Monday, 10 July 2017

Mendakwahi Orang Tua

Judulnya terkesan kurang ajar ya? Tulisan pendek yang akan Anda baca ini memang bakalan banyak topik kurang ajar. Terutama bagi teman-teman yang memiliki skema pemikiran: orang tua harus selalu ‘diutamakan’. Saat orang tua menjadi tempat utama dalam mencari pertimbangan, ibarat direktur sebuah perusahaan. Setiap keputusan selalu tergantung dari pengesahan dari dewan direksi. Sebuah pola yang terjadi dalam hirarki organisasi.

Bukan rahasia kalau dalam keluarga kita mengenal beberapa tipe pola asuh. Seperti demokratis, permisif, protektif, dan otoritatif. Orang tua kita mungkin cenderung ke dalam satu pola asuh itu. Pola asuh itu menjadi budaya pergaulan antara anak dan orang tua. Kalau dikaitkan dengan judul, mungkin orang tua dengan pola asuh otoritatif yang akan mendemo saya karena menuliskan ini. Walaupun tidak sedikit anak muda sekarang yang memperjuangkan emansipasi anak kepada orang tua.

Terlepas dari tipe orang tua itu, saya ingin menceritakan suatu keadaan di mana orang tua sulit sekali menerima kebenaran. Kebenaran yang saya maksudkan adalah ilmu agama. Tidak semua generasi warisan kemerdekaan adalah dari kalangan ulama. Keluarga-keluarga dari kalangan menengah dan menengah ke bawah terutama, kebanyakan sangat jauh dari ilmu agama. Waktu mereka kebanyakan untuk mempertahankan diri dari tekanan keadaan ekonomi.

Keadaan ekonomi era orde baru tidak seperti sekarang. Banyak yang harus dilakukan untuk bisa memenangkan persaingan. Tidak ada namanya kemerdekaan berbuat dan support system berupa komunitas atau gerakan-gerakan dalam segala bidang. Uang yang beredar pun belum terlalu banyak. Nilai 1 rupiah dulu masih sangat berharga, bahkan ada nilai sen. Sekarang nilai rupiah telah mengalami inflasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Orang-orang terus berjuang untuk mendapatkan harta. Zaman uang membuat segala hal harus dibeli dengan uang. Makanan, baju, pendidikan, semua tergantung ketersediaan uang. Bukan tidak mungkin orang-orang jadi kalap karena kemerdekaannya dibatasi oleh pemerintahan. Meskipun pemerintahan telah beralih, rakyat tetaplah belum merdeka karena uang. Sistem uang membuat peradaban terglobalisasi, tapi kebodohan juga semakin tergeneralisasi.

Terjawab sudah pemikiran materialis orang tua di zaman sekarang berasal dari mana.

Selain uang, dalam beberapa dekade ini perkembangan identitas agama-agama sangat kentara. Terutama di wilayah-wilayah perkotaan yang sangat membutuhkan tempat untuk melepas ketegangan. Masjid, gereja dan vihara adalah yang paling banyak saya temui. Indonesia semakin mengukuhkan identitasnya sebagai negara beragama. Orang-orang yang tidak beragama takkan diakui keberadaannya. Sebab kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP) wajib diisi.

Walaupun beberapa waktu lalu ada isu kolom agama bakal dihilangkan.

Orang tua, sebagai pewaris pemikiran orde lama dan orde baru, memiliki warisan kepercayaan pula. Kepercayaan itu bisa dari agama atau adat budaya. Di abad 21 ini kita melihat adat budaya mulai tergerus agama-agama resmi yang diakui. Tentu ini upaya yang tidak instan dari pewaris para nabi. Efek nyatanya jelas terasa dari keluarga yang dekat dengan ulama. Efek terjauh dirasakan oleh keluarga-keluarga yang di dalamnya masih belum melek agama.

Upaya dakwah tentu tidak mudah, apabila kita termasuk dalam keluarga tersebut.

Kesadaran akan beragama, walaupun hanya sebatas ritual mungkin masih kurang. Mereka masih memiliki kepercayaan dari agama nenek moyang, atau mungkin hanya mampu mengamalkan sedikit dari ajaran agama yang diakui. Tidak dipungkiri ini terkadang membuat pertentangan antara anak dan orang tua. Saat anak memiliki pemahaman agama lebih banyak daripada orang tua. Di sisi lain orang tua tidak mau menambah wawasannya soal agama.

Ada suatu kesadaran untuk menggauli mereka sewajarnya. Membiarkan orang tua tetap dengan pegangannya. Namun ada perasaan ingin membenarkan yang tidak bisa diabaikan. Bahwa mereka orang tua kita dan tentu kita tidak tega apabila mereka masuk neraka. Pertentangan kemudian muncul antara sentimen pribadi dan nilai diri. Sesuatu yang secara perasaan menguras banyak air mata, namun nilai kita mengajarkan untuk membiarkannya saja.

Yang terpenting menggauli mereka dengan baik dan tetap berbakti.

Ini hal yang sulit, bahwa kita harus merelakan sebagian ideal kita tentang orang tua. Bahkan mungkin melepas semuanya saja sekalian. Kita relakan saja mereka begitu, bahkan bila mereka pernah dan masih bertindak jahat. Kita sudah tidak memiliki urusan lagi dengan orang tua, kecuali mendoakan mereka. Mendoakan agar pintu hati mereka terbuka, dan hidayah Tuhan datang menyinari hati keduanya. Doa yang sangat mendasar dan mungkin sering tertutupi doa-doa lain.

Padahal hidayah itu kuasa Tuhan yang tidak bisa dimanipulasi manusia, kawan.

Bisa dibayangkan bila Tuhan tidak memberi kita petunjuk, jalan, dan ilmu. Kita tidak diberikan ilmu membaca saja takkan mungkin paham tulisan ini sehuruf pun. Di belahan negeri ini banyak yang anak-anaknya masih belum bisa membaca huruf latin. Mereka bukan primitif, namun tidak mendapatkan kesempatan seluas kita di Pulau Jawa ini dalam akses keilmuan. Apakah kita lantas merasa ilmu yang kita pelajari dan membentuk kita itu tidak berguna?

Lagipula, ilmu yang kita dapatkan tidak hanya untuk mencari pekerjaan.

Walaupun orang-orang tua kita masih banyak yang berpikir menyekolahkan anaknya untuk tujuan itu. Jabatan di suatu instansi tidak dapat kita gantungi terus menerus. Kita hanya bisa mengandalkan pekerjaan di perusahaan dan instansi pemerintah, selama negara ini masih ada. Apabila kedaulatan kita hilang, semua badan penadah uang itu akan mati. Bukannya kita lantas perang juga, tapi bisa dipastikan para manusia berperadaban kota akan kelaparan karena tidak ada pasokan makanan.

Kita harus membuka hati dan pikiran untuk mendobrak pemikiran orang tua.

Bukan hanya masalah agama, sudut pandang yang sempit pun harus kita lebarkan. Kita tidak mungkin terus-terusan hidup dalam kecukupan. Kemapanan yang ada dalam benak teman-teman, tidak selalu bisa dicapai. Pada kenyataannya, yang membuat kita selamat hidup di dunia ini hanyalah kematian. Kita tidak akan mungkin mengikuti khayalan peradaban. Saat kita bisa hidup damai, tenteram, semua manusia mendapatkan apa yang dibutuhkan.

Itu semua adalah khayalan yang ditunjukkan Doraemon.

Tulisan ini untuk para anak yang telah matang usia, dan ingin agar hidayah yang didapatkan juga berguna untuk orang tua. Mereka yang masih berharap ayah dan ibunya mendapatkan akhir yang baik sebagai manusia. Mati dalam keadaan telah terbebas jiwanya dari ikatan dunia. Agar orang tua yang kita sayangi juga mendapatkan kasih sayang Tuhan secara layak. Agar kelak kita dan keduanya kelak dapat dikumpulkan bersama-sama di surga.

Terus mendoakan mungkin adalah cara paling sederhana. Sebab kita tidak mungkin mengubah orang lain. Apabila orang tua kita berbeda agama pun, kita tidak bisa mengubah pilihan mereka. Sampai di sini sebenarnya tanggung jawab kita begitu sederhana: berbakti kepada orang tua dengan berusaha terus memperbaiki diri. Apabila ada pahala yang kita dapatkan, tentu orang tua pun akan mendapatkannya. Mereka memiliki andil atas jadinya diri kita sekarang.

Pada akhirnya tulisan ini tidak ada kurang ajar-kurang ajarnya.


Kamar Pecah, 5 Juli 2017