Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Lebih dari Sekadar Cinta (Inspirasi Lagu Anganku Anganmu)

Monday, April 17, 2017


Kutahu celamu tak sengaja berjiwa. Amarah dan benci beri kesempatan.
(Anganku Anganmu- Raisa dan Isyana)

Beberapa hari ini lagu single yang dibawakan Isyana Sarasvati dan Raisa Andriana jadi pengiring. Pertama mendengar lagu itu saya sudah suka dengan iramanya. Melodi yang digunakan juga sederhana, jadi otak saya yang sudah mulai tumpul mencerna musik tidak sulit menikmatinya. Satu yang saya suka dari lagu ini adalah tentang berpadu. Lagu ini menginspirasi saya, setidaknya untuk memaafkan orang-orang yang telah memberi warna luka.

Lagu ini seperti menggambarkan bagaimana dua orang yang sedang menyatukan angan. Dua orang itu mengalami berbagai macam masalah, hingga disebut dalam liriknya: kita sudah dingin hati. Bagaimana dua orang itu seperti lupa rasa, dulu pernah saling memahami dan segan merasa telah menyakiti. Semua itu terjadi oleh semua perdebatan yang sia-sia. Perasaan yang saya cari terkandung dalam lagu Anganku Anganmu ini.

Perasaan memiliki pasangan dan menurunkan ego untuk menyatukan angan.

Ya saya hanya bisa membayangkan, karena mungkin jalan menuju kondisi hati itu masih jauh. Jujur saja sampai sekarang saya masih takut dengan yang namanya wanita. Terutama wanita yang menarik hati saya, sungguh ketakutan itu nyata. Namun bukan berarti saya biarkan diri ini terjebak dalam ketakutan. Perlahan saya memastikan ketakutan itu mampu dilawan. Bahwa membuat diri ini tidak terpengaruh ketakutan itu sungguh hal yang sulit.

Lari dari ketakutan lebih mudah daripada menghadapi.

Urusan ketakutan dalam hal teknis mungkin bisa teratasi dengan mudah. Dicontohkan sekali dua kali kalau mau tekun lama-lama terbiasa. Urusan hati dan pendalaman diri, itu tidak ada contohnya. Sebab diri kita ya hanya kita. Selain diri kita tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah dalam diri. Tidak akan ada contoh teknis yang bisa kita tiru. Kita hanya bisa mencoba kemudian mempertahankan cara-cara yang pas dengan diri kita.

Cara-cara itu pun tidak jarang akan bersinggungan hati dengan orang lain.

Kita bisa melukai bahkan tanpa kita niati. Saat seperti itu mungkin kita akan membenci diri sendiri. Kita mungkin kaget ternyata diri ini bisa melukai seseorang. Sangat jauh dengan ekspektasi kita selalu bisa berguna bagi orang lain. Kita juga mungkin akan mendapatkan seleksi otomatis. Seleksi teman yang masih bisa kita andalkan saat khilaf, dan teman yang hanya bersama saat biasa. Saat khilaf ini, adalah saat di mana kita sepenuhnya menjadi manusia.

Mencari pasangan, dalam hal ini suami atau istri, adalah mencari seseorang yang maklum dengan khilaf kita. Rasa cocok muncul ketika kita dimanusiakan pasangan. Ketika kita dimaafkan atas kesalahan yang dilakukan. Tentu pasangan yang baik akan menyadari bahwa kekhilafan bukan tanda perpisahan. Kekhilafan adalah tanda untuk lebih memahami pasangan. Saat khilaf adalah saat pasangan benar-benar lemah, bila tidak mampu memakluminya, bagaimana bisa bersama?

Kita hidup dalam kelemahan bukannya kekuatan.

Satu yang sering terjadi adalah ketika pasangan dalam kekhilafan, ego kita tidak terima, lalu meninggalkanya. Ini tentu jauh dari harapan tentang hubungan harmonis. Pasangan yang egonya tidak mau bertemu, hatinya juga takkan bertemu. Ego itu seluar-luarnya pintu namun setebal-tebalnya lapisan. Tidak mampu membuka pikiran, tempat ego bersemayam, akan membawa kesombongan bertahta. Kesombongan akan membuat pasangan sulit saling menyesuaikan diri.

Saya tidak paham mengapa kebersamaan yang sulit sekali diwujudkan, harus diakhiri hanya karena satu kekhilafan. Jika saya menemukan seseorang yang mau menerima khilaf saya, mungkin baru akan mengerti. Itu juga berarti saya harus jadi seseorang yang mau menerima khilafnya. Jadi itu seperti siklus dan kesinambungan. Ah, saya jadi ingat catatan Nacita 8: Yin dan Yang. Mengenai keteraturan hidup yang mengalir dalam dimensi bernama waktu.

Tapi tidak jarang juga pasangan mengakhiri hubungan karena tidak ada pembelajaran.

Pasangan yang baik selalu berusaha saling menyejajarkan diri. Bila satu berada di depan yang lain mengikuti. Bila satu di belakang yang di depan menanti dengan sabar. Sebenarnya lebih rumit lagi tentu, karena kadang kita bertemu dengan seseorang yang sulit diajak jalan bareng. Ini pengalaman saya juga dengan Nacita, di mana saat itu saya sulit sekali diajak jalan bareng. Saya hanya ingin dituruti dengan segala ego yang ada di kepala.

Lagu yang dibawakan penyanyi dan musisi wanita ini benar-benar menelusupkan perasaan tenang. Perasaan yang terjadi karena kita berhasil mengusir segala kekhawatiran. Saat berhubungan tidak jarang amarah muncul dan bila tidak diperhalus akan berubah jadi benci. Sekuat apa kita menahan pasti sekali dua kali tetap muncul amarah. Namun, benci hanya lahir ketika pikiran kita tidak cukup terdidik. Benci lahir dari pikiran yang terus memutar ‘amarah’ yang sama.

Perasaan dalam lagu ini tergambar jelas dalam lirik: berlari ke arah yang sama bukan masalah.

Tidak ada yang mustahil untuk pasangan jika mereka mau. Sama halnya dengan kita bahwa bila kita mau, Tuhan akan mengubah nasib kita. Itu adalah satu pernyataan Tuhan dalam Al Qur’an yang memberikan kebebasan utuh kepada kita. Kebebasan untuk berangan dan menjadi apa yang kita mau. Tentu kebebasan ini jangan diartikan dengan: seenaknya. Konotasi kata enak terlihat jelas mengarah pada visi id  atau nafsu yang selalu mengarahkan pencarian pada kenikmatan.

Berpasangan tujuannya bukan mencari kenikmatan, namun ketenteraman.

Isyana dan Raisa mengingatkan saya mengenai banyak hal yang harus dicapai. Saya tidak tahu apakah hal-hal itu adalah kualitas yang harus dimiliki sebelum atau sesudah menikah. Satu hal yang saya tahu nanti pasangan saya adalah cerminan diri saya. Bila diri ini tidak mampu memberi yang terbaik, bagaimana pasangan akan memberikan bayangan terbaik pula. Mustahil ingin pasangan yang baik, namun diri ini tidak mau jadi baik.

Ini lebih dari sekadar cinta, menurut saya.

Bahwa kita menyadari diri ini harus belajar adalah tingkatan lanjut dari cinta. Cinta barangkali akan mengantarkan hingga sesuatu yang kita sukai. Sesuatu yang mengantar kita mengakrabi sesuatu yang tidak kita sukai, itu di luar kuasa manusia. Manusia cenderung melakukan apa yang dekat dengan nafsunya. Bila ingin mencapai sesuatu di atas itu, kita harus keluar dari ‘cangkang manusia’ itu. Meraih kekuatan lebih tinggi yang mungkin sering disebut mindfullness.

Itu sesuatu yang layak sekali diperjuangkan. Memaklumi pasangan adalah hasil dari pendalaman rasa. Pendalaman rasa hanya bisa dilakukan oleh orang yang mau menempatkan egonya di posisi terendah. Jika kita masih sulit meletakkan ego di bawah rasa, barangkali ada yang belum kita pelajari. Tidak mungkin orang yang menyadari dirinya manusia akan menyalahkan manusia lain, ia justru berusaha memaafkan. Jika berat ia akan kembalikan semua urusan kepada Tuhan.

Saya tidak tahu mengapa lagu Anganku Anganmu yang mengantar inspirasi ini. Semua usaha pendalaman rasa saya terus coba upayakan. Ternyata inspirasi datang bahkan dari sesuatu yang tidak pernah saya sangka. Keterbukaan hati yang menjadikan saya mudah menangkap inspirasi. Tentu terbukanya hati itu sendiri adalah anugerah Tuhan. Saya yang harus menjaga anugerah itu, seperti saya kelak nanti juga akan menjaga pasangan.

Pasangan yang dianugerahkan Tuhan kepada saya.


Kamar, 17 April 2017