Ads Top

Hikayat Batu Bulan

Alkisah pada jaman dahulu, ada sebuah kerajaan kecil bernama Astawanggala dengan rajanya bernama Satyanagara. Kerajaan itu hidup makmur, bahan pangan melimpah dan rakyatnya pun bahagia.

Suatu malam, raja bermimpi tentang sebuah batu yang melayang. Raja pun menanyakan perihal arti mimpinya kepada Mahapatihnya, Kalawaru.

"Wahai Mahapatih Kalawaru, aku bermimpi." Kata baginda raja.
"Mimpi apa yang mulia?" Tanya Mahapatih.
"Aku bermimpi dalam perjalananku pulang selepas berburu, aku menginjak sebuah batu. Kemudian aku perintahkan seseorang di dekatku untuk mengambil dan melempar batu itu. Tapi hal aneh terjadi. Batu itu tidak jatuh. Batu itu melayang. Kemudian aku mendengar suara menggelegar memekakkan telingaku. Cahaya putih mengkilat membutakan mataku. Menyebabkan aku terbangun. Apakah kau tau maksud mimpi itu wahai Mahapatih Kalawaru?" tanya sang raja.
"Maafkan hamba baginda raja. Hamba tidak mengerti perihal arti mimpi. Ijinkan hamba mengadakan sayembara untuk mencari orang yang mempu menafsirkan mimpi baginda raja." Kata Mahapatih Kalawaru.
"Segera adakan sayembara! Barang siapa berhasil menafsirkan mimpiku, akan aku angkat sebagai penasehat dan aku berikan tanah yang luas." Titah paduka raja
"Baiklah yang mulia." jawab mahapatih sembari meminta ijin untuk pergi.

Segera Mahapatih Kalawaru menyampaikan hal tersebut pada pasukan pembawa pesan agar disampaikan ke seluruh penjuru kerajaan Astawanggala.

Setelah dua minggu, sampailah kabar sayembara itu pada salah seorang petapa di Gaturaga. Salah seorang petapa bernama Sangda ingin mencoba untuk menafsirkan mimpi sang raja. Berangkatlah ia menuju Kerajaan Astawanggala dan langsung menemui sang raja.

Salam Baginda Raja Satyanagara. Perkenalkan hamba Sangda dari Petapaan Gaturaga. Ijinkan hamba untuk menafsirkan mimpi baginda raja.” Kata Sangda.
Baiklah. Tafsirkan mimpiku.” Titah baginda raja.
Mohon maaf atas kelancangan hamba. Baginda bermimpi tentang sebuah batu yang melayang. Batu tersebut adalah batu yang berasal dari bulan. Batu ajaib yang akan memilih penerus Kerajaan Astawanggala. Kemudian pengawal yang baginda titahkan untuk membuangnya adalah salah satu dari anak baginda yang kelak akan menjadi raja. Ia akan menjadi raja yang membawa Kerajaan Astawanggala pada kejayaannya.” Jelas Sangda.
Benarkah itu Sangda?” Tanya sang raja.
Benar yang mulia. Tapi, untuk mendapatkan batu itu, baginda harus memerintahkan kedua anak baginda untuk mencari batu itu. Dan keduanya tidak boleh terpisah sampai mereka mendapatkan batu itu. Atau bencana akan terjadi. Keduanya terpisah dan tak akan bertemu lagi.” Kata Sangda.
Baiklah. Aku akan perintahkan kedua anakku untuk mencari batu itu.” Kata sang raja.

Sang raja pun memerintahkan pengawal untuk memanggil kedua bersaudara Prawiratama dan Dwaratungga. Prawiratama merupakan ksatria yang kuat dan perkasa, sedangkan Dwaratungga merupakan seorang ahli sihir yang cerdas lagi bijaksana.

Sesampainya dihadapan paduka, Anak tertua Dwaratungga berkata, “Ayahanda, kami menghadap. Ada apakah gerangan yang membuat ayahanda meminta kami datang?”
Anak-anakku, kalian pasti tau bahwa aku bermimpi berkali-kali tentang batu yang melayang. Dan seorang petapa dari Gaturaga menafsirkan mimpiku bahwa batu itu akan membawa kejayaan pada kerajaan kita. Namun, aku tidak tau dimana keberadaan batu itu. Aku memanggil kalian kemarin agar kalian mencari batu tersebut. Kalian harus tetap bersama dan jangan sampai terpisah. Atau aku tidak akan bisa menemui salah satu dari kalian.” Jelas baginda raja.
Baiklah Ayahanda. Tapi, batu seperti apakah yang harus kami cari?” Tanya Prawiratama.
Dalam mimpiku, batu itu berwarna putih bersih. Jika dilemparkan, batu itu tidak akan jatuh.” Jawab baginda raja.
Begitu mendengar titah sang raja, kedua bersaudara itu meminta ijin untuk mulai mencari batu tersebut. “Kami mohon ijin berangkat Ayahanda.”
Hati-hatilah anakku.” Kata baginda mengiringi kepergian kedua anaknya.

Dan kau Sangda. Jika mimpiku benar dan batu itu ada. Sesuai janjiku, kau akan kuberi tanah yang luas.” Kata Baginda Raja Satyanagara.
Baik, baginda. Ijinkan hamba kembali ke Gaturaga.” Pinta Sangda.
Tidak. Mulai hari ini, kau aku angkat menjadi penasehatku. Sampai kedua anakku kembali.” Titah baginda raja.
Baiklah baginda.” Patuh Sangda.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Dwaratungga dan Prawiratama tak kunjung menemukan batu berwarna putih itu. Keduanya beristirahat sejenak di sebuah pohon besar ditengah Hutan Vancana.

Kakanda, sepertinya kita harus berpisah agar kita segera menemukan batu itu.” Kata Prawiratama.
Tidak. Ingat pesan Ayahanda. Kita harus tetap bersama.” Tolak Dwaratungga. “Malam ini, kita beristirahat dibawah pohon ini saja. Besok kita lanjutkan perjalanan.” Lanjut Dwaratungga.
Baiklah kakanda.” Ikut Prawiratama.

Siang berganti malam. Hujan deras disertai badai topan terjadi. Dengan kekuatan sihirnya, Dwaratungga sigap melindungi dirinya. Prawiratama berpegangan pada salah satu ranting pohon. Menancapkan pedangnya di ranting yang terbesar. Langit semakin gelap hingga kedua bersaudara itu tak mampu melihat diri mereka sendiri. Angin yang kencang menyebabkan Dwaratungga dan Prawiratama tak mampu mendengar suara satu sama lain. Bersamaan dengan badai itu, keduanya memasuki dunia lain.


(bersambung)
Powered by Blogger.