Thursday, 17 August 2017

Pertanyaan Terbesar Abad Ini, Apa itu Toleransi?

Sebuah pertanyaan, apa itu sebenarnya toleransi?
Sumber: http://assets-a1.kompasiana.com

Sebuah pikiran terlintas di benak saya menjelang ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-72. Begitu banyak permasalahan dalam kehidupan masyarakat dan juga kasus-kasus yang sempat viral di internet tentang sisi negatif masyarakat dalam mengisi kemerdekaan. Katankanlah salah satunya dengan main hakim sendiri, membakar seorang yang diduga mencuri. Mungkin, di sinilah muncul pertanyaan yang saya sebut sebagai pertanyaan terbesar di abad ini, tentang “Apa itu toleransi?”

Bagi saya, mendefinisikan tentang toleransi adalah hal yang sangat sulit. Ya, mengerti tentang sesuatu yang jarang atau bahkan tidak pernah kita lihat dalam keseharian tentunya merupakan hal yang sulit, bukan? Mungkin begitulah toleransi bagi saya. Saya hanya sering mendengar tentang istilah toleransi. Kembali ke jaman berhala dulu (semasa kecil). Saya mendengar tentang istilah toleransi di TK maupun di SD, dan saya tidak yakin, makanan atau mainan macam apa itu. Karena hal yang saya alami ketika itu adalah belajar tentang agama, membuat saya tidak toleran. Peristiwa bom Bali 1 dan 2, orang-orang di sekitar saya seakan mengajarkan bahwa ada agama yang merupakan agama teroris yang orang-orangnya patut dijauhi. Setelah saya pergi ke luar pulau, saya belajar bahwa agama saya adalah agama yang disebut sebagai penyembah berhala, yang merupakan pengikut setan. Jadi, semenjak itu saya rasa untuk mengerti toleransi, Si penyembah berhala ini, sebaiknya melupakan semua pelajaran agama yang pernah ia dapatkan.

Pencarian saya, sampai saat ini, pada akhirnya menemukan sedikit titik terang. Sekarang ini, saya baru bisa mendefinisikan kulit luar dari toleransi. Yaitu sebagai suatu ideologi yang memandang manusia dalam jenjang yang setara. Tidak ada diskriminasi, dan tidak menjelekkan satu dengan lainnya. Terdengar cukup sederhana dan sepele kan, tapi saya menemukan definisi itu setelah belajar meditasi dari seorang Guru berkebangsaan Kanada selama 2 tahun, setelah tinggal di tengah perkebunan bersama para anak-anak TKI di luar negeri selama kurang lebih 2 bulan, dan mendengarkan kuliah dari staf kementrian pengembangan daerah pedesaan India selama 2 jam. Bagi saya, itu merupakan perjalanan panjang, diliputi oleh banyaknya konflik batin, perasaan kesepian, ketakutan, dan banyak emosi negatif yang terlibat dalam proses untuk mencerna sejumput esensi dari toleransi.

Begitu sulitnya bagi saya untuk mengerti tentang toleransi, membuat saya tidak ingin banyak berkomentar tentang kasus-kasus di negeri ini yang menjadi viral di internet. Seperti kasus pembakaran terhadap seorang yang diduga mencuri amplifier. Saya tidak bisa membenarkan tindakkan warga tersebut, tapi bagi saya mungkin mereka sampai bertindak demikian karena kurang toleransi. Saya juga tidak bisa membenarkan tindakan sekelompok mahasiswa yang membully mahasiswa difabel di kampusnya, tapi kembali lagi bahwa, mereka hanya tidak tahu tentang toleransi, sama seperti ketika saya kecil dulu.

Saya hanya ingin mengajak agar kita bisa belajar menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, lebih bagus lagi jika bisa sampai ke kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan berarti saya juga mengajak Anda-Anda ini untuk melupakan pelajaran agama, bagi saya agama itu baik, hanya saya memilih untuk tidak mengikuti aliran mana pun. Saya akui bahwa saya orang yang bodoh, yang harus belajar dengan cara sulit, apalagi tentang toleransi dan agama. Tapi saya yakin Anda lebih cerdas dari saya, jadi temukanlah cara Anda sendiri dalam hidup dan mari bangkitkan semangat toleransi menjelang ulang tahun kemerdekaan yang ke-72 ini.


-Salam Peace, Compassion, n' Respect-

Simple minded boy, live in Indonesia, love stay at village, like to meet a new friends (all over the world)

3 komentar


EmoticonEmoticon