Ads Top

Citra Diri Positif

Gambar ilustrai
Catatan Interviewer; Citra Diri Positif

Sebagai seorang staff HR, selain menyeleksi lamaran pekerjaan yang masuk. Saya juga bertugas untuk melakukan tahapan seleksi: interview atau wawancara. Banyak hal yang saya temui dalam setiap sesi interview tersebut. Bukan hanya hal-hal yang mampu membuat saya kagum, tetapi juga membuat saya harus tertawa. Dan terkadang ada juga yang justru membuat saya merasa jengkel. Dan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman ketika meng-interview seorang calon karyawan, yang mampu membuat saya merasa kagum. 

Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang merasa dipanggil untuk melaksanakan tes seleksi. Padahal saya dan rekan kerja saya tidak merasa memanggil seorang pun untuk seleksi pada hari itu. Saya pun segera mengkonfirmasinya. Ternyata orang tersebut adalah calon kandidat untuk posisi yang berada di kantor Semarang. Dan tidak lama kemudian, dari HR Semarang pun memberi kabar kepada kami yang di Solo. Bahwa benar akan ada seleksi karyawan untuk posisi di Semarang. Namun karena kandidat tersebut rumahnya di Gemolong (seingat saya) maka seleksi diadakan di kantor Solo. Kemudian untuk interview dengan user dilaksanakan dengan cara video call via Skype. 

Karena seleksi di kantor Solo, maka saya juga turut berperan dalam proses seleksi tersebut, yaitu melaksanakan interview awal. Ketika ia mulai memasuki ruang rekrutmen, saya sedikit kaget ketika mengetahui bahwa kandidat tersebut memiliki ukuran badan yang "tidak biasa". Berat badannya saya ketahui ketika sehabis dari poliklinik untuk tes kesehatan, yaitu sekitar 110Kg. Mba suster yang melakukan tes kesehatan pun juga langsung BBM saya mengenai hal itu.

Selama proses interview, tidak jarang ada karyawan yang menyela untuk sekedar meminta tanda tangan kepada saya. Dan mereka pun juga berkomentar mengenai orang yang sedang saya interview tersebut. Ada yang hanya bisa geleng-geleng kepala, sambil berkata tanpa suara "lemu tenan, Pak" ketika ia berada di luar ruang ketika saya akan menutup pintu. Ada juga yang hanya melempar kode ekspresi wajah, dengan menggelembungkan kedua pipi, kemudian bertanya tanpa suara "Buat bagian apa?". Ada yang justru malah keceplosan dan berkata keras "Buset!" ketika saya suruh masuk ke ruang rekrutmen. Dan saya pun hanya memberikan respon tatapan mata tajam kepadanya, yang menunjukan bahwa saya tidak menyukai sikapnya. 

Saya berusaha untuk tetap profesional dalam melaksanakan proses seleksi. Rasanya tidak adil jika saya menilai dari apa yang nampak di depan mata saya saja. Tanpa melakukan interview dengan calon karyawan rersebut. Dan selama melakukan interview dengannya, saya belajar banyak hal darinya.

Selama ngobrol dalam sesi interview dengannya. Saya baru menyadari bahwa ia ternyata adalah orang sangat percaya diri, antusias dan sangat bersemangat. Jika dibandingkan dengan saya, ia nampak jauh lebih percaya diri. Karena bisa dibilang, saya adalah orang yang pemalu. Maka dari itu, saya lebih memposisikan diri sebagai pendengar yang baik. Dalam beberapa kesempatan, saya selalu sungkan dan takut membuat orang lain tersinggung ketika bertemu dengan orang baru. Saya hanya bisa terbuka dengan orang yang sudah akrab dengan saya. Jadi, hal pertama yang saya lakukan ketika bertemu dengan orang baru adalah; membuat situasi akrab terlebih dahulu. 

Saya tidak tahu kenapa ia bisa tetap percaya diri. Di tengah gempuran industri produk-produk kesehatan yang terus mengkampayekan bahaya obesitas, yang sudah seperti sebuah kutukan yang mematikan. Karena obesitas adalah risiko tinggi untuk penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kolesterol, serta stroke. 

Selain itu, gambaran citra diri seorang wanita cantik yang dibentuk oleh produk-produk kecantikan yang selalu menonjolkan wanita dengan tubuh kurus, tinggi, dan langsing sebagai bentuk tubuh yang dimiliki oleh wanita yang (katanya) cantik, dalam setiap iklannya. Membuat kebanyakan dari wanita mendambakan memiliki tubuh yang cantik dan ideal, yaitu: kurus, tinggi, dan langsing.

Ketika saya sedang di poliklinik. Karena ketika saya sudah mulai suntuk dan bosan di tempat kerja, saya biasanya ke poliklinik untuk sekedar mengusir rasa bosan tersebut. Saya sering menemui karyawan wanita ke poliklinik bukan untuk berobat. Namun, hanya sekedar ingin nimbang berat badan. Sering saya menemui beberapa karyawan yang nampak bersorak seakan mendapatkan hadiah, ketika mengetahui berat badannya berkurang, meski hanya satu atau dua kilo. Terkadang, ada juga yang justru komplain mengenai timbangan karena mengetahui hasil timbangan tidak sesuai yang diharapkan. Dan untuk yang kedua, biasanya mereka bertanya kepada suster poliklinik, "Mba, ini timbangannya rusak to?" Mendengar hal itu saya hanya bisa tersenyum sambil mbatin, "Dasar wanita, tidak terima berat badannya naik, terus yang mau disalahin malah timbangannya"

Menurut saya, dia adalah pribadi yang percaya diri, meski kemana-mana harus membawa 110kg berat badannya. Dan ketika saya bertanya "Menurut Anda, apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan Anda?" Ia nampak begitu fasih menceritakan segala kelebihannya. Dalam hal sikap kerjanya, semangatnya, serta yang berkaitan dengan penguasaan jobdesc untuk posisi yang dilamar. Ia juga juga nanpak sudah sangat paham betul. Menginat ia berpengalaman lebih dari 5 tahun di bidang yang ia lamar. 

Ketika ia ingin menjelaskan apa yang menjadi kekurangan, ia nampak kebingungan dalam menjelaskannya. Jujur, awalnya saya mengira bahwa kondisi fisiknya akan membuat hal tersebut sebagai salah satu kekurangannya. Karena hal tersebut membuatnya tidak leluasa untuk bergerak secara bebas. Namun, ia tidak merasa bahwa ukuran tubuhnya adalah sebuah kekurangan.

Saya pun merekomendasikan agar kandidat tersebut bisa melanjutkan tahap seleksi selanjutnya, yaitu psikotes, kemudian dilanjutkan interview dengan user.

***
Citra diri positif. Citra diri sangat berpengaruh terhadap kepercayaan diri seseorang. Citra diri menurut stuart and sundeen (1995) adalah cara pandang seseorang pada tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Citra diri adalah tentang bagaimana seorang individu memandang dirinya. Seperti bentuk fisiknya, yaitu bentuk tubuh; kurus, gemuk, langsing. Serta kondisi fisik lainnya, seperti; bentuk hidung, mata, alis, kondisi wajah, serta warna kulit.

Dalam sesi interview beberapa hari yang lalu, adalah contoh tentang sebuah citra diri positif. Mungkin ia awalnya juga sempat minder dengan kondisi fisiknya. Namun, ia tidak fokus dengan hal itu. Ia lebih fokus dengan kelebihan yang ia miliki. Ia menyakini bahwa ia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kelebihan yang saya maksud bukan dalam hal berat badan tentunya. Namun, ia tahu dan sadar tentang potensi yang ia miliki. Ia berpengalaman dalam bidang yang ia lamar selama lebih dari 5 tahun, kemudian ia juga memiliki kemampuan dalam berbahasa inggris. Hal itu, setidaknya membuat ia bisa lebih percaya diri dalam mengikuti setiap sesi seleksi. Selain itu, ia juga orang yang bersemangat, dan memiliki motivasi kerja yang tinggi. Hal itu bukan hanya sekedar asumsi saya saja, namun juga didukung dengan hasil psikotes.

Sebuah pelajaran bagi saya, syukur-syukur juga untuk yang sempat membaca tulisan ini. Pentingnya membangun citra diri positif untuk membangun kepercayaan diri seseorang. Setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan, tinggal bagaimana kita memandang hal itu. Mencari tahu apa yang menjadi kelebihan pribadi kita, atau terus mengkoreksi diri dengan terus membandingkan kelemahan diri dengan kelebihan orang lain.

Semoga bermanfaat.



Disclaimer; Tulisan ini pertama kali diterbitkan di situsweb yang dikelola oleh penulis; hrfile.net dengan judul "Catatan Interviewer; Citra Diri Positif" dan sengaja dipublikasi lagi di sini dalam rangka mempromosikan blog baru penulis.
Powered by Blogger.