Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Pemuda

Sunday, October 30, 2016


Pada usia berapa kita merasa tua? Atau apa ukuran kita untuk disebut sebagai tua?
Tulisan ini sebenarnya sudah agak lama saya buat. Namun sengaja saya simpan, menunggu saat yang tepat untuk mempublikasikannya. Dan sekarang mungkin adalah waktu yang tepat. Tulisan ini saya buat saat melakukan perjalanan ke Solo beberapa waktu yang lalu. Perjalanan kali ini memang agak sedikit berbeda. Jika biasanya saya pergi sendiri naik kereta malam, kali ini saya naik travel dari Batang bersama Ibu saya. Kami mengambil jam keberangkatan paling pagi agar bisa tiba di Solo lebih awal. Tak ayal, jam 5 pagi kami sudah harus standby di kantor travel tersebut agar tidak ketinggalan.

Penumpang sudah hampir penuh saat mobil travel sampai di hadapan kami. Hanya tersisa 3 kursi penumpang yang kosong di jajaran paling belakang. Dua diantaranya untuk kami, sisa satu diduduki oleh seorang ABG muda berjilbab yang tadi diantar seorang bapak-bapak, yang wajahnya tidak asing bagi kami. Beliau adalah Guru SMA adik saya, yang sekaligus juga adalah ayah dari adik kelas saya sewaktu SMA, 10 tahun yang lalu.

Setelah kami bertiga masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang, perjalanan pun dimulai. Sembari menikmati perjalanan pagi, Ibu saya memulai pembicaraan dengan ABG yang duduk di sebelahnya. Menanyakan nama sekaligus memastikan bahwa dia adalah anak dari seseorang yang kami kenal. Pembicaraan menjadi bertambah nyambung dan seru ketika kami semua seperti memiliki kedekatan yang lebih. Meskipun tidak dapat dipungkiri, bahwa jarak usia antara kami sangat jauh. Ia adalah adik dari adik kelas saya. Jarak usia antara ia dengan kakaknya adalah 7 tahun. Sehingga jika dijumlahkan, jarak antara saya dengan dia sekitar 8-9 tahun. Atau jika dibandingkan dahulu, saat saya masih SMA berarti dia masih sekitar kelas 4 atau 5 SD.

Sampai di Semarang, mobil travel kami berhenti di dekat Bandara A Yani. Dia kemudian berpamitan kepada Ibu saya dan turun untuk melanjutkan perjalanan ke kampusnya. Saya dan ibu saya masih melanjutkan perjalanan ke kantor agen travel untuk nanti nyambung ke Solo. Sesaat kemudian, saya teringat akan obrolan yang terjadi dengan teman-temann di kantor. Beberapa kali kami sering bercerita tentang kegiatan-kegiatan sewaktu kuliah masing-masing. Ada yang sibuk menjadi aktivis BEM, menjadi penggiat kegiatan sosial, hingga yang aktif menjadi mahasiswa kupu-kupu alias “kuliah pulang-kuliah pulang”. Kebiasaan baca buku, komik hingga acara televisi yang hits saat itu.

Pembicaraan yang tadinya asyik berubah tidak nyambung ketika admin kami ikut ngobrol. Mereka tidak tahu apa yang kami bicarakan. Mulai dari apa yang terjadi saat itu, bagaimana tanggapan kami atas peristiwa waktu itu, hingga selera film dan lagu. Awalnya kami ingin “menghakimi” dengan mengatakan kurang gaul lah, kurang apdet lah, gak baca ini itu dll. Tapi setelah dipikir-pikir, kami tidak bisa menyalahkan mereka juga. Jarak usia antara kami dengan admin di kantor sekitar 8 tahun. Artinya jika saat itu kami menjadi mahasiswa pada usia 18 atau 19 tahun, admin kami masih berusia 12 tahun. Saat kami sedang sibuk dengan dengan bahan presentasi kuliah dan segala aktifitas menjadi mahasiswa, admin kami masih “sibuk” dengan mainan di jamannya, kartun di pagi hari, dan juga perasaan was-was menghadapi UAN. Jadi kalau pembicaraan kami tidak nyambung, kenapa sebabnya? Kami yang sudah tua, atau mereka yang terlalu muda?

Jaman sekolah dahulu, jika jadwal ujian semester tiba, saya selalu menyiapkan pulpen dan pensil sebanyak mungkin. Tujuannya agar bisa mengerjakan ujian tanpa takut terganggu dengan pulpen yang habis ato pensil yang tumpul. Tak lupa penghapus dan tipe-x juga tersedia. Jika tidak, bisa dipastikan bahwa lembar soal ujian akan penuh dengan coretan abstrak dan aneh. Sekarang jaman sudah berubah, semua berbasis teknologi. Ujian semester di sekolah Fani, adik saya bisa dikerjakan dengan komputer. Bahkan beberapa mata pelajaran di sekolahnya, diujikan lewat aplikasi android. Sehingga ia tak perlu repot menyiapkan alat tulis dan guru juga bisa dengan mudah mengoreksi hasil ujian mereka. Sudah terlalu “tua” kah saya?

Apakah kita disebut tua karena penampilan?
Hampir tidak ada yang berubah dari penampilan saya dari dulu sampai sekarang. Masih biasa-biasa saja. Kemana-mana masih suka memakai sandal jepit. Pergi ke Mushola, maen ke tetangga sebelah, kumpul sama anak-anak sampai jalan ke luar kota juga tetap memakai sandal jepit. Bahkan bisa membeli sandal jepit di tiap daerah yang baru saya kunjungi juga masih jadi salah satu cita-cita saya. Cindera mata khas daerah lokal. Jika tua dinilai secara fisik, beberapa saudara dan teman saya sudah muncul uban dirambutnya bahkan sejak mereka SD. Lemahnya fisik juga tidak mesti menandakan tua, karena banyak juga orang berusia lanjut yang aktifitas fisiknya melebihi kaum muda usia.

“Memang aku yang salah Bonaga. Mengapa aku masih hidup di zamanmu. Zaman yang tidak kumengerti tapi berusaha kupahami karena aku sangat mencintaimu.”

Ujar Nagabonar kepada Bonaga, anaknya. Sebuah cuplikan menarik dari film Naga Bonar jadi 2 yang sedikit banyak bisa menggambarkan perbedaan dan kesenjangan yang terjadi antara orang “tua” dengan orang “muda”. Kedua tokoh ini ingin memberikan penghargaan yang terbaik untuk orang yang dikasihinya. Namun menjadi bertentangan caranya karena mereka memiliki sudut pandang dari jaman yang berbeda. Nagabonar ingin menjaga tradisi dan kesakralan makam istrinya. Begitu pula Bonaga yang ingin memberikan penghargaan terbaik dengan merubah imej makam yang tadinya angker menjadi lebih nyaman dan bisa diterima semua kalangan. Bonaga tidak ingin selalu berada di bawah bayang-bayang ayahnya, sehingga ia ingin berbuat sesuatu atas nama dirinya.

Pembicaraan hampir sama juga bisa kita temui saat Sylvester Stallone yang berperan sebagai Rocky Balboa menasehati anaknya yang masih muda. Sebagai orang muda, ia harus berusaha menjadi diri sendiri, tidak merasa “terbebani” dengan nama besar ayahnya. Menjadi diri sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh cemoohan orang lain. Orang muda harus bersungguh-sungguh untuk menjadi yang terbaik. Seberapa banyakpun ia dipukul, ia tetap harus bergerak maju. Yakin akan kemampuan diri dan berusaha untuk mendapatkan apapun yang diinginkan dengan tangannya sendiri.

Laisal fataa man yaquulu hadza abii, walaakinal fataa man yaquulu da anaa dza

Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan “Ini Bapakku”, tetapi yang dikatakan pemuda adalah mereka yang mengatakan “Ini Aku”.

Usia sejatinya hanyalah angka. Tua atau muda tidak ditentukan karenanya. Menjadi muda adalah tentang karya. Tentang kebermanfaatan yang bisa diberikan, tentang kebaikan yang berlipat dan tidak putus. Bahkan hingga di akhir hayat, nama masih akan dikenang tersebab karya. Menjadi muda adalah tentang kesadaran. Kesadaran akan tanggung jawab terhadap diri dan lingkungan. Peran yang secara perlahan beralih dan diambil alih. Tentang pembuktian diri terhadap kesanggupan memikul tanggung jawab yang lebih. Pembuktian bahwa Aku adalah Aku, bukan orang lain.

Ditulis saat perjalanan batang-solo
23072016