Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Driver Offroad Kaliurang

Monday, October 31, 2016

“Merapi tidak memberikan musibah kepada kami, tapi memberikan manfaat bagi kita semua”

Suara driver jeep yang mengantar kami dalam acara lava tour di wisata alam, Kaliurang. Pagi sekitar pukul 04.30 kami semua sudah dijemput oleh deretan mobil jeep yang akan membawa kami semua untuk napak tilas kejadian erupsi merapi yang terjadi pada beberapa tahun yang lalu. Target kami pagi itu, melihat sunrise di bekas bunker kali adem.

Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh driver jeep yang juga merupakan warga sekitar. Saya tentu sedikit kaget. Saya harus melepas “jubah” agama terlebih dahulu sebelum mencerna dengan baik kalimat yang dilontarkan oleh driver jeep yang membawa kami tersebut. Tentu, hal itu tidak lain karena adanya ambigu dalam kalimat yang ia ucapkan. Jika saya tetap bersikukuh mengenakan “jubah” agama dalam diri saya. Tentu dengan gampangnya saya akan berteriak dengan lantang, “Kafir!”. Maklum lah level beragama saya masih remukan roti, masuk ketagori “santri gugel” saja belum.

Sang driver menurut saya sudah sangat menguasai medan ketika mengantar saya dan rombongan menyusuri bekas desa yang dulu terkena semburan awan panas atau yang sering disebut dengan istilah wedus gembel. Bahkan tidak jarang ia dengan sengaja seperti sedang pamer ketangkasan dalam hal mengendarai mobil jeep. Beliau seakan menunjukan bahwa gaya mengemudinya masih jauh lebih jago dari aksi-aksi Vin Diesel dalam film fast and furious. Ketika sedang mengemudi dan menunjukan manuver-manuvernya, saya pun cuma duduk diam sambil terus berpegangan dengan kuat.

Sambil melirik saya yang terus berpegangan kuat, driver jeep tersebut seolah ingin berkata, “Piye bro, iseh sangar aku to mbange tokoh idolamu sik seneng ngebut kae”

Saya yang kebetulan dapat jatah tempat duduk tepat di samping sang driver. Sudah selayaknya pemandu navigasi dalam sebuah balapan offroad. Bedanya, kalo navigator dalam sebuah balapan berfungsi sebagai pemandu dan membantu dalam membaca jalur balap, kalau saya cuma bisa merafalkan doa-doa kesalamatan, sambil mbatin, “Karepmu Pak, aku penting slamet” mengingat system keamanan dalam mobil jeep tersebut masih sangat ala kadarnya. Jangankan helm, safety belt saja tidak ada.

Sang driver yang menurut saya kira-kira berumur sekitar 40 tahunan tersebut, bukan hanya sekedar mengantar kami ke setiap titik yang menjadi tujuan kami. Terkadang beliau seperti seorang pemandu wisata atau tour guide yang menjelaskan daerah-daerah yang sedang kami lewati. Selain itu, beliau juga dengan senang hati menjadi fotografer kami untuk mengabadikan setiap momen yang kami anggap wow.

Duduk di samping beliau membuat saya sering mendengarkan bagaimana beliau menjelaskan kondisi sekarang pasca erupsi. Saya mendengar cerita beliau, mengenai kondisi ekonomi warga saat ini, yaitu pasca erupsi merapi yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

“Bisa dibilang, pasca erupsi merapi, banyak warga yang kaya mendadak” beliau mengawali ceritanya
“Kali itu” sambil menunjuk sebuah sungai yang menurut penuturan beliau dalamnya kurang lebih 90 meter.
“Sehabis erupsi merapi, sungai itu sudah penuh oleh lahar dingin, kemudian pasir itulah yang mengangkat ekonomi warga sekitar merapi”
“Dulu, orang-orang sini satu rumah paling cuma punya satu motor, itupun belinya seken”
“Tapi sekarang, setidaknya mereka memiliki motor baru, truck, dan beberapa yang memiliki mobil jeep”

Salah satu dari rombongan yang satu jeep dengan saya pun, ternyata juga mendengarkan penjelasan dari beliau. Dan ia pun bertanya dengan driver tersebut “Pak, tanah-tanah ini sekarang milik siapa? Kan sekarang tidak boleh dijadikan wilayah pemukiman”
“Semua warga yang terkena erupsi, dibuatkan rumah oleh Kraton di wilayah yang aman, sedangkan tanah di desanya yang tidak boleh dijadikan wilayah pemukiman tetap menjadi hak milik warga”
“Semua kerugian warga dalam bencana erupsi diganti oleh Kraton, dalam hal ini adalah Kraton Jogja, misalnya sapi ternak, per ekornya diganti 10 juta”

Asyik mendengarkan cerita beliau, kami pun berhenti di sebuah rumah milik Pak Lurah yang kini dijadikan sebuah museum mini. Museum tersebut berisi barang-barang sisa erupsi yang dikumpulkan dari beberapa rumah. Seperti bekas sepeda motor yang terkena wedus gembel, Hewan ternak (sapi) yang hanya menyisakan tulang belulang saja. Serta foto-foto para korban yang sangat emosional. Saya yang kala itu melihat foto-foto kesedihan para korban saat kejadian erupsi beberapa tahun silam, mampu membuat mata saya mrebes mili dan berkaca-kaca. Ini saya serius, saya benar-benar mrebes mili, membayangkan bagaimana seandainya saya mengalami kejadian itu.  

Sehabis dari museum mini tersebut, kami diberi bonus untuk offroad di sungai dan basah-basahan, sebelum kami kembali ke hotel. Dan saya pun malah ketagihan dengan meminta untuk menambah sekali putaran lagi, padahal kawan-kawan satu rombongan jeep yang duduk di belakang sudah minta ampun. Meski, kawan saya berlasan tidak membawa baju ganti, sang driver pun seperti tidak menggubris dan menuruti permintaan saya untuk menambah sekali putaran.

Sehabis basah-basahan offroad di sungai, ketika keluar dari sungai tersebut, beliau menceritakan bahwa biaya masuk ke arena offroad di sungai tersebut hanya dua ribu rupiah. Dan jika akhir pekan, pendapatan dari biaya masuk offroad di sungai bisa mencapai 1,5 – 2 juta rupiah.
Piye, pengen resign ora sampeyan nek ngunu kuwi?
***
Cerita di atas hanya sepenggal kisah liburan gratisan yang diberikan atasan saya. Karena beliau berhalangan hadir, Beliau meminta saya untuk menggantikan menghadiri acara gathering yang diadakan oleh BPJS Keteganakerjaan Klaten. “Kamu, jumat-sabtu ndak ada acara to, Kik? Ini hadiah buat kamu” Kata Pak manager sambil memberikan undangan kepada saya.

Acara yang awalnya saya mengira bakal berjalan dengan sangat formal, namun ternyata sekumpulan “acara hore” yang mampu membuat saya benar-benar menikmati liburan gratisan tersebut.

Pengalaman napak tilas menyusuri daerah-daerah yang terkena dampak langsung erupsi merapi. Kemudian bagaimana mereka bisa bangkit lagi. Dan bagaimana mereka kini mampu melihat sisi positif dari skenario Tuhan yang maha dahsyat.

Siapa saja yang mengalami kejadian tersebut, yaitu erupsi merapi yang terjadi beberapa tahun silam, saya yakin pasti akan mengalami trauma yang mendalam. Selain itu, tidak sedikit yang yang  akan menganggap bahwa Tuhan sedang berlaku tidak adil. Namun waktu membuktikan, betapa adilnya Tuhan. Mereka yang terkena dampak langsung dari erupsi merapi, pelan-pelan mulai bangkit dari keterpurukan. Mereka kembali mampu menatap hidup yang lebih cerah. Padahal beberapa tahun yang lalu, ketika bencana erupsi menimpa mereka, membayangkan hidup bahagia saja tidak berani.


Melihat masa depan sendiri, seperti melihat kumpulan debu abu vulkanik. Buram! Namun, sekali lagi, Tuhan itu maha adil. Dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan manusia. Buktinya, mereka mampu bangkit kembali, menatap masa depan yang lebih cerah. Meski awan hitam telah menghancurkan bukan hanya desa, namun juga harapan mereka.


Nb; foto diatas diambil oleh driver  yang kebetulan belum sempat berkenalan dengan beliau.