Ads Top

Ketika Saya Gagal Menjalani Tantangan Seminggu Dengan Uang 50ribu

Gambar oleh Riki S

Pernah kah kalian mengalami apa yang saya alami. Menjalani kehidupan yang biasa saja, bahkan justru membosankan? Menjalani hidup dengan rutinitas yang itu-itu saja? Dan itulah yang saya alami akhir-akhir ini.

Saya merasa bahwa hidup ini begitu membosankan. Dan saya butuh sesuatu yang baru. Saya sempat browsing baik di youtube maupun di media sosial lainnya, tentang bagaimana mereka yang biasa disebut sebagai praktisi media sosial seperti youtuber, selebgram, bloger, maupun facebooker menjalani kehidupannya. Dan saya mulai tertarik dengan sosial eksperimen yang diunggah oleh seorang youtuber di chanel youtube miliknya. Berangkat dari situ lah, otak mulai bekerja, bahwa saya butuh hal seperti itu untuk mengisi hidup saya yang sudah mulai membosankan ini.

Bisa dibilang, sudah lama saya membiarkan blog milik saya sepi dari postingan baru. Ibarat rumah, saya sudah membiarkan terlalu lama rumah kosong. Jangankan disinggahi, sekedar dibersihkan saja tidak pernah. Rumah kosong yang tak berpenghuni, hanya akan lapuk dimakan waktu, kemudian lebih ngeri lagi jadi rumah berhantu. Dan itu tidak baik.

Satu blog yang saya kelola, harus saya suntik mati. Karena ide seperti sudah mentok, untuk terus memposting tulisan baru.

Saya mulai berpikir untuk melakukan social eksperimen, dan yang ada dalam pikiran saya kala itu adalah; apakah saya bisa menjalani hidup selama satu minggu dengan uang 50rb saja. Dan hari senin kemarin, saya melakukan hal ini.

Sebelum memulai, terlebih dahulu saya mengisi penuh bbm di kendaraan saya. Hal itu saya lakukan agar saya tidak terbebani lagi untuk uang bbm. Dan eksperimen pun dimulai.

Hari pertama

Kebetulan minggu ini saya masuk shift pagi. Iya, tempat kerja saya ada dua shift. Sebagai HR Officer saya juga harus ikut shift, karena saya bertanggung jawab satu shift.

Seperti biasanya, sebelum aktifitas pekerjaan saya ngopi dulu sambil mempersiapkan pekerjaan di hari pertama minggu ini. Seperti pekerjaan kantor pada umumnya, senin biasanya hari paling riweh, dibanding hari-hari lainnya.
Kemudian makan siang makanan yang disediakan oleh kantor tempat saya bekerja. Kebetulan di tempat kerja saya menyediakan fasilitas makan siang dan makan malam. Hal inilah yang membuat saya pede ketika akan menjalani tantangan ini.

Untuk makan malamnya, setelah sholat magrib saya di wasap untuk main ke tempat saudara, dan di momen itulah saya diminta makan malam di sana. Puji Tuhan, hari pertama bisa saya lalui tanpa pengeluaran. Aman!

Hari Kedua

Seperti halnya dengan hari pertama, di hari kedua saya awali dengan berangkat pagi-pagi di saat kebanyakan orang masih jingkrung dengan selimutnya di atas tempat tidur. Setelah ngopi di kantor sebagai awal untuk memulai aktifitas di hari kedua. Mulai briefing karyawan, rekruitmen, dan monitoring.

Di sela pekerjaan ada salah satu teman kerja mengajak jajan di sebuah warung tenda di deket alun-alun kabupaten. Kata teman saya, di sana ada warung yang sempat ramai di grup facebook. Ceker setan, konon pedasnya ceker setan level tiga membuat ngiler bagi mereka pecinta masakan pedas.

Namun, menjelang sore cuaca hujan deras disertai angin. Akhirnya kami membatalkan untuk mencicipi ceker setan.
Hujan awet hingga menjelang malam. Dan saya malas keluar untuk mencari makan malam. Saya nitip teman saya, agar sepulang kerja untuk membungkuskan makanan. Hanya Rp 6.500 saja, nasi sayur sama telur, dan tiga gorengan sudah cukup menyelamatkan saya dari kelaparan, di tengah cuaca hujan deras yang membuat orang lebih memilih jingkrung di atas kasur.

Hari Ketiga

Tidak seperti biasanya, di hari ketiga saya memulai dengan sarapan nasi tumpang, dan 4 gorengan. Cukup murah, karena semua itu hanya Rp 4000 saja. Sebenarnya saya paling males buat sarapan pagi. Secangkir kopi sudah cukup bagi saya untuk memulai aktifitas dari pagi hingga jam makan siang untuk shift pagi.

Malam sebelumnya, rekan kerja saya menginformasi bahwa esok hari ada tugas ke luar kota, yaitu ke Kebumen. Hal itulah yang membuat saya harus sarapan dulu. Karena ke Kebumen membutuhkan perjalanan sekitar 4 jam, saya tidak mau semrepet gara-gara telat makan.

Dalam perjalanan, kami mampir dulu di sebuah pondok makan ikan bakar. Meski menu utama dalam pondok makan adalah ikan bakar, namun saya memesan garang asem, karena saya sudah lama tidak menikmati garang asem. Terakhir waktu masih sering ke Solo. Karena masih dalam perjalanan dinas, tentu makan siang masih ditanggung oleh kantor tempat saya bekerja.

Setelah urusan di Kebumen selesai, sekitar jam 3 sore kami bergegas lagi untuk pulang. Ketika berangkat kami hanya berdua, namun ketika pulang kami bersama rombongan yang kami jemput.
Selama kurang lebih 4 jam perjalanan, kami mampir dulu di warung makan padang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampai di tempat tinggal, mandi kemudian saya mulai melemaskan otot-otot tubuh dengan rebahan di atas kasur, dan tertidur pulas.

Hari Keempat

Hari keempat saya lalui dengan biasa saja. Tak ada hal yang menarik untuk saya kisahkan. Semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Mulai dari ngopi dulu, kemudian beraktifitas seperti biasa.

Hanya saja ketika jam pulang kerja, cuaca hujan deras disertai angin. Saya nekat pulang dengan jas hujan. Dan mampir di sebuah warung kelontong. Karena hujan deras adalah waktu yang paling tepat buat di rumah saja. Dan saya butuh amunisi. Saya membeli dua sachet susu coklat, 3 sachet rinso cair buat mencuci baju, dan keripik bayam untuk menemai segelas susu coklat panas. Semua itu, sekitar Rp 17.000

Tidak hanya itu, karena saya adalah orang yang sulit tidur ketika perut dalam kondisi lapar. Saya juga nitip teman saya untuk membelikan makan malam. Nasi telur dan 2 gorengan, dan harganya cukup Rp. 6000 saja.

Hari Kelima

Sudah hari kelima, itu artinya tinggal beberapa hari lagi tantangan ini segera berakhir. Hari yang tidak begitu sibuk jika dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Jujur saya harus sedikit menahan diri agar saya dapat menyelesaikan tantangan ini. Saya yang memiliki mulut tidak bisa diam. Bukan, saya bukan orang cerewet, saya justru orang yang bisa dibilang pendiam. Namun mulut ini tidak bisa diam dalam hal mengunyah makanan. Sehari tidak ngemil yang kemripik begitu, rasanya mulut saya seperti pegal-pegal begitu.

Sepertinya hujan sedang senang turun di daerah tempat saya tinggal. Menjelang pulang kerja, langit menjadi mendung, tak lama kemudian hujan deras. Apesnya, saya lupa membawa jas hujan. Akhirnya saya meminjam jas hujan, kemudian saya harus balik kantor lagi untuk mengembalikan jas hujan milik rekan kerja saya. Sebagai ucapan terima kasih saya membelikan cilok pedas untuknya. Saya membeli 2, satu untuknya dan satunya lagi untuk saya. Dan saya mengeluarkan uang Rp. 10.000.

Kemudian ada pesan wasap dari kerabat saya. Saya diminta untuk membersihkan barang-barang yang akan dipindah ke rumah saya. Iya, pengajuan KPR saya di acc oleh pihak bank, lain kali akan saya ceritakan. Kalau sempet tapi.

Di tengah perjalanan, masih dalam suasana gerimis, saya terhipnotis oleh lezatnya mie ayam, dengan iringan kemripik kerupuk, kemudian segarnya teh panas. Saya pun mampir di sebuah warung mie ayam, dan Rp 10.000 harus saya keluarkan dari dalam kantong saya.

Setelah selesai membersihkan barang-barang, ada pesan wasap, diiringi panggilan via wasap dari salah satu rekan kerja. Ternyata ia mengajak saya untuk mencicipi ceker setan yang dulu sempat tertunda karena hujan.

Kampretnya, saya dikerjain. Saya disuruh pesen ceker setan kevel tiga, katanya level dua tidak begitu pedas. Dan ternyata, bibir dan lidah saya langsung getir karena pedasnya. Bajingan! Saya tidak tahu bagaimana nasib perut saya esok hari setelah mencicipi ceker setan level tiga.
Dan kali ini saya, ditraktir oleh rekan saya tersebut. Mungkin teman saya tahu, bahwa saya lagi "tipis".

Hari Keenam

Lembur, di hari keenam saya masih masuk kerja seperti biasa, karena sabtu ada lembur. Di hari lembur seperti di hari keenam ini, suasana kerja jauh berbeda dibanding di hari biasa. Semua bekerja nampak rileks dan tanpa beban. Saya belum tahu kenapa bisa begitu. Karena perhitungan lembur di hari sabtu yang dua kali lipat dari gaji pokok per hari, atau adanya faktor lain. Entahlah.

Ketika jam makan siang, meski sudah ada makan siang, saya ditraktir lagi bakso oleh teman saya. Artinya saya masih bisa melalui tantangan ini

Sepulang kerja, saya memiliki agenda sarasehan alumni almameter saya dulu. Kebetulan acara diselenggarakan di Sate Ayam Ponorogo Pak Bon Solo. Sehabis ashar saya meluncur ke sana. Dan cuaca sore hari ke enam ini bisa dibilang cerah dan belum ada tanda-tanda akan turun hujan.

Sarasehan diakhiri dengan makan sate. Dan sebagaimana acara temu alumni, kami semua saling bertegur sapa, menanyakan kabar, sambil terus mengingat jaman masih kuliah.

Belum puas mengobrol, setelah dari acara sarasehan, kami berpindah tempat di sebuah angkringan. Kami duduk berempat pun menggelar majelis wedangan.
Dan di tempat wedangan itu saya habis Rp 11.000 untuk satu nasi bandeng, bakwan dan dua tusuk sate tahu bakso, serta teh panas.

Hari Ketujuh

Hari terakhir menjalani tantangan ini, saya mulai mengkalkulasi berapa pengeluaran saya selama satu minggu ini. Meski hari pertama, kedua, dan ketiga dapat saya lalui dengan mudah. Namun, tidak ada kontrol budget dalam menjalani tantangan ini.
Setelah saya kalkulasi lagi, total pengeluaran saya tepat di hari ketujuh ini sudah di angka, Rp 67.500 itu artinya saya gagal menjalani tantangan ini. Dan baru ingat juga, saya lupa memasukan pengeluaran pulsa, karena saya masih ada utang pulsa Rp 12.000 ketika saya dinas ke Kebumen.

Karena saya sudah dipastikan gagal, saya pun langsung kalap, dalam perjalanan pulang ke tempat Simbah, saya tergoda untuk mampir di sebuah warung makan yang menjual sambel belut. Cuaca mendung, sambel belut pedas serta beberapa tusuk sate ati ampela saya jadikan pelampiasan atas kegagalan ini.

Tidak hanya itu, saya pun sekalian membeli dua kilo salak buat simbah saya.
Kegagalan saya ini adalah murni kesalahan saya. Tidak adanya fungsi kontrol, serta tidak adanya keseriusan dalam menjalaninya adalah faktor utama kegagalan saya dalam menjalani tantangan ini.

Saya bisa saja menulis dan memanipulasi eksperimen ini seakan saya telah benar-benar berhasil menjalani tantangan ini; bisa hidup dengan uang Rp 50.000 selama satu minggu. Namun saya tidak akan melakukannya. Karena bagi saya, bukan hanya keberhasilan saja yang perlu diceritakan, terkadang kita harus berani menceritakan kegagalan. Biar semua orang tahu, hidup bukan hanya tentang pencapaian, tapi juga bagaimana kegagalan menyertai setiap pencapaian.
Powered by Blogger.