Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Juru Parkir

Monday, October 17, 2016
Beberapa hari yang lalu, secara tidak sengaja saya membaca sebuah status yang dibagikan di dinding fesbuk saya. Saya tidak akan membahas tentang apa dan siapa yang membuat status tersebut. Namun, saya masih ingat betul. Di awal-awal kalimat, ia menyebutkan bahwa salah satu dari dua profesi yang membuat dirinya merasa sebel dan jengkel adalah; juru parkir. Alasannya sederhana, juru parkir itu nongol secara tiba-tiba ketika hendak pergi, padahal sebelumnya nampak sepi, tidak nampak seorang pun.

Hal itulah yang membuat saya ingin membahas, atau lebih tepatnya bercerita tentang juru parkir. Awalnya saya kesulitan untuk menyebut profesi ini dengan sebutan tukang parkir atau juru parkir. Namun, setelah melakukan browsing, ternyata wikipedia menggunakan sebutan juru parkir untuk profesi yang sedang saya bahas kali ini.

Menurut wikipedia, juru parkir adalah orang yang membantu mengatur kendaraan yang keluar masuk ke tempat parkir. Masih menurut wikipedia, juru parkir berfungsi untuk mengumpulkan biaya parkir dan memberikan karcis kepada pengguna parkir pada saat akan keluar dari ruangan parkir.

Saya kira tidak sedikit yang menganggap bahwa juru parkir adalah salah satu profesi yang menyebalkan. Hampir sama dengan status fesbuk yang secara tidak sengaja pernah saya baca. Alasannya adalah, juru parkir ini munculnya secara tiba-tiba dan tidak di sangka-sangka. Ketika kita baru datang di sebuah tempat yang awalnya terlihat sepi dan nampak tidak ada satu pun juru parkirnya. Namun, ketika kita hendak pulang, secara tiba-tiba juru parkir muncul dan menagih uang parkir. Saya pun pernah mengalami situasi seperti itu. Jengkel? Pasti.

Perasaan jengkel terhadap juru parkir yang saya alami, selain munculnya yang seperti jelakung, yaitu datangnya secara tiba-tiba. Yaitu sikap ceroboh juru parkir yang terkadang grusa-grusu hingga menyebabkan lecetnya body motor. Bahkan saking cerobohnya, justru merobohkan kendaraan lain. Bahkan, ada juga seorang juru parkir yang setelah menerima uang parkir, seolah tanpa beban langsung kabur tanpa peduli membantu mengeluarkan motor. Dan semua yang saya tulis ini adalah pengalaman pahit saya dengan juru parkir.

Di tempat-tempat pusat perbelanjaan modern, juru parkir lebih nggapleki lagi. Juru parkir tak lebih dari sekedar penjaga pintu keluar dan hanya sekedar memindai barcode karcis parkir untuk mengetahui berapa lama parkir tersebut, jika lebih dari waktu yang ditentukan akan dikenai biaya tambahan. Biaya tarif parkir di mall-mall biasanya lebih mahal, tergantung lamanya parkir. Padahal kita harus mencari tempat parkir sendiri, belum lagi harus mengingat-ingat di mana lokasi parkir agar tidak kebingungan saat akan mengambil motor. Kemudian pertanyaannya, dimana letak pelayanannya?

Namun demikian, saya yakin bahwa tidak semua juru parkir berperilaku seperti itu. Masih banyak, bahkan jauh lebih banyak juru parkir yang paham tentang bagaimana memberikan pelayanan terhadap pelanggan. Ia seperti paham dengan SOP sebagai seorang juru parkir. Ketika ada seseorang yang akan mengambil motor, si juru parkir langsung menanyakan “Motornya yang mana, Mas/Mba?” Kemudian setelah mengetahui keberadaan motor yang dimaksud, dengan gesit dan penuh kehatian-hatian ia mengeluarkan motor tersebut. Tidak sampai di situ, ia masih menanyakan lagi, “Mau kearah mana, Mas/Mba?” kemudian setelah tahu kearah mana, ia memposisikan motor sesuai dengan arah yang ingin di tuju. Ada juga yang memberikan bonus pelayanan, yaitu dengan turut membantu menyeberangkan si pelanggan, dalam hal ini pengguna jasa parkir.

Mengenai juru parkir saya memiliki beberapa pengalaman. Dan hal itulah yang menyebabkan bahwa juru parkir itu memiliki fungsi yang tidak hanya sekedar mengatur kendaraan yang terparkir. Di pinggiran wilayah Sukoharjo, saya pernah mendengar bahwa ada sebuah toko, semacam toko accessories dan kado. Sang pemilik toko sengaja tidak menggunakan jasa juru parkir. Hal tersebut dilakukan karena adanya juru parkir hanya akan membuat calon pembeli berpikir dua kali ketika ingin mengunjungi toko tersebut. Karena akan ada tambahan biaya parkir, padahal tidak semua yang datang bisa dipastikan akan membeli. Karena terkadang ada yang hanya ingin melihat-lihat. Free biaya parkir adalah salah satu cara untuk menarik pengunjung. Ingat prinsip emak-emak maupun calon emak-emak, selisih 500 perak aja bisa bikin panas dingin, apalagi ini hemat biaya parkir 1000 rupiah.

Namun, suatu ketika ada pelanggan yang lupa mengambil kunci motornya ketika parkir di depan toko tersebut. Dan ketika sang pemilik keluar dari toko, motornya sudah tidak ada. Iya, motor tersebut hilang dibawa kabur orang. Saya tidak tahu motor tersebut sudah lunas atau belum. Karena berita hilangnya motor tersebut, tidak se-viral sidang Jessica, membeli motor Honda CBR 150 dengan uang koin, Dimas Kanjeng sang pengganda uang, dan berita tentang Pilkada Jakarta, serta tentang Ahok yang semakin hari semakin memuakan.

Karena adanya kejadian itulah, sang pemilik toko kemudian memutuskan untuk mengizinkan juru parkir untuk mengelola parkir di depan tokonya.

Juru parkir menurut saya itu penting, selain sebagai mata pencaharian, pendapatan dari hasil parkir juga bisa menjadi pendapatan asli daerah, jika dikelola oleh pemerintah kota atau Kabupaten.

Secara psikologis, adanya juru parkir akan membuat kita menjadi jauh lebih tenang, karena setidaknya membuat kita merasa bahwa motor kita selalu diawasi oleh si juru parkir. Meski pada kenyataannya si juru parkir tidak peduli, atau malah neduh di bawah pohon sambil rokok-an, dan baru sigap ketika ada yang mau mengambil motor.

Dalam sebuah acara konser music yang diselenggarakan di gedung putih, komplek kabupaten baru Boyolali, misalnya. Kala itu ada konser barasuara. Saya yang baru saja datang, cuma celingak-celinguk, karena tak ada satupun juru parkir di sana. Meski motor saya parkir dalam keadaan saya kunci stang. Namun, perasaan was-was terkadang muncul tiba-tiba ketika saya sedang menikmati konser. Dan hal itulah yang membuat saya tidak khusyuk menikmati konser barasuara malam itu. Apalagi motor saya tidak dijamin oleh asuransi, ditambah cicilan juga belum lunas, hehehe

Pernah juga, kala itu saya sedang ada urusan ke Disnaker Boyolali. Kedatangan saya ke Disnaker kala itu untuk melaporkan adanya kecelakaan kerja yang menimpa karyawan di tempat kerja saya. Tidak seperti biasanya, di halaman Disnaker nampak ada juru parkir, padahal biasanya tak ada satu pun juru parkir di sana. Karena terburu-buru, saya hanya melepas jaket dan menaruh di atas motor saya. Baru setelah mengobrol dengan seorang pegawai dari Disnaker, saya meraba-raba kantong celana saya, dan tidak menemukan kunci motor saya. Pikir saya kunci motor saya masih tertinggal di motor, kalau tidak, kunci sudah saya masukan dalam saku jaket yang saya taruh di atas motor.

Setelah berpamitan pulang, saya segera menuju ke tempat parkir di mana motor saya terparkir. Sesampai di parkiran, saya menuju motor, kunci motor saya sudah tidak ada. Kemudian saya cari di saku jaket, juga tidak ada. Saya pun menanyakan kunci motor saya kepada juru parkir yang ada di sana. Ternyata juru parkir tersebut yang merawat kunci motor saya. Sambil mengambil kunci motor yang disodorkan kepada saya, saya menanyakan biaya parkir, “pinten, Pak” (dalam bahasa Indonesia, berapa, Pak?) tanya saya. “Setunggal ewu, mas” atau seribu rupiah.

Sambil membayar, saya juga mengucapkan terima kasih karena telah merawat kunci motor saya yang masih tertinggal di kontak motor. “Matur suwun nggeh, Pak” atau terima kasih ya, Pak. Dan ia pun menjawab ucapan terima kasih saya dengan mengucapkan bahwa ia lah yang seharusnya berterima kasih. “Kulo, sing maturnuwun, Mas”

Dari kejadian yang telah saya ceritakan di atas. Saya hanya ingin menyakinkan, bahwa tidak semua juru parkir berperilaku buruk. Hanya menginginkan uang saja tanpa memberikan pelayanan kepada kita. Jangan sampai hanya satu atau dua perilaku juru parkir yang seperti jalangkung, yang tiba-tiba muncul ketika hendak pergi, padahal ketika baru datang nampak sepi tak ada satu pun juru parkir. Kemudian mak cling, kabur begitu saja ketika sudah menerima uang. kita kemudian meng-gubyah uyah, atau menggenaralisasikan bahwa semua juru parkir itu berperilaku buruk.


Bagi saya keberadaan juru parkir, bukan hanya bermanfaat bagi orang lain, seperti kemudahan dalam menempatkan kendaraan, serta memberikan rasa aman. Namun juga sebagai pemasukan daerah, karena pendapatan pengelolaan parkir yang dikelola oleh pemkot atau pemkab merupakan pendapatan asli daerah.