Sunday, 3 September 2017

Sedikit Luapan Emosional Mengenai Perceraian

 
Sedikit Luapan Emosional Mengenai Perceraian

Tulisan ini sedikit egois, anggap saja begitu –kenyataannya mungkin egois sekali. Saking egoisnya saya kesal saat diajak bicara Simbah ketika menuliskan paragraf pertama ini. Ya namanya orang tua maunya diperhatikan, kadang walau untuk bertanya atau membicarakan hal yang itu-itu saja. Tulisan ini bukan ingin membahas karakter orang tua yang egois namun mengibakan itu. Bahasan dalam tulisan ini berkaitan dengan banyak cerita tentang perceraian yang sampai kepada saya.

Sementara saya menerima kenyataan perceraian orang tua saja susahnya minta ampun.

Hingga sekarang saya tidak pernah bisa menerima perceraian sebagai hal yang bermanfaat. Benak saya dipenuhi perceraian adalah efek dari kegigihan yang pupus di antara pasangan. Saat pasangan tidak mau bersama istri atau suaminya lagi itu mungkin wajar bila terjadi sekali dua kali. Pertengkaran dan konflik itu wajar terjadi antara suami istri menurut saya. Bukan berarti harus dibiasakan karena kalau terlalu sering berarti masalah sebenarnya bukan konfliknya.

Ya, manusianya.

Saat saya mencari cerita tentang perceraian Ibu dan Bapak dulu yang ada hanyalah kekecewaan. Simbah ngotot agar Ibu tidak melanjutkan pernikahannya dengan Bapak. Sementara Ibu antara lanjut dan tidak karena keluarga Bapak tidak begitu ramah terhadapnya. Kalau pembaca berpikir ini mungkin berasal dari Ibu yang tidak mampu beradaptasi, awalnya saya pikir juga begitu. Namun, adik-adik saya menceritakan hal yang sama tentang keluarga Bapak yang tidak begitu bisa diajak bicara baik-baik.

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran Bapak saat itu.

Kalau mendengar cerita Ibu saya tidak melihat adanya sisi baik yang menonjol. Namun, melihat adik-adik saya sekarang jelas Bapak berusaha keras memperbaiki hidupnya. Itu cerita yang dimiliki adik-adik dan saya tidak mengalaminya langsung. Ibu sampai sekarang masih merasa sebagai korban perasaan. Korban dari keegoisan Simbah dan keluarga Bapak yang dulu ngotot memperjuangkan perceraian. Ironisnya Bapak dulu memilih keluarganya daripada Ibu.

Setelah itu saya tidak pernah bertemu Bapak hingga beliau meninggal.

Itu yang sampai sekarang menggelitik pikiran saya. Apakah orang-orang tidak bisa berhenti egois sebentar saja dan memerhatikan perasaan orang lain. Setidaknya anak yang telah lahir atas hubungan cinta pasangan. Setiap kubu merasa paling mampu dan berhak merawat anaknya. Tanpa berpikir bahwa sang anak ingin kedua orang tuanya bersama, bukan merebutkannya. Kasihan anak yang masih bertumbuhkembang harus mengalami drama emosional yang berada di luar kemampuan umurnya.

Andaikata orang tua mau meminta maaf atas kesalahannya, tidak ada yang terlambat untuk diperbaiki. Kebanyakan saya temukan orang tua tidak merasa bersalah. Mereka malah merasa memperjuangkan yang terbaik untuk anak dengan memisahkannya dari ayah atau ibu mereka. Sikap dewasa macam apa ini? Banyak cerita yang lebih ironis di luar sana dalam mempertahankan rumah tangga. Semua dilakukan orang tua demi anak.

Mungkin posisi sebagai orang tua ini yang perlu disadari, bukan hanya sebagai pasangan.

Kalau sebagai pasangan pikirannya jelas terfokus pada kekecewaan terhadap suami atau istri. Namun, bila sadar posisi sebagai orang tua yang terbayang banyak jelas masa depan si anak. Apakah si anak akan terdidik dengan baik dan mampu bertahan dari badai kehidupan saat dewasa nanti. Sebab saat rentan-rentannya si anak disuguhi drama konflik yang kekanak-kanakan. Emosi-emosi yang tidak perlu bisa saja merangsang otaknya untuk berperilaku berdasar emosi yang sama saat dewasa nanti.

Tidak usah jauh-jauh contohnya saya.

Banyak emosi-emosi negatif terprogram dalam otak saya. Reaksi saya terhadap sesuatu bukannya sesuai keadaan tapi cenderung negatif pula. Seperti Ibu yang merasa sengsara dan mendapatkan tanggungan saat mendapatkan makanan. Ia anggap itu tanggungan bukannya rezeki dari Tuhan. Hasilnya beliau mau makan juga muncul perasaan berat hingga kadang makanan itu kadaluwarsa duluan. Jika berpikir bahwa itu rezeki, karena tahu tidak mampu menghabiskan sendiri, makanan itu lantas dibagi.

Itu baru satu contoh, belum Simbah yang marah-marah tatkala mendapatkan banyak daging kurban.

Apa yang akan terjadi dalam otak si anak ketika yang ia alami bersama orang tuanya adalah perceraian dan pertengkaran? Jelas ia saat dewasa kemungkinan besar akan banyak berkonflik pula dengan orang lain. Pasalnya ini berhubungan dengan nilai dan pembelajaran yang dapat mendidik jiwa. Saat jiwa kita terdidik dengan baik anak kita kemungkinan besar akan terdidik dengan baik pula. Namun, jika kita tidak mau mendidik jiwa kita sendiri bagaimana kita mendidik jiwa anak?

Mendidik jiwa yakni berusaha mengendalikan pikiran dan perasaan.

Ini tentu sulit karena kadang ego kita anggap sebagai diri kita sendiri. Padahal ego itu hanyalah dimensi terluar yang menutup kita dari sejatinya diri kita: ruh. Pikiran dan perasaan adalah implementasi ego itu sendiri. Jika kita terbawa arus perasaan dan kekauan pikiran kita masih dalam dimensi ego. Itu yang membuat kita lantas disebut egois. Saat pikiran dan perasaan terkendali oleh kekuatan ruh itulah keadaan manusia tanpa ciri.

Saya pikir keadaan manusia tanpa ciri ini perlu diusahakan.

Kita tidak berpatokan pada keinginan kita tapi apa yang perlu. Tentu pertimbangan semacam ini butuh ilmu dan tidak sedikit dari kita yang masih malas belajar. Substansi hidup perlu kita sadari dan ikuti agar tidak melawan hukum alam. Keinginan kita bisa berbahaya apabila membelokkan dari aturan alam. Banyak orang menikmati masa mudanya seperti raja dan meninggal dalam keadaan hina. Ada juga yang menjalani hidup seperti rakyat jelata dan mati meninggalkan setinggi-tingginya nama.

Hidup nikmat di dunia itu berbahaya meskipun kita semua menginginkannya.

Ada baiknya kita memahami bagaimana alam ini bekerja. Prinsip sederhana seperti: siapa yang menanam akan menuai. Apa yang kita tanam sekarang akan melahirkan buah yang kita petik nanti. Tentu kita ingin anak kita lebih baik dari diri kita sekarang. Namun, yang mau menjadikan dirinya lebih baik sungguh sangat sedikit. Kebanyakan tidak mau meninggalkan kenyamanan dan kenikmatan lama untuk mau beralih posisi sebagai orang tua –yang tinggal menunggu mati.

Posisi kita sebagai orang tua hanyalah manusia yang menunggu mati.

Jika kita sadar itu tentu kita akan lebih banyak berbenah daripada mengungkit salah. Apa yang terjadi di masa lalu bukan lagi sesuatu yang perlu banyak diributkan. Dibahas untuk diselesaikan memang perlu tapi bukan dijadikan alasan sekarang tidak mau belajar. Orang yang aura dirinya memancar tidak perlu menjelaskan dirinya di depan orang lain. Orang yang telah belajar akan sadar bahwa dirinya hanya manusia yang suatu saat akan mati.

Untuk apa mempertahankan egosentrisme jika suatu saat kita akan melepaskannya juga?

Lebih baik kita belajar berkompromi dengan keinginan dan berkata: kamu tidak harus terwujud, daripada mempertahankan keinginan yang akhirnya menyengsarakan diri kita sendiri. Kita mau mati dalam keadaan diingat manusia? Boleh saja tapi tujuan linear semacam itu akan melahirkan usaha yang dangkal pula. Lain halnya bila kita ingin mati meninggalkan kesan untuk kebaikan. Lebih tinggi lagi saat kita mati dalam keadaan meninggalkan kesan kepada Tuhan.

Hidup ini sederhana namun bila tidak mampu memahaminya akan melahirkan banyak kerumitan.

Semua yang kita miliki akan kita tinggalkan. Anak dan pasangan juga salah satunya. Tidak masalah kita sekarang dalam keadaan bagaimana, tapi sikap kita melihat keadaan itu. Jika sikap kita masih merasa lebih rendah dari masalah dan keadaan itu, kita takkan memiliki percaya diri. Jika kita merasa diri kita lebih tinggi dari masalah maka akan lahir perasaan sombong. Mau jadi bagaimana kita tergantung keputusan kita sendiri.

Putuskan sesuatu dengan ilmu bukan dengan pikiran dan perasaan.


Kamar Pecah, 3 September 2017


Ilustrasi: jasonlevoy.com


EmoticonEmoticon