Latest

Powered by Blogger.

A Letter for Someone

Sunday, June 10, 2018
Sumber Gambar: Nell-The Day Before MV



Pernahkah terpikir bahwa ada alasan mengapa beberapa orang ingin segera mengakhiri kehidupan ini?

Aku sendiri pernah mencoba kabur dari permasalahan hidup dengan melukai diri, tapi jujur saja ketika itu aku tak terpikir cara lain untuk segera menghilangkan rasa sakit yang teramat dalam pada diriku, setidaknya dengan menggoreskan pecahan kaca itu ke lengan kiriku, rasa sakit dalam diri jadi tersamarkan dengan rasa sakit fisik yang kurasakan. Ketika itu aku tak begitu takut melihat darah mengalir keluar dari dalam tubuhku. Namun sekarang, mengingat masa-masa itu, membuatku menjadi phobia dengan darah. Mungkin bagiku darah membawa kembali trauma masa lalu yang begitu menghantuiku, karena di masa lalu kehidupan terasa begitu ganas memangsa tubuh remajaku, hingga aku memutuskan untuk mengakhiri penderitaan dengan mengambil nyawaku sendiri.

Setidaknya sekarang aku sudah tak ingin mengakhiri hidupku sendiri, meski masih terasa lirih, tapi aku coba untuk tetap memberanikan diri menjalani sisa hidup yang hanya sebentar ini.  Sudah begitu lama ketika aku berhenti menegak alkohol dan mengiris-ngiris pegelangan tangan kiriku, meskipun pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidup masih sering terlintas di benakku. Aku mengatasi pikiran itu dengan menyibukkan diri, berkuliah, mengikuti kegiatan komunitas, dan menulis. Ya, aku sudah cukup menyibukkan diri, namun tetap harus berhati-hati karena kau tau sendiri kan, depresi yang aku rasakan merupakan makhluk yang berasal dari dimensi lain dan dia pandai dalam memperdaya manusia, setidaknya manusia yang bodoh seperti diriku. Depresiku bisa menampakkan dirinya dalam wujud yang begitu ringan dan indah seperti seekor kupu-kupu kecil yang beterbangan mengitari tubuhku dan di waktu lainnya ia berubah menjadi makhluk raksasa setinggi pohon kelapa, bertanduk dan dengan sorot mata merah yang mencekam tubuh lesuku di akhir hari. Depresi mulai memangsaku ketika matahari terbenam, saat aku merasa sendirian dan mulai kehilangan harapan akan dunia serta cinta.

Namun hal yang lucu adalah ketika berbicara tentang cinta, aku rasa hanya depresiku yang masih setia mencintaiku karena segala upaya yang aku lakukan, ia tetap saja kembali ke sisiku bahkan tanpa diminta. Tak seperti ibu asuh yang meninggalkanku tanpa seuntaipun kata perpisahan, tak seperti ayahku yang melarikan diri dari kenyataan bahwa istrinya memilih mati menenggelamkan diri di laut daripada hidup bersamanya, tak juga seperti dirimu yang berhenti merangkulku karena tertangkap jaring para nelayan. Depresiku nampak lebih tulus dalam menerima diriku apa adanya.

Mungkin ketulusan itulah yang membuatku pernah mencoba mengakhiri hidup. Atau mungkin aku yang terlalu berlebihan dalam menanggapi tingkah orang-orang di sekitarku? Mungkin ada pola pikir yang salah dalam diriku? Ataukah memang pola pikir seperti itu yang diajarkan oleh keluargaku? Ya, keluarga… sekelompok orang-orang sinis yang berusaha menjatuhkan satu sama lain, jika memang begitu arti keluarga, aku rasa aku bisa bertahan hidup dengan kenyataan itu. Mungkin juga memang keluargalah yang membuat pamanku ‘gantung diri’ di ruang tamu rumahnya ketika istri yang begitu dia cintai meninggalkannya entah kemana dan hal itu membuat hidup sepupuku hancur serta dia juga menghilang entah kemana, sudah 5 tahun semenjak aku melihatnya. Sekarang apakah dia hidup atau mati, sama sekali tak ada yang tahu, keluarga pun tak ada yang peduli, mereka masih sibuk menjatuhkan anggota lainnya karena dengan demikian harta warisan kakek akan bisa mereka kuasai lebih banyak. Ya, kakek yang begitu kaya raya serta memiliki banyak keturunan, membuatnya menjadi orang paling sial yang pernah aku kenal. Kakek tua itu mati akibat diracuni, dan yang difitnah melakukan perbuatan keji itu adalah ibuku yang seperti biasa, sedang berbaik hati membuatkan bubur kesukaan si kakek tua. Namun ketika si tua bangka itu mati setelah memakan bubur, ibuku menjadi kambing hitam para saudaranya. Ibu dituduh meracuni kakek tanpa adanya bukti yang jelas. Akhirnya ibu yang begitu penuh dengan perasaan panik itu pun menjadi muram selama beberapa hari hingga akhirnya ia pergi dari rumah dan kembali saat telah menjadi mayat.

Namun, tak cuma kembali sebagai mayat, ibuku juga membawa prestasi baru di keluarga kami yang berantakkan itu. Ia satu-satunya anggota keluarga yang pernah masuk koran, tepatnya termuat dalam surat kabar minggu dimana sekelompok nelayan menemukan mayat seorang wanita paruh baya tersangkut di jaringnya. Ya mayat itu adalah ibu.

Well done Mom! You make yourself famous, I’m proud of you… you must be happy now, have a nice reunion with your dear father in hell!”



Cold Regards,


Your Only Son,
The Greatest Loser of This Century

No comments:

Post a Comment