Ads Top

Tentang Bagaimana Cara Kita Memandang Babat

Dalam sebuah kesempatan, saya pernah diundang untuk sekedar makan-makan di rumah seorang teman. Sebenarnya, tidak ada acara istimewa pada hari itu. Saya hanya diajak main ke rumahnya. Kemudian saya diajak makan sekalian.

Saya masih ingat betul, kala itu tepat beberapa hari setelah hari raya Idul adha. Jadi ketika acara makan-makan tersebut, menunya tak jauh dari aroma daging sapi dan kambing. Kala itu, kami semua makan secara prasmanan, dengan duduk lesehan menggelar tikar di sebuah ruang tempat di mana keluarganya menonton televisi.

Ada berbagai macam lauk dari hasil olahan, baik dari daging maupun jeroan, seperti: rendang, tongseng, gulai kambing, dan babat goreng, yang disediakan oleh keluarga teman saya. "Coba, sampeyan mampir kesininya kemarin Mas, di sini kemarin pada bikin sate" kata istri teman saya sambil mempersiapkan sendok dan piring.

Karena sebelumnya saya sudah mblenger sama daging, saya hanya mengambil gulai kambing dan babat goreng sebagai lauknya. Bahkan teman saya sampai bertanya, "Nggak seneng daging po Kik?".
"Wes mblenger aku, Mas" 
Jawab saya, sambil menikmati gulai dan babat goreng hasil masakan kolaborasi dari istri dan mertuanya. 

Saya sangat menikmati betul masakan dari jeroan itu. Baik gulai kambingnya, maupun babat gorengnya. 

Siapapun pasti tahu, apa babat itu. Iya, babat merupakan salah satu organ dalam perut sapi maupun kambing. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah anduk. Karena teksturnya yang mirip dengan handuk untuk mengusap badan setelah mandi. Dan di situlah tempat menyimpan segala kotoran.

Mungkin ada yang merasa jijik dengan babat, namun ada juga yang begitu menyukainya. Tak peduli bahwa sebelumnya adalah tempat menyimpan kotoran.

Sejak saya mulai aktif membantu dalam panitia kurban. Saya selalu mendapat jobdesc untuk membersihkan lambung. Kami sering menyebutnya dengan istilah blondot. Dan selama terlibat dalam membantu panitia korban, saya hanya absen satu kali, karena kala itu saya harus takziah ke Karanganyar, yaitu ke tempat alm Pak No.

Idul adha kemarin, saya juga terlibat dalam urusan membersihkan blondot. Karena ada dua blondot sapi, dan empat blondot kambing, tentu tidak mungkin saya cuci seorang diri. 

Pekerjaan membersihkan blondot biasanya di sungai, dan airnya harus dalam kondisi terus mengalir. Jadi segala kotoran tersebut bisa hanyut bersama aliran sungai. Meski terkadang, ada beberapa potongan usus yang ikut hanyut, atau sengaja dihanyutkan karena kami kesulitan untuk membersihkannya.

Pekerjaan membersihkan blondot dalam kurban kemarin menjadi lebih ringan, karena ada seseorang yang akan memanfaatkan kotoran-kotoran tersebut sebagai pupuk organik. Dan saya melihat sendiri, tanpa memakai kaos tangan, ia tanpa jijik berusaha merogoh dan mengeluarkan segala kotoran itu, kemudian ditampung dalam sebuah drum berukuran besar. Jangan tanya baunya seperti apa, sudah pasti yang namanya kotoran itu sangat bau.

Ketika kotoran sudah dikeluarkan oleh orang tersebut, saya dan beberapa orang lainnya mengangkut blondot-blondot itu ke sungai untuk dibersihkan.

Tidak ada satupun yang merasa jijik, bahkan kami bisa gojekan ketika membersihkan blondot-blondot itu. Meski sesekali kami harus menahan nafas karena aroma yang tak sedap. Tak jarang karena kesulitan dibersihkan, kami sengaja menghanyutkannya ke sungai. Dan waktu ada yang nanya, "Lho ngopo kui kok enek sik keli?" Keli adalah bahasa jawa, yang berarti hanyut bersama aliran sungai. "Anu kok Pak Dhe, mau malah keli kok" jawab kami dengan nada cengengesan.

Pekerjaan membersihkan blondot selesai menjelang dhuhur. Setelah mengantar blondot-blondot yang sudah bersih ke tempat panitia kurban agar segera bisa dibagi. Saya segera membersihkan diri dan sholat dhuhur, karena bisa dibilang sudah purna tugas saya. Untuk mentralisir kembali indera penciuman saya, biasanya saya minum kopi setelah melakukan pekerjaan kotor itu. Dan baru setelah selesai sholat dhuhur, saya makan siang bersama dengan panitia kurban lainnya. 

Saya dan teman-teman yang memiliki jobdesc membersihkan blondot, tetap lahap saat makan siang. Padahal beberapa jam yang lalu, kami semua bergulat dengan blondot-blondot untuk membersihkan jeroan dari segala kotoran. Namun saat makan siang, kami seakan lupa telah melakukan perkerjaan kotor itu.
***

Sesaat setelah makan bersama keluarga teman saya tersebut. Saya sempat berpikir, tentang bagaimana cara kita pecinta babat, memandang babat dan jeroan yang sebelumnya adalah tempat menyimpan segala kotoran. Babat di dalam gulai, dan babat goreng yang berada di piring. Kini bukan lagi babat yang kotor. Babat-babat itu kini sudah berproses dan menjadi lauk untuk pendamping sepiring nasi. Tentu sudah tidak diidentikan lagi dengan kotoran. 

Artinya kita bisa fokus memandang babat sebagai lauk. Meski sebelumnya ia adalah identik dengan kotoran. Padahal siapa yang tidak jijik dengan yang namanya kotoran. Dan lambung hewan atau blondot adalah tempat untuk menyimpan kotoran-kotoran yang tentu bau dan menjijikan.

Mengapa kita bisa dengan lahap memakan babat dan jeroan, tanpa peduli lagi bahwa sebelumnya adalah tempat segala kotoran? Tentu hal ini karena kita percaya, bahwa babat dan jeroan itu telah berproses. Dari mulai pembersihan oleh panitia kurban sebelum dibagikan. Kemudian ketika sampai di tangan kita, masih dibersihkan lagi sebelum direbus dengan air yang sudah diberi bumbu. Baru dimasak untuk dijadikan lauk sebagai pendamping nasi.

Atau bisa jadi, manusia adalah salah satu makhluk yang nggragas. Apa saja dimakan oleh manusia, jangankan babat, uang bukan haknya saja bisa di-embat

Dan yang menjadi pertanyaan, ketika kita bisa melihat babat sebagai lauk yang lezat, tanpa peduli dengan hal-hal yang menjijikan yang melekat pada babat sebelum menjadi lauk. Bisakah kita memandang manusia sebagaimana kita penikmat babat, memandang babat dalam kuah gulai, serta babat goreng saat menemani sepiring nasi?
Powered by Blogger.