Ads Top

Saat Menikah Seperti Menjadi Solusi Segala Permasalahan Hidup

Status fesbuk penulis

Ketika saya sedang menulis catatan ini, saya sedang menikmati betapa enaknya kopi buatan istri. Sambil bermain smartphone, saya menunggu istri yang sedang membuatkan indomie goreng jumbo.

Yang menjadi pertanyaan adalah, itu istrinya siapa? Saya juga tidak tahu, lha wong kala itu saya sedang jajan di warung kok, hahaha :-D

Menikah, atau dalam bahasa jawanya rabi, seperti menjadi sebuah solusi atas segala permasalahan hidup yang sedang saya alami.

Berikut ada beberapa percakapan, yang menjadikan menikah atau rabi sebagai solusi atas segala permasalahan yang saya alami. Seolah-olah, kesendirian saya adalah sebuah penderitaan yang harus segera diakhiri.

Percakapan Pertama

"Kamu kenapa, Kik? Kok hari kamis malah pakai kaos dan jeans?" Atasan saya menegur saya karena tidak berpakaian rapi dengan kemeja dan celana bahan pada hari itu.
"Nganu, Pak, celana bahan ama kemeja saya belum diseterika. Maklum, anak kos, Pak" Jawab saya dengan santai
"Makanya, kamu thu buruan nikah! Jangan sibuk cari karyawan terus ampe lupa cari buat pendamping hidup" kata atasan saya. Dan saya hanya bisa nyengir.

Percakapan Kedua

"Kok aku ndak bisa nabung ya?" Keluh saya kepada seorang teman.
"Kaya uda mau nikah aja pakai acara nabung, makanya cepetan nikah aja biar bisa nabung" jawab teman saya.
"Aneh, cuma mau nabung aja kudu harus mau nikah dulu" batin saya ketika mendengarkan jawaban dari teman saya.

Percakapan Ketiga

"Sory telat bro, cucian ama setrikaan banyak, jadi tadi nyuci ama nyetrika dulu" saya yang telat dateng menghadiri majelis wedangan bersama teman-teman saya.
Mendengar jawaban dari saya salah satu pacar teman saya langsung nyeletuk "Makanya,dibilang juga apa, buruan nikah"
Mendengar jawaban itu saya langsung pesen indomie rebus super pedes.

Percakapan Keempat

Saat saya baru sampai di tempat kerja, saya terlihat gebres-gebres, kemudian melihat hal itu rekan kerja saya, bertanya kepada saya, "Kenapa, Pak?" saya yang sudah merasa tidak enak badan langsung menjawab seperti yang sedang saya rasakan "Kayake kekeselen ikih" jawab saya.
"Makane gek ndang to, ngenteni opo? Ben enek sik mijeti mbi sik ngopeni ngunu to"

Ketika terlibat dalam percakapan tersebut. Apa saya harus bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, kapan saya bisa menyempurnakan separuh dari agama saya?
Powered by Blogger.