Latest

Powered by Blogger.

Konsekuensi Tragedi Masa Kecil: The Insecure Child

Friday, July 20, 2018


“Yang bahagia terlupakan, terselimuti benci…”

Hidup terus berjalan tanpa bisa kita hentikan lajunya. Saat membaca tulisan ini waktu terus berjalan tanpa kita sanggup sesaat saja menahannya. Tahu-tahu kita sudah berada pada kondisi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Kemudian waktu berjalan lagi dan kondisi yang kita lihat pun berubah. Perubahan terus terjadi tanpa bisa kita ukur dan manipulasi. Hanya bisa melihat ‘bekas’ waktu sebelum sekarang di ingatan dalam psyche atau jiwa kita.

Seiring usia bekas-bekas waktu itu semakin banyak. Beberapa bekas menjadi kecenderungan sifat yang mendasari perilaku kita. Itu dinamakan proses belajar. Dalam hidup kita mengenal konsep trial and error, mencoba dan melakukan kesalahan. Termasuk dalam belajar kita mungkin melakukan kesalahan. Kita mungkin sadar dan segera melakukan perbaikan. Namun, bisa juga kita tidak sadar hingga merembet pada pemahaman salah tentang hidup.

Selalu merasa ada yang kurang. Niat tidak kuat, tujuan tidak jelas, tidak bertindak sebelum diperintah, tidak bahagia meskipun memiliki keluarga dan harta. Selalu meminta dan melakukan lebih terhadap apa saja. Tidak pernah ada istilah cukup meskipun telah mencapai sesuatu. Berhasil tidak merasa gembira, gagal merasa hancur selamanya. Terpuruk, merasa hidup sudah berakhir dan tidak mau mencari jalan lain. Mati terlihat lebih baik daripada hidup menemui kegagalan lagi.

Bunuh diri terlihat lebih masuk akal daripada bangkit memperjuangkan tujuan lagi.

Hidup tidak lagi terlihat sebagai rangkaian perjuangan. Tidak ada lagi yang tersisa. Tidak terasa nikmat lagi melakukan hobi atau mendapatkan sesuatu yang disukai. Waktu terlewat begitu saja tanpa terasa ada yang hilang. Berhari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun. Pola pikir berubah, semakin lama semakin rumit. Keinginan mati semakin kuat, lebih kuat dari segala cara yang ditempuh untuk menyelamatkan diri dari kegagalan.

Bukan tidak mungkin suicidal thoughts mewujud pada act of suicide –atau bahkan kill someone.

Tidak ada yang sederhana jika kita menelaah pikiran manusia. Setiap orang memiliki keunikan masing-masing sehingga penyelesaian masalahnya juga berbeda-beda. Kita, terutama yang memiliki kecenderungan khawatir dan takut berlebihan, barangkali merasa tidak nyaman dengan diri sendiri. Sudah mencoba langkah-langkah menenangkan diri seperti relaksasi, pignig, meditasi, shalat, wirit, tapi masih saja ada yang mengganggu di pikiran.

Bukan caranya yang salah, tapi pemahaman kita terhadap kenyataan.

Ada beberapa konsep berpikir yang keliru dalam menafsirkan kenyataan. Konsekuensi dari menolak satu peristiwa yang mungkin sangat membebani pikiran dan perasaan, akhirnya berkembang menjadi kebiasaan. Dari situ pola pikir terbangun dan membentuk persepsi. Persepsi itu yang menjadi media antara pikiran dengan kenyataan di sekitar kita. Persepsi bekerja setiap saat dan setiap itu pula semakin menguatkan pola pikir kita –yang positif semakin positif, begitu pun sebaliknya.

Dan itulah yang terjadi dalam proses belajar.

Memperbaiki persepsi dengan menelaah pikiran dan memelajari pemahaman baru mungkin diperlukan. Proses menelaah itu pun memiliki kesulitan karena ada bagian batin kita yang ingin mempertahankan diri. Seperti halnya ada orang asing masuk ke dalam rumah kita, secara naluri kita tentu merasa tidak nyaman –bahkan terancam. Begitu pula pikiran. Pikiran yang mudah merasa terancam akan lebih sulit diubah daripada yang sekadar merasa tidak nyaman.

Bukan tidak mungkin pikiran menjadi tegang kemudian mengakibatkan sakit di badan. Itu yang dinamakan psikosomatis, apa yang terjadi dalam jiwa (psyche) memengaruhi kondisi badan (soma). Berlaku demikian juga pada jiwa yang sehat. Maka, memiliki jiwa yang sehat termasuk salah satu bagian dari kesejahteraan seseorang. Bersyukurlah jika kita memilikinya. Tidak semua orang di dunia ini memiliki kondisi yang sama. Karenanya, kita mengenal rumah sakit jiwa.

Gangguan jiwa dapat terjadi pada siapa saja.

Namun, karena belum memiliki wawasan rinci mengenai itu saya tidak berani membahasnya. Hanya ingin mengungkapkan keadaan kita sekarang selalu dipengaruhi oleh kondisi masa kecil. Barangkali sulit diterima untuk yang belum menyadarinya karena membangkitkan beberapa kenangan. Tidak semua kenangan masa kecil itu menyenangkan. Beberapa kenangan membekaskan ketakutan, kesedihan, amarah yang mungkin terbawa hingga dewasa.

Kenangan-kenangan itu oleh Joseph J. Luciani, Ph. D (2001) dinamakan The Insecure Child.

Setiap orang memiliki sifat kekanak-kanakan, benar ‘kan? Anggap saja The Insecure Child adalah sifat kekanakan kita yang berisi pikiran dan perasaan di masa kecil; bagaimana kita merespon atau bereaksi terhadap satu kejadian seperti marah, kecewa, takut, malu, sedih, dan sebagainya. Seorang anak yang mengalami banyak hal tidak menyenangkan hingga menimbulkan perasaan insecure (terancam). Jika anak itu mengalami banyak hal menyenangkan tentu dinamakan The Happy Child.

Ada konsekuensi proses belajar di masa-masa awal yang akan dialami seseorang ketika dewasa. Seseorang yang waktu kecilnya belajar dari tragedi tentu berbeda dengan yang belajar dari rasa dicintai. Tragedi memunculkan emosi negatif sedangkan merasa dicintai memunculkan emosi positif. Jika seseorang saat dewasa tiba-tiba saja memunculkan sikap agresif, menarik diri, menjauh dari orang-orang, bisa jadi itu karena The Insecure Child.

Dari segi etika, norma, agama perilaku menyimpang seseorang sudah tentu memiliki tempat yang buruk. Ilmu psikologi mencoba telaah perilaku manusia berdasarkan aspek pikiran (kognisi) dan perasaan (afeksi). Seseorang bisa jadi memiliki kondisi psikologis tertentu yang membuatnya berperilaku tidak wajar. Bukannya mencari pembenaran, namun setiap orang memiliki fitrah sebagai orang beriman, sebagai orang yang benar. Jika ternyata perilakunya melenceng dari fitrah tentunya ada sebab pemicu.

Selalu berlaku hukum sebab-akibat, karena itu jangan terburu menyalahkan.

Konsep The Insecure Child secara sederhana adalah suara-suara dalam pikiran yang memicu kecemasan (anxiety) juga depresi (depression) berlebihan. Pikiran, seperti jantung adalah bagian diri kita yang tidak pernah berhenti bekerja. Bedanya, jantung bekerja di luar kesadaran kita, dengan kata lain tidak bisa dimanipulasi. Pikiran, memiliki alam pikiran sadar dan bawah sadar. Dalam pikiran bawah sadarlah The Insecure Child berada dan menjadi dasar konsep berpikir kita.

Suara-suara dalam pikiran, terutama yang memicu kecemasan dan depresi berlebihan, dapat diatasi dengan berusaha memahami mana suara yang sehat dan mana yang menyebabkan penyimpangan. Normal jika seseorang merasa cemas menghadapi tantangan atau depresi saat mengalami kegagalan. Jika kecemasan dalam diri semakin intens, merasa takut dan khawatir setiap waktu, dan depresi berlangsung dalam waktu lama, bisa jadi terdapat The Insecure Child dalam diri orang itu.

Suara-suara dalam pikiran tidak akan berhenti sebelum ketakutan, kesedihan, atau amarah The Insecure Child diatasi. Untuk itu perlu memunculkan kembali kenangan-kenangan, dalam alam pikiran bawah sadar, yang mungkin tidak ingin diingat lagi. Diterima bahwa memang ada kenyataan hidup tidak menyenangkan yang pernah dilalui. Mungkin kita berpikir peristiwa tidak menyenangkan itu terjadi karena orang lain atau takdir Tuhan yang menyakitkan.

Namun, kita tidak bisa mencegah atau mengatur keduanya.

Baik manusia atau Tuhan, berbuat sesuai kehendak masing-masing. Kehendak manusia berada dalam lingkup kuasa Tuhan, sedangkan kehendak Tuhan tidak terjangkau lingkup kuasa manusia. Nah, lingkup kuasa manusia terbatas pada dirinya sendiri. Kepada sesama manusia hanya bisa memohon atau meminta tolong agar melakukan yang kita inginkan. Kita yang mungkin masih berpikir bisa mengendalikan perilaku orang lain dan mengontrol keadaan, lebih baik segera menyadari semua itu hanyalah ilusi, tidak nyata.

Jika pembaca termasuk yang merasa tidak nyaman dengan diri sendiri karena cemas dan depresi berlebihan, terdapat 6 prinsip yang perlu kita pegang:
  1. 1Semua orang memiliki turunan insecurity yakni The Insecure Child.
  2. 2.Pikiran mengawali munculnya perasaan, kecemasan, dan depresi.
  3. Kecemasan dan depresi adalah cara yang keliru untuk mengendalikan kehidupan.
  4. Kendali adalah ilusi.
  5. Insecurity adalah kebiasaan (habit) dan semua kebiasaan bisa diubah.
  6. Berpikir sehat adalah pilihan.

Bagaimana pun, kita tidak akan bertumbuh bila terus membenci masa lalu.

“Tak semua halaman merana, namun yang kelam terlalu berarti.”
-Lembaran Buku, Isyana Sarasvati-


Sekretariat SPMB UNS, 20 Juli 2018

Sumber Pustaka:
Joseph J Luciani, Ph. D. 2001. Self-Coaching: How to Heal Anxiety and Depression. New York: John Wiley and Sons, Inc.

Sumber foto: https://www.everydayfamily.com/blog/helping-your-child-deal-with-tragedy/


No comments:

Post a Comment