Ads Top

Menjiwai Tuhan 4: Derita

Tulisan Menjiwai Tuhan ini, seperti biasa akan mengupas pengalaman saya menemukan Tuhan. Jadi banyak sudut pandang subjektif dan kata-kata yang mungkin sulit dimengerti. Seperti tulisan saya sebelum-sebelumnya lebih didominasi logika dan perasaan kacau dan meledak-ledak. Saya sekarang sedang belajar bagaimana menulis dengan imbang antara logika dan perasaan. Setiap menulis saya harus berpikir bagaimana menyampaikan sekaligus bagaimana pembaca nanti akan menerima.

Kali ini artikel Menjiwai Tuhan mengambil judul derita. Saya kira pembaca sudah sangat paham makna teoretis dan aplikatif kata itu. Sebab kita selalu merasakan derita entah kita sadari atau tidak. Derita sejauh yang saya ketahui memiliki elemen semacam pengorbanan, persembahan, siksaan, kesulitan, luka, tantangan dan sebagainya. Siapa saja yang mendengar kata ‘derita’ pasti langsung siaga.

Apalagi melihat dan merasakannya.

Saya, mungkin juga kita, cenderung menjauh dari derita. Buat saya derita itu tidak perlu ada. Seperti kata Sheila On 7 dalam lagu Berhenti Berharap: Mengapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan. Mengapa ada gelap apabila cahaya menenteramkan? Bukankah setiap manusia butuh ketenteraman. Mengapa tidak segala di dunia ini diciptakan bercahaya saja, putih saja. Rasa kerinduan kepada sesuatu yang sempurna selalu menagih dalam keadaan apapun.

Rasa rindu itu yang mendorong kita mencari dan terus mencari. Mencari sesuatu yang tidak mesti sekali cari lalu dapat. Kita mencari satu sifat yang mampu melengkapi diri kita: sifat sempurna. Sifat adalah sesuatu yang esensial, jadi ia tidak bisa kita indra dengan panca indra saja. Sesuatu seperti ini memerlukan perjuangan dan ‘alat’ yang terus diasah. Alat yang memiliki kemampuan menyerap dan memancarkan sesuatu.

Ya, alat itu (lagi-lagi) adalah hati.

Saya ingin menyuguhkan sedikit cerita. Cerita seorang teman yang mengeluh karena terkejut dengan hidupnya sekarang. Setelah berumahtangga teman saya mengalami pergeseran hidup cukup drastis. Semula apa-apa dipenuhi orang tua, tahu-tahu harus memenuhi sendiri kebutuhannya. Ia yang masalahnya sering dilindungi orang tua, kali ini harus memecahkannya sendiri bersama pasangan. Namun ternyata yang ia temukan adalah pasangan tidak mampu selalu membantunya.

Derita ia rasakan begitu dahsyat dan memancing derai air mata. Seolah-olah tidak ada neraka yang lebih menyiksa. Ia begitu terbelalak dengan hidup yang dijalaninya. Beberapa kali ia mengeluh ingin mati dan menyingkir dari dunia ini. Tindakannya bahkan sampai menyakiti diri sendiri. ia bertanya pada saya bagaimana harus menghadapi kenyataan pahit itu. Saya tidak bisa menjawab. Meskipun saya paksa menasihati, hati saya sebenarnya merasakan kekeringan yang sama.

Saya terus merenungi derita yang saya alami, hingga akhirnya mentok.

Saya merasa hidup ini semakin tidak lengkap. Awalnya saya kira rasa incomplete itu akibat belum menemukan pasangan. Menganggap bahwa hidup ini akan lengkap apabila ada seseorang di samping saya. Logika itu terus saya percaya sampai tidak mau tahu dunia telah berubah. Meski pun pikiran saya sudah mengingat satu teori derita dalam buku Falsafah Hidup karangan Buya Hamka, logika saya berontak karena tidak sanggup menalar tentang derita.

Logika berkata: untuk apa menderita, kenikmatan saja banyak di luar sana.

Pemikiran itu terus saya percaya selama dua tahun ini. Saya terus mencari obat derita dengan keenakan demi keenakan. Anehnya keenakan-keenakan itu bukannya mengobati tapi membuat saya semakin menderita. Aneh sekali, Mengapa keenakan begitu banyak namun jiwa saya serasa hampa. Saya mendapatkan lebih daripada yang saya butuhkan, tapi mengapa tidak juga tumbuh rasa cukup. Harusnya, bila ada kemudahan hati saya bersyukur dan merasa lapang. Tapi mengapa malah kelapangan membuat saya semakin merasa sempit?

Jawabannya: derita yang saya alami belum cukup.

Jiwa saya menagih sesuatu yang menguji ketahanannya, kekuatannya. Jiwa saya ingin sesuatu yang menantang dan memenuhi rasa rindu akan derita. Saya mulai memahami bahwa derita dan sukacita itu saling menopang satu sama lain. Keduanya berhubungan dengan cara yang tidak mampu dinalar oleh logika. Meskipun masih banyak pertahanan-pertahanan diri menolak ‘logika’ baru itu masuk dalam pikiran saya.

Beberapa waktu saya sadar masalahnya apa: egois mengejar sukacita semata. Egoisme itu membuat adrenalin saya tidak terpacu. Hormon yang memicu kebahagiaan tidak terangsang karena tidak ada sesuatu yang saya lakukan untuk menantang batas. Saya butuh pertempuran, saya butuh sesuatu yang menyita energi dalam diri saya. Saya butuh sesuatu yang menyiksa. Saya butuh merasa hidup dan berkembang. Saya butuh merasa puas dengan diri saya.

Dan akhirnya saya mulai paham apa yang dikatakan Hamka: derita itu perlu.

Pernahkah kita bertanya mengapa seseorang menyakiti diri sendiri ketika depresi? Mengapa seseorang membunuh dirinya sendiri ketika merasa muak dengan beban hidup? Bagaimana seseorang yang menderita dan sengsara malah menambah rasa pedih dengan menyakiti diri sendiri. Bunuh diri, makna sebenarnya ada pada rasa sakit di badan yang akan menyembuhkan rasa sakit di dalam. Motivasi bawah sadarnya adalah meniadakan rasa sakit dengan rasa sakit.

Soal ini mungkin sulit diterima, karena kita terbiasa mengartikan bunuh diri dengan mengakhiri penderitaan. Pemahaman itu tidak benar menurut saya. Menolak derita akan membuat adrenalin kita tertahan dan menggelitiki alam bawah sadar. Bawah sadar akan menagih derita karena energi tidak tersalurkan. Pikiran bawah sadar selalu menyuruh kita untuk melakukan sesuatu demi memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan itu salah satunya mungkin rasa sakit dan derita.

Nalar saja, sesuatu yang terawat adalah yang kita olah dan gunakan sesuai kemampuan. Seperti tubuh dan jiwa ada olahnya sendiri-sendiri. Olah raga menyehatkan badan karena kita mengalami gerakan yang memicu otot-otot terbiasa dengan tekanan. Olah jiwa adalah tindakan-tindakan berupa ritual yang melibatkan rasa dan hati. Olah rasa dilakukan dengan memahamkan diri pada sesuatu yang tidak dapat kita indra dengan panca indra. Menajamkan kemampuan mengindra dengan hati dengan menyerap esensi dari suatu materi.

Derita adalah sesuatu yang membuat pemimpin itu layak memimpin. Orang-orang besar yang kita kenal mungkin sangat mengerti makna derita. Salah satunya Muhammad yang meskipun sudah dijamin surga beliau masih sering menangis dalam sholatnya. Beliau bahkan mau menunggui seekor kucing bangun dari pangkuannya ketika seorang sahabat memanggil. Sampai akhir hayatnya, Muhammad masih memanggil-manggil: ummatku, ummatku. Beliau masih memikirkan derita umatnya ketika diri sendiri sedang menderita.

Kasih sayang macam apa itu.

Selain Muhammad saya mengenal kisah Sang Buddha yang merelakan hidup bangsawannya demi memahami penderitaan. Ia bertapa di bukit pertapaan, menyiksa diri, berpuasa, dan mengalami segala macam penyiksaan lain. Siddharta, yang kelak diberi gelar Sang Buddha ingin memahami bagaimana sesungguhnya penderitaan itu. Akhirnya ia mendapatkan pencerahan ketika melihat salah satu muridnya rela mati demi dimakan seekor harimau. Nama Sang Buddha yang melekat hingga sekarang bermakna Yang Tercerahkan.

Penderitaan dan sukacita hanyalah ilusi yang menyelimuti pikiran dan menutup hati.

Derita hanyalah satu bagian yang membentuk dunia ini. Tidak mungkin ada sukacita tanpa derita, tidak mungkin ada kenikmatan tanpa pengorbanan. Kita harus jujur pada diri bahwa derita tidak bisa kita hindari. Kita harus jujur derita dalam hidup perlu kita alami. Dengan begitu, senyuman kita akan terasa lebih berarti. Rasa syukur akan lebih terasa ketika tumbuh di tengah berbagai keterbatasan. Mungkin itulah alasan mengapa derita perlu ada di dunia ini. Seperti kegelapan yang menuntun kita menuju cahaya.

Segala hal baik akan lebih bermakna ketika teruji dengan kesulitan dan rasa sakit.

Menghindari kesulitan, khususnya derita akan membuat kita lupa pada banyak hal penting. Menghindari sesuatu yang memang sudah jadi kebutuhan hanya akan menumbuhkan rasa hampa. Ini membuktikan kebutuhan bukanlah tentang enak semata. Kenikmatan dari Tuhan ada yang berupa derita, ada yang berwujud sukacita. Bila kita mau sedikit berpikir keduanya tidak mungkin dipisahkan dari realita alam semesta.

Kita tidak pernah mendapatkan cerita seseorang meraih rasa enak, rasa longgar dengan cara enak dan longgar pula. Segala perubahan yang ada di dunia ini membutuhkan perjuangan. Tuhan membuat alam semesta ini pun dengan ‘penderitaan’. Ledakan, kehancuran, tumbukan terjadi ketika Tuhan mengadakan alam semesta ini. Tentu penderitaan, yang berwujud tumbukan energi-energi raksasa dalam penciptaan itu hanya dalam kacamata manusia. Di mata Tuhan alam semesta ini tercipta dengan begitu saja.

Pada akhirnya kita menyadari, tidak ada yang muncul begitu saja di alam semesta ini.
Dibutuhkan derita untuk mencapai sukacita, dibutuhkan sukacita untuk melipur derita. Manusia menderita karena menghindari derita. Semakin menghindari semakin hampa. Derita adalah keniscayaan yang harus kita terima, biarkan begitu adanya seperti kematian. Derita selalu mengikuti ke mana pun kita pergi, begitu pula dengan sukacita. Kita saja yang kadang tidak mau tahu dan menyadarinya.

Derita adalah bagian dari iman. Jihad atau perjuangan itu erat kerabat dengan derita. Tidak ada kemenangan dicapai dengan leha-leha. Rasa sakit dan kesepian semua bagian dari derita yang perlu. Derita yang membuat perjalanan menjadi istimewa. Seseorang bisa saja kalah dalam suatu pertandingan namun deritanya tidak pernah sia-sia. Apa yang ia dapatkan dari derita jauh lebih penting dari penghargaan akan kemenangan.

Bermain logika bisa saja menyesatkan, namun sekarang orang paham melalui logika. Logika bahwa derita itu penting bisa jadi tumpuan saat mulai timbul niat untuk menyerah. Kita mengubah mindset diri kita sendiri untuk mau menderita. Memahami derita secara nalar akan memudahkan kita berpikir jernih saat ditimpa musibah. Lalu ketika bangkit hati kita pun telah diperbarui. Diperbarui oleh sifat sempurnya yang kita cari. Sifat sempurna pada Diri yang sering kita panggil: Tuhan.


Powered by Blogger.