Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Ngobrol Bareng LobiMesen

Sunday, October 9, 2016
Teman-teman di balik layar lobimesen.com

Sekitar jam 07.00 pagi, saya sudah bersiap untuk pergi ke Solo. Saya tetap bersemangat meski pagi hari itu langit tampak mendung. Hal yang membuat saya tetap bersemangat pagi itu, tidak lain karena adanya agenda perdana dari lobimesen.com, yang bertajuk “ngobrol bareng lobimesen dot com”. Acara tersebut diadakan di kampus psikologi, Mesen.

Mungkin karena terlalu bersemangatnya, saya sampai di kampus Mesen ketika kampus masih sangat sepi. Hanya ada seorang petugas keamanan, atau satpam  yang berada di kampus pagi itu. Saya langsung menuju parkiran untuk memarkirkan motor. Ketika sedang memarkirkan motor itulah, saya menjadi teringat saat saya masih berstatus mahasiswa. Datang ke kampus pagi-pagi agar bisa sarapan dulu di kantin milik Bu No. Di kantin milik Bu No harga masih sangat terjangkau, apalagi nasinya ambil sendiri. Sangat cocok bagi kami anak kosan, karena kami bisa makan sampai kenyang dengan harga yang relatif murah.

Saya kemudian ke meja kampeda dan duduk di sana. Di meja kampeda itulah saya dan Johan membicarakan tentang blog bersama, yang merupakan cikal bakal lobimesen.com. Sambil bermain handphone, saya membaca artikel terbaru di sebuah situsweb langganan saya. Kemudian sesekali melihat situasi terkini di grup wasap lobimesen, untuk memastikan kawan-kawan sudah akan merapat ke kampus mesen, untuk menyusul saya yang sudah dari jam 8 di sana.

Johan menelpon, dan meminta saya untuk menjemputnya di sebuah minimarket yang terletak di dekat pasar yang tidak jauh dari Mesen. Dengan segera saya menuju ke minimarket yang dimaksud Johan untuk menjemputnya. Saya tidak tahu kenapa johan lebih memilih menitipkan motornya di terminal, kemudian menggunakan moda transportasi umum, yaitu Bus, untuk pergi ke solo pagi itu. Bisa jadi, ini adalah sebuah kritik dari seorang Johan yang sudah mulai muak dengan padatnya lalulintas karena banyaknya pengendara motor. Tapi ini hanya sebatas asumsi pribadi saya saja.

Sambil menunggu teman-teman yang lain. Saya dan johan ngobrol-ngobrol, serta mulai napak tilas di meja kampeda. Sekitar tiga tahun yang lalu, kami berdua mulai membicarakan sebuah blog bersama di meja itu. Semua masih nampak sama seperti tiga tahun yang lalu.

Sandi dan Mas wildan yang baru datang, segera bergabung dengan saya dan Johan di meja kampeda. Tak lama kemudian, ada juga Adik kelas yang dulu pertama kali saya kenal, ia adalah mahasiswa yang sangat pemalu. Namun, sekarang nampak jauh lebih percaya diri. Bisa jadi, berkumpul dengan begundal-begundal kampus yang tergabung dalam sindikat Mesen Night Community telah membuatnya berubah lebih percaya diri.

Widya Gunawan atau yang lebih sering disapa Kadek, yang merupakan kontributor baru lobimesen.com. Tidak lama setelah ia memberikan kabar bahwa dirinya sudah sampai di stasiun,  juga sudah datang, dan turut bergabung di meja kampeda. Ternyata ia kini menetap di Jogja dan sesekali masih main ke Solo. Ia sedang mempersiapkan diri dan kursus bahasa inggris untuk melanjutkan S2 nya ke luar negeri, yaitu Australia. Dan di sela-sela kesibukan itu lah, ia meluangkan waktu untuk membuka kembali tulisan-tulisan lamanya yang belum selesai. Kemudian ia rampungkan, untuk bisa di posting di blog bersama ini; lobimesen.com.

Mba kiki nampak baru datang. Dan setelah memarkirkan motornya, ia langsung menuju ke arah kami. Sebagai seorang yang menjunjung tinggi tata krama, tentu saya langsung bergeser tempat duduk kemudian mempersilakan Mba kiki duduk di tempat duduk saya sebelumnya. Bagaimana pun juga Mba kiki telah menyelesaikan thesisnya. Jadi bisa dibilang maqomnya jauh lebih tinggi dari kami, yang baru bisa menyelesaikan skripsi. Itupun dengan drama yang lebih menguras emosi daripada menonton "drama" sidang Jessica.

Deddy mengirim pesan wasap kepada saya, bahwa ia tidak bisa hadir karena sedang tidak enak badan. Saya kemudian membalas pesannya, agar ia beristirahat saja. Karena, bagaimana pun juga, tubuh juga punya hak untuk diistirahatkan.

Sambil menunggu Mba Diah, kami semua saling bertukar informasi. Saling bertanya tentang kabar, kegiatan apa yang kami lakukan sekarang, serta menyinggung system rekruitmen yang pernah diikuti oleh salah satu dari teman kami. Dan tentu semua yang kami obrolkan, dikemas dalam sebuah guyonan dan diselingi dengan gelak tawa. Dan kami semua tertawa lepas seolah tanpa beban. Dan di saat seperti itulah saya lupa punya cicilan.

***
Waktu sudah menunjukan hampir pukul 10.00, saya pun mulai mengajak teman-teman untuk menuju ke lobi kampus. Membersihkan meja serta tempat duduk yang akan kami gunakan. Kemudian mempersiapkan segala hal yang kami perlukan, yaitu: minuman dan cemilan. Untuk menciptakan suasana kemripik, saya sengaja membawa kripik singkong, makaroni dan pangsit.

Sebelum kami benar-benar memulai, Mba Diah datang. Kami menunggu Mba Diah terlebih dahulu, sebelum saya mulai membuka acara ”ngobrol bareng lobimesen [dot] com”. Yang datang pagi itu, bisa dikatakan hanya dari teman-teman kontributor. Padahal acara itu bukan hanya untuk internal lobimesen.com. Bahkan saya berharap ada mahasiswa aktif yang turut hadir di agenda lobimesen pagi itu.

Saya menyadari bahwa agenda ngobrol bareng lobimesen pagi itu, adalah agenda perdana yang kami dan teman-teman kontributor adakan. Jadi, saya tidak berekspektasi muluk-muluk. Karena bisa dibilang saya hanya ingin mengetahui antusias dari teman-teman kontributor. Dan ketika acara ngobrol bareng itu berlangsung, saya baru merasakan. Bahwa antusias mereka semua. Warbiyasa!

Saya kemudian mulai membuka acara ngobrol bareng, dengan mulai bercerita sedikit hal tentang awal mula lobimesen.com berdiri hingga sampai sekarang. Sebagai salah satu orang yang menginisiasi lahirnya blog bersama ini, Johan pun juga memberikan sedikit gambaran tentang lobimesen.com. Dan kami tidak munafik, bahwa lobimesen ada, karena nyontek dari blog bersama yang sudah ada, bahkan sudah sangat terkenal.

Agenda ngobrol bareng pun dilanjutkan dengan sharing pengalaman dari masing-masing kontributor. Saya pun mempersilakan kepada Mas wildan untuk memulai sesi ini. Mas Wildan pun memulai bercerita tentang bagaimana awal mulainya ia suka menulis. Kemudian membuat blog untuk menampung tulisan-tulisannya. Serta keterlibatannya dalam sebuah komunitas atau forum penulis.

Mas wildan sempat juga menulis catatan serial yang ia posting di catatan fesbuknya. Kemudian ia juga menceritakan bagaimana mulai tertarik dengan lobimesen. Dan menjadi penulis paling produktif di blog bersama ini. Bahkan, Johan langsung memberi sebuah pulpen kepada Mas Wildan sebagai wujud terima kasih, karena telah memberi warna lain di blog bersama ini. Mas wildan juga merasa, bahwa adanya lobimesen telah mampu membuatnya seperti menemukan rumah baru yang bisa menerima, dan membuatnya merasa lebih nyaman.

Mba kiki yang sebentar lagi menjadi dosen pun, juga saya beri kesempatan untuk berbicara mengenai bagaimana ia mulai mengenal lobimesen hingga tertarik menjadi bagian dari blog bersama ini. Mba kiki bercerita bagaimana ia yang awalnya suka menulis di majalah-majalah, dan lebih sering menulis dengan menggunakan gaya kepenulisan populer. Kemudian karena tuntutan akademis ia mulai beralih menjadi penulis ilmiah. Dan ternyata, disinilah awal mulanya ia mulai tertarik dengan lobimesen.com

Menurut Mba Kiki, ketika ia membaca tulisan-tulisan lobimesen.com yang kebanyakan adalah tulisan-tulisan gaya populer. Ia langsung merasa terpanggil, bahwa dulu ia juga sering menulis seperti itu. Dan menjadi masalah ketika tuntutan akademik yang membuatnya harus menulis ilmiah. Sekarang ia merasa kesulitan untuk menulis dengan gaya-gaya popluer. Bagi Mba kiki, lobimesen lah tempat yang tepat ia mulai belajar menulis populer, meski terkadang gaya kepenulisan ilmiah masih begitu terasa dalam tulisannya.


Setelah Mba kiki selesai bercerita banyak hal, dan secara jujur menyukai tulisan-tulisan saya di lobimesen.com ini. Sandy juga bercerita tentang pengalaman menulisnya. Sandy lebih tertutup dalam menulis. Ia lebih memilih untuk memposting tulisannya namun tidak untuk dikonsumsi publik. Bagi sandy, ada tulisan yang cukup ia saja yang membacanya. Namun, pada akhirnya sandy juga ikut bergabung di lobimesen.com. Saya masih ingat tulisannya yang terinspirasi dari potongan adegan percakapan dalam sebuah film. Bagi Sandy, ketika ia menyukai sebuah film, ia tidak akan bosan meski sudah menonton berulang kali. Dan film yang menjadi kesukaannya itulah yang menginspirasinya untuk menulis dan mempostingnya di blog bersama ini.

Seperti halnya dalam sebuah sesi diskusi. Terkadang mendadak pembahasan mulai melebar. Dan tidak tahu kenapa pembahasan bisa sampai curahan hati kami semua saat menulis skripsi. Saya pun turut menyampaikan bagaimana sulitnya menulis secara ilmiah. Saya yang terbiasa menulis di blog pribadi dengan gaya penulisan bebas, atau bahasa kerennya freewriting. Menulis ilmiah harus berangkat dari sebuah teori. Artinya apa yang kita tulis bukan hanya sekedar asumsi kita, namun harus berlandaskan teori. Dan saya mengalami kesulitan dalam hal itu.

Mba diah yang dari tadi nampak hanya menyimak saja, kemudian mulai berbicara tentang bagaimana skripsi telah membuatnya hampir frustrasi. Bahkan ia dengan sadar “selingkuh” dari skripsi dan lebih memilih menyelesaikan project pribadinya, membuat novel dengan genre fantasy.

Mba diah juga sedikit bercerita tentang bagaimana awal mulanya ia mulai menulis. Sejak kecil Mba diah sudah suka menulis. Aktif di majalah sekolah, bahkan menjadi pemimpin redaksinya. Selain itu, Mba Diah juga memiliki blog pribadi, meski pada akhirnya sempat lama tak dihidupi dengan tulisan-tulisannya. Hampir sama dengan Mas Wildan, Mba Diah juga pernah terlibat dalam sebuah forum atau komunitas kepenulisan.

Saat ini Mba Diah bekerja sebagai editor di salah satu penerbit di Solo, dan ia juga baru menerbitkan buku ensiklopedia tentang permainan tradisional.

Mba Diah ternyata juga pernah mengalami fase dimana ia sudah hampir putus asa ketika prosses skripsi. Sebuah fase yang pernah juga saya alami ketika proses pengerjaan skrisi. Bahkan ia merasa sudah depresi dan menyerah dengan keadaan. Namun, ia bisa melalui masa-masa itu, hingga ia mampu menyelesaikan skripsinya, meski ia harus ganti judul dan pembimbing.

“Saya merasa ketika saya masih sering menulis, semua berjalan begitu saja dan nampak baik-baik saja. Dan ketika saya mengalami fase buruk dalam hidup ini, yaitu ketika proses skripsi. Saya baru menyadari bahwa selama itu pula saya tidak pernah menulis lagi. Jadi, menulis setidaknya bisa sedikit mengurai segala beban” begitulah kira-kira kata Mba Diah untuk mengakhiri sesinya.

Saya juga memberikan kesempatan kepada kontributor baru lobimesen.com, yaitu Widya Gunawan, atau yang kerap disapa Kadek, untuk berbagi pengalaman. Kadek pun bercerita, bahwa dirinya sangat suka menulis puisi. Kemudian mulai belajar menulis cerpen, meski terkadang ia mengalami yang namanya writer's block. Kami pun baru mengetahui, bahwa perkenalan dengan lobimesen, karena ajakan dari Mas wildan. Sebelum Kadek akhirnya memutuskan untuk mengirim tulisan di lobimesen.com. Ia mengaku bahwa ia banyak belajar dari Mas wildan ketika berusaha menyelesaikan cerpen-cerpennya yang belum sempat terselesaikan. Dan sepertinya kami berhutang kepada Mas Wildan, karena setidaknya, kadek bisa menyelesaikan 3 cerpennya yang kini sudah di posting di lobimesen.

***
Banyak hal yang kami dapatkan dari agenda lobimesen “ngobrol bareng lobimesen [dot] com” dan tibalah pada saat dimana tulisan-tulisan kami dinilai oleh seorang editor. Secara pribadi, saya mengakui saja, bahwa tulisan saya masih banyak typo sana-sini. Di samping dosa-dosa lain yang mungkin tidak saya sadari. Namun Mba Diah sangat baik hati dan tidak menghakimi kami satu persatu. Mba Diah hanya memberikan penilaian secara general tetang tulisan-tulisan dari kontributor lobimesen. Menurut mba diah, secara umum tulisan-tulisan dari kontributor masih banyak yang tidak to the poin. Karena banyak tulisan yang menggunakan intro yang terlalu panjang. Hal itu dikhawatirkan hanya akan membuat pembaca menjadi bosan. Selain itu, kalimat yang terlalu panjang, padahal kalimat tersebut bisa dipecah lagi menjadi tiga kalimat.

Meski nampak sederhana, saya tahu betul. Sebagai seorang editor, tentu Mba diah akan merasa gatel untuk mengkoreksi setiap kesalahan dari tulisan masing-masing kontributor. Seperti halnya seorang dosen pembimbing yang sedang mengoreksi skripsi milik anak bimbingannya. Hawane mung pengen corat-coret.

Mba diah mengakiri sesi sharing-nya dengan sebuah pernyataan tentang lobimesen.com “Bagi saya, adanya lobimesen.com ini adalah semacam mercusuarnya psikologi UNS. Karena lobimesen.com bukan hanya bisa diakses oleh orang-orang internal psikologi. Semua orang bisa mengakses ini. Harapan saya lobimesen.com bisa menjadi penghubung dengan dunia luar. Tinggal bagaimana kita membuat konten dalam blog bersama ini agar bisa dinikmati, bukan hanya untuk orang-orang internal psikologi”

Hadirnya Mba ulum ketika acara ngobrol bareng sedang berlangsung, setidaknya bisa mewakili dari pembaca lobimesen.com. Mba ulum juga bercerita bagaimana ia mulai mengenal lobimesen.com dan mulai membaca postingan-postingan di blog bersama ini. Dan saya pun tidak ragu untuk menawarinya agar ikut bergabung menjadi kontributor lobimesen.com.

***
Acara ngobrol bareng bisa dikatakan berjalan dengan lancar. Mulai dari sedikit bercerita tentang awal mula lobimesen.com, kemudian sharing dari masing-masing kontributor. Serta banyak hal yang kami bicarakan untuk meraba bagaimana lobimesen.com kedepannya. Banyak perbaikan-perbaikan yang harus kami lakukan. Selain itu, tidak dipungkiri kami sangat membutuhkan sentuhan dari kontributor baru agar bisa memberikan warna lain di lobimesen.com

Jadi, bagi kalian-kalian yang merasa suka menulis dan memiliki banyak waktu selo. Mari gabung sama kita.