Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Inception: Seorang Ayah dan Trauma Masa Lalu

Sunday, April 30, 2017
Sumber Gambar

Sudah berulang kali saya menonton film karya Christopher Nolan tentang mimpi ini. Entah mengapa juga ada bulir air keluar dari kelopak mata saat mencapai akhir cerita. Film bertajuk Inception menyeritakan seorang petualang mimpi. Ia menjelajahi dunia dalam imajinasi itu dan memanipulasinya untuk tujuan tertentu. Nah, dalam film ini Leonardo d’Caprio berperan sebagai Dominic Cobb (Dom), yang disewa seorang direktur perusahaan energi.

Ia sebagai seorang ekstraktor mimpi ditawari sebuah pekerjaan untuk menanamkan ide atau insepsi.
Setting utama cerita adalah dalam mimpi yang bertingkat hingga 4 lapis. Jadi beberapa orang tidur, dan dihubungkan dengan suatu alat yang memungkinkan mereka mengalami mimpi yang sama. Saat dalam mimpi mereka tidur lagi dan masuk ke lapisan mimpi lebih bawah. Begitu seterusnya hingga sampai lapisan mimpi keempat di mana ada traumatic thougt dari Dominic Cobb, yang menyesal telah meng-insepsi istrinya dulu.

Tujuan mereka hanya satu: menanamkan ide kepada target.

Konflik yang mendasari cerita dari Inception ini adalah sang tokoh utama yang ingin pulang ke tempat anak-anaknya. Ia terpaksa lari karena dituduh membunuh istrinya, Mal, yang gila karena insepsi Dom. Mungkin bisa dikatakan begitu, tapi ide itu menjalar begitu cepat di pikiran sang istri atas pilihannya sendiri. Dom melakukan insepsi dengan kalimat: dunia ini tidaklah nyata, karena sang istri lebih memilih bermimpi dan ‘hidup’ di dalamnya daripada mengurus keluarga.

Barangkali saya tidak mampu menahan tetes air mata karena ini kisah tentang seorang ayah.
Jujur keinginan terdalam saya adalah menjadi seorang ayah. Disebut keinginan mungkin tidak pas, karena dorongan itu sangat halus. Beda dengan keinginan yang mudah kita baca, itu lebih mirip energi yang membuat saya merasa ‘ada’. Energi itu bebas dari ego saya yang memandang pernikahan sebagai sebuah tanggung jawab besar. Ya memang pernikahan itu membawa tanggung jawab besar, tapi itu hanya poin tambahan.

Hakikat menikah adalah menuruti kehendak alam, menjadi ayah adalah buah dari niat yang diupayakan.

Satu hal dari film Inception yang sangat menginspirasi adalah: jangan menjadikan trauma sebagai alasan lari dari tanggung jawab. Dom memang mengalami trauma dengan meninggalnya sang istri. Ia sulit menerima kenyataan dan merelakan kepergian Mal. Namun demi bertemu anak-anaknya, ia rela melepas kesombongannya yang ingin menanggung rasa bersalah atas bunuh dirinya sang istri. Kesombongan lelaki yang ingin menanggung semuanya seorang diri.

Salah seorang teman pernah mengingatkan saya akan kesombongan terhadap trauma itu. Ia lelaki yang mengalami banyak hal buruk dan amarahnya ia pendam sejak kecil. Keluarganya (ia dengan orang tua) inharmony sama seperti keluarga saya. Bedanya ia telah melangkah ke jenjang pernikahan dan memiliki keturunan. Meskipun telah menjadi seorang ayah, ia belum berhasil memaknai masa lalunya. Sikapnya cenderung lari dari masalah dan membuat bermacam alasan untuk menghindari penyelesaian.

Ia menyalahkan segala hal yang terjadi di masa lalu, adalah karena orang tuanya. Bila dari segi kesejahteraan psikologis, memang keluarganya tidak memberikan dampak positif. Namun dari segi kecukupan materi, anugerah seorang istri, anak yang sehat dan aktif itu sudah tidak diragukan lagi. Logika bodoh yang ia gunakan adalah: hidup ini terdiri dari A dan B, bila A tidak tercukupi maka B tidak ada gunanya. Logika ini salah satunya muncul dalam bentuk: bila kesejahteraan jiwa tidak tercukupi, apa gunanya kesejahteraan harta.

Teman saya itu hanya terpaku pada satu hal dan melupakan hal lain. Banyak orang ingin hidup sepertinya dengan kemudahan mendapatkan barang idaman, istri yang cantik, anak yang sehat, ayah-ibu yang lengkap, dan status keluarga yang jelas. Namun sayang ia tidak mampu menyelesaikan konflik di depan mata. Bahkan pernikahan dengan sang istri ingin dibubarkan, hanya karena tidak mau harga dirinya terluka.

Seorang ayah tidak layak berpikir sedangkal itu.

Memang berat menghadapi konflik rumah tangga, tapi Allah juga menjanjikan kebaikan yang banyak. Beberapa orang sadar jika dihadapkan pada pilihan untuk terluka atau kehancuran keluarga, mereka takkan ragu memilih yang kedua. Bahkan bila itu melukai harga diri dan kehormatan, ia takkan berpikir untuk dirinya sendiri saja. Sebab keluarga itu terbentuk karena keputusannya, dirinyalah yang siap menanggung segala masalah dan kekurangan anggota keluarga itu.

Dom dalam Inception memberikan contoh betapa kejadian di masa lalu tidak harus dipegang terus menerus. Seburuk apa kesalahan kita, alam semesta ini punya wadah yang luas untuk menerimanya. Sedalam apa rasa kecewa alam semesta ini memiliki jutaan hal indah yang mampu mengobatinya. Kasih sayang dan kerendahan hati membuat kita mampu merasakan nikmat di balik sebuah kejadian. Sayangnya kita lebih suka menuruti ego dan menyempitkan pandangan kita kepada satu masalah.

Lalu lupa pada jutaan anugerah yang mengiringinya.

Hidup baru berawal ketika kita mau melepaskan dan merelakan. Termasuk juga pernikahan, jika tidak mampu melepaskan yang sudah-sudah ya sama pasangan jadi ogah-ogah. Pasangan adalah orang yang siap membangun hidup baru bersama kita. Apabila kita terlalu kuat bergantung pada masa lalu, yang ada pasangan lama-lama akan jenuh. Kita harus mampu membuat masa lalu sebagai pelajaran, bagaimana pun sulitnya, seberapa pun menyakitkannya.

Seperti Dom yang menyelesaikan ‘hutang’ masa lalunya dengan insepsi. Ia ambil peluang untuk kembali dari pelarian dengan melakukan sebuah perjalanan mimpi. Perjalanan yang bahkan bisa membuat kesadarannya terjebak dalam limbo, zona dalam pikiran bawah sadar yang membuat orang kehilangan jati dirinya. Ia berhadapan dengan memori yang menyakitkan di tengah perjalanan, dan berhasil berdamai dengan itu.

Mungkn Inception agak sulit dipahami oleh sebagian orang. Tidak semua orang mengerti dalam dirinya ada concious mind (alam pikiran sadar) dan subconcious mind (alam pikiran bawah sadar). Ketidakpahaman ini juga yang membuat orang sulit memaklumi kelalaian. Meskipun tidak sadar, perilaku kita saat lalai bukanlah perilaku orang lain. Itu seharusnya cukup untuk menyadarkan kita bahwa manusia tidak sepenuhnya menguasai dirinya sendiri.

Saat menyadari kita lalai dan terkontrol pikiran bawah sadar (yang biasanya karena emosi sesaat), itulah waktu yang tepat untuk minta maaf. Sebab apabila kita mengingkari kelemahan diri sendiri sama saja dengan menganggap diri sebagai Tuhan. Lha wong kita ini manusia kok bisa-bisanya punya pikiran mengingkari kelemahan, yang hanya berhak dilakukan Tuhan. Kita yang selayaknya sadar nafsu dalam diri dan coba mengarahkannya agar tidak melukai orang lain.

Apabila harus melukai orang lain pun, itu dalam kondisi terpaksa. Saat di mana kita sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bukan belum apa-apa sudah menuntut orang lain untuk baik kepada kita, dan memenuhi yang kita inginkan. Hanya orang manja yang seperti itu. Berharap semua orang seperti ibunya, tidak menghukum bahkan membela saat kesalahan kita perbuat. Logic semacam ini yang membuat seseorang terlepas dari kemandiriannya.

Akhirnya, saya harus berkata bahwa Inception ini sebuah karya dengan materi science, konflik, dan akar cerita yang kuat. Beberapa dialog memang sulit dimengerti dan kita diwajibkan berimajinasi sendiri. Tokoh-tokoh di dalamnya pun tidak memiliki karakter yang kuat. Meskipun begitu, sang sutradara layak diberi acungan jempol karena berhasil memadukan drama dan science menjadi satu bentuk cerita utuh. Tidak banyak film fiksi ilmiah dengan alur cerita yang mampu membuat pemirsanya menangis terharu.

Selain Inception, Christopher Nolan juga menyajikan sebuah karya fiksi ilmiah berjudul Interstellar. Film ini bahkan menyuguhkan sosok seorang ayah yang rela dipisuhi putrinya, demi keselamatan orang banyak. Film yang dibesut Nolan entah mengapa banyak mengambil tema seorang ayah secara implisit. Seperti The Prestige yang mengangkat rivalitas antara dua pesulap abad 19. Selain itu ada pula Batman: The Dark Knight, film kedua trilogi Batman yang sukses mendongkrak DC Studios.


Perpustakaan UNS, 23 April 2017