-akan jiwanya telah ditarik keluar dari raganya yang mungil.

Keesokan paginya, hal yang telah dinanti-nanti Senja sejak semalam akhirnya terjadi. Layaknya suatu keajaiban bagi gadis belia ini, senyum kebahagiaan terpancar dari wajah manisnya. Sadarnya Bu Risma mampu membuat Senja melupakan seluruh kekhawatirannya. Bagi Nathan, hal itu membuatnya sedikit lega. Dengan segera Nathan meminta maaf kepada Bu Risma atas kejadian yang membuatnya terbaring di rumah sakit. Tiga hari setelah Bu Risma sadarkan diri, dokter menyatakan bahwa Bu Risma sudah boleh pulang. Hari itu, Nathan bermaksud mengantar Bu Risma dan Senja pulang ke panti asuhan. Sesampainya di luar rumah sakit, tiba-tiba seorang dokter lain memanggil Nathan. “Apa ada masalah dengan biaya administrasinya?” tanya Senja. “Bukan, itu dokter yang dulu menangani pengobatan nenekku. Tunggu sebentar ya, aku segera kembali,” jawab Nathan dengan nada agak gugup. “Entah mengapa? Nada bicara Nathan tadi aneh. Apa ada sesuatu yang ia sembunyikan?” timbul pertanyaan dalam benak Senja.

“Maaf ya, agak lama,” Nathan kembali ke luar. “Ada apa dokter itu memanggilmu tadi?” tanya Senja tanpa basa-basi lagi. “Hmm...dia hanya sekedar menyapa dan menanyakan keadaanku,” jawab Nathan dengan nada yang masih mencurigakan menurut Senja. “Ayo, lekas masuk ke dalam mobil, hari ini panas sekali,” tambah Nathan lagi. Dalam perjalanan ke Panti Asuhan Kasih Bunda, Senja yang duduk di belakang bersama Bu Risma membisikan sesuatu. “Bu Risma, bagaimana ekspresi wajah Nathan saat keluar dari rumah sakit itu,” bisik Senja. “Ibu rasa ekspresinya agak sedih. Tapi sepertinya dia berusaha menutupinya dengan tersenyum pada ibu tadi,” jawab Bu Risma dengan nada yang pelan, cukup pelan agar bisa didengar oleh keduannya.

Setelah mengantarkan Bu Risma dan Senja pulang ke panti, Nathan langsung pamit dan berjanji bahwa ia akan datang ke panti keesokan harinya. Sementara itu, setelah Nathan pergi Bu Risma berusaha menggoda Senja. “Nathan itu pria yang baik lho, Senja,” kata Bu Risma. “Masa ia Bu?” balas Senja. “Kalau dia itu nggak baik, mana mungkin dia mau menolong ibu dan membayar semua biaya pengobatan ibu,” ucap Bu Risma lagi. “Iya juga sih, Bu,” kata Senja dengan nada sedikit malu. Bu Risma hanya tersenyum ketika mendengar perkataan Senja yang pipinya mulai memerah. Saat itu Bu Risma tahu bahwa gadis kecilnya yang mulai beranjak remaja itu, akan merasakan indahnya jatuh cinta untuk pertama kali.

Pagi harinya Nathan datang ke panti sesuai janjinya. Ia membawa sekantong makanan dan hadiah untuk anak-anak penghuni panti. Usainya mengobrol dengan Bu Risma, Nathan menghampiri Senja dan memberikannya sebuah buku. “Ini apa, Nathan?” tanya Senja. “Ini buku dengan tulisan Braille untukmu belajar membaca. Sewaktu di rumah sakit kamu kan pernah bilang kalau kamu sangat ingin belajar membaca bukan? Dengan buku ini aku akan mengajarimu,” jawab Nathan. Mendengar perkataan Nathan itu, Senja merasa sangat senang dan hari itu pun ia mulai belajar dengan Nathan. Semenjak itu, Nathan mengunjungi panti setiap hari untuk mengajari Senja membaca. Keduanya pun semakin akrab dari hari ke hari. “Wah, ternyata kamu cepat bisa kan, Senja,” kata Nathan. “Ini semua kan berkat bantuanmu juga. Makasi ya,” kata Senja. “Makasi untuk apa?” tanya Nathan. “Ya, untuk semuanya. Mulai dari kebaikanmu yang telah mau bertanggung jawab atas kecelakaan waktu itu, sampai kebaikanmu kepada semua penghuni panti. Termasuk kebaikanmu padaku....” pipi Senja mulai memerah dan ia langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Nathan yang duduk sendiri di sofa antik buatan tahun 80-an di ruang tengah panti.

Seperginya Nathan dari panti asuhan itu, hasrat hati Senja kian menggema menjerit-jerit memanggil Nathan. “Nathan jangan pergi! Jangan pergi, Jangan!” hatinya terlalu sendih untuk mengantar kepulangan Nathan di sore itu. “Mengapa kamu? Kok dari tadi ibu perhatiin cuman murung aja?” suara Bu Risma sama sekali tidak dihiraukan Senja. “Kamu nggak apa-apa kan, Senja?”

“Eh...maaf Bu, saya lagi kepikiran...”

“Nathan kan, masalahnya,” kata Bu Risma sambil merangkul bahu Senja.

Akhirnya Senja menceritakan tentang perasaannya saat bersama Nathan kepada Bu Risma. Bu Risma pun bercerita tentang kisah cintanya dengan Almarhum Pak Tirta (beliau merupakan suami Bu Risma) kepada Senja. Cerita Bu Risma mampu memberi rasa percaya diri pada Senja. “Ternyata kekuatan cinta itu sangat besar. Ketulusan hati Pak Tirta yang merupakan penyandang tuna daksa, mampu meluluhkan hati Bu Risma. Ternyata cinta itu buta. Tapi, apa Nathan mempunyai perasaan yang sama seperti apa yang kurasakan saat bersamanya? Meskipun tidak, aku akan mengatakan isi hatiku padanya,” guman Senja dalam hati. Malam itu Senja tidak bisa tidur, gejolak hatinya sangat kuat. “Blug-dug...blug-dug...blug-dug,” dia merasakan jantungnya berdebar semakin kencang setiap kali memikirkan kedatangan Nathan keesokan paginya. “Apa aku bisa? Aku agak takut, tapi harus kucoba,” ucap Senja dalam hati.

Saat-saat yang dinanti oleh Senja pun tiba. Wajah Sang Surya mulai tampak dari timur dan ritme suara ayam yang berkokok menjadikan pagi begitu indah bagi Senja. Kesiapannya sudah matang. Ia siap menyatakan perasaannya pada Nathan dan ia juga siap jikalau ditolak oleh Nathan. Namun hingga sore datang bertandang, Sang Pangeran yang menjadi pujaan hatinya itu tidak kunjung datang. Bahkan Nathan sama sekali tidak menelepon ke panti. Biasanya bila Nathan tidak ke panti ia pasti menelepon sekedar menanyakan kabar Bu Risma dan Senja. Hingga malam tiba, Senja masih duduk menunggu di teras. Wajahnya yang sejak pagi ceria berubah menjadi muram. Bu Risma sampai kehabisan cara untuk membujuknya. Bu Risma juga telah mencoba menelepon Nathan tapi sama sekali tidak diangkat.

Ketika Senja mulai beranjak dari tempat duduknya di teras, tiba-tiba terdengar suara mobil datang. Senja mulai tersenyum lagi. Ketika suara mobil itu terdengar semakin jelas, senyum Senja terhapus kembali. Ia tahu bahwa suara mobil itu berbeda dengan suara mobil yang selama ini dipakai Nathan. Senja lalu pergi ke kamarnya. “Permisi,” terdengar suara orang di teras panti. Bu Risma mempersilakan orang itu masuk. Senja menguping dari balik pintu. Suara orang yang mengendarai mobil itu tidak asing baginya. Sebelum Senja mengetahui inti pembicaraan mereka, Bu Risma memanggil Senja. Ia pun keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan keduanya. Orang itu adalah dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Permata Hati. Senja memang sempat diajak memeriksakan matanya ke rumah sakit tersebut oleh Nathan. Saat itu dokter bilang, Senja memiliki kelainan bawaan pada kornea mata yang disebut Fuchs’ endotelial dystrophy. Kelainan itu menyebabkan cairan yang ada di kornea mata menjadi tertahan dan seiring berjalannya waktu penglihatan akan mulai kabur hingga berdampak pada kebutaan. Kemampuan penglihatan Senja mulai memburuk semenjak usianya 5 tahun dan pada usia 8 tahun, Senja sudah kehilangan penglihatannya. Semenjak penglihatannya memburuk, Senja pun mengalami kesulitan dalam belajar hingga ia tidak bisa pergi ke sekolah. Menurut dokter, satu-satunya cara agar Senja dapat melihat lagi adalah dengan melakukan transplantasi kornea. Namun, itu hanya bisa dilakukan di Singapura dan tentunya perlu biaya yang pantastis. Selain itu, sangat sulit mencari orang yang sesuai untuk menjadi donor dan bila mengimport organ mata dari negara lain juga diperlukan tambahan biaya yang besar. Jadi, Senja telah menerima semua itu. Dia telah pasrah pada kondisinya. Sekarang dokter itu mengatakan pada Senja bahwa ada seseorang yang mau mendonorkan matanya untuk Senja dan semua biaya operasi serta keberangkatan Senja ke Singapura telah dibayarkan. Dokter itu khusus datang untuk menginformasikan hal tersebut dan beliau juga akan mendampingi Senja selama proses persiapan hingga keberangkatannya ke Singapura. Senja merasa sangat senang dan langsung menerima tawaran itu. Selang seminggu berlalu akhirnya Senja dan dokter pun berangkat ke rumah sakit di Singapura dan selama itu pula tidak ada kabar dari Nathan.

Setelah dua hari dikarantina di Queen Elizabeth Hospital Singapura, Senja pun akhirnya menjalani operasi mata. Operasinya berjalan cukup lancar. Lima hari pasca operasi, perban yang menutupi mata Senja mulai dibuka. Betapa bahagianya dia sudah bisa melihat lagi. Menurut tim dokter yang mengoperasi Senja, kedua mata Senja sudah mampu melihat 80%, sisanya bisa dibantu dengan penggunaan kacamata yang tepat. Akhirnya, Senja akan bisa melihat wajah Bu Risma lagi dan para sahabatnya di panti. Namun hal yang paling membuat Senja senang adalah harapannya untuk bisa melihat wajah Nathan.

 “Selamat ya, Senja. Kamu adalah gadis yang sangat beruntung,” ucap sang dokter dari Rumah Sakit Permata Hati yang menemani Senja. “Dok, boleh saya tahu siapa donor saya yang juga sudah membiayai operasi saya? Boleh saya bertemu dengannya? Saya ingin sekali berterima kasih secara langsung,” ucap gadis belia itu. “Senja, sebelumnya ada yang perlu kamu ketahui. Donor kornea, biasanya berasal dari orang yang sudah meninggal,” jawab sang dokter. “Tapi setidaknya saya ingin berterima kasih pada keluarganya. Apa yang dilakukannya terhadap saya sangat besar artinya bagi saya,” timpal Senja. “Maaf, tapi orang itu hanya tinggal sendiri. Keluarganya juga sudah meninggal semua,” balas sang dokter. Ketika mendengar perkataan sang dokter, hati Senja terasa berat, ia tiba-tiba teringat dengan sosok Nathan, seorang pria yang sebatang kara di dunia. Ia juga sudah kehilangan kontak dengan Nathan sebelum keberangkatannya ke Singapura. Pikiran Senja mulai menduga-duga…dan kesedihan membuatnya termenung. Kini ia hanya bisa berdoa semoga dugaannya salah.

“Maafkan saya sebelumnya, sebenarnya ini ada surat dari pendonormu. Salah satu wasiatnya adalah untuk memberikan matanya kepadamu dan dia juga menghabiskan seluruh kekayaannya untuk membiayai pengobatanmu. Saya hanya sebagai penyampai pesan,” ucap sang dokter. “Izinkan saya membacakan isi surat ini sebagai bagian dari wasiat pendonor,” lanjut dokter tadi.

               “Senja, saat kamu terbangun dan melihat cahaya dunia ini lagi, aku telah pergi ke tempat yang jauh. Aku pun tidak tahu kemana aku kan pergi. Yang pasti di sana aku telah ditunggu oleh nenek dan kedua orang tuaku. Sebenarnya ada sebuah rahasia yang selama ini aku simpan rapat-rapat darimu. Apa kamu ingat, malam saat kita mengobrol tentang diri kita. Malam itu kita berjanji bahwa tidak akan ada rahasia diantara kita. Tapi, aku masih saja menyimpan rahasia mengenai diriku. Aku menderita penyakit yang telah memusnahkan semua impianku. Menurut dokter yang merawatku di Rumah Sakit Kasih Bunda, tubuhku tidak akan bertahan lama, aku menderita kanker tulang belakang yang ganas. Di Indonesia hampir mustahil untukku diobati, di luar negeri pun peluang untuk sembuh sangatlah kecil. Saat mendengar hal itu aku merasa depresi. Beberapa hari aku habiskan bersama minuman keras. Disaat aku menabrak Bu Risma pun aku berada dalam kondisi setengah sadar, hasil dari sisa mabukku. Maaf, aku telah banyak membohongimu. Hanya saja, awalnya aku tidak bisa menerima takdirku yang seperti ini. Namun, ketika aku bertemu denganmu aku merasa betapa bodohnya aku yang selalu menyalahkan takdir. Kamu yang selalu berani untuk bermimpi membuatku sadar, bahwa takdir itu ada agar kita tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa dalam kehidupan. Terima kasih atas semua waktu berharga yang kamu beri padaku saat kita bersama. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, bahwa aku ‘mencintaimu’. Jangan teteskan air mata. Kutitipkan cinta itu agar bahagia bersamamu. Selamat tinggal,”dari Nathan...

Mata Senja berkaca-kaca saat mendengar isi surat itu. Dia ingin sekali menangis, tapi ia berusaha menahan air matanya. Nathan melarangnya...”jangan teteskan air mata”. Ia tahu, Nathan pasti akan merasa kecewa bila ia menangis. Karena itulah ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi gadis yang tegar. Nathan merupakan sosok yang sangat penting bagi Senja. Nathan bukan hanya memberikan cahaya kepada Senja. Lebih dari itu, Nathan telah memberikannya dunia yang baru. Dunia dimana mimpi dan cinta adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan.



-Selesai-