Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Mencari Bidadari

Monday, February 20, 2017

Semuanya itu tidak akan menjadi suatu kekecewaan, jika sejak semula hati dan pikiran Anda telah menyadari bahwa perkawinan Anda di dunia, adalah dengan manusia dan, sekali lagi, manusia.
(KH. Nasaruddin Latif)

Mengingat tahun 2016, kalau tidak salah saya mulai bergabung di lobimesen.com. Riki, salah satu founder web berkhas psikologi ini memberikan arahan bagaimana untuk bergabung. Awalnya mereka membuka open recruitment kontributor, lalu setelah menimbang-nimbang akhirnya saya bergabung. Kalimat yang meluluhkan hati saya waktu itu adalah, “Kami sangat berharap agar Mas Wildan bergabung di lobimesen.com.”

Tidak lama kemudian, tulisan-tulisan saya membasahi beranda web berlogo burung hantu itu. Tulisan pertama saya adalah tentang Bu RT yang tinggal di sebelah (mantan) kos. Rasanya senang tulisan saya bisa diterima dalam salah satu ‘rumah’ di jagad maya. Setidaknya situs itu berada di dunia maya yang penikmatnya di seluruh dunia. Begitu pikir saya, yang membuat begitu semangat menulis setelahnya.

Sayangnya, tulisan-tulisan saya kebanyakan curhatan dan refleksi kebingungan. Tulisan curhatan muncul ketika saya butuh didengarkan. Tensi saya meninggi dan butuh pelepasan energi. Inti dari curhatan itu pun sama: kegagalan cinta dan keluarga. Rasanya dua hal itu jadi kambing hitam saya untuk lari dari kelemahan. Kelemahan saya yang sangat tergantung pada kehadiran perempuan. Setelah lulus, kehampaan karena tidak ada sosok perempuan itu begitu menyiksa.

Sekira beberapa bulan menulis banyak di lobimesen.com, saya mulai mengisi blog catatanwildanmuhammad. Isi dari blog ini ingin saya bikin se-absorbtif mungkin terhadap perasaan dan pikiran saya. Apa saja yang ada di kepala dan hati saya curahkan tanpa tedeng aling-aling. Saya misuh-misuh dalam rangkaian kata yang panjang. Intinya sama, saya mencari tempat untuk didengarkan. Ingin diakui terhadap masalah-masalah yang sedang saya hadapi.

Ingin didengarkan adalah sisi egois diri saya yang masih menagih haknya. Sisi egois yang muncul akibat kurangnya kegiatan. Energi saya berkumpul dan menjadi semacam api unggun. Api unggun yang bisa menghangatkan namun apabila mendapatkan minyak tanah berupa ejekan, akan meluap membakar. Pikiran saya adalah minyak tanah yang tidak pernah habis. Selalu saja ada ide untuk berpikiran buruk terhadap diri saya sendiri.

Membuat saya merasa terhina setiap saat.

Pikiran saya yang terlanjur bermuatan negatif itu sungguh sulit diajak kompromi. Jadi serba salah terhadap diri saya sendiri (dan saya kira orang lain pun begitu terhadap saya). Mindblock (benteng pikiran) dalam kepala saya menguat dan terus menguat. Hingga saya berusaha melemahkan benteng itu setelah bertemu seorang wanita. Wanita yang membuka pikiran saya dengan sikap tegasnya. Kegagalan pertama (semoga tidak ada yang kedua) setelah melewati masa depresi dari kegagalan sebelumnya.

Lalu kurang lebih 9 bulan, hati saya coba buka kembali.

Banyak yang saya sadari tentang diri saya. Apa yang dulu sudah saya maklumi namun berubah saya benci, kini coba saya maklumi kembali. Sejarah masa lalu orang tua, sikap saudara-saudara, dan keadaan tidak ada teman yang mampu mengerti. Lalu ada perubahan-perubahan baru saya maklumi. Seperti kesibukan teman-teman, pemikiran sahabat-sahabat yang berbeda-beda, juga khilaf orang lain. Memaklumi itu butuh merelakan semua pemikiran bahwa diri saya ini tidak berhak terluka.

Saya sedang sakit, begitu keyakinan di benak.

Perlahan-lahan irrational believe itu saya sangkal. Alasan-alasan yang membuat saya berpikir ‘sakit’ harus dibuang jauh-jauh. Itu benar-benar merusak tubuh dan jiwa saya. Apakah mengubah keyakinan itu mudah? Tidak, sungguh tidak. Saya harus berperang setiap saat dengan ego yang ingin mempertahankan keyakinan itu. Alam bawah sadar saya rogoh hingga keluar tangis beberapa kali. Membuang semua pikiran yang berusaha membela gengsi.

Usaha saya itu jelas sulit bagi orang lain untuk mengerti, apalagi mengapresiasi.

Saya jadi sangat haus untuk dimengerti, didengarkan, juga diapresiasi. Saya ingin dalam tulisan-tulisan saya itu dibaca, didengar dan diapresiasi pembaca semuanya. Saya semacam pengemis yang mengharap sangat uluran iba dari pembaca lobimesen.com. Saya memaklumi diri yang sangat haus akan pengakuan. Pembelaan diri saya adalah, rasa tidak memiliki orang tua yang lahir dari berbagai macam kejadian. Pembenaran itu saya sikapi dengan meminta uluran kasihan, bukan mandiri dan menghadapinya.

Apresiasi dan ingin didengarkan itu bercampur aduk dalam satu tulisan. Membuat beberapa tulisan saya ambigu dan tidak konstan. Ritme bahasa yang tiba-tiba mengeras dan saklek. Membuat semacam pemaksaan untuk mengiyakan pendapat dan pemikiran saya. Apalagi di kolom lobimesen.com yang memiliki ciri khas psikologi, membuat saya merasa bersalah. Citra lobimesen.com mungkin jadi ambigu sehingga membuat pembaca berpikir: ini web atau buku curhat sih.

Mencari Bidadari

Apa hubungan fakta di atas dengan mencari bidadari?

Setelah mencoba menyehatkan isi pikiran, kesadaran (awareness) saya meningkat. Perilaku-perilaku maladaptif saya terungkap ke permukaan kesadaran. Kejadian-kejadian buruk yang membuat saya menutup diri mulai termaklumi. Pikiran saya tidak seegois dulu dalam mencari pasangan. Dulu saya begitu kaku dan sulit menerima kenyataan bahwa, pasangan juga punya masalah hidup. Pasangan juga punya hal yang ia perangi, perjuangkan mati-matian.

Pasangan juga manusia yang memiliki celah di mana ia tidak mampu lagi bertahan.

Hentilah saya mencari bidadari. Bidadari yang sifatnya melebihi manusia biasa. Mampu mendampingi seorang ‘dewa’ seperti saya. Ya, saya sadar diri saya bukan dzat melebihi manusia. Sebelumnya saya pahami diri saya seperti itu. Paham bahwa diri saya ini lebih dari manusia lain. Kalau kata seorang dosen yang saya panuti: itu dari ilmu psikologi. Akal saya mengiyakan, karena dalam mendampingi seorang klien dibutuhkan kepercayaan diri.

Kepercayaan diri yang terlampau tinggi membuat saya lupa diri.

Bidadari, bukan tentang salah satu mahkluk khayalan seperti perempuan. Ia mahkluk yang, dalam kepala saya, mampu mewujudkan semua harapan atau ego saya. Itulah yang membuat saya mungkin dipandang tinggi dalam menentukan standar. Secara tidak sadar saya sombong dan menganggap orang lain tidak lebih mengerti. Wajar kalau akhirnya saya gagal lagi mencari pendamping hati. Mana ada orang siap berpasangan maunya dimengerti tanpa mau untuk mengerti.

Lupa jati diri sebagai manusia yang butuh orang lain.

Sepenggal kalimat KH. Nasaruddin Latif di awal tulisan ini menghancurkan ego saya seperti gempuran meriam. Bidadari semacam yang saya harapkan tidak pernah ada. Memang ada seseorang yang dengan kerelaannya, menolong saya dari keputusasaan. Dia sudah banyak mengorbankan waktu dan tenaga buat saya. Namun ia tetaplah bukan bidadari yang mampu terus-menerus menahan egonya untuk mengerti saya.

Khilaf memang lebih mudah terjadi daripada insaf (sadar).

Kadang tanpa sadar kita telah khilaf, dan meyakini sesuatu yang jauh sekali dari kebenaran. Kita memandang sesuatu buruk padahal bisa jadi ia amat baik bagi kita. Kita memandang sesuatu baik, padahal sangat buruk bagi kita. Pikiran kita menganggap apa yang kita sukai itu baik, lalu yang tidak kita sukai buruk. Batasan subjektif itu yang kita perangi setiap hari. Upaya yang harus dilakukan terus menerus agar kita sadar diri.

Akhirnya, untuk menutup tulisan ini saya minta maaf.


Kepada Johan dan Riki sebagai founder lobimesen.com. Lantaran keegoisan saya web ini mungkin pernah dinilai ‘aneh’. Kepada para pembaca yang terpaksa menahan eneg karena tulisan amburadul saya. Juga para kontributor lobimesen.com yang mungkin merasa jengah dengan arogansi saya. Terima kasih telah menerima tulisan-tulisan jelek yang saya buat. Saya tidak mungkin tetap di sini bila tanpa kalian, tanpa lobimesen.com.