Wednesday, 23 August 2017

Depresi Eksistensial: Ketika Modernitas Mengaburkan Makna Kehidupan

"We became self-aware just to realize the story is not about us...”
-Kurzgesagt, In a Nutshell: Optimistic Nihilism


Hidup di abad ke-21 seharusnya menjadi hal yang mudah. Kita adalah generasi yang terlahir di era yang bisa dibilang merupakan era keemasan bagi manusia. Bagaimana tidak? Kitalah yang menikmati keberhasilan umat manusia dalam menjajah bumi dan membentuk ulang permukaannya, kitalah generasi yang hidup di era yang memungkinkan untuk menjadi apapun yang kita inginkan. Kita merupakan generasi yang bisa melakukan banyak hal hanya dengan satu ujung jari: jika lapar tinggal buka smartphone, pesan makanan dan tunggu di rumah; beli tiket pesawat, kereta, atau pesan penginapan tinggal pakai smartphone; mencari pekerjaan bisa via portal online; bahkan ada juga kuliah online yang membuat kita tak perlu meninggalkan kenyamanan rumah. Hidup terasa begitu mudah, nyaman, dan tidak memerlukan banyak usaha. Namun, kenyataannya mengapa hidup kita lebih diliputi oleh kesedihan dan kesepian?

Depresi Eksistensial: Ketika Modernitas Mengaburkan Makna Kehidupan
Sumber Gambar: www.stevecutts.com

Bahkan fakta menunjukkan bahwa pada generasi kita, “generasi di era keemasan ini”, tren angka bunuh diri mulai bergeser ke usia produktif. Menurut data dari WHO (World Health Organization), bunuh diri menempati peringkat kedua sebagai penyebab kematian tertinggi pada usia 15 sampai 29 tahun secara global. Sementara di Indonesia sendiri, tercatat ada sekitar 812 kasus bunuh diri pada tahun 2015. Itu hanyalah angka yang muncul di permukaan saja, karena kasus bunuh diri merupakan fenomena sosial dan selayaknya fenomena sosial, data-data yang ada di lapangan hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan fenomena. WHO sendiri juga menyebutkan bahwa pada setiap satu kematian akibat bunuh diri yang teridentifikasi, setidaknya ada 20 orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri namun tidak tercatat dalam data. Jadi, bayangan pada 2015, tercatat 812 kematian akibat bunuh diri di Indonesia dan di tahun yang sama ada sekitar 16.000 orang yang mencoba menggakhiri hidupnya. Tidakkah data tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kepuasan dalam menjalani hidup di era modern ini semakin menjadi masalah yang kompleks?

Bagi saya pribadi, mungkin hal yang mampu menjelasan mengapa manusia menjadi lebih “tidak bahagia” di era modern ini adalah munculnya depresi eksistensial (existential depression). Menurut Grohol dalam artikel di psychcentral.com menyebutkan bahwa depresi eksistensial bisa muncul ketika seorang individu berhadapan dengan isu seperti kehidupan, kematian, kebebasan, dan makna kehidupan. Individu dengan karakteristik depresi eksistensial biasanya mempertanyakan tentang makna dari keberadaannya di dunia (makna kehidupan), yang mana merupakan satu dari sekian banyak pertanyaan sulit dalam hidup manusia. Banyak individu atau bahkan hampir semua individu mungkin sependapat bahwa menemukan makna dalam kehidupan merupakan hal yang penting bagi kelangsungan hidup atau bahkan bisa jadi merupakan hal yang membantu individu tersebut untuk bertahan ketika fase-fase sulit dalam kehidupan menyerang. Namun, mengapa banyak orang yang tidak menemukan makna dalam kehidupannya, mengapa di era modern ini semakin banyak individu yang mengalami kekosongan makna?

Mungkin terkait pertanyaan terakhir, saya rasa ada beberapa faktor yang berperan. Salah satunya yang saya curigai membawa pengaruh besar adalah pola hidup masyarakat yang semakin konsumtif. Pola hidup modern berujung pada pola hidup yang konsumtif, dimana self-esteem atau rasa harga diri seseorang didasarkan pada benda-benda material yang ia miliki dan gaya hidup yang mewah. Kemewahan juga menjadi daya tarik dalam relasi dan pergaulan di era modern ini. Semakin banyak barang-barang material dan semakin mewah gaya hidup seseorang, maka perasaan tentang dirinya berharga serta kharisma yang dimilikinya cenderung tinggi di mata orang lain. Buktinya, lihat saja ada berapa banyak orang yang memamerkan foto-foto terkait gaya hidup mewah yang dimilikinya di instagram dan lihat juga berapa “juta” follower-nya. Penghargaan diri yang dimiliki seseorang atau harga diri (self-esteem) penting karena dapat membantu individu dalam pemecahan masalah, beradaptasi dengan lingkungan sosial, mengekspresikan diri secara positif, serta mempengaruhi kepercayaan diri individu. Merupakan hal yang umum bahwa orang-orang yang berasal dari keluarga dengan status sosio-ekonomi tinggi cenderung memiliki self-esteem yang tinggi. Hal ini didukung oleh studi dari Chen dan koleganya (2016) yang menunjukkah bahwa remaja yang berasal dari keluarga dengan status sosio-ekonomi tinggi lebih cenderung memiliki self-esteem yang tinggi dan berdampak pada tingginya tingkat kepuasan dalam menjalani hidup daripada remaja yang berasal dari keluarga dengan status sosio-ekonomi rendah. Perlu diketahui bahwa kaitan antara status sosio-ekonomi dan kepuasan dalam menjalani hidup yang diperantarai oleh self-esteem ini juga diperkuat oleh tingkat optimisme yang dimiliki individu. Dengan kata lain, pada individu yang cenderung pesimis, status sosio-ekonomi memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap tingginya harga diri, dan sikap optimis dalam menjalani hidup juga bisa menolong individu dengan status sosio-ekonomi rendah untuk memiliki tingkat penghargaan diri yang tinggi. Intinya, memiliki status sosial dan ekonomi yang baik, cenderung membantu individu untuk mengahadapi fase-fase sulit dalam hidupnya di era modern ini dan jika Anda kurang beruntung, maka optimislah dalam menjalani hidup.

Faktor kedua yang sekaligus merupakan faktor terakhir menurut pendapat saya yang berkonstribusi terhadap kekosongan makna dalam kehidupan modern adalah ekspektasi yang tinggi. Saya sependapat dengan hal yang dikemukakan oleh “Social Work Tutor” di situsnya socialworktutor.com pada artikel “Why is Modern Life Making You Depressed?” terkait ekspektasi individu yang cenderung terlalu tinggi di era modern. Era modern memiliki banyak tipu daya, kita dimanjakan oleh kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan dengan berbagai macam hal instan setiap harinya, hingga seringkali kita juga menginginkan kesuksesan yang instan. Ingin sukses tanpa mengeluarkan banyak usaha tentunya merupakan utopia yang ingin dicapai setiap manusia, namun sayangnya karena hal itu tidak mungkin dicapai, makanya disebut utopia. Tapi banyak orang yang malah larut akibat utopia itu sehingga apabila dihadapkan dengan realita, muncul berbagai gangguan emosi dan psikis. Di beberapa sesi sharing komunitas, saya sering mendengar cerita para sahabat tentang masalah emosi yang mereka alami akibat ekspektasi yang tidak terpenuhi. Saya pun harus mengakui bahwa saya juga memiliki ekspektasi yang berlebihan akan kesuksesan. Saya pernah “bermimpi” untuk memiliki karier yang stabil dan bisa pensiun di pertengahan usia 20-an. Namun, nyatanya sekarang saya sudah berusia 22 tahun dan saya pun masih merintis sesuatu, masih harus menabung, dan meminimalkan pengeluaran, serta masih kuliah. Saya rasa realitanya ialah di usia pertengahan 20-an saya baru mulai memasuki dunia karier profesional yang sebenarnya. Jadi, ekspektasi saya turunkan, saya ubah mejadi hal yang lebih realistis, karena terus terang dengan ekspektasi yang tinggi dan tidak realistis, saya justru tidak fokus pada hal yang saya kerjakan, banyak hal menjadi kacau, dan kecemasan serta ketakutan akan masa depanlah imbalannya. Jadi, oleh karena saya pernah mengalami hal buruk itu, sekarang saya mencoba untuk menurunkan ekspektasi, menjadi lebih realistis, belajar menjalani keseharian apa adanya, serta fokus terhadap hal yang saya kerjakan.

Terakhir, saya ingin menyampaikan bahwa mungkin seringkali kita berharap bahwa kehidupan berjalan lancar sesuai keinginan kita, orang-orang dan lingkungan kita bereaksi sesuai apa yang kita mau, dan kita merupakan tokoh utama dalam cerita kehidupan kita. Saya rasa tak terhitung jumlahnya berapa kali saya benar-benar berharap bahwa saya adalah pusat dari semesta, namun sayangnya tidak, saya hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas ini dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan saya. Saya hidup hari ini dan saya fokuskan semua energi saya untuk hari ini, urusan esok hari biarlah dihadapi oleh diri saya yang besok. Jadi, saya ingin mengajak agar kita bisa lebih memaknai berbagai kesibukkan kita di hari ini, saat ini, dan tentunya jika hari ini berakhir baik, esok pasti lebih baik.

Referensi:
Badan Pusat Statistik. (2016, 22 Desember). Di Provinsi Mana Banyak Orang Bunuh Diri? Diperoleh 22 Agustus 2017, dari http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/12/22/jawa-tengah-provinsi-dengan-kasus-bunuh-diri-terbanyak-di-indonesia
Chen, W., Niu, G. F., Zhang, D. J. Fan, C. Y., Tian, Y. Zhou, Z. K. (2016). Socioeconomic status and life satisfaction in Chinese adolescents: analysis of self-esteem as s mediator and optimism as a moderator. Personality and Individual Differences. 95, 105-109.
Grohol, J. M. (2016, 17 Mei). What is Existential Depression? Diperoleh 22 Agustus 2016, dari https://psychcentral.com/lib/what-is-existential-depression/          
Social Work Tutor. (2016, 7 November). Why is Modern Life Making You Depressed? Diperoleh 22 Agustus 2017, dari https://socialworktutor.com/modern-life-making-us-depressed/
World Health Organization. ( ). Suicide Data. Diperoleh 22 Agustus 2017, dari http://www.who.int/mental_health/prevention/suicide/suicideprevent/en/

Simple minded boy, live in Indonesia, love stay at village, like to meet a new friends (all over the world)


EmoticonEmoticon