Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Tragedi 13.10.10

Monday, October 3, 2016
Sumber: Google

Ini adalah sebuah kisah cinta yang tak sampai, cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan kisah penyesalan seorang pemuda akan cinta, harapan, dan kehidupannya. Ini bukanlah kisah yang dimaksudkan untuk menyuarakan semboyan GALAU yang belakangan ini ngetrend di kalangan ABG ALAY. Kisah ini juga bukan justifikasi dari status JOMBLO yang biasanya dihujat oleh para ALAY yang sok cinta-cintaan kepada orang yang tidak punya pacar. Intinya ini adalah kisah tentang AKU.

***

Namaku Gunawan Vidya Putra, aku biasa dipanggil Wawan semenjak SD oleh teman-temanku dan itu menjadi sapaan akrabku sampai saat ini ketika aku menamatkan bangku kuliah. Aku seringkali mendengar sindiran-sindiran yang dialamatkan kepadaku ketika masa kuliah. Namun, sayangnya sindiran itu sampai ke telingaku karena ada orang lain yang memberitahuku, bahkan surat dari kakak tingkat semasa perpisahan di organisasi mahasiswa yang aku ikuti dengan gamblang menyebutkan bahwa, “Wawan, menurut aku kamu orangnya rajin dan kinerja kamu selama di organisasi juga bagus. Tapi kog, aku sempet dengar cerita-cerita miring tentang kamu dari teman-teman seangkatanmu? Mungkin kamu juga sudah merasa bahwa ada hal-hal buruk yang dibicarakan teman seangkatanmu di belakangmu. Aku rasa sebaiknya kamu mencari tahu kenapa mereka seperti itu.” Ya, kurang lebih seperti itulah isi surat perpisahan yang aku terima dari kakak tingkat. Hal yang sangat aku sayangkan adalah kenapa orang atau teman yang merasa aku bermasalah tidak langsung mengatakannya saja kepadaku? Jujur, surat dari kakak tingkat itu membuatku sedikit bingung karena selama ini aku merasa baik-baik saja dengan teman-teman seangkatan.
Aku pun mengikuti nasehat itu dan bercerita dengan teman sekelas yang awalnya aku sendiri tidak menyangka bisa akrab dengannya. Obrolan sore hari yang dimulai dari warung makan “Bu Baik” di seberang kampus, pada akhirnya menyerempet kemana-mana dan teman sekelasku tadi bilang bahwa, banyak anak-anak di angkatanku merasa bahwa aku orang yang kurang peka. Okay, aku bertambah bingung, lebih tepatnya dilematis. Sebenarnya jika untuk hal itu aku pun juga sudah merasa sedari SMA bahwa aku kurang peka, aku orangnya egois, aku hanya mementingkan diri sendiri. Ya, teman-teman seangkatanku tahu hal itu dan akupun juga tahu hal itu. Tapi ada hal yang tidak pernah mereka tahu, bahwa aku bersikap kurang peka dan menjadi egois karena aku sudah membuang perasaanku sebagai manusia. Selama ini aku mengurung diri dalam labirin yang tak seorang pun bisa mencapainya. Bagiku semua slogan untuk mempersatukan angkatan, kelas, dan semboyan bahwa satu angkatan kuliah adalah keluarga hanyalah sebuah omong kosong karena semua orang yang masuk dalam hidupku hanya lewat dan tak pernah menyapaku kembali, sama seperti DIA.

***

Usiaku sekarang sudah hampir 12 tahun. Entah kenapa sewaktu SD aku belum pernah membayangkan bahwa aku berpisah dengan teman-temanku yang selalu bersama semenjak kami di taman kanak-kanak dulu. Aku takut, “Ibu bagaimana jika tidak ada yang mau berteman denganku?” “Kamu pasti dapet teman, percaya deh sama Ibu. Masa anak ibu yang ganteng ini ndak ada yang mau ngajak temenan sih di SMP”. Ya, kurang lebih begitulah aku 10 tahun yang lalu. Aku ingat ketika itu aku merasa sangat gugup dan takut di hari pertama aku masuk SMP. Bagaimana tidak, semua teman sepermainanku semenjak TK berpencar dan kami masuk ke sekolah yang berbeda-beda sesuai ambisi orangtua kami. Dan ya, kata-kata ibuku selalu berhasil menghiburku.
Aku ingat hari itu. Hari yang sangat terik dan ibuku bangganya bukan main karena aku diterima di SMP Negeri yang ketika zaman itu, di Bali sekolah negeri dinilai sangat prestisius dan banyak orang rela membayar lebih mahal agar anaknya bisa diterima meskipun melalui JALUR BELAKANG. Tapi bagi ibuku, aku diterima di SMP negeri lewat jalur masuk resmi menandakan bahwa akan ada tambahan simpanan uang di tabungan kuliahku. Masuk SMP Negeri memang prestisius, apalagi jika diterima lewat jalur resmi yang terkenal dengan murahnya biaya pendidikan namun kualitas yang tidak murahan. Dan inilah dia hari pertama sekolah, pagi-pagi kami murid baru sudah dibariskan di lapangan oleh kakak-kakak OSIS untuk mengikuti upacara penerimaan siswa baru dan pembukaan masa orientasi siswa di SMP N 22 Kuta. Ketika di barisan aku sempat berkenalan dengan seorang anak, namanya adalah Disca (dia anak laki-laki), jangan tertipu dengan nama. Aku pikir itu akan menjadi awal yang indah dari persahabatan di masa SMP, atau mungkin itu adalah awal dari kriminalitas masa SMP yang akan aku lalui dalam beberapa tahun kedepan.
Singkat cerita masa SMP berhasil aku lalui dengan baik, aman, dan syukurnya sangat menyenangkan. Entah kenapa aku yang semasa SD sering dihukum, malas mengerjakan PR dan sering membuat lelucon ketika disuruh maju ke depan kelas tiba-tiba saja menjadi anak yang rajin dan mungkin juga cukup pintar karena ketika SMP semenjak dari semester 2 sampai lulus aku selalu masuk dalam peringkat 3 besar. Tentu saja aku tahu alasannya. Itu semua karena DIA.

***

Aku sangat membenci angka 13. Terutama apabila itu adalah tanggal di kalender. Selain itu aku paling benci jika tanggal 13 dipasangkan dengan bulan 10. Itu adalah hari yang memuakkan. Jika melihat tanggal dan bulan itu bersamaan di kalender aku merasa ingin muntah. Aku tidak tahan mencium semua aroma amis itu.
Ada alasan kenapa orang-orang mengkramatkan angka 13. Katanya itu pertanda sial dan ya. Aku memang dikutuk dengan kesialan di hari itu. Rabu, tanggal 13 Oktober adalah masa awal dimana aku merasa bahwa aku memiliki kesempatan yang begitu bagus. Hari yang awalnya begitu aku nanti-nanti dan ya, tangan Tuhan meratakan sekujur tubuhku di hari itu. Hari dimana janji yang telah dibuat, takkan pernah bisa ditepati lagi. Hari dimana aku mulai menyalahkan janjiku, hari dimana aku sadar bahwa seharusnya janji itu tidak pernah dibuat.
Janji yang kubuat enam tahun yang lalu, dan sampai sekarang tidak pernah bisa aku tepati. Sesungguhnya manusia seperti apakah aku ini. Nurani mendorongku untuk memberitahukan mereka tentang janji itu, tapi setiap kali aku mencoba badanku gemetar, menggigil, dan keringat basah bercucuran dari telapak tanganku. Perutku mual dan seakan aku mencium bau amis yang sama ketika hari dimana janji itu seharusnya ditepati.

***

Akhirnya aku berhasil membuat janji itu. Aku sudah menunggu selama hampir 4 tahun untuk membuat janji itu dan tentunya berbicara padanya. Hari ini aku begitu bangga pada diriku. Sesuatu yang aku kejar sedari SMP akhirnya bisa aku imbangi ketika awal masa SMA. Mungkin begitulah aku memandang DIA selama ini.
DIA memang orang yang begitu unik, menakjubkan, seorang manusia yang tidak pernah bisa aku baca gerak-geriknya. DIA selalu membuatku terkejut sekaligus kagum. Entah DIA tahu atau tidak, tapi berkat DIA aku seakan melihat tujuan dalam hidupku. Sebuah ambisi kini hadir dalam dada anak laki-laki yang tidak mengenal ambisi sebelumnya.
Bagiku aku adalah anak yang ambivalen. Pendirianku tidak tetap dan kalo ditanya soal cita-cita selalu berganti-ganti hari demi hari. Ibuku bahkan bilang bahwa aku seperti tidak punya cita-cita maupun tujuan dalam hidup. Dan ya, awalnya aku tidak terlalu takut dengan hal itu. Tetapi, ketika melihatnya, DIA yang selalu bersemangat dalam melakukan apapun, selalu ingin mencoba hal-hal baru untuk memuaskan hasratnya akan pengetahuan, dan selalu tersenyum ramah kepada setiap orang, membuatku ingin selalu menggenggam tangannya. Aku pikir ketika itu akhirnya hatiku tersentuh oleh seseorang dan aku sedikit bertambah dewasa dari sebelumnya. Semenjak itu aku putuskan bahwa aku akan mengejarnya dan DIA aku anggap sebagai sainganku di kelas. Tujuanku adalah untuk mengunggulinya dalam prestasi dan ketika aku berhasil maka aku mungkin bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Meskipun aku tidak yakin apakah perasaan ini suka, cinta, atau hanya ungkapan terima kasih telah memotivasiku untuk menjadi manusia yang lebih baik.

***

Apa aku ini seorang kriminal? Apakah kata-kata manis bisa menjadi senjata untuk membunuh? Apakah aku yang menyebabkan DIA mati? Tidak! Hal seperti itu tidak ada. Bukan salahku kalau DIA mati. Ini semua salahnya karena mati lebih dulu. Dan sebaiknya rahasia kematiannya aku simpan rapat-rapat. Tidak ada yang bisa membujukku untuk mengatakan rahasia ini kepada keluarganya, tidak juga KAU!
KAU selalu mencampuri kehidupanku…Mengapa KAU selalu membuatku merasa bersalah dengan setiap ucapan-MU? KAU pikir aku tidak merasa tersiksa dengan semua ini? Aku juga korban disini, bukan hanya DIA yang mati, tapi perasaanku juga mati. Jadi, jangan pernah KAU ganggu aku lagi dengan semua kata-kata bijak busukmu itu, karena aku juga korban bukan pembunuh!
Justru KAU yang pembunuh! KAU yang membunuhnya, KAU-lah yang mengucapkan kata-kata manis itu padanya hingga akhirnya DIA mati termakan ucapan-MU. Dan karena KAU juga hidupku kacau seperti ini...Aku pikir mulai sekarang aku takkan pernah mendengar-MU lagi wahai hati kecil yang busuk. Aku akan terus memakai senyum palsu dalam hidupku. Itu adalah satu-satunya cara agar aku bisa terus hidup. Jadi untuk KALIAN yang mengatakan aku tidak peka…Apakah KALIAN sudah merasa cukup peka!
Heh…Bagi KALIAN yang selalu membicarakan orang lain di belakang, sebaiknya KALIAN lihat hidup KALIAN sendiri, karena aku juga sering mendengar nama-nama kalian disebut dalam omongan tentang kejelekan orang lain. Jangan salahkan aku jika aku tidak peka, salahkan saja semuanya pada DIA…DIA yang mati lebih dulu membuatku mengubur perasaanku dan aku tidak ingin terikat dengan kepekaan yang KALIAN bangga-banggakan itu!

***

Sesuai perjanjian, aku sudah menunggu di Kuta Galleria. Sejujurnya aku merasa sangat gugup. Ini janji makan siang pertama atau mungkin kencan pertama yang aku miliki dengan seorang gadis. Gadis yang aku kejar selama 4 tahun lamanya. Gadis yang menurutku sangat luar biasa, inspiratif, dan…banyak lagi. Arti namanya saja menurutku sangat indah, dewi yang paling terang diantara semua dewi di khayangan, Kirana Listya Dewi, bisa dibilang itu adalah cahaya yang telah menerangi jalanku di dunia.
Entah mengapa Nana (sapaanku pada Kirana), tidak jadi datang sesuai dengan janji. Aku sudah SMS dan ketika aku telpon, nomornya sedang tidak aktif. Sudah 2 jam berlalu dan aku merasa kecewa. Aku putuskan untuk pulang karena aku merasa kesal…aku pulang dan ingin berbaring di tempat tidur…aku sudah tidak bersemangat lagi hari ini.
Sesampainya di rumah, aku melihat sekilas tayangan berita yang ditonton ibuku di Bali TV. Itu adalah berita kecelakaan maut yang terjadi di jalan depan GWK (Garuda Wisnu Kencana) sekitar pukul 13.00 WITA tadi. Katanya teruk menambrak pengendara lain dan menewaskan 6 orang. Aku pikir bukan cuma hariku yang buruk, tapi hari ini juga buruk bagi korban beserta keluarga dari kecelakaan maut itu. Ternyata memang tidak baik untuk keluar rumah dan mengadakan janji di tanggal 13, ya meskipun yang keramat itu Jumat tanggal 13. Tapi hari ini Rabu, 13 Oktober merupakan salah satu hari terburuk bagi masyarakat Bali di tahun 2010. Ya, aku rasa kasus kecelakaan beruntun itu akan terus diusut sampai mengetahui penyebab pastinya.

***

Itulah pikiran yang melintas pertama kali di benakku ketika mendengar tentang kecelakaan di GWK 6 tahun yang lalu. Malam harinya aku baru sadar kalau kecelakaan itu akan mengubah hidupku, menjadi seorang manusia tanpa hati seperti sekarang. Dalam kecelakaan itu, rupanya Nana juga menjadi korban yang meninggal. Sungguh cara keji dari takdir untuk menjauhkan cahaya terang dari kehidupanku.
Aku takut dengan kenyataan bahwa Nana meninggal gara-gara merusaha memenuhi janji yang kami buat. Karenanya aku tetap diam, aku tidak pernah mengatakan tentang janji itu kepada orang lain, terutama kepada keluarga Nana. Aku tidak mau mereka salahkan karena kematian Nana. Aku bukanlah penyebab kecelakaan itu. Aku bukan pembunuh! Aku merasa sangat takut dan mendengarkan bisikan nurani hanya memperburuk ketakutanku, karenanya aku mengunci nuraniku dalam labirin hati yang gelap gulita karena cahayanya telah digerogoti oleh takdir dalam kecelakaan maut itu.
Hal yang paling memuakkan dari kecelakaan itu adalah mimpi buruk yang terus aku alami selama beberapa hari. Aku bermimpi ada di lokasi kecelakaan dan melihat banyak sekali darah dan bau amis darah yang sangat membuatku muak…Kenang-kenangan dari janji serta mimpi buruk itu, aku menjadi phobia dengan darah. Setiap melihat darah aku menjadi panik, menggigil, dan seakan mimpi buruk itu terulang kembali. Cita-citaku untuk menjadi dokter pun kandas karena aku tidak bisa mendekati darah…Bukankah Tuhan nampak sangat adil di sini. Nana mati gara-gara aku dan Tuhan membalasnya dengan menghancurkan kehidupanku…Begitulah adilnya tangan Tuhan…



-Selesai-