Latest

Powered by Blogger.

Rebutan Salah

Tuesday, February 6, 2018


Kita belajar banyak hal dari kehidupan dunia ini. Dari para pelaku, guru kehidupan yang telah mengalami rentetan episode kehidupan lebih banyak daripada kita. Bapak ibuk kita, kakek nenek kita atau orang tua kita dimanapun ia berada adalah guru kehidupan bagi kita. Tidak dengan pelajaran yang rumit seperti yang dirasakan di bangku sekolah. Namun cukup dengan pesan sederhana yang penuh makna.

Suatu hari, simbah pernah berpesan kepada kami.
“Le, wong urip iku, ojo dadi wong sing senenge rebutan bener. Yen senenge rebutan bener, ora bakal rukun uripe. Nyawang kono salah, nyawang kono salah neh. Bener’e nggon awake dewe kabeh. Yen pengen uripe adem tentrem, dadio wong sing senenge rebutan salah.”

Pesan sederhana dari simbah ini sedikit aneh kedengarannya. Kebanyakan dari kita selalu berlomba-lomba untuk menjadi yang benar. Berusaha untuk  menjadi baik, tanpa cela atau noda. Kita tidak mau menjadi salah, disalahkan atau mengakui kesalahan. Bisa jadi karena gengsi, atau bisa jadi karena tidak mau menanggung malu. Walaupun sebenarnya kita tidak sebaik yang kita bayangkan.

Simbah kemudian menjelaskan, bahwa dengan Rebutan Salah, kita tidak akan mudah mengklaim bahwa kita adalah selalu yang paling benar dan orang lain selalu salah. Bisa jadi dalam memandang sesuatu, kita memiliki pendapat yang benar tetapi ada titik kesalahan didalamnya. Bisa jadi pula orang lain berpendapat salah, namun didalamnya ada kebenaranya.

Rebutan salah menurut simbah harus dilakukan, agar ada sikap toleransi dan saling menghargai. Agar dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat ada ketenangan, keamanan dan ketentraman. Bisa jadi orang lain berbuat kesalahan, kemudian karena kita menegur dengan cara yang kurang baik sehingga menjadikan ia menolak kebenaran yang kita sampaikan.

Maaf, aku yang salah..

Dengan rebutan salah, kita kemudian akan mengedepankan sikap yang santun. Tidak mencela atau beruat dzalim kepada orang lain. Tidak mudah menaruh prasangka dan curiga, tidak menilai sesuatu dari apa yang terlihat saja. Namun kita saling berlomba-lomba untuk meminta maaf terlebih dahulu atas kesalahpahaman yang ada. Kemudian berusaha memperbaiki keadaan dengan saling mengingatkan dengan cara yang baik.

Rebutan salah juga berarti bahwa diri kita harus senantiasa berlomba untuk introspeksi diri. Bermuhasabah atas apa yang telah kita kerjakan kemudian melakukan perbaikan hari demi hari. Setiap apapun yang kita kerjakan perlu untuk dimuhasabahi. Dipertanyakan ulang ke diri kita, Apakah merugikan orang lain? Adakah orang yang tersakiti karena  perbuatan kita? Sudah benarkah caranya? Sudah ikhlaskah niatnya?

Pantaslah jika Hasan al Bashri pernah mengatakan, “Istighfar kami membutuhkan untuk diistighfari kembali”.

Semoga kita termasuk dalam golongan manusia yang senantiasa bermuhasabah, merasa dirinya kurang, jauh dari kebaikan sehingga saling mengingatkan dan memotivasi dalam kebaikan.


20180206

No comments:

Post a Comment