Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Mendidik dengan Kambing

Friday, December 2, 2016
gambar ilustrasi

Belajar Mencintai Kambing. Adalah buku kumpulan cerpen pertama karya Mahfud Ikhwan. Iya, Mahfud Ikhwan penulis novel "Kambing dan Hujan" yang berhasil memenangkan sayembara menulis novel yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta, pada tahun 2014 lalu. Kebetulan saya juga sudah melahap habis novel tersebut. Dan benar-benar sebuah kisah roman yang menarik antara seorang nahdliyin dan pemuda muhammadiyah.

Buku kumpulan cerpen "Belajar Mencintai Kambing" ini saya dapatkan, ketika salah satu tulisan saya, yaitu tentang salah satu ikon kuliner Boyolali; Soto Segeer Mbok Giyem, dimuat di situsweb minumkopi.com. 

Sebenarnya, ada beberapa pilihan terbitan buku mojok yang bisa saya dapatkan. Namun, saya lebih tertarik dengan buku kumpulan cerpen pertama dari Mahfud Ikhwan itu. 

Buku kumpulan cerpen tersebut saya terima satu minggu setelah tulisan saya dimuat. Tentu beserta uang ngopi sebagai honor atas dimuatnya tulisan saya tersebut. Kebetulan buku tersebut dikirim ke alamat kantor saya. Setelah menerima buku tersebut, tidak sabar saya untuk segera membacanya.

Ada beberapa cerpen dalam buku tersebut. Dan semuanya terbagi menjadi 3 bab, atau bagian. Yaitu bagian pertama yang ia beri nama dengan "Belajar". Bagian kedua dan ketiga, ia beri nama: "Mencintai" dan "Kambing"

Dari semua cerpen yang ada dalam buku tersebut. Cerpen yang berjudul sama dengan judul buku kumpulan cerpen tersebut yang paling saya sukai, yaitu "Belajar Mencintai Kambing"

Cerpen yang berjudul "Belajar Mencintai Kambing" bercerita tentang seorang anak kecil yang merengek kepada ayahnya agar dibelikan sepeda. Namun, bukan sepeda yang diberikan oleh ayahnya. Tapi seekor kambing. Sebagaimana seorang anak kecil yang tidak dituruti keinginannya, ia merengek dan merasa bapaknya tidak menyayanginya. Bahkan sempat mempertanyakan apakah dia anak kandungnya atau bukan.

Meski awalnya si anak sangat membenci kambing tersebut. Karena dengan adanya kambing tersebut, itu artinya waktu bermainnya akan sedikit tersita karena harus mengurusi kambing pemberiaan ayahnya. Perlahan tapi pasti, si anak mulai belajar mencintai kambing. Dan belajar bertanggung jawab terhadap kambing miliknya. Karena alasan tanggung jawab itulah kenapa sang ayah membelikan kambing. Karena ia sedang mendidik anaknya agar lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, si anak bisa menikmati perannya sebagai pengembala kambing. Mengembala kambing tak ubah seperti halnya dengan bermain. Ia hanya mencari tanah lapang yang penuh dengan rumput. Menali kuat-kuat kambing dengan tali panjang. Sambil menunggu kambingnya kenyang ia bisa bermain apapun di sekitar tanah lapang tersebut. Kemudian, sebelum pulang ia mencari rumput sebagai makanan cadangan kambing di kandang. 

Di saat ia sudah bisa mencintai kambing, musibah menimpa ayahnya. Dan kambing pun dijual oleh ayahnya. Si anak benar-benar merasa kehilangan. 

Untuk lebih jelasnya, saya persilakan untuk membaca sendiri cerpennya. Hehehe
***

Membaca cerpen "Belajar Mencintai Kambing" saya jadi teringat dengan sesuatu yang dilakukan oleh Om saya kepada diri saya. Tentang bagaimana beliau mengajari saya, agar lebih bertanggung jawab.

Jika dalam cerpen tersebut, si anak dididik untuk bertanggung jawab dengan cara membelikannya seekor kambing. Maka yang dilakukan oleh Om saya adalah membelikan sepeda motor baru, kemudian saya yang membayar angsuran setiap bulannya.

Hal itu dilakukan oleh Om saya, karena ketika sudah mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Ada perubahan besar pada diri saya. Terutama dalam hal membelanjakan uang. Saya seperti sedang melakukan balas dendam. Dulu semasa kuliah saya berhasil mengekang segala keinginan saya. Namun, hal itu tidak berlaku ketika saya sudah memiliki penghasilan sendiri.

Melihat gelagat saya yang seperti itu. Saya kemudian diajak berbicara empat mata oleh Om saya. Pembicaran satu arah dimana Om saya lebih mendominasi tersebut, tidak lain sedang menasehati saya. "Saya tidak minta uang kamu, itu uang kamu, tapi kamu harus bertanggung jawab terhadap pengeluaranmu" katanya dengan nada lirih.

Dari hasil pembicaraan tersebut, akhirnya kami sepakat bahwa saya harus membeli motor baru. Awalnya saya tidak merasa pengen untuk membeli motor. Karena bagi saya, motor suzuki shogun 125 yang menemani saya dari SMA hingga lulus kuliah, masih sangat layak. Namun, setelah bingung mau membeli motor apa. Tidak tahu kenapa, pilihan saya jatuh pada motor matic scoopy. 

Awalnya saya mau membeli motor tersebut dengan cara kredit. Namun, entah karena takut hukum riba, atau selisih harga cash dan kredit terlalu tinggi. Akhirnya motor dibeli secara cash. Dan saya akan menyicilnya setiap bulan, sehabis gajian. Tentu kredit ini tanpa ada tanggal jatuh tempo. Bahkan kalau tidak dicicil pun bukan sebuah masalah.

Tapi, dari motor itulah saya menjadi lebih bertanggung jawab. Meski awal-awalnya berat bagi saya. Mengingat saya belum bisa menyesuaikan dengan pengeluaran saya setiap bulannya. Pelan-pelan saya bisa mengatur keuangan saya. Karena memiliki tanggungan angsuran, saya yang sebelumnya hampir setiap bulan menyempatkan diri untuk nge-mall dan berbelanja baju. Kini mulai menggunakan skala prioritas, dan membedakan mana kebutuhan dan mana hanya sekedar keinginan.

Bisa disimpulkan, bahwa memberikan tanggungan angsuran adalah salah satu cara untuk mendidik saya lebih bertanggung jawab dengan keuangan saya sendiri. Yaitu tentang bagaimana mengatur pengeluaran. Kemudian mengontrol diri saya agar membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan, bukan hanya sekedar keinginan.



*Disclaimer penulis; tulisan ini pernah dipublikasikan di blog pribadi penulis, yaitu blogriki.com dengan judul yang sama