Latest

Powered by Blogger.

Seribu Pintu Untuk Sholikin

Wednesday, December 20, 2017
Seribu Pintu Untuk Sholikin
pixabay


"Patah satu tumbuh seribu"

Sebuah pepatah lama yang Sholikin ucapkan sebagai pembuka perbincangan kami, tempo hari, belum lama ini kami bertemu.

"Apa maksudnya?" Tanyaku, tidak paham tiba-tiba dia berkata seperti itu.

"Tuhan lebih tahu tentang dirimu, lebih tahu daripada dirimu tahu tentang dirimu....Tuhan tahu apa yang terbaik bagimu."

"Yang kamu anggap baik, belum tentu baik menurut Tuhan. Dan yang kamu anggap buruk, bisa jadi itu justru yang terbaik bagimu.... Apa seperti ayat ini maksudnya?" Aku mengejar karena masih belum paham ke mana arah maksud perkataannya.

Sluruuuppp....

"Betul sekali bro..."

Balas Sholikin setelah seseruputan kopi hitam dari gelas belimbing favoritnya.

"Apakah kita sedang membicarakan 2014 yang dulu?"

"Yap...!" Jawab Sholikin singkat.

"Oke-oke bro. Aku eling. Aku lho tong sampah wadah pisuhanmu mben menit bro....tengah wengi mbok jak muteri dalan sak Solo. Ra ono tujuan. Ra ono omongan. Pisuhan tok. Paling banter golek HIK, kui we adoh e ra umum. Nemoni cah sok sufi santri Karangpandan kae. Utangmu akeh pokokmen neng aku."

"Hahaha....kowe ki saiki kok ngomong wae to bro bro. Aku ki pengen crito perjalanan uripku. Malah nyerocos wae koyo wedokan."

"Syemm...." Batinku. "Ono opo bro? Galau meneh?"

"Oralah...urip penake koyo ngene kok galau"

"Iyo iyo bro. Sing wes nyantai saiki, karir wes oleh. Kendaraan wes nduwe. Omah wes mbangun...mung kurang siji bro, kawin!"

"Weslah, ojo mbok pikirne nek masalah kui. Aku normal yo."

"Mbeeelll..." Batinku.

"Hidup ini ternyata banyak yang kita tidak tahu. Kita berniat begini begini, sudah menempuh begitu-begitu, ternyata dalam perjalannya berbeda. Kamu menemui kehancuran parah dari apa yang sudah kamu bangun dengan keseriusan dan ketelatenan. Kamu kesakitan. Jatuh terjerembab. Jangankan untuk berpikir akan berjalanan ke depan, move on. Untuk bangun saja rasanya berat. Pikiran 'mati saja' itu berseliweran. Untung saja, jiwa yang lain nggondeli, ada muncul rasa takut jikalau Tuhan marah."

"Separah itu bro kamu dulu. Tapi tak pikir-pikir, cepet sekali kamu move on-nya."

"Sepertinya Tuhan sengaja memperjalankanku untuk melalui garis waktu itu. Untuk bisa merasakan keindahan perlu lebih dulu merasakan kesakitan. Untuk melihat warna-warni cahaya perlu menutupi kegelapan dulu. Atau mungkin itu jeweran dari Tuhan karena aku terlalu sibuk memikirkan dunia, padahal setiap hari Tuhan sudah memanggil-manggil, mungkin berteriak, tapi aku tak pernah menggubris."

"Hukuman ataupun pelajaran, semua itu adalah bentuk kasih sayang, bro! Cuman biasanya kita peka untuk mengambil pelajarannya ketika mendapatkan musibah saja."

Tiga resolusiku tahun itu, lulus kuliah, menikah dan punya presiden tokoh yang diidolakan. Hampir semuanya pupus. Hanya lulus kuliah. Itupun di penghujung tahun. Saat itu tidak ada sedikitpun kekuatan untuk mengerjakan skripsi. Pelan tapi pasti ketika cahaya itu merayap datang, justru ingin cepat-cepat lulus muncul sebagai cara agar bisa keluar dan segera pergi dari kota Solo.

"Lah bro, wes reti kabeh aku rasah mbok ceritani meneh. Wes intine wae, sampeyan pengen ceramah to?"

"Ngene lho bro, hidup ini kan cuma sebentar di  ruang dan waktu duniawi. Kalau orang jawa bilang, urip mung mampir ngombe. Jadi weslah kita manut saja kersane Gusti Allah. Mau senang atau sedih. Banyak uang atau sedikit. Jadi presiden atau petani. Sedang bangun atau terjatuh. Merangkak atau berlari. Semuanya akan terasa indah, kalau kamu ridlo kepada Allah."

"Kok malah dewe sing ridlo. Opo nggak kita berusaha agar Tuhan ridlo kepada kita, piye to?"

"Jan, jan...bro bro....kalau kamu mengerjakan perintah-perintahNya, menghindari larang-laranganNya, melakukan segala yang Dia sukai, iklas atas segala ketentuanNya kepadamu. Ridlo marang kersaning Gusti. Yo mesti nanti Tuhan ridlo kepadamu."

Ya ya ya ya ya

Di teras depan rumah barunya Sholikin, ditemani singkong rebus dan kopi hitam, kami berdua menyambut senja.

Jangan tanya kepadaku, siapa yang menyiapkannya.