Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Review Buku: Sekolah Biasa Saja by Toto Rahardjo

Wednesday, April 26, 2017
Buku Sekolah Biasa Saja Toto Rahardjo

Ketika pertama kali mengunjungi SALAM, saya tersentak karena tidak lebih dulu menyapa tembok, tetapi menyapa sawah, pohon, langit, air, dan senyum.
-Dr. Sylvia Tiwon, Guru besar di Universitas Berkelay

Judul buku : Sekolah Biasa Saja
Penulis : Toto Rahardjo
Penerbit : Progress, Yogyakarta
Cetakan : II, Agustus 2015
Tebal : xxiv + 184 halaman

Ini adalah review buku pertama saya. Buku sekolah biasa saja karya Toto Raharjo. Buku yang menggambarkan sebuah sekolah yang berlatar alam di Jogja. Berisi tentang alternatif pendidikan di Indonesia. Juga sebagai kritik terhadap sistem pendidikan yang berlangsung saat ini.
 **

Apa yang membuat orangtua membawa anak mereka ke SALAM? Tidakkah mereka khawatir mempertaruhkan masa depan putra-putri mereka?

Rini, memilih SALAM (Sekolah Sanggar Alam) karena melihat kebanyakan sekolah lebih berorientasi ke “cara hidup kota”. Makanya, Rini yang lahir dan besar di desa, lebih sreg dengan sekolah yang menggunakan alam terbuka sebagai metode belajarnya. Ia menginginkan anaknya belajar mencintai tumbuh-tumbuhan dan alam sekitarnya. Rini tak mau terasing dari lingkungan dan akarnya.

Iin sependapat dengan Rini, memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya di dekat rumah mereka, di tengah kota. Iin tak ingin anaknya menjadi “generasi mall”.

Proses pembelajaran “sekolah di tengah sawah” yang ditempuh SALAM dilandasi oleh kesadaran bahwa kita senyatanya memang hidup di negara agraris. Sehingga bagaimanapun titik tolaknya seharusnya adalah di bidang pertanian.

Posisi SALAM sangat berbeda dengan sekolah alam yang sekarang ini banyak menjamur.

SALAM, artinya anak alam, maksudnya bahwa setiap anak adalah orisinal dan otentik dilahirkan oleh alam, sehingga sekolah tidak boleh merusak orisinalitas dan otentisitas setiap anak, bahkan sebaliknya, sekolah justru harus membantu setiap anak menumbuhkembangkan orisinalitas dan otentisitas tersebut.

Sementara, common sense mengenai sekolah alam yang kita tangkap adalah sekolah yang berorientasi terutama pada metode belajar yang lebih banyak diselenggarakan di dalam ruangan, lalu lalu diganti dengan digelar di ruangan terbuka. Tak ayal banyak tempat terjadi kontradiksi.

Banyak sekolah alam yang sekedar mencaplok mentah-mentah model yang sudah ada. Ada kebun, bahkan sawah di tengah sekolah. Tapi, tanpa alasan yang jelas kenapa harus seperti itu. Lebih mengenaskan, karena model seperti itu justru menjadi peluang pasar.

Buku ini sangat menarik, terutama bagi mereka yang memiliki minat di bidang pendidikan dan anak-anak, juga bagi para orangtua yang sedang gelisah dalam memberikan referensi sekolah yang pas bagi anak-anak mereka.

Kita akan mendapatkan banyak sekali ilmu baru mengenai makna pendidikan, apa itu sekolah, kenapa Ki Hajar Dewantara menamai sekolah yang dia bangun dengan istilah taman siswa, dan masih banyak lagi.

Ada banyak ungkapan pendidikan yang hidup di antara kita: 

Belajar dari Kenyataan
Belajar dari Pengalaman
Belajar dari Peristiwa
Belajar dari Lingkungannya Sendiri
Ilmu Ketemune Kanthi Laku

Kita tahu bahwa kebanyakan kita justru bukan belajar dari lingkungan yang ada, malah belajar dari antah berantah, bukan belajar dari yang senyata-nyatanya ada.

Kita akan mendapatkan cerita lika-liku mengenai perjalanan Wahya, ‘murid’ dari Romo Mangun, dalam aktivitasnya sebagai seorang aktivis pendidikan. Dari pendampingan mereka kepada masyarakat kali code, membangun SALAM Lawen, Banjarnegara, dan akhirnya membangun SALAM di Nitiprayan, Bantul.

Buku Sekolah Biasa Saja ini memberikan kita pencerahan mengenai hubungan antara siswa, guru, sekolah, orangtua, masyarakat dan lingkungan.

Toto Rahardjo, penulis buku ini, ingin mengajak kita untuk membayangkan sekolah sebagai suatu taman. Sekolah yang bukan perusahaan, sekolah yang bukan industri percetakan, sekolah yang bukan kompetisi unggul-unggulan. Sekolah yang biasa saja...(*)