Recent Posts

4/recentposts
Powered by Blogger.

Fixed Menu (yes/no)

Ads Top

Categories

Tags

Business

Latest in Sports

Popular Posts

Nikmat Kegagalan

Friday, April 21, 2017
Semua punya ruang, lukis yang kau mau. Cerita memilihmu.
(Anganku Anganmu- Raisa dan Isyana)

Belum cukup rasanya menulis tentang lagu ini dalam satu catatan di lobimesen.com. Selain karena merasa memiliki teman, seperti kata Ern di film SuckSeed, lagu ini muncul di saat saya mengalami banyak hal. Kejadian yang tanpa saya minta ternyata membuahkan pemahaman istimewa. Pemahaman yang membawa saya menemukan kembali tingkat kesahajaan diri. Ketika saya sepenuhnya merasakan hawa dan energi yang terpapar di sekitar, empati.

Proses itu membuat badan saya sedikit mengalami stres. Kepala pusing dan tekanan darah naik. Ada energi yang ingin keluar dari dalam. Namun saya tidak bisa melepaskan energi itu begitu saja. Jika melepaskan energi saya takut badan ini tidak kuat. Beberapa hari lalu saya bahkan nyaris pingsan, karena menahan tekanan untuk berdamai dengan rasa sakit di tengah tugas dan tanggung jawab. Saya baru bisa benar-benar beristirahat senin kemarin.

Berusaha menyelesaikan yang ada di depan mata.

Waktu saya padat seminggu lalu dan saya menemukan banyak ekpektasi tidak bertemu realita. Satu yang saya sadari: saat mencari A, kadang kita tidak bertemu A, tapi bertemu B, C, dan D. Seperti mencari jodoh yang sudah saya galakkan sejak 11 tahun lalu. Saya menemukan banyak hal saat pencarian itu. Sampai-sampai saya ‘ketagihan’ mencari dan bingung sendiri ketika makin dekat akhir pencarian. Rasanya saya terlarut dalam pencarian dan lupa urgensi memiliki pasangan di usia 30 ini.

Saat umur 18 saya tidak memiliki cita-cita paling besar kecuali menikah. Pikiran saya juga tidak menggagas hal-hal yang rumit dan detil. Saya hanya berpikir menemukan sosok wanita ideal, udah gitu aja. Saat suka dengan seseorang saya tidak melihat ia dari celanya. Sebisa mungkin saya mencintai dengan penuh. Apa saja akan saya lakukan asalkan untuk menyenangkan pasangan. Butuh atau hanya ingin saya tidak memikirkan, yang penting kasih.

Pola ini baru saya sadari belakangan kalau berlebihan. Level cinta itu mungkin bisa diterapkan dari suami kepada istri. Saat sudah ada jalan terbuka dan kebaikan apa saja boleh dilakukan. Sadar bahwa laki-laki di sampingnya rela melakukan apa pun untuknya, ia mungkin akan bahagia dan tidak risih ketika dicintai. Nah, pada waktu itu saya mendapatkan banyak penolakan. Entah dengan bahasa apa mereka jelas tidak siap dicintai seperti seseorang yang sudah dipinang.

Setelah itu saya coba mengurangi rasa posesif dan sifat egosentris. Rasa posesif itu saya lepaskan saat dengan Vera. Ia tidak pernah saya ikat, bahkan saya bebaskan dia menyukai orang lain. Saat dia bercerita tentang orang lain pun saya tidak lantas cemburu. Namun, itu semua karena tidak tahu perasaan yang tidak ditunjukkan Vera di depan saya. Setelah tahu dari Amanda bagaimana sesungguhnya Vera, pikiran saya berubah. Rasa posesif berubah jadi dewa dan sulit saya kendalikan.

Tidak lagi percaya doa dan mendewakan usaha, saya berganti mencari pola untuk memastikan keberhasilan. Saya berusaha mencari cerita-cerita keberhasilan orang-orang yang sudah menikah. Pun saya mencari kegagalan-kegagalan yang terjadi pada orang-orang di sekitar. Saya tidak menemukan apa-apa kecuali cerita. Cerita itu tidak ada artinya karena segala yang saya cari adalah teknis. Lalu saya pun tersesat dalam lingkaran kebingungan tiada batas.

Beruntung saya tidak lantas tenggelam lebih dalam. Saya mencari pemahaman-pemahaman yang bisa meluruskan pemikiran. Seperti kemarin saya menghadiri satu training yang menyampaikan bahwa usaha itu hanya berperan 20% untuk hasil, dan 80%-nya adalah doa. Pembagian porsi itu pun sebenarnya hanya numerisasi untuk menggambarkan bahwa segala usaha yang kita lakukan tidak mungkin mendahului kehendak Allah.

Saya ternyata telah mengosongkan ruang dalam hati, yang hanya bisa dihuni Allah.

Tidak heran saya mempertanyakan keberadaan Tuhan, yang kemudian terjawab oleh beberapa teori. Seperti yang saya uraikan dalam artikel Menjiwai Tuhan. Hingga sekarang sebenarnya logika saya masih belum puas. Ada ruang di kepala yang masih butuh dibimbing dan dididik, agar tidak sombong dan menuhankan diri sendiri. Menundukkan pikiran saya agar percaya kepada Tuhan , bahwa keajaiban masih bisa terjadi di zaman serba teknologi.

Saya merasa hanya pasangan yang mampu menurunkan sifat egosentris ini. Sebab pada hal itu saya gagal dan keajaiban Tuhan mungkin satu-satunya yang bisa menolong. Saya benar-benar lemah dalam hubungan lelaki-perempuan. Selama ini saya ingin melatih kelemahan itu, tapi mungkin tidak akan bisa tanpa menikah. Hubungan lelaki-perempuan yang sesungguhnya ada setelah menikah. Sebelum menikah itu hanya proses pemantapan hati semata.

Itu yang mendorong saya mencari seseorang yang sekiranya mau saya nikahi.

Terbersitlah nama Nacita, manusia setengah dewi itu. Saya katakan begitu karena ketulusannya tidak terhitung. Saya tidak mendeteksi pikiran untuk pamrih, saat ia memberi. Ia hanya ingin memberi, itu saja. Sayangnya saat itu saya tahu Nacita mencintai dan dicintai siapa. Membuat perang besar dalam diri saya antara ego dan hati, dan menimbulkan stres tingkat tinggi. Saya tidak mampu melawan kebutuhan namun tidak tega mencintai seseorang yang dicintai orang lain.

Ruang yang saya ingin isi masih punya celah kosong.

Iman saya mulai pulih namun tidak bisa langsung penuh. Ada berbagai tahapan yang tidak mungkin saya ukur. Tuhan benar-benar memberi pelajaran dari cerita bersama Vera dan Nacita. Saat bersama Vera saya belajar menerima bahwa dalam hidup ada seseorang yang mungkin tidak menghargai usaha kita. Kisah dengan Nacita memberikan pelajaran bahwa saat menikah, pasangan memulai semuanya dari nol. Segala yang telah terjadi adalah cerita lama, dan yang akan terjadi adalah peluang tidak terbatas.

Mungkin dua wanita itu dikirimkan Tuhan untuk menampar diri saya.

Bahwa Ia yang layak digantungkan secara total, dan tidak perlu diragukan. Apabila terlalu berharap pada usaha, pada manusia, pada selain Tuhan yang terjadi adalah kecewa. Segala yang diberikan kepada kita adalah anugerah. Rasa sayang Tuhan tidak bergerak dalam wilayah ego kita. Ia bergerak dalam wilayah kebutuhan kita. Bila tidak mampu melihat Tuhan telah menyukupi begitu banyak kebutuhan, kita mungkin telah mendustai nikmat.

Dan nikmat yang sedang saya dapatkan sekarang adalah nikmat kegagalan.

Lagu Anganku Anganmu memiliki lirik: jangan sia-siakan waktu untuk membenci. Ini tentang dua orang yang berusaha menyatukan angan. Ada benci yang mungkin menghalangi karena rasa kecewa, kita telah lupa rasa. Sama seperti saya yang lupa rasanya percaya kepada Tuhan, lupa rasanya berdoa, lupa rasanya salat, dan lupa rasanya berbuat baik. Membuat saya jadi manusia yang bergerak tanpa rasa. Itu karena kebencian yang bersemayam di hati saya.

Kebencian kepada Tuhan.

Saya tidak ingin menyalahkan diri sendiri dan menganggap itu dosa tidak terampuni. Mungkin pada beberapa tahap hidup bisikan setan itu bakal muncul pada setiap manusia. Tidak perlu diingkari dan ditutupi, rasa ingin membenci yang membuat gagal bisa jadi sangat besar. Dalam artian mungkin saya dulu sangat percaya kepada Tuhan, dan jadi benci ketika Ia tidak melicinkan keinginan saya. Itu sama saja menganggap keinginan adalah sesuatu yang harus terkabul.

Pemahaman saya keliru bahwa segala keinginan harus terkabul.

Ada keinginan yang mungkin sebaiknya jadi keinginan saja. Pada dasarnya tidak ada urgensi keinginan kita harus terkabul. Sebab keinginan itu hanya bersifat sementara dan mudah sekali berganti. Beda dengan kebutuhan yang mampu membuat hati, pikiran, dan tubuh kita bergerak. Ada energi memohon dalam butuh, beda dengan ingin yang energinya memaksa. Doa adalah kata-kata dalam butuh, karena itu kita memohon benar-benar kepada Tuhan.

Setiap katamu cerminan hatimu, jadikan berarti.


Perpustakaan UNS, 21 April 2017