Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Aksi Mendamaikan

Sunday, November 6, 2016

Menghormati tidak masuk kurikulum.
Padahal, menghormati ternyata harus dipelajari.
Kalau saya punya jabatan, saya akan bikin sekolah menghormati.
Siapapun yang masih sulit menghormati berapapun usianya, boleh ikut sekolah.


Peristiwa 4 November atau kemudian dibahasakan sebagai aksi 411 akan menjadi sebuah ukiran sejarah yang selalu diingat. Berbagai macam spekulasi muncul terkait alasan, akibat baik sebelum dan sesudah peristiwa ini terjadi. Spekulasi yang muncul berasal dari berbagai macam pihak dari berbagai golongan sehingga tak mengherankan jika kemudian banyak bermunculan perdebatan di media-media sosial. Perdebatan yang menurut saya tidak pada tempatnya karena masing-masing pihak yang memposting sudah pasti membawa stereotip dan prasangka tertentu. Ras, agama, dan politik masih menjadi isu sentral yang diperdebatkan. Menjadi tidak etis kemudian ketika saling tuding itu malah mewabah di media sosial.

Saya masih terlalu bau kencur jika harus menambah keberagaman spekulasi tersebut. Tulisan saya ini tidak akan memperdebatkan apakah niatan aksi damai 411 telah dinodai oleh segelintir aktor politik dan provokator, apakah sekelompok tokoh partai sengaja menjadikan aksi damai ini sebagai panggung sandiwara, atau kembali pada poin utamanya yaitu apakah btp sengaja atau tidak berkata seperti itu. Entahlah, hanya mereka dan Tuhan yang tahu niatan tindakan tersebut. Apabila kemudian muncul berbagai macam pendapat maka itu hanya bentuk hasil interpretasi manusia semata yang tak luput dari subjektifitas.

Bagi saya, peristiwa 411 malah menjadi bentuk pernyataan gamblang bahwa agama masih menjadi dasar identifikasi kuat di Indonesia. Peristiwa 411 kemarin menjadi bukti bahwa perbedaan aliran kelompok tak menjadi soal ketika kalian dihadapkan pada tujuan bersama. Saya ingat beberapa waktu lalu pernah ditanya oleh seorang dosen dari UIN.

Beliau bertanya kepada saya, 
Bagaimana caranya agar NU dan Muhammadiyah bisa bersatu?
Waktu itu seketika saya menjawab,
Kebanggaan terhadap identitas besar sebagai Islam dan Indonesia lah yang akan menyatukan mereka.
Inilah yang terjadi di hari Jumat itu, Islam dan Indonesia, telah menyatukan berbagai macam aliran kelompok. Mereka bertumpah ruah memakai baju yang sama, merasa diri sebagai umat yang sama, menggemakan asma yang sama, membawa bendera merah putih, tapi tetap memakai atribut kelompok masing masing. Luar biasa, satu kata yang terucap. Agama tak harus dipisahkan dari konstitusional karena agama adalah salah satu pilar Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

ig : @beraniberhijrah

Terlepas dari kericuhan yang terjadi di malam harinya, bagi saya ada pemandangan yang lebih menarik untuk dilihat. Foto ini saya dapatkan melalui beberapa akun instagram.

ig : @berbagisemangat

 ig : @sandhi_okta

Ketika ada sebuah aksi, maka sebagai bentuk defaultnya akan ada dua kelompok besar di dalamnya, yaitu polisi dan pelaku aksi. Foto di atas menunjukkan bahwa dua kelompok besar dalam sebuah aksi bisa berdiri dan sujud bersama dalam sebuah ibadah. Tujuan ibadah mempersatukan person dalam dua kelompok itu untuk melakukan kegiatan sama bersamaan.Satu lagi, ini menandakan bahwa agama masih menjadi identifikasi kuat masyarakat kita.

Ini barang tentu seharusnya menjadi catatan tersendiri bagi kita yang masih merasa sebagai manusia bertanggung jawab. Identitas agama menjadi begitu rentan posisinya. Apabila ada pihak tak bertanggung jawab sengaja menggunakan nama agama untuk memporakporandakan negara, maka jangan harap kedamaian terjadi. Hal ini pula yang malatarbelakangi terjadinya konflik Poso, atas nama agama, meskipun sampai saat ini masih menjadi kajian apa yang sebenarnya terjadi di Poso.

Perbedaan agama menjadi indah ketika diharmonisasikan. Menghormati, menghargai, toleransi, dan kesopanan adalah nilai-nilai yang perlu ditanamkan sedari dini. Aksi 411 menjadi salah satu potret nyata bahwa toleransi itu bukan isapan jempol semata.

ig : @islamsantun

Tak banyak yang meliput, tetapi kolom berita NET.Z berhasil mengabadikannya1. Adalah Wiwi Margaretta dan Andreas Gunawan yang tetap melangsungkan pernikahan mereka di Katedral saat aksi berlangsung.

“Mobil pengantin sempat terjebak di antara kerumunan massa dan tidak bisa masuk gereja. Tetapi salah satu peserta unjuk rasa kemudian mengkoordinir untuk memberikan jalan kepada mobil pasangan pengantin ini.”, kata Dodo salah satu anggota Wedding Organizer ketika diwawancarai NET.Z.
diambil dari kolom berita NET.Z1
See? toleransi itu indah bukan?
Agama, yang menjadi salah satu dasar kehormatan rakyat kita seyogyanya tidak menjadi sumber pemecah baik di dalam atau antar kelompok. Agama tidak semata sebuah lembaga, tetapi agama mencerminkan kebutuhan paling pribadi seorang individu. Hal pribadi antara dia dengan Tuhan dan antara dia dengan sesama. Agama bukan alat untuk provokasi kepentingan dunia karena agama menyangkut kepentingan rohaniah kita dengan Tuhan.Oleh karena itu, jangan jadikan agama sebagai alasan untuk memecah belah demi memuaskan kepentingan pribadi.

Saya tidak akan menunjuk agama siapapun karena agamaku agamaku agamamu agamamu. Agama bukan untuk menindas agama lain, agama bukan untuk mengungguli yang lain, dan agama bukan untuk dijadikan objek. Kita bersama-sama belajar menjaga lisan kita, santun dalam bertutur, tak hanya di dunia offline tetapi juga di dunia online. Miris rasanya ketika masing-masing orang dengan membawa agama masing-masing saling mencela hanya karena merasa sudah paling benar. Bagaimanapun, Tuhan lebih senang jika hambaNya mau meninggalkan perdebatan yang tak ada ujungnya.

Aksi bermartabat 411 yang berjalan tertib kemarin menjadi bukti bahwa agama mampu mendamaikan dan aksi tak harus anarkis. Semoga Allah membalas niat baik setiap insan yang berada di dalam aksi kemarin. Niat membela agama mereka bukan menghakimi agama lain. Amiin.


1 https://netz.id/news/2016/11/04/00316/1021041116/di-katedral-pasangan-ini-menikah-saat-aksidamai411