Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Death Is The Beginning

Thursday, March 16, 2017


Jum’at siang, 5 April 2013
Death Is The Beginning
Itu tulisan dari kaos yang kudapat dari seorang teman. Serem bagi sebagian orang, tapi mungkin biasa aja bagi orang lain. Sekedar tulisan di kaos, yang hanya dibaca orang sambil lalu. Bahkan yang memakai kaos itu juga belum tentu sadar akan peringatan yang sebenarnya tertulis disana.

Ah, hanya sekedar desain kaos biasa. Tidak ada apa-apanya. Layaknya kaos anak metal jaman sekarang, yang kebanyakan gambarnya tengkorak, bintang pentagram, dan lain-lain. Yang penting bagus kaosnya.

Jum’at sore, 5 April 2013
“Kaosmu takpake dulu ya..”
“Yo, dipake aja. Tapi diminyaki dulu, biar ga bau kaos baru.”
“Yoi..”
Kaos baru itu dipake adikku dulu buat pergi, biasa nggambar terus. Setelannya pake celana jeans bolong. Katanya gak ketemu klien, jadi penampilan seadanya gak masalah.

Sabtu, 6 April 2013
Menjelang asar ada telepon masuk.
“Assalamu’alaykum, mas njnengan dimana?”
“Dirumah. Kenapa?”
“Anu mas, katanya Bapaknya Soleha.. bapaknya itu…”
“Ya udah, dijelasin dulu aja britanya, nanti habis asar takcek ke RS. Temen-temen jangan dikasih tahu dulu. Kalo udah jelas, baru dikasih tahu.”

Tepat setelah asar, langsung tancap motor ke RS. Sampai disana, tidak ada siapa-siapa yang kukenal. Akhirnya kuputuskan telpon Ghufron dulu. Dia masih saudara dengan Soleha, adek kelasku itu. Setelah memastikan berita itu, aku meminta ijin menyampaikan ke temen-temen yang lain.

Berita meninggalnya Pak Toha menyebar cepat diantara temen-temen. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya temen-temen datang untuk bertakziyah ke rumah Soleha. Disana sudah ada temen2 laen yang memang sudah lebih dahulu ke rumah Soleha. Bagi tugas, aku ke RS untuk ngecek, yg laen ke rumah Soleha untuk memastikan kabar dari keluarga.

Hujan yang turun malem itu, membuat sebagian dari kami menunda untuk pulang cepat. Hitung2 nunggu temen2 laen dari luar kota yang masih dalam perjalanan. Hujan nampaknya juga menahan mulut ini untuk berbicara banyak. Selain memang lidah ini agak kaku kalau harus berbicara dengan perempuan, situasi yang memang tidak biasa dan juga lingkungan yang kurang akrab untukku. Hanya tinggal 5 orang dari teman2 Soleha yang masih baertahan malam itu. Lainnya, semua saudara dan tetangganya.

Mempergunakan sisa waktu untuk berbagi keindahan dengan orang yang kita cintai sering kita lupakan, dan terkadang kita harus merelakan orang yang kita cintai agar dia tidak tersiksa dalam kehidupannya. (HOPE)

Sabtu, 13 April 2013
Seperti subuh biasanya, kuambil air wudhu dan bersiap berangkat ke masjid. Entah kenapa, baju warna hitam yang kupilih untuk solat di masjid subuh itu. Tidak ada pikiran apa-apa, hanya merasa bahwa baju ini jarang kupakai. Ya, terakhir dipakai waktu wisuda adikku.

Jam10 seperti janji Fajar, kita ketemu di deket sekolah untuk pergi wawancara pasien yang terkena paraplegia di kota sebelah. Paraplegia adalah lumpuh anggota badan bawah karena kerusakan syaraf tulang belakang, seperti yang terjadi pada Pepeng, presenter yang dulu kita kenal dengan kata “Jari-Jari”.

Jam10 juga dia sms kalo baru berangkat dari rumah, itupun mau mampir ditempat lain dulu. Jadi akan semakin siang ke jalannya. Well, everything is OK. Kali ini nyantai saja, asal tidak terlalu molor lama. Jam11 kita baru berangkat. Panas banget hari itu, sampai keringetan dijalan.

Tiba di rumah pak L, ada sesuatu yang terlihat berbeda. Tidak biasanya dirumah pak L ada banyak orang dewasa. Keadaan rumahnya juga bersih, ada beberapa tumpukan tiker yang belum dirapikan. Dan tidak ada tempat tidur yang biasa dipakai Pak L untuk tiduran seperti pada pertemuan kami 2 minggu yang lalu.
Setelah mengucapkan salam, kami menyapa beberapa orang yang ada disana. Sampai diruang dalam, kami dipersilahkan duduk oleh seorang bapak yang berusia sekitar 40an. Situasi disana begitu hening, entah ada apa. Kuberanikan diri bertanya,
“Ibu dimana pak?”
“Ibu didalam”, dijawab singkat.
“Kalo bapak?”
“Bapak sudah meninggal, tadi pagi jam3. Ini baru dimakamkan.”

Kami tak bisa mengatakan apa-apa. Cuma diam dan berpikir. Tidak tahu juga
apa yang dipikirkan, tapi yang jelas jawaban itu menutup mulut kami rapat-rapat. Berfikir sejenak, akhirnya kutanyakan bagaimana ceritanya, penyebab kematiannya, dst. Tapi tak ada jawaban yang memuaskan yang bisa didapat. Dalam kondisi seperti ini memang tidak ada yang bisa diharapkan, justru kebanyakan bertanya akan malah memberatkan. Hanya doa yang bisa disampaikan agar beliau diterima di sisi Allah.

Kami memutuskan untuk segera berpamitan pulang, karena memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Setelah selesai berpamitan, ternyata Ibu keluar. Dengan keluarnya ibu, kami mengurungkan niat untuk pulang. Paling tidak, untuk beberapa saat. Sama seperti saat pertama kami datang, tidak ada yang bisa disampaikan selain ucapan turut berbela sungkawa. Masih terlihat jelas gurat kesedihan di wajah Ibu, perasaan kehilangan yang sangat. Kehilangan belahan jiwa yang ia cintai. Dalam hati kuberfikir, mungkin Ibu memang sudah mempersiapkan tibanya saat-saat seperti ini. Melihat kondisi bapak yang memang sudah berat. Jangankan untuk berdiri atau berjalan, untuk bergerak sedikit saja susah dan sakit.

Disitulah ketegaran dari seorang wanita terlihat. Ketegaran dan kekuatan yang tersembunyi dibalik air mata. Air mata yang sering dianggap sebagai kelemahan seorang wanita sebenarnya adalah kekuatan bagi mereka. Mereka tidak memiliki bahu yang kuat, otot yang kekar, atau bahkan suara yang keras. Tapi mereka adalah makhluk yang mampu menahan sakit yang berkepanjangan. Mampu memikul beban yang berat semasa hidupnya. Perjuangan mengandung anak-anaknya yang berat, hingga pertaruhan hidup dan matipun berani ia jalankan. Ia tidak mengeluh karena beratnya beban yang ia bawa selama kehamilan. Ia juga tidak menyerah akan perjuangan untuk melahirkan putra-putrinya.

Semua itu dilakukan karena ia yakin, bahwa dibalik setiap kesedihan dan penderitaan yang dialami akan ada kebahagiaan yang menantinya di esok hari. Perjuangan selama 9bulan dan saat melahirkan akan terbayar saat ia mendengar tangisan pertama putranya. Akan hilang rasa sakit yang baru saja ia rasakan saat melihat senyum putranya yang baru ia lahirkan.
Tangis itu akan terbayar, esok saat Ibu L dikumpulkan kembali dengan Bapak L disurga Allah kelak.
Sedih Soleha juga akan terhapus saat kelak dipertemukan lagi dengan Bapaknya dengan membawa pahala sebagai anak yang sholehah, yang senantiasa mendoakan orangtuanya.
Aamiin


DEATH IS THE BEGINNING
Dekatnya sangat dekat, datangnya tidak ada yang tahu dan memperkirakan. Tanpa peringatan, tanpa tanda awalan. Dan ketika itu terjadi, sudah tidak ada lagi yang bisa diperbuat. Hanya ada penyesalan bagi yang tidak pernah mempersiapkan dirinya. Kedukaan bagi yang tidak pernah menyadari waktu yang tersisa.

Ia memisahkan dua hal yang saling terikat, menguraikan simpul yang erat dan bahkan menjadi pemisah antara harapan dan kenyataan.

Itulah kematian..
Menjadi peringatan untuk senantiasa mempersiapkannya. Bukan menghindarinya, karena pasti datang. Bukan pula takut akan kedatangannya, karena pasti terjadi. Mempersiapkan kematian itu sendiri, mempersiapkan akhir kehidupan ini, berarti mempersiapkan hidup sesungguhnya sesudah kematian.


Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.

KH Hasyim Muzadi
8 Agustus 1944 - 16 Maret 2017

Semoga diampuni dosa-dosanya, diberi rahmat disisiNya
dan dimuliakan tempat kembalinya

reblog: