Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Nasib Sarjana Psikologi

Saturday, January 28, 2017
Nasib Sarjana Psikologi
Foto Memory Saat Wisuda

"Kuliah di psikologi, kalau lulus, nanti kerja jadi apa?"

Pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang yang sebenarnya memiliki minat untuk melanjutkan kuliah di jurusan psikologi. Atau orang-orang yang ingin tahu kehidupan selanjutnya orang yang kuliah di jurusan psikologi setelah lulus kuliah. Bagaimana nasib sarjana psikologi? Bergunakah atau hanya akan menjadi sampah di masyarakat?

Sebagai seorang yang dulu pernah kuliah di psikologi, saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Tentu dari apa yang saya lihat dari teman-teman saya sendiri.

Ada yang langsung menikah. Wes ngampet pingin nikah disabar-sabarkan menunggu sampai lulus dulu. Ada!

Ada teman yang kerja di perusahaan milik BUMN, Abdi negera, atau PNS, dan ada juga yang bekerja dan memulai karir di perusahaan swasta. Dan lulusan psikologi biasanya bekerja menjadi buruh di balik meja, seperti HRD.

Ada yang di lembaga sosial. Ada yang di sekolah menjadi pengajar. Ada yang di rumah sakit. Ada juga yang bekerja di biro psikologi.

Ada yang kuliah lagi, lalu menjadi dosen. Hmm...  di kampus lamanya.

Yang lebih membanggakan sebenarnya, adalah mereka yang lulus lalu membangun usaha dengan segala pengalaman kebangkrutannya.

Kenapa membanggakan? Ya, susah lho membangun usaha itu. Harus melewati jatuh bangun. Kere. Utangnya banyak. Tapi istiqomah tetap berusaha. Okey lah klo yang bagian ini saya sedang curhat, hehehe

Dan membangun usaha itu artinya, berani untuk hidup mandiri. Tidak tergantung kepada loker-loker.
Padahal jumlah loker tidak berbanding lurus dengan jumlah lulusan psikologi.

Maka, aneh rasanya kalau di grup alumni, seorang alumni tidak diijinkan berbagi usahanya. Malah yang dibolehkan hanya berbagi loker-loker.

Sama lho. Tahu teman kita memiliki usaha lalu pendapatan teman kita itu bertambah dengan membantu teman mendapatkan pekerjaan.

Haha. Dasar racun mindset. Tapi terserah lah.

Yang belum saya tahu, apakah ada teman-teman yang menjadi petani atau nelayan. Profesi yang sunggguh mulia di Indonesia. Tapi banyak dijauhi bahkan oleh sarjana pertanian dan perikanan sendiri.

Kenapa mulia? Karena tanah air kita sangat mendukung untuk pertanian dan perikanan. Negara agraris dan maritim. Dulu katanya.

"Tanah kita tanah surga" kata koes plus. Anugerah besar dari Tuhan yang makin kita sia-siakan.
Nah, kalau saya sendiri saat ini. Iya. Saya kerja sebagai karyawan swasta. Buruh di pabrik. Alhamdulillah masih dekat dengan rumah juga, meski sebelumnya bekerja di Sayung, Demak.

Mendapatkan pekerjaan bisa mudah, bisa juga susah. Itu nasib! Tidak memandang IPK dan almamater mana.

Kalau ada yang bertanya, "Kuliah di UNS, nanti mencari kerja mudah ya?"
Saya jawab, "Jare sopo? Di kampus sefavorit apapun. Di sana pasti ada yang nggak pintar-pintar amat, malas-malasan, mbolosan dan ada yang cantik-cantik juga"

Kalau cepat tidaknya mendapatkan pekerjaan itu nasib-nasiban. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang itu akhirnya mencapai posisi yang ideal bagi dirinya nantinya. Bisa panjang ini kalau mau dijelaskan. Hehe

Rumus cepatnya saja. Kalau engkau menginginkan sesuatu. Maka, bersungguh-sungguhlah. Bisa jadi apa yang kamu inginkan tidak pernah kamu capai. Atau kamu capai tapi sebentar saja.  Lalu kamu melanjutkan perjalanan. Dan di suatu posisi, kamu merasakan kenyamanan yang sreg. Presisi.

Apa ya bahasanya yang pas? "Inih lho!" , "euuuuuuh", ya begitulah.

Intinya. Yang dilihat oleh-Nya adalah kesungguhanmu. Maka, Dia akan memperjalankan dengan cara-caraNya untuk sampai kepada yang paling pas untuk dirimu.

Mungkin cukup seperti itu, dari pijakan yang saya tahu saat ini.

Loh, teman-teman yang jadi penulis kok tidak dicantumkan?
Saya kira yang seperti ustad tidak bisa dikategorikan sebagai profesi