Latest

Powered by Blogger.

Ayat-ayat Kapten Amerika

Tuesday, January 2, 2018


Sebelum liburan tahun baru tiba, tepatnya Jumat 29 Desember saya menyempatkan menonton Ayat-ayat Cinta 2 (AAC 2). Baru pertama kali saya menonton film lokal sendirian. Sebelum-sebelumnya saya menonton film lokal kalau bareng-bareng teman saja. Saya agak suntuk dan butuh penyegaran waktu itu. Dapat tiket paling malam pun tak apa –karena besok sudah mahal juga sih. Dan saya tidak menyesal membeli tiket demi kisah Fahri (Fedi Nuril) yang fenomenal saat saya SMA itu.

Sekuel film Ayat-ayat Cinta (AAC) yang menceritakan romansa religius Fahri dan Aisha ini good job kalau buat saya. Ya mungkin untuk sebagian orang kisah Fahri ini menggambarkan penulisnya yang too high expectation. Jelaslah, Fahri begitu sempurna digambarkan tidak pernah berbuat dosa –seperti halnya tokoh Azzam dalam Ketika Cinta Bertasbih (2009). Buat penggemar cerita realis AAC 2 bisa bikin mual. Terlalu mimpi, mungkin kata mereka.

Kalau saya coba plotkan, setidaknya ada 2 plot besar dalam AAC 2. Plot pertama berisi keindahan pribadi seorang Fahri. Ia menjadi dosen di University of Edinburgh dan –dicitrakan –dikagumi banyak wanita. Kalau saya lihat hampir seperti tokoh Fame dalam May Who (2015) yang bahkan sampai punya penggemar laki-laki. Bedanya, Fahri secara serius dikagumi dan digilai para wanita di sekelilingnya –hingga mereka ingin menikah dengannya .

Iyyyuuuh!

Setidaknya setiap ke-iyuh-an muncul, selingan komedi Hulusi (Pandji Pragiwaksono) dan Misbah (Arie Untung) memberi ‘air segar’. Komedi mereka terasa natural karena keduanya memang komedian. Lawakan mereka menurunkan tensi film ketika ceritanya mulai tegang. Seperti saat Misbah memberikan carier-nya kepada Hulusi yang disangka pembantu, dan saat masuk rumah carier itu dilemparkan Hulusi ke pemiliknya dengan wajah kesal. Juga Misbah bicaranya sering kocak dengan logat Jawa medhok.

Salah satu tokoh yang saya tunggu kemunculannya adalah Keira (Chelsea Islan).

Gadis berambut merah yang benci seratus persen kepada Fahri. Alasannya adalah ayahnya mati terkena bom bunuh diri di London. Saya agak kecewa karena ternyata Keira muncul beberapa menit saja selama film berlangsung. Namun beberapa menit cukup berkesan karena Keira memainkan biola mungilnya dengan indah. Chelsea Islan harus latihan bermain biola selama 2 bulan demi mendapatkan gerakan yang natural.

Sayangnya kesan karismatik Keira anjlok saat dia berkata, “Nikahi aku Fahri.”

“Anjrit!” pisuh saya waktu itu. Wajah Keira yang semula penuh pendirian tiba-tiba berubah memelas demi cinta seorang Fahri. Wah saya tidak terkesan sama sekali dengan kenyataan dalam film itu. Setidaknya, harga diri seorang wanita tidak serendah itu. Hanya karena dibayari les biola oleh Fahri lantas Keira berlutut memohon agar dinikahi. Hati saya geli melihat adegan Keira menangis memeluk Hulya (Tatjana Saphira) yang saat itu sudah jadi istri Fahri.

Sepanjang film berlangsung saya hanya menikmati unsur filmnya.

Musik adalah first impression saya terhadap AAC 2. Alunan bagpipe langsung menarik fokus saya terhadap film ini. Saya bisa merasakan suasana seolah sedang berada di Edinburgh hanya dari musiknya saja. Unsur kedua adalah gambar yang cerah, jernih, dan warnanya tenang. Ini pas dengan karakter Fahri sebagai pribadi yang tenang sampai-sampai AAC 2 terasa hampir tanpa emosi. Apabila tidak ada musik latar itu mungkin saya sudah keluar dari bioskop.

Kesan datar begitu terasa dan film ini terasa tanpa tujuan.

Tujuan dakwah yang menyentuh seolah tidak tercapai dalam film ini. Jika melihat AAC 2 sebagai sebuah film dan mengabaikan unsur cerita, menurut saya cukup bagus. Sayangnya, jika melihat dari keseluruhan film AAC 2 terasa nanggung. Seolah materi dalam novel semuanya ingin dimasukkan sutradaranya ke dalam film. Akhirnya bertumpuk dan masing-masing materi malah tidak maksimal penyajiannya. Seperti saat debat Fahri di depan para akademisi University of Edinburgh.

Adegan itu dikeluarkan untuk menyajikan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, atau meninggikan tokoh Fahri? Saya melihat yang kedua malah lebih menonjol. Tidak logis dalam debat terbatas tiba-tiba muncul Mommy Catarina (Dewi Irawan), seorang wanita Yahudi menangis-nangis menceritakan betapa Fahri sangat indah pribadinya. Lebih lucu lagi mendengar pidato Fahri saat naik podium: tanpa fakta ilmiah. Padahal sebelumnya ada adegan ia membaca buku, mengetik, sampai ketiduran demi debat itu.

Materi debat yang disusun –secara romantis –bersama Hulya itu kemana?

Secara detail adegan AAC 2 sangat bagus. Penjiwaan karakter, emosi tiap pemain, ekspresi, kostum, semua begitu maknyus. Namun, secara keseluruhan AAC 2 memiliki banyak bolong, ya karena terlalu banyak yang ingin ditampilkan tadi. Datar sedari awal sampai akhir karena kayak nayangin musik dan gambar aja. Dialognya kurang berisi dan beberapa kesannya dipaksakan. Seperti Fahri saat berucap ‘pancasila ada di sini (hati) bhineka tunggal ika ada di mana-mana.’

Kalau mengritik cerita baiknya ke pengarang 'kan ya. Saya tidak tahu apa di novel ceritanya terlalu muluk-muluk juga. Jelasnya, film ini gagal menampilkan keseimbangan karakter-karakternya. Tokoh utama terlalu dominan dan tokoh antagonisnya kurang dieksplor. Seperti Baruch (Bront Palarae) bekas tentara Israel juga anak tiri Mommy Catarina yang menantang debat Fahri. Lebih parah kemunculan Bahadur (Sellen Fernandez) di akhir-akhir cerita, gak mendukung blas antiklimaks yang tragis.

Malah terkesan aneh karena cerita AAC 2 jauh melompat dari AAC.

Terakhir saat transplantasi wajah maknanya apa buat penikmat cerita? Andaikata memang suci dan tulusnya cinta Hulya menjadi penutup cerita, sedari awal harusnya dibangun imej itu. Malahan cerita yang dibangun Hulya mengejar-ngejar Fahri. Terlalu fantasi rasanya jika Fahri yang religius islami digilai wanita-wanita –sampai ada yang genit-genit pula. Wibawa Fahri hilang saat reaksinya malah senyam-senyum.

Namun alhamdulillah saya mendapatkan pencerahan setelah menonton AAC 2.

Setidaknya saya teringatkan bahwa laki-laki yang baik adalah yang memuliakan wanita. Memuliakan bukan karena indahnya perilaku, tingkah laku santun, atau keras ketaatannya kepada Tuhan, tapi karena mereka wanita. Mereka yang diturunkan ke bumi untuk menjaga kelestarian kehidupan. Lelaki dikodratkan sebagai pemimpin yang membimbing wanita, namun tidak untuk menguasainya. Tanpa wanita laki-laki tidak mungkin ada karena hanya Adam As yang mak cling langsung jadi lelaki dewasa.

Fahri mungkin ditokohkan dengan tujuan memberikan idola kepada masyarakat.

Namun, idola yang terlalu sempurna barangkali kurang berkesan. Idola yang diterima adalah yang bisa mewakili aspirasi dan perasaan masyarakat. Contohnya Ridwan Kamil kalau di kehidupan nyata. Kalau di fiksi superhero-superhero seperti Batman atau V sudah inspiratif sekali. Mereka mematahkan rencana-rencana jahat yang merugikan masyarakat. Nah kalau Fahri yang ia ingin patahkan apa dalam AAC 2 ini? Bahwa kalau cinta lantas sebaiknya menikah tanpa pacaran?

Terlalu menggurui kalau menurut saya.

Pun andaikata ingin mengubah citra superhero dari kuat secara fisik menjadi kuat secara spiritual, Fahri tidak cukup memadai untuk ‘superhero’ semacam itu. Lucu kalau mengingat adegan-adegan Fahri menolong tetangga-tetangganya. Kok semudah itu kebaikan bisa diterima padahal untuk membudayakan Islam di bumi pertiwi saja prosesnya beratus-ratus tahun. Oh mungkin karena karisma Fahri yang membuat semua itu mungkin, ye kan?

Kapten Amerika versi Indonesia kayaknya ini si Fahri.

Yah namun kembali saya mengakui jika AAC 2 adalah film bagus untuk film lokal. Mungkin banyak karya anak negeri yang sinematografinya lebih jos dan nyeni, namun untuk film dakwah AAC 2 bisa sebagai titik tolak. Kelak film-film dakwah seperti 3: Alif Lam Mim (2015) bermunculan. Film yang menyimbolkan materi dakwah ke dalam cerita, bukan mencontohkan secara teknis dalam perilaku tokoh utama. Ya semoga saja demi film Indonesia yang lebih berkualitas, maju, dan diterima dunia.


Sekretariat SPMB UNS, 2 Januari 2018



Ilustrasi:

https://www.britannica.com/topic/Captain-America
https://today.line.me/id/pc/article/Fahri+Ayat+ayat+Cinta+2+Maaf+Man+United+Manchester+is+Blue-3pOGVM