Ads Top

Iman Milik Tuhan



Bicara soal iman, sebenarnya saya tidak berani banyak berkata-kata. Referensi definisi iman dari buku-buku agama sangat sedikit saya kuasai. Saat kecil saya tidak mendapatkan cukup pendidikan agama. Setidaknya pendalaman tentang konsep hidup menurut agama yang saya anut. Konsep hidup di keluarga saya adalah mencari sebanyak mungkin kekayaan. Kekayaan yang pada kenyataannya, mampu mengangkat derajat setidaknya di antara anggota keluarga.

Orang kaya sangat dihormati di keluarga saya, meskipun kurang ajar.

Hal itu yang mendasari saya ingin mendobrak pemikiran mereka. Saya merasa ada yang salah dengan kondisi ketimpangan ekonomi ini. Jarak antara si kaya dan si miskin semakin jelas. Pada dasarnya hampir sama dengan kondisi negara kita, bedanya ini dalam lingkup kecil. Kekayaan hanya berputar di wilayah orang-orang itu saja. Mereka menjalankan bisnis, bekerja di perusahaan besar, mewarisi harta orang tua dan sebagainya.

Satu kekurangan yang besar adalah ketika ditanya permasalahan hidup. Mereka tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang nilai hidup. Iya sih mereka melakukan berbagai anjuran dalam agama, namun entah mengapa soal nilai luput. Tingkatan perbuatan mereka dalam taraf meniru bukan mengerti benar apa yang dilakukan. Apa itu buruk? Tidak. Justru saya merasa itu lahan untuk berdakwah. Masalahnya hanya satu: saya belum membuktikan apa-apa.

Saya masih sebagai orang miskin yang perlu untuk diberi.

Perasaan tidak memiliki apa-apa terlalu dalam saya maknai. Akhirnya saya seperti kehilangan semangat untuk memperbaiki taraf hidup. Walaupun ini warisan sifat Ibu juga sebenarnya. Tidak mau berjuang kala keadaan masih bisa dikompromi, saat masih ada orang yang digantungi. Cara mengatasi warisan sifat itu adalah tetap membangun usaha walaupun profitnya naik sangat lamban. Tetap menulis sebagai karya yang nantinya bisa ditunjukkan.

Usaha itu belum menampakkan keberhasilan yang cukup membuktikan.

Buat saya sendiri sebenarnya itu juga belum cukup. Namun mengingat kondisi di rumah saya bersyukur masih bisa hidup. Rasa syukur ini baru beberapa hari saya cicipi. Perasaan itu tidak selalu mendominasi sih, seperti gelombang ada naik ada turun. Seperti sekarang rasa syukur itu sedang diuji dengan marahnya Simbah. Marah yang muncul memang karena spontan saja, bukan marah dengan alasan jelas. Sementara rumah butuh diurusi dan Ibu tidak mau diajak kompromi.

Sedikit menyebalkan memang tapi memang beginilah kelangsungan hidup setiap hari.

Beberapa waktu lalu saya menulis di lobimesen.com tentang resensi Hancock. Sebuah drama komedi romantis superhero yang saya sukai. Di dalam tulisan itu saya menuliskan bahwa ada peristiwa pencabutan iman dari dalam hati saya. Peristiwa yang memutarbalikkan semua pandangan hidup saya. Membuat saya mencari hingga ke dasar mutiara dalam agama. Inti dari kehidupan ini yang bebas dari kepentingan dan ego.

Pada saat saya kuliah saya pernah berdiskusi dengan seorang teman. Ia termasuk orang yang memiliki pandangan luas tentang agama. Ayah juga kakaknya seorang yang cukup disegani dalam komunitas agamanya. Kami berdiskusi tentang: kita tidak memiliki apa-apa. Saat itu saya nyeletuk sebelum pulang: bahkan iman itu bukan milik kita. Sepertinya ia tidak setuju (atau kesal karena saya sok tahu), karena ia menanggapi dengan ‘iya’ namun ada nada penekanan.

Baru saya sadar ucapan itu menemui jiwanya baru-baru ini.

Kehampaan saya rasakan sejak beberapa tahun ini. Saya merasa jadi orang atheis yang tidak bertuhan. Sebenarnya pengertian atheis itu banyak, namun saya merasa begitu karena ada keterpisahan dengan Tuhan. Saya tidak merasakan kehadirannya walaupun sudah sangat berusaha. Akhirnya saya memaksa otak untuk menyerap sekuat tenaga segala yang ada di alam semesta. Kepekaan itu coba saya rasakan kembali dan meyakinkan bahwa itu ada dalam diri.

Semacam pencerahan pun saya dapatkan.

Sudah bukan hal aneh apabila kita mengatakan bahwa segala hal yang ada di alam semesta ini milik Tuhan. Namun itu pun sebenarnya memiliki tingkatan pemahaman. Pada awalnya kita sadar segala yang terpisah dari diri kita seperti bumi, langit, hewan, dan benda-benda itu milik Tuhan. Di tingkatan lebih esoterik, kita mulai sadar bahwa diri ini bukan milik kita: badan, otak, mata, tangan semua milik Tuhan. Lebih mendasar lagi semakin sulit dipahami adalah segala yang ada dalam batin juga bukan milik kita.

Termasuk di dalamnya iman.

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya namun ada satu Hadits Qudsi dari Imam Bukhori:
“Seorang hamba yang berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah yang Aku wajibkan dan Aku sunnahkan maka Aku akan mencintainya. Bila Aku mencintainya, Aku menjadi telinganya untuk mendengar, matanya untuk melihat dan tangannya untuk digerakkan, dan kakinya untuk berjalan.”
Ini bukan berarti saya menganggap diri dekat dengan Tuhan. Hanya merasa ‘oh jadi ini yang dimaksud riwayat itu.’ Saat badan dan seluruh anggota tubuh merasa adalah milik Tuhan.

Kesadaran bahwa Tuhan melingkupi semuanya. Tuhan ada, bahkan menguasai yang tidak terlihat seperti iman. Jadi semakin berpikir lagi untuk merasa diri ini hebat. Iya memang diri ini hebat namun sebagaimana orang lain juga memiliki kehebatannya sendiri. Jadi ketika kita manusia ini merasa memiliki iman, mungkin perlu dikaji kembali. Nah kalau perkataannya diganti: kita dianugerahi iman, mungkin itu lebih dekat pada kepasrahan.

Saat sadar bahwa iman itu bukan milik saya, seperti halnya cinta dan perasaan-perasaan lainnya, rasanya lebih enteng. Sebab saya jadi merasa tidak harus ini harus itu, memaksa diri ini itu, hingga memaksa orang lain karena diri sendiri tidak bisa mencapai keharusan yang saya ciptakan sendiri. Lebih merasa diri ini memiliki kesamaan dengan benda-benda dan mahkluk lain. Mungkin inilah yang disebut menyatu dengan alam dan merasa sama-sama berasal dari tepung alam semesta.

Mempertahankan inspirasi ini tentu tidak mudah kawan.

Pada kenyataannya banyak sekali godaan dan saya pun tergoda pula. Saat saya tergoda pun jadi sadar bahwa ternyata manusia hanya bisa melakukan dosa. Manusia hanya bisa membuat kesalahan dan mengurangi nilai dari suatu ciptaan. Apa ini skeptis? Saya pikir tidak. Realistis, kalau boleh saya menyebutnya begitu. Jadi lebih dekat dengan kenyataan dan secara status kewarasan, mungkin berlawanan dengan gangguan disosiatif.

Ini seperti dialog terakhir dalam novel Angels and Demons karya dan Brown, saat Langdon mengaku iman adalah sesuatu yang belum ia terima. Pengakuan itu sepertinya jadi sebuah kejujuran, yang menandakan iman ada dalam hati Langdon. Ya kadang memang mengartikan hal-hal bersifat esoterik tidak hanya dengan menerima namun juga menolak sesuatu. Yang terpenting adalah itu benar-benar perasaan dan pikiran dalam diri kita, yang bebas dari mengada-ada.

Well, tulisan ini tidak bermaksud apa-apa dan murni ingin berbagi pengalaman. Jadi apabila pembaca muncul perasaan tidak enak itu semata-mata bukan berasal dari niat saya. Kata-kata adalah media saya untuk berbagi dan saya rasa kita semua memiliki hak untuk berkata-kata. Selama kata-kata itu tidak mengajak berbuat buruk, selama kata-kata masih digunakan sebagai penyampai makna, tidak masalah bagaimana persepsi dan pemikiran di dalamnya.

Tidak ada penulis yang ingin menyesatkan pembacanya.



Perpustakaan UNS, 14 Juni 2017

| Sumber gambar: hello-pet.com
Powered by Blogger.