Ads Top

Malaikat Yang Murah Senyum

https://www.facebook.com/solidaritas.kapas

Hati siapa yang tidak akan meleleh melihat senyuman #orangkeren yang satu ini. Pintar, ramah, manis, sumeh (murah senyum) membuat kakak kelahiran Solo asli ini njawani sekali. Febi Dwi Setyaningsih, lulusan psikologi angkatan 2006 ini juga merupakan salah satu ikon mahasiswa keren di kelasnya. Buku, film dan kopi adalah tiga hal yang ia sukai bahkan sejak sebelum kuliah. Bermula dari kegemaran bersepeda, anak kedua dari dua bersaudara ini sekarang tercatat aktif sebagai Manajer Kantor di Yayasan Sahabat Kapas. Yayasan yang concern kepada pendampingan anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Yuk kita simak wawancara lobimesen.com dengan #orangkeren yang satu ini. 

Kegiatan Kakak sekarang apa ya?
Kegiatan? Sekarang fokus di Kapas.

Di Kapas bagian apa? Ngapain aja kegiatannya?
Bagian penyemangat. Jobdesc sebenernya lebih ke ngurus SDM, ngatur keuangan, laporan, dll. Cuma karena di Kapas yang dari psikologi dan bisa kegiatan rutin cuma saya, ya akhirnya sering ikut pendampingan ke anak-anak juga. Sekarang masih fokus ngembangin konseling ke anak-anak. 

Diantara banyak aktifitas yang Kakak lakukan hingga saat ini, mana yang paling berkesan? Kenapa?
Yang paling berkesan? Apa yaaa. Hampir semua berkesan Kak. Tiap mendampingi anak, pasti jadi belajar banyak hal.

Belajar apa saja?
Banyak. Salah satunya belajar menjadi pendengar yang baik, belajar bersyukur, belajar komunikasi yang baik, belajar jadi teman yang menyenangkan buat anak, dll.
Oooh, inget aku Kak. Pernah ada kejadian yang bikin aku makin pingin jadi temennya anak-anak yang berhadapan dengan hukum, terutama anak di dalam Lapas/Rutan/LPKA.

Apa itu Kak?
Kapas kan mendampingi anak ini dari awal dia masuk Lapas. Up and down sudah terlalui sama dia. Dari lihat dia semangat banget, down banget, nyenengin, nyebelin, semua sudah dialami.
Ku pikir, apa yang kami lakukan tidak berarti buat dia dan anak-anak lain. Tapi pas dia ditanya apa arti relawan Sahabat Kapas buat dia, dia terbata-bata nahan emosi. Sambil menjawab,
"Mbak dan mas di Kapas itu kayak sahabat, kayak malaikat kalau buat saya, di saat saya di titik terendah, mereka ada buat saya. Saya harap mbak dan mas ini bisa terus mendampingi anak-anak seperti saya."
Langsung mak jleb rasanya saat itu. Aku kaget banget waktu dia jawab seperti itu. Rasanya terharu, merasa dihargai, jadi pengen berbuat lebih dan lebih buat anak-anak. Nano-nano lah Kak. Karena tidak setiap saat anak bisa mengungkapkan persepsi mereka ke kami kan.
Tapi kalau difikir ulang, apakah setelah mereka kembali pulang, mereka akan siap menghadapi dunia nyata lagi setelah nggak bareng dengan relawan yang lain.

Bagaimana caranya agar tidak ada ketergantungan?
Naaah, ini.. Kerja berat sebenarnya justru di sini, Kak. Ketika mereka kembali ke rumah/lingkungan/masyarakat, semakin banyak hal yang mungkin membuat mereka kembali ke pola perilaku mereka yang dulu.
“Stigma yang disematkan masyarakat jadi hantu yang masih bikin anak-anak ini down, Kak.”
Kami tetap melakukan pendampingan anak-anak pasca di Lapas/Rutan/LPKA. Cuma memang belum semuanya. Belum ada SDM yang memadai soalnya, Kak. Kapas tim intinya cuma 4 orang soal, lainnya relawan..

Kakak masuk tim inti?
Masuk tim inti, Kak. Relawan ini kalau nggak beneran cinta sama anak, paling beberapa bulan aja di Kapas. Padahal pendampingan seperti ini kan butuh orang-orang yang konsisten ada buat anak-anak.

Wah, keren. Terus contoh kegiatan pendampingan pasca di Lapas seperti apa Kak?
Setelah pulang, sebenarnya, bukan hanya tugas Kapas mendampingi anak-anak ini. Ada Bapas, pekerja sosial, tokoh agama, tokoh masyarakat, dll yang bisa turun tangan mendampingi anak. Jadi sebenarnya, Kapas tinggal berkoordinasi dengan mereka. Koordinasi ini yang butuh maintenance, Kak. Kapas tidak mau mengambil porsi tugas yang sebenarnya jadi tugas pihak-pihak tersebut. Pendekatan dan komunikasi ke pihak-pihak tersebut lah yang kami persiapkan sebelum anak bebas.


Kakak super sekali. Tentang Relawan, berapa lama sih Kak masa bakti relawan?
Kapas tidak membatasi, Kak. Dua tahun ini agak susah Kak nemuin relawan yang kerjanya karena memang beneran cinta sama anak. Nggak tau ya, ada pergeseran 'cara kerja' di anak-anak mahasiswa sekarang menurutku. Jamannya serba instan. Jadi kurang bisa sabar dengan proses.

Anak muda jaman sekarang gitu ya Kak?
Tidak sedikit yang mundur teratur setelah tahu bahwa jadi relawan di Kapas tidak hanya sekedar seneng-seneng sama anak. Tuntutan belajar, berkreasi, berpikir tidak jarang bikin mereka melambaikan tangan pada kamera. Hahaha

Dengan segala cerita Kakak itu, pasti kan brati nggak mudah jadi bagian dari Kapas, terus apa yang membuat Kakak tetap bertahan di jalan ini, ditengah banyaknya aktifitas lain, dan sebenarnya apa yang pengen Kakak capai?
Mendampingi anak-anak ini tuh bikin ketagihan, Kak. Iyaaa.. Aneh rasanya kalo lama nggak ketemu anak-anak ini, nggak denger cerita mereka, nggak kegiatan sama mereka. Ada yang bikin heran dan ini bikin aku pingin tetep ada buat anak-anak ini. Satu hal lagi, nggak ada psikolog di Lapas/Rutan/LPKA. Ngenes nggak tuh?

Sadar atau tidak ya, beberapa orang relawan itu terkadang "menikmati romantisme" saat melakukan kegiatannya. Entah itu relawan bencana, pendampingan dll yang kadang-kadang membuat mereka sendiri seperti tidak mau pergi dari situ. Parahnya, kadang-kadang mereka seperti menanti-nanti agar ada kejadian supaya mereka bisa terjun.
Iyes.. Setuju.. Romantisme seperti itu yang harus bisa diminimalkan.

Next, apakah ada momen tertentu dimana Kakak tiba-tiba merasa "Saya harus berbuat sesuatu"? Momen seperti apa itu?
Jujur ya. Awal sama Kapas, aku ijek dodol banget. Merasa nggak punya apa-apa untuk bisa dilakukan. Nggak pede sama bekal pengetahuan selama kuliah. Jiper sama relawan-relawan lain yang luar biasa potensinya. Sampai akhirnya beberapa anak ada kecenderungan buat maunya curhat sama aku. Mbak Dian* justru yang menyadarkan, tidak semua orang punya bekal yang cukup untuk konseling anak. Padahal kebutuhan anak buat konseling itu sangat tinggi. Ditambah pas tahu nggak ada psikolog di Lapas/Rutan/LPKA itu tadi. Bikin aku ngerasa, aku harus lebih banyak belajar biar bisa memberi manfaat untuk anak-anak ini.
Anak-anak psikologi banyaaak yang ambil skripsi, penelitian di Lapas/Rutan/LPKA. Tapi setelah tugas kuliah itu selesai, selesai juga mereka memberi manfaat buat anak2. Bahkan nggak jarang yang menjadikan mereka objek saja
“Mumpung Allah masih kasih kesempatan buat aku, bisa bermanfaat di sini. Nggak ada salahnya kupikir untuk berbuat sebaik yang aku mampu dan fokus di sini.”


Kakak benarr. Menurut Kakak, siapa guru/mentor terbaik Kak?
Pengalaman

Next, sebenarnya yang selama ini Kakak lakukan ini, apakah tindakan memberikan untuk orang lain, atau untuk memberikan kepuasan diri?
Pertanyaanmu susah banget Kak. Nggak bisa menilai diri sendiri sih kalau soal itu.
Gimana ya, ada rasa seneng bisa memberi sesuatu untuk orang lain. Tapi ya memang pinginnya memberi sesuatu untuk orang lain. Ada rasa nggak puas kalo nggak ngasih yang terbaik. Gitu lah pokoknya.

Apa psikologi berperan dalam keikutsertaan Kakak di Kapas? Bagaimana perannya??
Di mana pun psikologi pasti berperan lah Kak.
Contoh simpel, dengan belajar psikologi kita jadi bisa paham karakter tiap orang kan. Di Kapas ini sangat bisa dipakai untuk nentuin cara pendekatan kita ke anak-anak kan. Apalagi ini anak dalam kondisi khusus, terutama ABH yang jadi tersangka. 


Keluarga dan teman-teman. Bagaimana peran mereka terhadap apa yang Kakak kerjakan selama ini?
Aku termasuk yang jarang cerita-cerita sama orang rumah, Kak. Kalo nggak ditanya yo nggak crita, hahaha. Cuma mereka nggak ngelarang-ngelarang. Menurutku itu udah sangat mendukungku. Bapak ibu sedikit ngerti 'kerjaanku' di Kapas malah dari koran dulu itu. Sama temen-temen deket yo gitu, kalo nggak ditanya, ya jarang cerita. Beberapa kali ngobrol soal kegiatan di Kapas, lebih banyak karna pingin mereka tau soal anak-anak. Alhamdulillah tanggapan mereka bagus..

Tolong rekomendasikan tiga buku yg menurut Kakak bagus untuk dibaca, dan mengapa Kakak merekomendasikannya?
All time favourite :
To Kill A Mockingbird, by Harper Lee. Belajar empati dan tidak memberi label pada orang lain dari situ.
My Sister's Keeper, by Jodi Picoult. Bikin paham kalo hidup nggak selalu hitam dan putih. Selalu ada alasan dari setiap perbuatan. 
Buku-bukunya Ayu Utami juga bagus. Bikin mikir dan tahu ada sisi lain dari cerita yang banyak ditulis di sejarah Indonesia. Bikin paham bahwa cewek nggak harus selalu lemah lembut dan iya-iya aja terhadap budaya di masyarakat.

Sampai detik ini, Kakak telah melakukan banyak hal baik untuk diri sendiri ataupun orang lain. Adakah hal lain yang sebenarnya ingin dilakukan yang sampai saat ini belum bisa terlaksana?
Pingin sekolah lagi. Hahaha

Dimana Kakak tumbuh?
Lahir dan besar di Solo.

Apa yang membuat Kakak bersedih dan menangis?
Pass pertanyaan kedua, boleh?

Apa yang membuat Kakak bahagia dan tertawa? 
Hahaha. Susah nih... I'm not good at emotions. Banyak soalnya. Bahagia ketika orang-orang sekitar saya bahagia.

Terakhir. Bila diberi kesempatan untuk memberikan warisan, apa yang ingin Kakak wariskan?
A good story to tell, maybe?

* Dian Sasmita : Founder Sahabat Kapas 
** Sumber foto: fb Solidaritas Kapas, dok pribadi
Powered by Blogger.