Ads Top

Feeling God

Feeling God


Sebagai seorang alumnus pesantren, sehari-harinya pemuda kita ini dekat dengan kegiatan peribadatan, baik wajib maupun sunnah. Solat di masjid secara berjamaah di awal waktu. Ngaji setiap hari tak pernah tertinggal. Puasa sunnah senin-kamis dijalani. Infak dan sedekah juga tak pernah dilupa. Solat malam, tak perlu ditanyakan.

Namun, akhir-akhir ini, tidak tau apa sebabnya, si pemuda tiba-tiba kehilangan feel beribadah. Solat, iya. Puasa sunnah, iya. Tetapi seperti ada yang hilang, pergi dari dalam dirinya. Hambar.

Entah, iblis jenis apa yang sedang mendekatinya. Atau, barangkali ia sedang diuji oleh Tuhan sebelum naik kelas yang lebih tinggi. Belum dia analisa secara mendalam memang. Hanya ketakutan dan tidak tahu arah yang sedang dia rasakan sekarang.

“Salahku apa. Salahku di mana?” Makinya pada relung batin jiwanya.

Hilang arahnya semakin menjadi manakala di alam pikirannya muncul pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah datang sepanjang hidupnya.

Benarkah Tuhan itu ada. Untuk apa melaksanakan ibadah. Dan macam-macam pertanyaan lagi seperti orang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan spiritual sebelumnya.

Pemuda ini sudah menanyakan perihal apa yang sedang dia rasakan kepada teman-temannya. Beberapa temannya malah menyarankan dirinya segera menikah saja. Mungkin kesendirian itulah yang menyebabkan pemuda matang dan alim macam dirinya malah digoda oleh pikiran yang aneh-aneh. Sebuah jawaban yang tak memuaskan. Justru menambah kegalauan.

Pemuda ini tak juga berhenti untuk mencari walau tak kunjung juga menemukan. Kepada ustad-ustad yang dia kenal. Membaca-baca lagi buku agama koleksinya. Searching-searching di google dan menonton ceramah di youtube. Namun masih belum bisa menjawab atas pertanyaan-pertanyaan batinnya tersebut.

Sampai suatu malam, di pembaringan kamarnya, si pemuda kesulitan untuk memejamkan mata. Sampai tengah malam juga tak kunjung tertidur. Dia lalu mengingat akan wejangan sewaktu masih kecil jika mengalami susah tidur. Yaitu, menghitung domba melompat.

Mulailah dia menghitung…

Domba 1

Domba 2

Domba 3

Domba 4…5…6

Domba 7…8…9…10…11…….

Domba 100……1000........100000……..DST

Sampai kelu lidahnya menghitung, tak juga kunjung tertidur. Dan tetiba tersadar seperti terkejut melihat kilat, bahwa perhitungan itu tak memiliki ujung. Jutaan. Milyaran. Triliunan. Lalu berapa lagi. Apa ujungnya. Tak terhingga?

Dia heran. Kok ada yang tak terhingga. Apa yang tak terhingga ini. Apa-apaan ini? Apa ini???

Bertanya-tanya dengan keheranan. Tiba-tiba wajanya sumringah. Girang bukan main. Memukul-mukul guling kesayangannya. Iya, guling. Saking senangnya.

Sepertinya si pemuda kita ini telah mendapatkan jawaban dari petanyaannya selama ini. Dari peristiwa yang sesederhana itu. Di naungan gelap malam yang mendekat kepada pagi. Hatinya kembali tenang.

Belum sepenuhnya tenang memang. Karenanya, mari juga kita doakan agar pemuda kita itu bertemu dengan jodohnya. Segera.


| Sumber gambar: papasemar.com/
Powered by Blogger.