Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Miskin: Lupa Jati Diri

Wednesday, February 1, 2017
Sumber Gambar

Peningkatan, atau pencapaian diri (achievement) adalah sesuatu yang selalu diusahakan setiap manusia di dunia ini. Setiap kita mengusahakan agar hidup terus maju, bukan mundur. Kita mengharapkan prestasi mewarnai sejarah periode hidup kita di dunia ini. Naluri untuk maju yang sudah tertanam sejak kita dalam kandungan, bahkan mungkin sejak pembuahan. Naluri untuk maju sudah terprogram dalam diri manusia sejak diciptakan Tuhan.

Jika tidak, mana mungkin Adam mengambil buah khuldi hingga diturunkan ke dunia.

Peningkatan itu sebenarnya selalu kita alami dari hari ke hari. Saat masih bayi kita hanya bisa mengucap suku kata yang tidak ada artinya. Lalu tahap demi tahap kita mulai mengenal kata. Di sekolah kita diajari menulis apa yang kita pikirkan dan rasakan. Kita mengenal titik, huruf, kata, kemudian kalimat. Tubuh kita pun mengalami perkembangan mulai dari tengkurap, merangkak, lalu berjalan, kemudian berlari. Tanpa sadar kita telah mencapai sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak pernah menduganya sama sekali.

Peningkatan itu sangat cepat terjadi saat kita muda, dan menurun saat kita dewasa. Kita dapat belajar begitu cepat waktu kecil. Menghapalkan pelajaran, olah raga, melakukan hobi, mengingat nama orang, dan sebagainya. Namun saat mencapai usia 20, terasa perkembangan tidak sepesat saat kecil. Semakin bertambah usia, perkembangan itu tidak sehebat sebelumnya. Apalagi sudah mencapai 30 tahun, agar terus berkembang kita sungguh membutuhkan perjuangan.

Peristiwa demi peristiwa silih berganti tanpa jeda tanpa pertanda.

Dahulu tubuh kita kuat berlari 2 km dan dengan istirahat sejenak sudah pulih kembali. Kini mungkin 1 km berlari saja sudah ngos-ngosan dan nyaris pingsan. Dulu kita mudah sekali mengingat lirik lagu dan teks-teks bacaan, kini bahkan untuk mengingat satu paragraf saja membutuhkan pengucapan berulang-ulang. Ada satu kepastian yang mungkin sedikit berat untuk diterima ego. Kepastian bahwa kita punya naluri meningkat sementara badan dan pikiran tidak semakin kuat.

Harus ada sesuatu yang hilang untuk sesuatu yang akan datang.

Hilang energi untuk dapat melakukan sesuatu, sel tubuh kita menua untuk dapat bertumbuh, merelakan kesempatan A agar dapat menjalani kesempatan B, dan sebagainya. Lalu semakin usia kita jauh dari 0 (nol), semakin banyak hal yang tidak mampu kita lakukan. Penyakit mulai berdatangan akibat menurunnya kualitas kekebalan tubuh. Banyak hal tidak terselesaikan dan pada akhirnya harus kita relakan. Semakin berumur kita akan semakin banyak kehilangan.

Rasa kehilangan itu adalah ujian yang berat untuk setiap kita.

Okelah, buat yang memang sedari kecil sudah dibiasakan untuk tidak terlalu melekat dengan keinginan, kehilangan akan teratasi dengan mudah. Kata move on pun praktiknya terasa seperti membalik telapak tangan (mungkin sih). Beda dengan yang sejak kecil dimanjakan dan terbiasa menuruti keinginan, saat dewasa akan mengalami kebingungan. Secara akal ia tidak dibekali kemampuan merelakan dan berakrab dengan sesuatu yang baru.

Jenis manusia yang kedua akan menumpuk rasa kehilangan sejak ia mulai mengenalnya. Tabungan rasa kehilangan itu akan membuatnya merasa tidak memiliki apa-apa. Ia akan benar-benar tenggelam dalam perasaan, yang secara otomatis mengangkat pikiran membuat alasan-alasan. Alasan-alasan itu digunakannya untuk lari dari kenyataan (bahkan tanggung jawab). Sadar atau tidak ia telah menjadi miskin sejak dalam pikiran.

Ia lupakan semua yang ada di depannya dan terus melihat ke belakang. Buat dia tidak ada yang lebih membahagiakan (dan menyengsarakan) selain yang pernah terjadi di masa lalu. Tidak ada yang lebih membahagiakan lagi di masa depan, pikirannya melayang dan menghayal, melamun seperti orang tidak punya tujuan. Lalu ia pun kehilangan harapan dan jatuh dalam keterpurukan. Hidupnya tidak lagi bermakna dan ia mati tanpa meninggalkan jejak-jejak kebaikan.

Jati dirinya ia matikan dengan khayalan dan harapan-harapan palsu.

Mengawal Kembali Harapan

Kita sering lupa terhadap masa lalu yang mengantar kepada keadaan kita sekarang. Pada dasarnya kita suka mengingat sesuatu yang memiliki kesan mendalam buat hidup kita. Kebahagiaan atau kesusahan bukan itu yang menentukan seberapa kuat memori kita ingat. Sesuatu yang sangat berkesan, yang sensasinya luar biasa. Seperti halnya kehilangan, sensasinya luar biasa tatkala kita benar-benar memainkan rasa.

Cara untuk menghilangkan rasa sakit itu pun tidak ada.

Kita akan merasa sakit setiap hari dan itu yang akan menuntun kita pada pengalaman. Pengalaman itu yang membuat kita merasa memiliki sesuatu untuk diandalkan. Perasaan miskin tidak akan lahir apabila kita mau menjalani hari dengan bercanda bersama rasa sakit. Menolak rasa sakit akan membuat kita miskin pengalaman dan waktu yang terlalui tidak ada artinya. Dapat rezeki biasa saja, dapat musibah biasa saja.

Biasa-biasa saja itu hanya pertahanan ego.

Ketika pengalaman masuk, ego perlahan-lahan turun. Ego tidak akan mengizinkan pengalaman baru masuk ke dalam diri kita, sebab ego punya sifat tidak mau kalah. Bila kita tidak mau mengalah dan menuruti ego itu, jadilah kita orang dewasa yang arogan. Segala hal terjadi tanpa ada maknanya sama sekali. Hal-hal bersifat esensi malah terlewati, sedangkan yang bersifat tambahan malah dipenuh-penuhi. Tidak akan bahagia kita hidup dengan nikmat sementara, dan mengabai dengan nikmat hakiki.

Harapan akan lebih bertenaga apabila berdasarkan nikmat hakiki.

Nikmat hakiki itu bisa dibilang nikmat abadi yang punya energi ‘mengangkat’. Saat kita paham bahwa nikmat hakiki berasal dari kemurnian hati, dan nikmat sementara berasal dari ego tanpa kompromi, kita akan mulai mengendalikan diri. Nurani kita akan hidup dan penuh, tanpa sanggup dipatahkan. Itulah keyakinan yang kita cari. Keyakinan yang bebas dari keraguan dan murni. Membuat kita terpenuhi oleh energi, bukan khayalan tanpa henti.