Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Berdikari Bersama Koperasi

Saturday, November 5, 2016
Berdikari Bersama Koperasi
Gambar Ilustrasi

Ternyata, koperasi memiliki manfaat yang luar biasa. Kita mampu membangun peradaban yang berdikari secara ekonomi jika mau membangun koperasi. Sayang sekali, saya sangat telat menyadari hal itu. 

Belum lama ini, setelah saya ditawari menjadi anggota koperasi oleh seorang teman. Mendengar penjelasannya, seperti sedang mendapatkan "bisikan ghoib" yang selama ini saya tunggu-tunggu dari pertanyaan batin yang tak kunjung terjawab.

Pertanyaan itu adalah; "Bagaimana melawan kapitalis?

***
Teman saya ini, sebut saja Teguh Prasetyo (bukan nama samaran), hidupnya sangat optimis. Juga sangat idealis terhadap apa yang diyakininya. Hari-hari dia habiskan untuk belajar bisnis.

Banyak teman-temannya yang tidak mampu memahami cara berpikirnya. Ujungnya, orang-orang tidak mempercayai ide-ide yang teman saya ini lontarkan.

Sulit memang meyakinkan orang-orang yang sejak kecil diperlihatkan bahwa menjadi orang pemerintah itu tinggi derajat sosialnya. Orang-orang yang sejak awal di sekolah diajarkan jika lulus nanti cepat mendapatkan kerja, di tempat yang enak, gaji yang tinggi. 

Sedangkan menurut teman saya, setelah lulus sekolah, yang harus dilakukan adalah, ajar rekoso untuk membangun sebuah usaha. Tentu tidak masuk akal di pikiran mereka, “Ngapain harus rekoso kalau menjadi karyawan aja enak. Bisnis itu risikonya besar.”

Membangun usaha itu adalah sebuah proses hidup. Jatuh bangun. Naik turun. Bertahan dengan seleksi alam. Kemauan dan tekad yang kuatlah yang mampu membuat kita berhasil.

Pepatah paling saya ingat: If it’s too good to be true, then it is not true. Jika sesuatu itu terdengar terlalu mudah, maka itu tidak nyata.

Bahwa, membangun usaha itu tak semudah kata-kata motivator. Wkwkw

Dan hukum kekekalan energi mengajarkan, besarnya usaha sama dengan besarnya hasil. Maka tidak ada energi yang terbuang sia-sia. Istilah lainnya, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Entah hasilnya kapan didapat. Atau dalam bentuk apa.

Setelah lama belajar, teman saya ini sampai pada proses ini: membangun koperasi. Koperasi yang dibentuk bersama teman-temanya di komunitas IBIS (Ikatan Bisnis Sragen).

Koperasi ini, katanya, berbasis koperasi serba usaha. Setiap anggota silakan memiliki usaha melalui koperasi ini. Semua bisa menjadi bos. Bisa menjadi karyawan. Siapa yang mau bergerak, dia yang mendapat banyak. Yang pasif pun masih tetap untung. SHU (Sisa Hasil Usaha) menanti setiap tahun.

Koperasi, dengan tagline dari anggota untuk anggota, sangat optimis untuk menciptakan ekonomi masyarakat yang mandiri, kuat dan cita-cita untuk berdikari tentu akan lebih mudah tercapai.

Kita mengenal yang namanya KUD (Koperasi Unit Desa). Tentu saja, mampu memfasilitasi itu semua. Misal, untuk para petani dibuatkan koperasi kelompok tani. Dibantu dari proses pembibitan sampai penjualan. Alat-alat pertanian disewakan untuk digunakan bersama.

Dengan begitu petani bisa lebih mandiri. Biaya pengeluaran pun bisa berkurang. Dan tidak akan bingung dengan penjualan hasil panen. Masyarakat anggota koperasi akan bersemangat membeli hasil panen itu. Karena mereka sadar itu modal dari simpanan wajib mereka. Semakin banyak terjual maka semakin banyak SHU yang akan mereka dapatkan nantinya.

Saya meyakini, bahwa nutrisi terbaik adalah yang berasal dari tanaman dan hewan di mana dia tinggal. Buah-buahan yang dipanen di tanah di sekitar tempat tinggal dia.

Maka berdikari bukan isapan jempol lagi jika kita benar-benar bisa menelateni keberlangsungan koperasi. Koperasi itu gotong royong untuk kesejahteraan bersama. Jangan sia-siakan adanya koperasi, harus dimanfaakan betul-betul.

Jika sudah berhasil dengan koperasi. PR selanjutnya adalah belajar mengontrol diri untuk bisa memilih mana yang perlu dilihat dan mana yang tak perlu dilihat.

Agar kita tidak gampang kepinginan.(*)



*Dari dalam bus: Solo Batik Trans koridor 1